
Pagi ini Nala sudah rapi dan sudah siap melabrak lelaki yang semalam benar-benar membuatnya seperti seorang wanita tanpa harga diri.
Sejak semalam pun bibir mungil nan tipis itu tak ada hentinya mengumpat dan menyumpah serapahi lelaki yang masih menjadi raja didalam hatinya itu.
"Untung gue cinta bang, kalo kaga udah gue cekek lo dari kemaren". Umpat Nala yang benar-benar masih kesal.
"Bukannya kamu kuliah siang, sayang?". Tanya sang mami.
"Mau nyamperin calon mantu mami". Sahut Nala sambil duduk disamping ibunya.
"Jangan ganggu Gaara terus dong sayang". Nala langsung menatap sang ibu dengan wajah kesal. Entah sudah ke berapa kalinya, Yunita sang ibu memintanya berhenti mengharapkan Gaara.
"Aku tuh nggak ganggu abang, mi. Ini tuh aku perjuangin cinta aku tau.." Kesal Nala yang tak terima jika sang ibu menganggapnya mengganggu Gaara.
"Yang cinta kan kamu doang. Gaara nya kan enggak". Ucap Nita tak mau kalah.
"Mami gimana sih, bukannya dukung anaknya buat bikin calon mantunya jatuh cinta. Malah ngomong gitu". Bibir Nala mengerucut lantaran kesal.
Nita menghela nafas panjang, bukan tanpa sebab dirinya mengatakan hal pahit seperti itu. Semua itu ia lakukan semata-mata untuk putri bungsunya. Ia tidak mau jika putrinya itu suatu saat akan merasakan sakit yang teramat sangat saat sudah tiba masanya ia benar-benar tidak bisa memiliki Gaara.
"Ya kalo orang nya nggak mau nggak usah dipaksa dong". Nita masih tak mau kalah.
"Auk ah. Kesel deh ama mami".
"Mami cuma mau yang terbaik buat kamu sayang, mami sama papi cuma mau kamu bahagia dan nggak terluka.." Nala merasakan usapan lembut dikepalanya. Dan ia tahu siapa pemilik tangan yang tengah mengusap kepalanya itu.
"Tapi aku bahagia kalo sama bang Gaara pi.." Wajah Nala berubah sendu. Bukan ia tidak menyadari resikonya mencintai Gaara, namun sungguh ia sangat mencintai lelaki itu. Hingga bertindak begitu bodoh dan merendahkan harga dirinya.
"Lakuin apa yang kamu mau, sayang. Tapi kamu harus inget, papi sama mami selalu ada buat kamu. Berhenti kalau kamu sudah benar-benar lelah, nak". Nita menatap Andre, suaminya dengan tatapan kesal. Sudah berulangkali ia meminta Andre membantunya menyadarkan Nala jika Gaara tidak mencintainya dan tidak akan pernah mencintainya, namun suaminya itu justru mendukung apapun yang putri mereka lakukan.
"Papi terbaik.." Nala memeluk dan mencium pipi sang ayah.
"Aku pergi dulu mi, pi". Nala juga mencium pipi Nita dan berlalu pergi.
"Nggak usah ngomelin papi deh, mi. Biarin dia lakuin apa yang dia mau. Akan ada saatnya nanti dia berhenti dengan kemauannya sendiri. Yang penting kita sudah mendukungnya". Melihat tatapan mematikan sang istri, Andre segera memasang tameng.
"Ya tetep aja..emang papi nggak takut anak papi sakit hati". Wajah Nita berubah sendu, ia sangat takut jika putrinya terpuruk.
Bukan tanpa sebab, namun Nala sudah menceritakan tentang permintaan 3bulannya pada Gaara. Dan jika Nita ingat lagi, waktu sang putri hanya tersisa beberapa minggu saja.
__ADS_1
"Kita hanya perlu mendoakan yang terbaik, sayang. Dan jika hal buruk itu benar-benar terjadi..maka tugas kita hanya membantunya bangkit". Nita mengangguk pelan setelah menghela nafas panjang. Apa yang dikatakan sang suami tidaklah salah.
.
.
Suara sepatu beradu dengan lantai membuat beberapa pasang mata menatap pada seorang gadis yang berjalan di lobby sebuah perusahaan.
"Pagi neng Nala.." Sapa seorang petugas keamanan yang sudah sangat mengenal gadis cantik itu.
"Pagi pak Asep..bapak makin ganteng aja ih.." Goda Nala yang membuat satpam bernama Asep itu tersipu.
Nala terkekeh pelan melihat lelaki paruh baya itu terlihat malu-malu setelah ia puji.
"Silahkan neng..pak Gaara juga belum lama sampai". Satpam bernama Asep itu tersenyum ramah pada gadis yang selalu mengklaim dirinya sebagai calon nyonya Gaara.
"Makasih pak Asep.." Nala kembali melanjutkan langkah kakinya. Membalas sapaan beberapa karyawan Gaara dengan senyum ramah.
Nala melirik sekilas segerombolan karyawati yang jelas ia tahu sedang menggunjingkan dirinya. Bukan tanpa sebab, namun ketampanan Gaara sudah pasti mampu membuat para karyawatinya terpesona.
