Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
memikirkan cara


__ADS_3

Baim terlihat gusar. Berkali-kali ia menyugar rambutnya lantaran frustasi menghubungi Kara dan panggilannya selalu diabaikan. Bahkan saat ini ia masih ada dirumah kedua orang tua angkatnya. Berharap Kara sudah pulang dari rumah Nala dan ia bisa bertemu dengan adiknya itu.


Ini bukan kali pertama. Jika diingat, sudah hampir satu bulan berlalu adiknya itu selalu bisa menghindar darinya. Sudah berbagai usaha ia lakukan agar bisa menemui adik bungsunya itu. Mulai dari datang ke rumah pagi-pagi, menunggu Kara pulang sekolah, hingga lebih sering menginap di rumah orang tua angkatnya. Semua itu ia lakukan untuk bisa menemui Kara dan berbicara dengan gadis itu. Namun semua nihil. Kara jauh lebih cerdik dari dugaannya.


Gadis itu selalu bisa menghindari dirinya dengan sejuta alasan. Baim benar-benar dibuat pusing dengan perubahan Kara yang sangat ia rasakan.


"Kenapa lo?". Baim menoleh, mendapati saudara angkatnya sudah duduk disampingnya.


"Lo ada masalah apaan ama si santen?". Tanya Gaara membuat Baim segera menatap Gaara. Mungkin kah Gaara juga sadar jika Kara menghindarinya.


"Masalah? Masalah apa maksud lo?". Baim berpura-pura tak mengerti..


"Ck. Lo tu kaga bakat boong, Im". Gaara berdecak sebal saat Baim mencoba membohonginya.


Meskipun bukan saudara kandung, namun keduanya dibesarkan oleh ibu yang sama. Hidup dari kecil bersama membuat Gaara sangat tahu perubahan pada saudara-saudaranya sekecil apapun itu.


"Huh.." Baim menghela nafas kasar saat sadar ia tak akan berhasil membohongi Gaara. Namun tak mungkin juga ia jujur tentang apa yang Kara katakan pada dirinya beberapa minggu lalu itu.


"Kenapa?". Desak Gaara yang tak kunjung mendapat penjelasan dari Baim.


"Kara ngambek ama gue". Gaara mengernyit bingung. Sesuatu yang mustahil pikirnya.


"Kaga usah ngaco. Mana bisa si santen ngambek ama elo. Kalo ke gue apa si Raffa sih bukan nggak mungkin. Tapi ke elo? Itu mustahil". Gaara terkekeh sendiri. Pasalnya selama hidupnya mengenal Kara, gadis manis itu tidak pernah sekalipun marah pada Baim. Apalagi dalam jangka waktu yang lama. Sangat mustahil, pikir Gaara.


Baim kembali menghela nafas panjang. Seandainya Gaara tahu yang sebenarnya. Akan seperti apa reaksi saudaranya itu. Kini dirinya pusing sendiri memikirkan cara untuk membuat adik manisnya itu mau menemuinya lagi.


"Lo inget kan sebulan lalu, Kara nggak pulang beberapa hari gara-gara bonyok?". Gaara diam mengingat kemudian mengangguk saat ingat.


"Yang berantem pas pulang sekolah waktu itu?". Baim mengangguk.


"Terus apa hubungannya?". Tanya Gaara bingung.


"Waktu itu gue telat jemput". Baim kembali menghela nafas. Sungguh berat diacuhkan oleh orang yang kita sayangi bukan.


*Nah kaya gitu tuh kalo tau perasaan si santen, mere tah si kakak. Baru juga sebulan kak dicuekin ama santen sachet, kebayang kaga tu si santen udah tahunan mendem rasa. Dasar kaga peka. *Fix pasti readers ngebatin gitu da, yakin da aku😂


"Terus?". Gaara duduk menyamping menghadap Baim.

__ADS_1


"Ya gara-gara gue telat jemput itu, dia jadi dikeroyok ama bocah-bocah yang pernah dihajar Kara ama Raffa".


"Yang waktu itu lo hajar ampe pada mau mamp*s?". Baim menganggukkan kepalanya.


Ya, satu hari setelah kejadian itu, Baim mengajak Raffa untuk mencari para pemuda yang kembali membuat Kara terluka. Baim berpesan pada Raffa untuk tidak ikut campur apa yang akan ia lakukan nanti. Tugasnya hanya menunjukkan wajah-wajah bocah tengik itu.


Dan setelah menemukan kelima pemuda itu, tanpa basa-basi atau sekedar bertanya apa permasalahan mereka dengan sang adik. Baim menghajar habis mereka hingga kelimanya masuk rumah sakit. Namun dari kelimanya tak ada yang berani menuntutnya karena awal permasalahan adalah dari mereka. Terlebih setelah mengetahui siapa Kara dan orang tuanya. Kelimanya meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


Raffa yang melihatnya dibuat melongo tak percaya. Kakaknya yang biasanya diam dan sabar terlihat sangat mengerikan ketika dikuasai amarah. Raffa bergidik ngeri melihat kelima pemuda itu terkapar dengan luka yang bisa dibilang cukup parah. Dalam hati Raffa berjanji tidak akan membuat kakaknya itu marah.


"Terus dia ngambek ampe sekarang?". Baim mengangguk lesu membuat Gaara melongo tak percaya.


"Lo yakin cuma itu, Im??". Mata Gaara memicing menatap curiga saudaranya. Sangat tidak masuk akal Kara marah hingga sebulan hanya karena hal itu. Babak belur sudah menjadi teman Kara sejak duduk dibangku SD. Jadi sangat tidak mungkin adik bungsunya marah hingga sebegitu lamanya hanya karena Baim telat menjemput dan membuat adiknya babak belur.


