Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
kita perlu bicara


__ADS_3

Ponsel milik Abi berdering saat keduanya tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Diandra hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada Gaara yang kini terlelap dipelukannya.


"Ya, selamat pagi Mel.."


"........"


"Hari ini saya tidak pergi ke kantor. Anak saya sedang sakit".


" Serahkan saja berkas yang perlu saya periksa pada Tiara".


"........."


"Ya, terimakasih doanya". Abi mematikan sambungan teleponnya.


Diandra sudah tahu siapa yang menghubungi Abi. Bahkan sejak dirinya masih berstatus kekasih Abi dan sering berkunjung saat dirinya libur semester dulu, wanita yang menelpon Abi barusan sudah menunjukkan rasa tertariknya pada Abi.


" Melisa yang menelpon barusan". Entah mengapa Abi tiba-tiba menjelaskan perihal siapa yang menghubungi dirinya.


"Bukan urusanku". Sahut Diandra dingin tanpa melirik Abi sedikitpun.


Abi menghela nafas panjang. Benar-benar berat rasanya dibenci oleh orang yang masih memiliki tempat terluas dihati kita. Abi merasakannya kini, betapa tersiksanya tak dianggap oleh orang yang dikasihi. Lalu bagaimana perasaan Diandra ketika mengetahui penghianatannya dengan Dea, kakak kandung Diandra. Membayangkannya saja Abi merasa tak sanggup.


" Ayo jalan.." Suara Diandra membuyarkan lamunannya. Rupanya lampu lalu lintas didepannya sudah berubah hijau.


Keduanya melanjutkan perjalanan dalam suasana hening, Gaara yang terlelap membuat suasana semakin terasa hening hingga keduanya bisa mendengar deru nafas masing-masing.


Abi memarkirkan mobilnya dipelataran rumah sakit setelah menurunkan Diandra dilobby tadi. Ia tak mau Diandra dan Gaara harus berjalan jauh.


Sudut bibirnya sedikit terangkat saat melihat Diandra masih duduk menunggu dirinya. Dirinya merasa dibutuhkan oleh Diandra dan itu berhasil membuat hatinya bahagia.


"Aku daftarkan dulu.." Diandra mengangguk tanpa bersuara.


Cukup lama Diandra menunggu Abi hingga orang yang ditunggu terlihat berjalan menghampirinya.


"Ayo.." Diandra bangkit, terlihat kesusahan karena tas perlengkapan Gaara dan tas miliknya. Tanpa dikomando, Abi mengambil alih tas anaknya dan juga milik Diandra hingga Diandra menatapnya.


"Sudah ayo..Gaara mendapat nomor 3 diruang pemeriksaan". Tak ingin berdebat, Diandra melangkah disamping Abi yang menunjukkan dimana ruang praktek dokter anak.


Tak perlu menunggu lama, nama Gaara sudah dipanggil oleh perawat yang bertugas membantu dokter.


" Selamat pagi dok.." Sapa Diandra ramah diikuti Abi dibelakangnya.


"Selamat pagi. Silahkan duduk bu.."

__ADS_1


"Kenapa adeknya??". Tanya Dokter itu ramah.


" Demam..tadi sewaktu bangun tidur nggak kenapa-kenapa dok. Pas saya tinggal sarapan sudah demam seperti ini". Abi melirik sekilas Diandra, terlihat jelas dari raut wajahnya jika gadis itu sangat mengkhawatirkan kondisi Gaara.


"Diperiksa dulu ya..silahkan dibaringkan disana dulu". Dokter menunjuk ranjang pemeriksaan yang ada didalam ruangan. Dengan patuh Diandra mengikuti perintah sang dokter. Tak sejengkal pun ia bergeser dan terus menggenggam tangan mungil Gaara.


" Bagaimana kondisi putra saya dok?". Abi segera bertanya saat dokter selesai memeriksa Gaara.


"Apa Gaara ganti sufor nya pak?". Tanya dokter yang membuat Abi bingung. Pasalnya ia tidak mengetahuinya, segala hal tentang Gaara selalu Diandra yang mengurus.


" Iya dok..kemarin ganti merk sufornya". Sahut Diandra cepat.


"Apa Gaara juga diare?". Tanya dokter lagi dan dijawab anggukan kepala oleh Diandra. Diandra baru ingat jika pagi tadi Gaara diare.


" Iya..tadi pagi dok". Dokter tersenyum ramah.


"Sepertinya Gaara tidak cocok dengan su su yang baru. Jadi sebaiknya kembali ke merk sufor yang sebelumnya saja". Diandra hanya mengangguk saja.


" Lalu diare dan demam nya dok?". Tanya Diandra lagi.


"Sudah berapa kali buang air nya?". Tanya dokter membuat Diandra terdiam sejenak.


" Baru satu kali saja dok". Dokter mengangguk paham


" Demamnya juga tidak terlalu tinggi, nanti jika suhu tubuhnya sudah normal, dihentikan saja pemberian obatnya". Diandra hanya terus mengangguk mendengar kan dengan cermat setiap penjelasan dokter.