Namun para wanita itu hanya berani menggunjingnya dibelakang tanpa berani menegurnya. Sebab selama dirinya mengaku sebagai calon istri Gaara, tak ada satu kalipun Gaara menampik atau mengatakan jika apa yang dikatakan Nala adalah bohong. Jadi mayoritas karyawannya percaya jika Nala benar-benar calon istri atasan kaku mereka.
"Abaaaang!!". Senyum yang sejak tadi mengembang dibibirnya seketika musnah ketika melihat apa yang ada didalam ruangan Gaara.
"Sorry.." Nala hendak keluar ruangan itu. Namun suara Gaara membuat langkahnya kembali terhenti.
"Tunggu". Nala masih membelakangi Gaara. Dadanya terasa sesak seolah tertimpa sebuh benda berat yang menyebabkan dirinya kesulitan bernafas.
"Kamu boleh keluar". Nala hanya melirik seorang wanita yang berjalan melewatinya. Sementara asisten Gaara meletakkan kotak makanan yang dibawa Nala ke atas meja diruangan bos nya.
"Saya permisi, pak". Gaara mengangguk. Matanya tak lepas menatap punggung Nala.
Kini ruangan Gaara terasa sunyi karena tidak ada satupun yang bersuara. Gaara pun merasa bingung, karena biasanya Nala lah yang selalu berisik dan terus berbicara.
"Masuk.." Nala berbalik, menatap Gaara dengan tatapan datarnya.
"Ada apa lo kesini?". Tanya Gaara membuat sudut bibir Nala terangkat hingga membentuk senyum miring.
"Lo harus jelasin kejadian semalem bang. Kenapa lo nyium gue". Tanya Nala tanpa mengalihkan tatapannya dari Gaara.
__ADS_1
"Nggak ada maksud apapun". Sahut Gaara acuh dan kembali duduk di kursi kerja nya.
"Apa maksud lo nggak ada maksud apapun?!". Tanya Nala mulai kesal.
"Gue nggak sengaja". Nala tersenyum sinis menatap Gaara yang kini mulai fokus dengan berkas didepannya.
"Nggak sengaja?". Tanya Nala menyindir dan dijawab anggukan kepala oleh Gaara.
"Kalo lo nyium gue cuma sekali, gue bisa terima lo bilang nggak sengaja. Tapi dua kali bang! Dua kali!", Nafas Nala memburu, kesal bukan main dengan jawaban Gaara.
"Lupain kejadian semalem. Anggep aja nggak pernah terjadi". Mata Nala melebar. Memerah menandakan ia sangat marah dan sekaligus kecewa.
"Lupain?". Tanya Nala dengan suaa sedikit bergetar. Sungguh hatinya sakit, harga dirinya benar-benar sudah dihempaskan hingga jatuh ke dasar bumi.
"Huh.." Gaara menghela nafas kasar. Perlahan mengangkat wajahnya untuk menatap Nala yang kini juga menatapnya tajam.
"Gue udah bilang. Jangan ngarepin cinta dari gue karna gue ga akan bisa kasih, La". Nala tersenyum sangat sinis.
"Lo pasti---"
"Ya. Gue pasti bisa dapetin laki-laki yang lebih baik dari elo". Gaara terdiam. Menatap wajah Nala yang terlihat sendu.
"Gue---" Nala mengangkat tangannya. Mengisyaratkan Gaara untuk diam. Ia kembali tersenyum m. Senyum penuh luka ketika netranya bersirobok dengan netra tajam Gaara.
"Gue tau. Sampe kapanpun gue nggak akan bisa dapetin cinta lo. Karna di hati lo cuma ada nama perempuan itu! Dan sayangnya gue buang-buang waktu buat cintain laki-laki go blok yang masih terikat ama masa lalu konyolnya". Nala terkekeh dengan sebuah senyuman sinis.
"Gue pergi bang. Meskipun masih ada waktu beberapa minggu. Kayaknya ini udah waktunya gue mundur". Nala mundur satu langkah.
"Sesuai janji gue..mulai sekarang gue nggak akan pernah ganggu lo lagi..sampai kapanpun". Diam-diam tangan Gaara terkepal kuat mendengar semua ucapan Nala. Rahangnya pun mengeras. Hatinya terasa tersayat saat Nala mengatakan semua itu. Tapi kenapa? Bukankah ia sendiri yang meminta dan membuat gadis itu mundur dan pergi menjauh darinya?
"Lo bisa pegang janji gue bang. Gue nggak akan pernah nampakin diri gue didepan lo, apapun alesannya!". Nala langsung berlari keluar saat selesai mengucapkan semua isi hatinya.
"Lo ba jingan bang! Gue janji..gue bakal pergi sejauh mungkin dari jangkauan elo". Nala menghapus kasar air mata si alan yang tiba-tiba menetes membasahi pipinya.
Ia terus berlari tanpa memperdulikan tatapan heran para karyawan yang kebetulan berpapasan dengan dirinya.
Dalam hati ia bersumpah akan benar-benar menghilang dari jangkauan mata Gaara. Tak akan lagi menampakkan dirinya didepan Gaara meski kelak ia akan sangat merindukan lelaki itu.
...•••¥¥¥•••...
__ADS_1
Hayoloh si abang bikin anak orang nangis. Awas lo bang, di sleding ama mak bapak nya si kuman lo😂
Kira-kira gimana reaksi si abang ya?? Sadar kalo mulai suka? Apa biarin si kuman pergi baru sadar??🤔