Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
kapan lagi


__ADS_3

"Berhenti ketawa, La. Kamu nggak capek dari tadi ketawa mulu". Antara kesal dan malu, Gaara sejak tadi ingin menenggelamkan dirinya kedasar samudra. Kenyataan hubungan Nala dan Zayn serta bagaimana dirinya ditertawakan oleh Nala dan kakak perempuannya benar-benar membuatnya semakin malu.


Ditambah lagi Nala yang kini duduk disampingnya yang mengemudi tak hentinya terkikik sendiri sambil sesekali menatap dirinya yang berusaha fokus mengemudi.


"Abang beneran ngirain aku calon istrinya mas Zayn? Serius??". Tanya Nala yang kini bahkan mengubah posisi duduknya miring menghadap Gaara.


"Ck.." Gaara berdecak sebal. Entah sudah berapa kali Nala menanyakan hal serupa. Seolah tak ada bosannya ia melihat wajah Gaara bersemu menahan malu.


"Hahahaha.." Tawa Nala kembali pecah.


"Abang.." Gaara diam tak menjawab. Bukan marah pada Nala yang terus menggodanya. Ia kesal pada dirinya sendiri. Mengapa ia begitu bodoh hingga semudah itu percaya pada cerita Kara. Dan mengapa juga dirinya begitu ceroboh hingga tidak mencari tahu terlebih dahulu tentang siapa Zayn dan apa hubungannya dengan Nala.


Hampir saja, hampir saja ia melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Hanya karena rasa cemburu dan kebodohannya, ia hampir melepaskan Nala untuk Zayn.


"Abang marah.." Nala kembali memiringkan tubuhnya dan duduk menghadap Gaara.


"Duduk yang bener, La. Bahaya". Gaara menengok sekilas dan kembali fokus pada kemudinya.


"Abang marah sama aku??". Tanyanya lagi pada Gaara.


Gaara menghela nafas panjang, mencari tempat yang memungkinkan untuk menepikan kendaraannya. Sejak tadi pun ia ingin berbincang dengan Nala. Namun tadi ia tak sempat berbincang karena justru menjadi bodyguard yang mengikuti Nala dan kakak perempuannya berbelanja.


"Abang..." Nala memegang lengan Gaara yang masih mengemudi.


Gaara segera menepikan mobilnya, memastikan jika kendaraannya terparkir dengan benar dan tidak akan mengganggu kendaraan lain. Ia kembali menghela nafas panjang dan duduk menghadap Nala.


"Abang marah?". Tanya Nala sekali lagi. Ia kini merasa bersalah, tidak seharusnya ia menggoda Gaara dan terus menertawainya sejak tadi. Seharusnya ia juga bisa mencegah kakak dan sahabatnya untuk membohongi Gaara. Namun s*alnya ia lupa jika Kara pernah memperkenalkan Zayn sebagai calon suaminya.


"Maaf bang..aku nggak bermaksud--" Nala tak lagi mampu bersuara saat bibirnya dibungkam oleh bibir yang begitu ia rindui.

__ADS_1


Matanya melebar kala Gaara mulai me lu mat dan menye sap nya lembut. Ketegangannya mulai sirna saat Gaara memperlakukannya sangat lembut. Ia terbawa suasana dan memejamkan matanya, menikmati setiap detik yang akan ia kenang untuk seumur hidupnya.


"Abang..." Lirih Nala saat Gaara melepaskan tautan bibir keduanya.


"Maaf.." Ucap Gaara yang seolah tersadar dengan kesalahannya. Meskipun ingin, harusnya ia tak melakukan hal itu pada Nala. Apa yang akan Nala pikirkan tentang dirinya.


"Abang udah cinta ya sama aku?". Gaara yang semula menunduk segera mengangkat wajahnya. Dan yang pertama ia lihat adalah wajah tengil Nala yang begitu ia rindukan.


"Ya. Bahkan aku cinta banget sama kamu". Kini Nala yang membeku. Jantungnya terpompa cepat dan menciptakan debaran yang semakin kencang. Debaran yang sejak tadi berusaha ia redam.


Kini ia menyesali pertanyaannya. Pertanyaan yang sesungguhnya ia ajukan untuk mengurai suasana kaku akibat pertemuan bibir keduanya. Ia pikir jawaban Gaara masih akan sama seperti dulu saat ia bertanya apakah lelaki itu mencintainya atau tidak, maka Gaara pasti akan menjawab tidak dan jangan berharap. Lalu kenapa kini dengan tegas dan tanpa keraguan lelaki itu menjawab ya. Dan apa katanya tadi? Sangat mencintainya?


