Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
benar atau hanya pembenaran


__ADS_3

Diandra masih membeku ditempatnya berdiri meski Abi yang sebelumnya memeluk dirinya telah pergi beberapa waktu lalu. Air matanya meluncur tanpa bisa ia hentikan.


Otaknya terus memutar kalimat demi kalimat yang meluncur dengan lancarnya dari mulut suaminya meski berkali-kali Diandra dapat merasakan helaan nafas panjang dari Abi.


Beberapa saat lalu


"Aku harap kamu bisa mengampuni dan memaafkan aku sama seperti kamu memaafkan Dea, sayang.." Meski Abi sudah mengendurkan pelukannya, namun tak ada yang bergerak diantara keduanya. Mereka tetap berdiri tak jauh dari pintu dengan posisi Abi memeluk Diandra meski tak sekencang tadi.


Abi menghela nafas panjang sebelum memulai ceritanya pada Diandra. Mengingat hal itu sama saja mengorek kembali luka nya karena menghianati wanitanya.


"Malam itu.." Bahkan baru mengucapkan dua kata, Diandra sudah kembali merasakan Abi menghela nafasnya panjang.


"Aku sedang menghadiri pesta pernikahan dari rekan bisnisku.."


"Tidak ada sesuatu yang aneh malam itu Di..bahkan papa Herman juga disana bersama mama".


" Hanya Dea yang tidak ada disana.." Abi menjeda ucapannya, menyandarkan kepalanya dibahu istrinya. Matanya sudah memerah namun sebisa mungkin ia menahan laju air matanya.


"Aku..aku bertemu dengan banyak rekan bisnisku disana sayang.."


"Sampai panggilan dari Dea membuat aku segera meninggalkan pesta itu". Tak ada tanggapan apapun dari Diandra namun Abi tahu jika istrinya itu mendengarkan dengan baik setiap kata yang ia ucapkan.


" Malam itu Dea hanya meminta aku menolongnya, suaranya benar-benar membuat khawatir. Aku sengaja diam dan tidak memberitahu papa dan mama".


"Aku hanya bertanya kemana Dea. Dan jawaban mama membuat kekhawatiranku padanya semakin besar sayang.."


"Bukan karena aku menyukainya". Abi kembali mengeratkan pelukannya.


" Aku tahu dia adalah kakak terbaik bagimu..dan kamu adalah duniaku. Aku tidak ingin duniaku hancur karena orang yang dia sayangi terluka". Sejak kalimat itu meluncur, Abi merasakan tetesan bening yang mengenai tangannya. Namun ia biarkan, itu artinya Diandra nya memang mendengarkannya dengan baik.


"Dea hanya menyebutkan nama sebuah club sebelum panggilan itu terputus.."


"Aku memilih pamit lebih dulu dan segera ke club yang disebutkan Diandra meski malam itu aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan tubuhku".

__ADS_1


Abi merasakan semakin derasnya air mata Diandra. Mengingat malam itu bukan hanya akan melukai Diandra, namun dirinya juga terluka begitu dalam.


" Sampai di club itu aku meminta bantuan keamanan untuk membantu mencari Dea. Aku yakin tidak akan mudah menemukannya sendiri".


"Malam itu..malam itu aku melihat Dea---" Abi seakan tak sanggup melanjutkan ceritanya.


Tanpa sadar Diandra menggenggam erat tangan Abi yang memeluk tubuhnya. Ia tidak akan membiarkan Abi keluar sebelum menyelesaikan apa yang telah dimulainya hingga membuat Diandra semakin ingin tahu apa kebenaran menurut suaminya itu.


"Dea.." Abi mengambil nafas sebanyak yang ia mampu. Karena sudah pasti Diandra akan sangat terkejut.


"Dia bahkan hampir tidak memakai baju saat aku masuk". Abi merasakan cengkeraman dilengannya semakin kuat. Meski begitu, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Diandra.


" Disana..ada lelaki baj*ngan yang sudah tidak memakai pakaiannya"


Abi bercerita bagaimana ia menghajar lelaki itu dan menutup tubuh istri pertamanya itu.


"Tapi ada yang aneh dengan Dea malam itu..dia terlihat gelisah dan terus menyingkirkan apapun yang aku gunakan untuk menutup tubuhnya".


" Dia terus mengatakan jika tubuhnya terasa panas dan tidak ingin memakai apapun. Dan aku.."


Dalam diamnya Diandra mulai berfikir, apakah apa yang diceritakan Abi benar adanya atau memang hanya pembenaran atas apa yang telah keduanya lakukan pada dirinya.