"Baru anak pertama ya bu?". Tanya dokter yang sedang menuliskan resep.


" Iya..ini putra pertama saya". Hati Abi menghangat mendengar penuturan Diandra. Ia teringat ucapan teman Diandra saat acara resepsi pernikahannya beberapa waktu lalu.


Naya benar, Diandra memang gadis dengan hati selembut kapas. Jika tidak, mana mungkin gadis itu akan mau mengakui Gaara sebagai putranya dan tulus menyayanginya setelah semua yang dirinya dan Dea lakukan pada Diandra.


"Tidak perlu terlalu khawatir..bayi memang rentan terkena demam seperti Gaara saat ini. Mama nya harus tenang supaya anaknya juga tidak rewel" Dokter menyerahkan selembar resep dan langsung diterima Abi.


"Silahkan resepnya ditebus diapotek depan ya.." Diandra bangkit, menyambut uluran tangan sang dokter diikuti Abi yang melakukan hal serupa.


"Terimakasih dok..kami permisi". Dokter hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi Abi.


" Kamu tunggu sini dulu sama Gaara..aku tebus obatnya dulu sama selesaiin administrasinya". Diandra mengangguk patuh dan duduk dikursi tunggu yang ada di apotek. Sementara Abi menyelesaikan pembayaran dan menebus obat untuk Gaara.


"Maafkan mama ya sayang..kamu harus baik-baik aja. Mama nggak mau kamu sakit". Diandra mendekap tubuh Gaara dan menciuminya. Ia sendiri tak menyangka jika rasa sayangnya pada Gaara akan sebesar ini hanya dalam waktu singkat.


" Dasar lemah". Umpat Diandra pada dirinya sendiri, diikuti senyuman getir yang menghiasi bibir tipisnya.

__ADS_1


"Sudah..ayo pulang". Tiba-tiba Abi sudah berdiri didepannya.


" Aku akan naik taksi. Kamu pergi lah ke kantor ". Ucap Diandra membuat Abi menggeleng


" Aku tidak akan ke kantor. Ayo pulang..tidak baik terlalu lama dirumah sakit. Terutama untuk Gaara". Malas berdebat, akhirnya Diandra menuruti ucapan Abi. Lagipula apa yang Abi katakan memang benar, tidak baik bagi Gaara terlalu lama dirumah sakit.


Sepanjang perjalanan pulang keduanya hanya diam, Abi yang fokus dengan kemudinya. Sedangkan Diandra selalu memandang wajah tampan Gaara, yang sialnya sangat mirip dengan ayahnya. Lelaki yang dulu amat Diandra cintai, bahkan mungkin kini perasaan itu masih ada.


"Turunlah..biar aku yang bawa". Sebelum Diandra direpotkan dengan tas miliknya, Abi lebih dulu memintanya masuk.


" Ya.." Sahutnya singkat membuat Abi kembali membuang nafas kasar.


Belum Diandra masuk, kedua nenek Gaara sudah menyambutnya dengan berbagai pertanyaan.


"Gimana sayang??"


"Gaara kenapa?"


"Apa kata dokter??"


"Gaara baik-baik aja kan nak?". Kedua nenek Gaara itu bergantian memberondong Diandra dengan pertanyaan seputar keadaan Gaara.


" Gaara baik-baik aja ma..kalo mama nanya kayak gitu gimana Diandra mau jawab". Abi membantu Diandra menjelaskan kondisi putranya. Ibu dan ibu mertuanya memang selalu heboh jika menyangkut Gaara.


"Syukurlah.." Ucap keduanya kompak.


"Aku permisi". Tanpa menunggu respon dari dua wanita yang dulu amat ia sayangi, Diandra melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya dan Gaara.


" Aku akan menyusulnya ma.." Ucapan Abi membuat Ana dan Dita saling menatap. Kemudian pandangannya beralih pada dua tas yang dipegang oleh Abi.


"Semoga hubungan mereka semakin membaik, Ta. Kasian mereka sama-sama tersiksa". Mama Ana menatap punggung putranya yang menjauh.


" Aku juga berharap seperti itu mbak. Aku ingin Diandra kita bahagia dan kembali seperti dulu lagi. Pasti sulit melalui semua ini.." Dita dan Ana terpaku dengan pikirannya masing-masing.


"Aku letakkan tas nya disini". Abi meletakkan tas Diandra dan Gaara diatas sofa dikamar yang dulu sering ia masuki.


" Ya.." Diandra tetap tak bergeming. Ia tetap fokus pada Gaara meski bayi mungil itu terlelap.


"Di.." Panggilan Abi membuat jemarinya yang tengah mengelus pipi Gaara terhenti. Namun tak ada niatan dalam dirinya untuk menoleh ataupun membalas panggilan Abi.


"Di..kita nggak bisa selamanya seperti ini"


"Kita perlu bicara Di.."

__ADS_1


__ADS_2