Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
mengungkapkan rasa


__ADS_3

"Gue bisa obatin sendiri". Kara mengambil kapas yang sudah diberi alkohol dari tangan Baim.


"Jangan keras kepala". Baim kembali mengambil kapas ditangan Kara karena melihat Kara kesulitan mengobati luka di wajahnya.


"Gue cuma butuh kaca".


"Biar kakak aja. Selama ini juga kakak yang obatin kalo kamu luka gini". Kara hendak memalingkan wajahnya, namun Baim menahan dengan memegang dagu Kara.


Beberapa kali Kara meringis ketika kapas beralkohol menyentuh lukanya. Baim pun ikut meringis, ia benar-benar merasa bersalah pada adiknya.


"Maafin kakak ya..harusnya kakak nggak telat jemput kamu". Baim mengelus lembut pipi Kara yang mulai membiru.


Entah lelaki itu sadar atau tidak, perlakuannya membuat darah Kara berdesir hebat. Jantungnya berdetak begitu keras dan cepatnya saat dengan lembut Baim terus mengelus pipi Kara.


"Nggak masalah. Sekarang anter gue pulang aja kak". Kara melepaskan tangan Baim. Ia tak mau semakin terperosok pada perasaannya yang tak akan pernah terbalas.


"Ra..kamu marah sama kakak?".


"Kakak tadi bener-bener nggak bermaksud buat telat jemput. Mobil Amandha tiba-tiba mogok, kakak nemenin dia sampe orang bengkel nyam---"


"Stop!!! Gue nggak mau tau. Dan gue nggak peduli". Potong Kara cepat dengan nafas cepat karena menahan amarah sekaligus sakit dihatinya.


"Ra..kakak cuma---"


"Stop kak. Gue nggak mau denger apa-apa. Anterin gue pulang". Pinta Kara lirih


"Kakak minta maaf, Ra. Kakak mohon jangan marah..kakak sakit liat kamu marah". Tubuh Kara membeku saat Baim memeluknya. Mengelus punggungnya dan menepuknya beberapa kali.


"Lepas kak". Kara mencoba melepaskan diri dari pelukan Baim. Sungguh jika dirinya membiarkan ini, maka akan semakin sulit baginya melepaskan perasaannya.


"Kamu nggak mau maafin kakak? Kakak bener-bener nyesel Ra.." Baim menangkup wajah Kara. Menatap netra hitam adiknya yang kini sudah berkaca-kaca.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit?". Tanya Baim panik.


"Bilang sama kakak. Kita ke rumah sakit ya.." Baim semakin panik karena kini Kara sudah menangis.


"Iya kak..sakit. Sakit banget". Ucap Kara memukul da danya beberapa kali.


"Apa? Apanya yang sakit? Kita kerumah sakit sekarang ya.." Bujuk Baim namun Kara menggeleng.


"Sakit banget..disini sakit banget kak". Kara menunjuk da danya membuat Baim diam sesaat. Kara yang mencoba tegar tak mampu lagi menahan sakitnya. Ia tak peduli akan seperti apa reaksi sang kakak. Namun dirinya harus mengungkapkan perasaannya.


"Aku sakit! Aku sakit karena kakak lebih mentingin perempuan lain dibanding aku".

__ADS_1


"Ra.."


"Aku sakit karena kakak nggak pernah sadar kalo aku suka sama kakak! Aku cinta sama kakak!". Baim membeku. Menatap tak percaya pada adiknya yang kini masih menangis dihadapannya.


"Sekarang apa kakak bisa obatin sakit yang aku rasain??". Baim menggeleng tak percaya.


"Jangan becanda, Ra. Ini nggak lucu". Ucap Baim masih menggelengkan kepalanya. Menatap tak percaya pada Kara.


"Becanda?? Menurut kakak aku becanda??".


"Aku cinta sama kakak!!! Apa kakak nggak bisa rasain perasaan aku? Tingkah aku selama ini ke kakak? Apa semua itu nggak cukup buat buktiin kalo aku nggak becanda? Aku beneran jatuh cinta sama kakak. Kenapa?". Tanya Kara dengan tangis semakin keras.


"Tapi kita.."


"Kita saudara?". Kara tersenyum sinis


"Kita nggak ada hubungan darah kak. Apa salahnya aku jatuh cinta sama kakak?".


"Oh..aku lupa kalo kakak udah punya perempuan lain". Kara menghapus kasar air matanya.


"Ra..nggak kaya gitu". Baim mendekat namun Kara mundur beberapa langkah.


"Aku nggak nuntut kakak juga harus cinta sama aku. Aku udah cukup lega ngungkapin perasaan aku ke kakak". Kara tersenyum, da danya kini terasa lebih ringan kini. Seolah beban berat yang setahun belakangan menindih hati nya hancur bersamaan dengan ia mengungkapkan perasaannya.


"Ra.."


