
Tubuh yang sedari berdiri kaku itu akhirnya luruh juga disertai tangisan yang terdengar amat pilu bagi siapa saja yang mendengarnya.
Diandra menangis sesenggukan hingga membuat mama Ana yang baru saja pulang mengajak Gaara berjalan-jalan disekitar komplek terkejut bukan main mendapati menantunya menangis seperti itu.
"Sayang?? Astaga kamu kenapa Di?". Tanya mama Ana panik.
Untung saja Gaara tengah tidur didalam strollernya hingga mama Ana bisa memeluk dan mencoba menenangkan menantunya itu.
" Kamu kenapa?? Hm?? Ada apa?? Bilang sama mama sayang.." mama Ana dengan penuh kelembutan membelai sayang punggung menantunya itu.
Bukannya semakin tenang, tangisan Dianddra justru semakin terdengar pilu. Mama Ana dibuat pusing oleh keadaan menantunya. Pasalnya saat tadi ia tinggalkan, Diandra sedang asyik mencoba resep baru membuat kue yang ia temukan di yutum.
Ingin menghubungi besannya, tapi mama Dita tengah pergi bersama papa Herman. Semakin bingung saja mama Ana sekarang.
"Bu..Bu Tini". Teriak mama Ana yang masih memeluk Diandra yang masih terduduk dilantai.
" Njih bu.." Wanita yang sudah berumur itu datang tergopoh-gopoh karena panggilan mama Ana.
"Njih bu..saya". Wanita jawa yang sudah mengabdi pada keluarga Argantara selama puluhan tahun itu terlihat sama terkejutnya mendapati menantu majikannya menangis.
" Ini mantu saya kenapa nangis gini bu?". Tanya mama Ana lembut. Dan yang mama Ana lihat hanya kebingungan dari sorot mata asisten rumah tangga nya itu.
"Mbak Dia kenapa bu?". Bukannya menjawab, wanita bernama Tini itu justru balik bertanya.
" Kok bu Tini malah tanya sama saya. Ini saya lagi tanya sama ibu loh.." Gemas mama Ana rasanya pada asisten rumah tangga nya itu.
"Saya nggak tau bu. Tadi mbak Dia lagi bikin kue didapur..saya tinggal cuci baju bu". Jelas bu Tini. Dia adalah panggilan dari bu Tini sejak gadis itu masih anak-anak, katanya biar beda dengan orang lain yang memanggil Diandra hanya dengan Di saja.
" Terus ini mantu saya kenapa bu? Kok nangis kejer gini?". Bu Tini hanya menggeleng mendapat pertanyaan dari majikannya itu.
__ADS_1
"Kenapa mas Abi tega ma.." Lirih Diandra dengan suara terputus-putus karena tangisannya.
"Abi??". Beo mama Ana menengok sekeliling. Ia bahkan baru menyadari jika ini adalah kamar putranya, bukan kamar Diandra dan Gaara.
" Dimana Abi, sayang? Dia apain kamu hm?? Bilang sama mama, biar mama pukul anak itu". Ucap mama Ana meyakinkan namun Diandra hanya menggeleng sambil terus menangis.
"Aduh Abi..kamu apain sih mantu mama. Mana nangis kejer kaya gini pula. Kamu nya kemana lagi abis bikin istri nangis malah kabur". Omel mama Ana namun jelas hanya dalam hatinya.
" Kenapa ma.." Terselip sedikit perasaan bahagia dihati mama Ana. Bagaimana tidak, satu tahun lebih lamanya ia tidak mendengar dan merasakan kemanjaan menantunya itu. Dan saat ini, Diandra menangis dipelukannya. Sama seperti saat menantunya ini masih remaja dan Abi membuatnya menangis.
"Sstt..sst..udah ya jangan nangis lagi". Mama Ana menghapus air mata Diandra, sementara bu Tini sudah pergi dan kembali lagi dengan. segelas air putih ditangannya.
" Bangun ya, disini dingin. Kamu bisa masuk angin nak.." Mama Ana membantu Diandra bangkit dan mendudukkannya dikasur Abi.