"Ha..Hahah, abang becandaannya niat banget". Nala tertawa kaku, memukul pelan lengan Gaara dan segera mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Bisa gila dirinya jika berlama-lama bertatapan dengan Gaara.


Gaara mengangkat sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyum tipis. Seringai kecil tercipta di bibir sen sualnya. Jika sejak tadi Nala terus menggodanya, maka kini berganti dirinya yang menggoda Nala.


"Kenapa? Dari dulu kamu pengen denger jawaban aku yang kaya gini kan?". Gaara menarik pelan lengan Nala hingga gadis itu menghadap nya kembali.


Waktu satu tahun lebih ternyata tak mengubah apapun. Perasaannya pada lelaki bernama Sagaara Sanjaya itu ternyata masih sama saja. Ia masih begitu mencintai dan mengagumi segala yang ada pada diri Gaara.


"Kenapa? Kamu sakit La? Muka kamu merah". Gaara kembali tersenyum tipis, ia mengusap lembut pipi Nala yang terlihat semakin memerah dengan perlakuannya.


"P-panas! Iya, panas banget kan sekarang". Nala mengipas wajahnya dengan telapak tangan. Berharap dengan begitu bisa mendinginkan wajahnya yang kini entah sudah semerah apa.


"S*al banget. Harusnya aku pulang bareng kak Melly sama kak Ivan aja. Gini kan jadi senjata makan tuan namanya. Tadi aku yang godain malah sekarang aku dikerjain abis-abisan". Batin Nala menggerutu. Kenapa pula tadi dirinya harus pulang bersama Gaara.


"Panas? Ini dingin La. Lihat, ac nya masih nyala kok. Mesin mobilnya kan nggak aku matiin". Gaara berpura-pura bodoh saja. Ia tahu jika Nala pasti tengah malu.


"Aku turun sini aja". Tangan Nala meraih pintu mobil dan hendak membukanya. Namun Gaara lebih cepat menarik lengan Nala hingga kini keduanya saling berhadapan dengan jarak yang dekat.

__ADS_1


"Haish..bisa mati kaku kalo terus-terusan kaya gini. Abang kenapa sih, jangan kaya gini bang. Jantung aku nggak baik-baik aja. Aku takut hati aku makin gila dan pengen milikin abang". Nala menatap Gaara yang saat ini juga tengah menatap dirinya dengan tatapan yang sulit Nala pahami.


Tatapan tajam itu terlihat berbeda dari terakhir kali mereka berdekatan seperti ini.


Tubuh Nala semakin menegang saat Gaara terus mengusap lembut pipinya. Menyusuri wajah ayunya dan berakhir mengelus lembut bibir Nala dengan ibu jarinya.


"Apa abang masih punya kesempatan, La?". Nala yang baru saja menunduk karena malu terus ditatap, kini mengangkat wajahnya.


"Apa abang masih ada didalam hati kamu?". Gaara terus menatap Nala yang justru semakin terlihat salah tingkah.


"Apa sekarang kamu masih cinta sama abang?". Gaara terus bertanya tanpa melepaskan tatapannya dari Nala.


"Apa sekarang abang boleh perjuangin kamu?". Nala bungkam, tak mampu berkata apapun. Segala impian yang sudah ia pendam, kini seolah datang padanya tanpa harus ia kejar lagi.


"A-abang..." Nala tak bisa melanjutkan ucapannya saat jari telunjuk Gaara menempel dibibirnya.


"Maaf..tapi abang mau egois. Bahkan kalo kamu nggak cinta lagi sama abang, abang akan paksa kamu biar kamu bisa cinta lagi sama abang". Baru Nala membuka mulutnya untuk memprotes, Gaara kembali meraup bibir Nala.


Nala hanya diam menerima apa yang Gaara lakukan. Biarlah ia dipandang rendah karena diam saat Gaara menciumnya. Karena sejujurnya ia pun merindukan bermesraan dengan Gaara seperti saat ini.


"Kapan lagi kan kaya gini..siapa tau abang kepalanya abis kepentok jadi rada oleng". Batin Nala sedikit terkekeh dengan pemikirannya.


...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...


Hollaaaa..apa kabarnya reader semua??? Semoga sehat semua yaaa..


Jangan lupa dukungannya ya..dan maafkan kalau othornya sering menghilang dari peredaran. Mohon di maklumi ya manteman semua🙏🏻😁


hukuman buat si santen pending dulu aja deh ya..fokus ama yang lagi bucin dulu aja😅

__ADS_1


Semoga senantiasa menghibur semua tulisan othor ini🙏🏻


__ADS_2