"Kakak mohon jangan kaya gini, Ra". Kara merasakan belitan tangan diperutnya semakin erat.


"Le-lepas kak". Kara merasa gugup berada sangat dekat dengan Baim.


"Kita nggak bisa kaya gini, Kara". Kara bisa merasaan helaan nafas berat Baim.


"Aku cuma mau kakak tahu perasaan aku. Kakak nggak perlu bales perasaan aku. Aku bakal hapus ini, pelan-pelan". Suara Kara terdengar sangat pelan. Jelas gadis itu tak memiliki keyakinan sedikitpun untuk bisa melupakan cinta nya pada Baim.


"Kakak nggak perlu anterin aku. Aku bisa pulang sendiri". Kara segera melepaskan tangan Baim dan berlari menuju pintu.


"Lengkara..." Lirih Baim menatap diam punggung Kara yang sudah menghilang dibalik pintu.


"Bukan kaya yang kamu pikir, Ra". Baim menatap sendu pintu apartemennya. Harus seperti apa kini dirinya.


Kara memutuskan pulang ke rumah Nala, seperti biasa jika dirinya sedang terluka. Ia akan menyembuhkan diri dan luka hatinya disana.


Nala begitu terkejut saat Kara datang dalam kondisi babak belur. Ditambah Kara yang menangis tanpa henti membuat Nala pusing sendiri.

__ADS_1


Berkali-kali ia menghela nafas berat saat Kara menceritakan semua yang terjadi. Namun ada sesuatu yang janggal menurutnya. Untuk membuktikannya, ia akan melakukan sesuatu. Tanpa diketahui siapapun tentunya.


___β€’β€’β€’___


Sudah beberapa minggu berlalu sejak Kara mengakui perasaannya pada Baim. Sejak saat itu pula, Kara selalu menghindari Baim. Entah itu bertemu langsung atau hanya sekedar membalas pesan dan mengangkat telepon sang kakak.


Bahkan jika tiba hari dimana Baim menginap dirumah kedua orang tuanya, Kara akan dengan sengaja menghindarinya dan pergi menginap di rumah Nala.


Berkali-kali Diandra bertanya, namun Kara selalu bisa memberikan alasan yang masuk akal hingga tak ada seorang pun yang curiga terhadap dirinya.


Sama seperti malam ini. Kara yang tahu jika sang kakak akan menginap, memilih melarikan diri dari rumah sejak pulang sekolah. Ia membawa seragam dan baju ganti. Bahkan dirumah Nala, kini Kara sudah menyimpan beberapa pakaiannya.


"Mau ampe kapan lo ngehindar sih, Ra?". Tanya Nala yang sedih melihat Kara yang ceria berubah murung.


"Gue belom siap, La".


"Mau ampe kapan kucing-kucingan?". Tanya Nala lagi membuat Kara menghela nafas panjang.


"Hati gue belom sekuat itu buat ngadepin kak Baim, La". Sahut Kara lemas. Ia sudah berusaha mati-matian untuk melupakan perasaannya dan kembali menganggap Baim hanya sebatas kakak. Namun ternyata tak semudah itu.


"Sumpah deh, Ra. Gue ikut pusing liat lo ama si Baim". Kara melotot mendengar Nala memanggil nama Baim tanpa embel-embel kak didepannya.


"Tuh dari kapan taun hp lo bunyi. Pengeng kuping gue denger tulilat tulilut tu hp". Omel Nala membuat Kara merengut kesal.


"Nala". Rengek Kara membuat Nala melengos kesal.


"Heh, bukannya hari ini lo ada janji ama kak Bara?". Tanya Nala membuat Kara yang sedang duduk melompat dari atas kasur.


"Astaga!! Gue lupa". Kara berlari ke kamar mandi dan bersiap. Ia benar-benar lupa jika hari ini ia ada janji dengan Bara untuk menonton pemuda itu perform disebuah cafe.


"Dasar santen sachet". Gumam Nala menggelengkan kepalanya.


"Ayo kita liat Ra. Sebenernya gimana perasaan kak Baim ke elo. Gue yakin dia punya rasa ama elo. Jadi ayo kita buktiin sama-sama". Ucap Nala menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Entah apa yang direncanakan oleh Nala. Hanya Nala dan othor yang tauπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


...---***---...


Dah ya segini dulu..takut gumoh nanti kalo kalian kebanyakan baca tulisan akuπŸ˜‚πŸ˜‚


Kita tunggu rencana si Kuman. Mau diapain tuh si kakak. Gedeg juga aku lama-lama ama kang Baim. Kira-kira diapain tuh ya ama kuman?πŸ€”


Harap sabar dan tunggu kelanjutannya saja ya mak emak dan kawan kawan semua..


Semoga nggak bosen baca cerita ngawur ku ini..salam sehat dan semangat terus ya teman-temanπŸ’ͺ🏻😁

__ADS_1


__ADS_2