"Mbak Dia minum dulu ya. Ibu udah bawain air hangat ini". Bu Tini menyodorkan segelas air putih kehadapan Diandra yang langsung diterima oleh mama Ana.
" Makasih ya bu.." Ucap mama Ana mewakili Diandra yang masih terisak.
Mama Ana membantu Diandra meminum air nya hingga hanya menyisakan setengahnya saja.
" Sekarang bilang sama mama..kenapa kamu sampe nangis gini sayang?". Tanya mama Ana saat melihat Diandra sudah mulai tenang.
Namun yang ditanya hanya bungkam tak bersuara sedikitpun. Mama Ana menghela nafas panjang, mungkin memang menantunya ini sedang ingin sendiri, pikirnya.
"Mama ajak Gaara keluar dulu ya sayang. Nanti panggil mama kalo kamu butuh sesuatu ya". Mama Ana mengecup sayang kening Diandra dan berlalu meninggalkan menantu tersayangnya itu seorang diri dikamar Abi.
Sepeninggal mama Ana, air mata Diandra kembali luruh. Setiap kata yang terucap dari bibir suaminya bagaikan rekaman yang terus berputar didalam otaknya.
Rasa ingin percaya dan ragu yang ia miliki sama besarnya. Jika mengingat bagaimana Abi dan Dea menyayanginya dulu, rasanya memang mustahil jika keduanya dengan sengaja menyakiti dirinya.
__ADS_1
Namun jika dirinya mengingat bagaimana semua orang berbohong dan merahasiakan pernikahan Abi dan Dea, rasa-rasanya Diandra sangat kesulitan untuk mempercayai segala yang terucap dari bibir semua orang disekelilingnya kini.
Ditengah lamunannya, matanya tak sengaja melihat sebuah bingkai berisikan foto dirinya dan Abi dulu. Diandra berdiri dan berjalan perlahan untuk melihat lebih jelas, apakah memang benar itu fotonya atau hanya ilusinya.
Tangannya terulur mengelus bingkai foto yang tertempel rapi didinding kamar itu. Diandra mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Matanya seketika melebar saat melihat bagaimana banyak foto miliknya dikamar Abi.
Bahkan ada beberapa foto baru yang sepertinya diambil secara diam-diam oleh Abi.
Tangisan yang sudah sempat terhenti kembali terdengar memenuhi kamar Abi. Diandra mengambil fotonya dan Abi, foto saat Diandra merayakan kelulusan sekolah atasnya.
Abi memakai batik yang bermotif sama dengan kain yang ia kenakan kala itu. Keduanya terlihat sangat bahagia dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibir keduanya.
"Kenapa harus begini mas.." Lirih Diandra memeluk fotonya dan Abi.
"Kenapa kita harus ngelewati semua ini. Ini terlalu berat buat aku mas.." Ucap Diandra disela isakannya.
"Kenapa kakak pergi. Kenapa semua harus begini". Diandra mengenang kakaknya, jika sang kakak masih hidup, mungkinkah kehidupannya tidak akan seperti ini. Mungkinkah ia bisa hidup bahagia?
Sementara Diandra tengah meratapi keadaannya saat ini, hal yang sama tengah dilakukan pria dengan satu orang anak yang tak lain adalah Abi.
Setelah berhasil menceritakan semua cerita antara dirinya dan Dea, ia memilih pergi menjauh. Ia tidak akan sanggup merelakan Diandra atau melepasnya. Namun ia juga tidak ingin egois dengan menahan Diandra yang tidak lagi bahagia dengannya.
" Apa yang harus aku lakukan Di. Aku.."
"Apa yang aku lakukan sudah benar?". Tanya nya pada dirinya sendiri.
" Apa jika aku benar-benar melepaskanmu, kamu akan benar-benar bahagia sayang??".
Saat ini Abi tengah berada di apartemen, apartemen yang sudah sangat lama tidak ia tempati. Namun tetap terlihat terawat karena akan ada orang yang membersihkannya keseluruhan setiap satu minggu sekali.
__ADS_1
"Mungkin ini akhir kita Di. Melepaskanmu untuk kebahagiaanmu sayang.."