"Emang apa lagi?". Tanya Baim balik menyembunyikan perasaan gugupnya ditanya sedemikian rupa oleh Gaara.


"Nggak masuk akal tau, tuh anak ngambek segitu lama cuma gara-gara bonyok. Kita semua tau, babak belur tu udah jadi temennya si santen sejak SD. Bahkan dulu pernah sampe masuk rumah sakit, dan nggak pernah jadi masalah Im". Baim memejamkan matanya sesaat, mencari alasan apalagi yang tepat agar Gaara berhenti mencurigainya.


"Jadi kaga mungkin tu santen ngambek segitu lama kalo cuma gara-gara ini. Pasti ada alesan lain". Gaara nampak berfikir keras.


"Kenapa lo telat?". Baim gelagapan mendapat pertanyaan itu.


"Aaaah..gue tau. Inti masalahnya bukan gara-gara dia bonyok. Tapi alesan lo telat jemput tu santen". Gaara tersenyum miring menatap Baim yang bungkam.


"Kaga ikut-ikutan dah gue. Bisa-bisa gue yang dicuekin ama santen. Ntar kaga gurih lagi idup gue kalo ampe dicuekin itu santen sachet". Baim mendelik kesal mendengar saudaranya justru meledeknya.


"Lo kaga ada niatan bantuin gue baikan ama Kara?!".


"Kaga ah. Serem gue, tu bocah kalo ngambek kaga kaleng-kaleng bro. Bisa-bisa setaun gue dikacangin". Gaara bergidik ketika mengingat bagaimana diamnya sang adik ketika marah pada dirinya. Ia harus jumpalitan untuk bisa mendapat maaf, bahkan harus rela mengosongkan dompetnya demi sebuah kata maaf dari si santen. Melirik sebentar saudaranya yang terlihat frustasi, Gaara kemudian bangkit dari duduknya.


"Selamat berjuang sodaraku..jalan terjal menantimu didepan sana kawan". Ledek Gaara dengan senyum menyebalkan. Melambaikan tangannya tanpa menoleh pada Baim. Meninggalkan Baim yang kembali pusing memikirkan cara untuk bisa menemui Kara.


"Dasar sodara sableng. Bukannya bantuin malah ngeledekin doang". Gerutu Baim menatap punggung Gaara menjauh.


"Kakak harus gimana Ra.." Baim menjambak rambutnya lantaran frustasi tak kunjung menemukan cara untuk menemui Kara dan meminta maaf gadis itu. Meski Kara selalu bilang jika sudah memaafkan Baim, namun gadis itu tetap mengacuhkannya. Dan itu sangat mengganggu Baim dan membuatnya tak tenang.


Berbeda dengan Baim yang sedang pusing. Saat ini Kara tengah duduk di boncengan seorang pria yang tengah mengendarai motornya.

__ADS_1


"Kakak udah siap?". Tanya Kara dijawab anggukan kepala oleh Bara.


Sepanjang perjalanan Kara terus berbicara, membuat dua sudut bibir Bara terangkat sempurna.


"Kaga cape apa lo ngoceh mulu". Kara mencebik kesal.


"Ini tuh biar kakak nggak ngantuk tau. Biar nggak gugup juga". Dengus Kara membuat Bara terkekeh. Rasa gugupnya hilang mendengar celotehan Kara yang sudah mirip seperti radio. Ada saja yang dibahas bibir mungil itu.


Tak terasa keduanya sampai di sebuah cafe yang akan menjadi tempat Bara perform. Kara bisa melihat jelas kegugupan di wajah tampan lelaki yang pernah menyatakan cinta padanya itu.


"Santai dong kak..tegang banget kaya mau ujian aja". Goda Kara menepuk pelan pundak tegap lelaki itu.


"Ini juga ujian, Ra. Ujian hidup". Kara terkekeh pelan mendengar ucapan Bara yang baginya seperti lelucon.


"Tarik nafas..keluarin. Ulangin terus.." Bara mengikuti instruksi Kara.


"Tarik nafas..tahan... oke, jangan nafas-nafas lagi". Sontak Bara menepuk keras lengan Kara yang justru terbahak.


"Mati dong gue". Gerutu Bara yang membuat tawa Kara semakin pecah.


"Udah ah, ayo masuk". Kara menarik lengan Bara yang seperti enggan masuk ke dalam cafe.


"Duh, deg-degan banget gue Ra". Bara mengelus da danya yang terasa berdebar.


"Lebay! Buruan ah. Pegel gue daritadi berdiri disini", Kara mendorong tubuh kekar Bara yang akhirnya pasrah dan mengikuti perintah Kara.


Kara tergelak melihat wajah Bara yang semakin tegang. Tidak biasanya Bara seperti ini. Bara yang ia kenal adalah lelaki yang penuh percaya diri.


"Lo beneran tegang kak?". Tanya Kara tak percaya.


"Berisik ah lo.." Kara tertawa puas, apalagi saat tak sengaja tangannya menyentuh tangan Bara dan terasa sangat dingin.


Namun tawa Kara terhenti saat seseorang menarik tangannya yang masih ada dipunggung tangan Bara. Ia menoleh, dan matanya membola melihat siapa yang kini tengah mencengkeram tangannya.


"Kakak?".


...---¥¥¥---...

__ADS_1


Selamat pagi semua..sehat selalu dan semoga selalu dalam lindungan yang maha kuasa, aamiin🤲🏻🤲🏻


Selamat membaca dan semoga syukaaa☺️😁


__ADS_2