" Aku tidak memaksa kamu percaya sama aku sayang..aku tahu terlalu berat jika harus mempercayai penghianat seperti aku". Diandra sedikit terhenyak karena Abi memahami arah pikirannya.


"Tapi setidaknya dengarkan sampai aku selesai. Setelah itu, semua keputusan aku serahkan sepenuhnya sama kamu". Diamnya Diandra Abi anggap sebagai persetujuan.


" Aku membawa Dea keluar, dan menitipkan baj*ngan itu pada keamanan disana. Aku sangat mengenal lelaki itu..Dia adalah kekasih kakakmu. Abram". Abi dapat merasakan gerakan tubuh Diandra saat mendengar nama lelaki yang dulu pernah melamar kakaknya itu. Lalu dimana dia sekarang? Tanya Diandra pada dirinya sendiri.


"Tubuhku semakin panas saat itu sayang, apalagi Dea terus berusaha menciumku. Aku tahu dia sedang tidak sadar dengan perbuatannya. Karna aku yakin ba*ingan itu memberi obat perangsang pada Dea. Yang aku pikirkan kenapa bisa tubuhku juga panas". Abi kembali membuang nafasnya kasar.


" Aku tidak mungkin bisa membawa Dea pulang. Dan itu adalah keputusan terbodoh yang pernah aku ambil selama aku hidup".


Abi terlihat menerawang sebelum kembali bercerita. Rasanya terlalu sulit kembali mengorek kisah pilu itu.

__ADS_1


"Aku lupa dengan kondisi tubuhku yang tidak jauh berbeda dengan Dea. Aku menggali kuburanku sendiri dengan membawanya ke apartemen ku".


" Tidak ada maksud apapun. Aku hanya takut papa dan mama khawatir melihat kondisi Dea. Tapi itu justru menjadi boomerang bagi diriku sendiri".


"Dan malam itu kalian melakukannya. Begitu?". Potong Diandra cepat.


" Apapun alasanmu tuan Abi. Kalian tetap menghianatiku". Abi tersenyum kecut, ia sudah menduga cintanya itu akan memotong ceritanya.


"Ya..aku tahu. Kami bersalah..apapun keadaannya itu tetap kesalahan kami".


" Tapi itu benar-benar diluar kendaliku dan Dea, Di. Kami benar-benar tidak menginginkan hal itu". Diandra berdecih pelan. Antara ingin percaya namun takut kembali dibohongi.


"Kehidupan kami tidak sebaik yang terlihat meski kami berusaha menjalaninya dengan biasa. Perasaan bersalah kami padamu terlalu besar sayang".


" Tidak ada seharipun yang kami lalui tanpa rasa bersalah itu. Percayalah..kami sangat menyayangi kamu".


"Bahkan kalian merahasiakan kenyataan itu". Sambar Diandra cepat.


" Jika itu kamu..apakah kamu akan sanggup mengatakan hal menyakitkan ini? Kami takut Di..sangat takut menyakitimu dan dibenci olehmu".


"Seandainya aaku bisa memutar waktu hingga malam itu. Aku tidak akan melakukan kebodohan dengan membawa Dea ke apartemen".


" Bahkan sekarang aku tidak tahu semua perkataanmu benar atau hanya pembenaran saja". Lirih Diandra yang membuat Abi kembali tersenyum pahit.


"Aku tahu sayang..jika aku menjadi kamu pun aku tidak akan mempercayai itu. Apalagi semua itu diceritakan oleh penghianat itu sendiri. Terlalu sulit dipercaya bukan?". Abi terkekeh pilu.


" Satu yang harus selalu kamu ingat sayang. Aku mencintaimu..sangat sangat mencintaimu. Apapun dan bagaimanapun keadaannya. Dan sampai kapanpun"


"Sekarang aku menyerahkan semua keputusan sama kamu. Aku nggak akan lagi ganggu kamu sayang. Karna aku tahu kamu nggak suka ada aku dideket kamu".


" Satu hal yang harus selalu kamu ingat Di.." Abi melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Diandra yang berderai air mata.


"Apapun kesalahan yang pernah aku lakukan, perasaanku tidak pernah berubah sama sekali. Disini..didalam hati ini cuma kamu yang ada. Aku sayang banget sama kamu Di". Abi mencium lama kening istrinya dan mengecup sekilas bibir istri nya sebelum berlalu meninggalkan nya.

__ADS_1


#####


Kasih double up ya buibu semua hari ini..doain semoga bisa up rutin..


__ADS_2