
Baik Gaara maupun Haikal seolah tak ada yang mau mengalah. Keduanya masih terus saling beradu tatapan tajam. Nala pun masih berada dalam rengkuhan Gaara.
Sedangkan Haikal, terlihat sekali jika lelaki itu tidak suka Gaara dan Nala saling berdekatan seperti saat ini.
"Saya adalah sahabat baik kakaknya. Dan kakaknya menitipkan Nala pada saya. Jadi biarkan saya mengantarkan Nala pulang". Haikal mencoba menahan amarahnya. Ini masih dilingkungan kampus, dirinya harus tetap menjaga wibawanya saat ini.
Gaara tersenyum sinis, matanya tetap menyorot tajam sosok lelaki yang membuat Nala nya dalam kesulitan seperti saat ini.
"Kalau begitu, mulai sekarang anda sudah tidak memiliki tanggung jawab itu. Karena mulai sekarang, Nala adalah tanggung jawab saya". Gaara berucap dengan tenang.
"Abang.." Lirih Nala menatap Gaara yang terlihat santai. Saat ini Nala tidak peduli yang lain, ia hanya merasa kasian dan tidak tega melihat kondisi Gaara yang kotor karena ulah teman-temannya.
"Sebentar ya sayang.." Mata Nala melebar saat tanpa aba-aba Gaara mengecup singkat pelipisnya.
Jangan tanyakan bagaimana reaksi Haikal. Lelaki itu bahkan hampir melayangkan kepalan tangannya pada lelaki yang masih dengan tenang merengkuh tubuh wanita yang kini ia cintai.
"Apa maksud anda?". Suara Haikal terdengar berat. Ada perasaan tak terima melihat bagaimana Nala diam disentuh bahkan dipeluk oleh Gaara.
"Nala adalah tanggung jawab saya. Dia calon istri saya. Jadi mulai sekarang anda sudah tidak perlu merasa bertanggung jawab atas segala yang berkaitan dengannya". Nala terus menatap Gaara. Apa sebenarnya maksud lelaki ini mengakuinya sebagai calon istri. Apa tujuannya dan mengapa.
"C-calon istri?". Gumam Haikal dengan tatapan tak percaya. Ia menatap Gaara kemudian menatap Nala meminta penjelasan.
"A-aku tidak percaya", Ucap Haikal kemudian. Tidak mungkin lelaki didepannya ini benar-benar calon suami Nala. Pasti lelaki itu hanya mengaku saja tanpa dasar.
"Aku juga tidak butuh kepercayaanmu". Balas Gaara sinis dengan sebuah senyum miring.
"Ah, jika memang kau tidak percaya. Tanyakan saja pada Zayn". Imbuhnya lagi.
"Tapi maaf, aku tidak punya waktu untuk menunggu rasa penasaranmu itu. Aku harus segera membawa calon istriku pulang". Jen yang melihat dan mendengar semua itu terlihat sangat puas dengan apa yang Gaara lakukan.
Kini harusnya teman-temannya bisa membuka lebar mata mereka. Bahwa selama ini bukan Nala yang mengejar Haikal. Namun lelaki beristri itulah yang terus mengganggu Nala.
"Dan untuk kalian.." Gaara membagi tatapan matanya pada orang-orang yang sudah berlaku semena-mena pada wanitanya.
"Kalian tidak akan lolos dengan mudah. Kalian harus membayar semua perbuatan yang telah kalian lakukan pada calon istriku". Hanya ada beberapa mahasiswi yang berani mengangkat wajahnya. Sisanya terlalu takut untuk melihat sorot mata penuh ancaman yang Gaara berikan.
__ADS_1
"Ayo sayang.." Gaara hendak membawa Nala. Namun Haikal kembali menghadang keduanya. Ia masih belum bisa menerima kenyataan ini. Ini semua terlalu mendadak.
"Tunggu!! Aku tidak bisa langsung mempercayaimu. Aku akan bertanya pada kakaknya". Haikal mengeluarkan ponselnya. Sementara Nala terlihat panik, bagaimana jika kakaknya mengatakan bahwa Gaara bukan calon suaminya. Maka semua akan kembali seperti semula lagi.
Nala menatap Gaara, namun lelaki itu masih terlihat sangat tenang bahkan saat Haikal sudah menempelkan ponselnya ditelinga sambil menatap remeh pada Gaara.
Haikal menutup telponnya, kemudian mencoba menelpon Zayn lagi karena percobaan pertamanya tak diangkat oleh Zayn.
"Kau membuang waktuku". Ucap Gaara mulai jengah.
"Aku tidak bisa mempercayakan Nala padamu. Belum tentu semua yang kau ucapkan itu benar". Haikal menatap Gaara tajam. Namun Gaara terlihat sangat tenang dan tak terpengaruh.
"Dia memang calon suami saya, pak. Dan apa alasan anda mencegah kami pergi". Masa bodoh dengan yang akan terjadi ke depannya nanti. Yang jelas saat ini dirinya ingin segera menghilang dari hadapan teman-temannya dan juga dosen s*alan yang sudah membuatnya berada dikubangan masalah ini.
"Nala.." Lirih Haikal dengan sorot mata hancur. Sedangkan Gaara semakin melebarkan senyumnya mendengar ucapan Nala.
"Kamu bohong kan. Kamu cuma mau menghindariku?".
"Aku sudah menceraikan Nia. Hanya butuh beberapa sidang. Aku mohon beri aku kesempatan". Nala segera melirik sekitar, tampak beberapa temannya terlihat terkejut dengan ucapan Haikal. Bahkan beberapa ada yang sampai membekap mulutnya.
"Laki-laki macam apa yang rela mengorbankan perasaan istrinya hanya demi ego nya. Anda benar-benar b*jingan tuan Haikal". Geram Gaara dengan sorot mata yang kembali menajam.
"Sekarang menjadi urusanku karena wanita yang kau ganggu adalah calon istriku. Jadi menyingkirlah dari hadapan kami dan enyahlah dari kehidupan calon istriku". Sengit Gaara yang mulai habis kesabaran menghadapi manusia tak tahu malu seperti Haikal.
Saat Gaara dan Haikal masih saling menatap dengan tajam. Terdengar suara sepatu beradu dengan lantai hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring.
Semua orang menatap ke arah suara tak terkecuali Nala dan Jen. Sedangkan dua manusia yang sedang saling melemparkan tatapan tajam itu tak terpengaruh aedikitpun.
"Bos.." Seorang pria yang tak lain adalah Nick membungkuk sedikit saat sudah sampai disamping Gaara.
"Urus dia". Ucap Gaara melirik Haikal yang terlihat mengetatkan rahangnya.
"Maaf bos..jas anda". Dengan cekatan, Nick melepas jas Gaara yang berlumuran telur hingga bau amisnya cukup menyengat.
"Buang". Perintah Gaara yang langsung dilaksanakan Nick.
__ADS_1
"Urus mereka semua. Pastikan mereka mendapat hukuman setimpal dengan apa yang mereka lakukan pada Nala". Gaara kembali membagi tatapan tajamnya pada teman-teman Nala yang terlihat mulai panik.
"Tunggu! Kau tidak bisa membawa Nala tanpa izinku". Nala langsung menatap tajam Haikal. Rupanya lelaki itu memang lelaki tak tahu malu.
"Pak Haikal tidak memiliki hak apapun untuk melarang saya pergi bersama calon suami saya". Tegas Nala. Bahkan kini ia memberanikan diri memeluk posesif lengan kekar Gaara.
"Nggak bisa La..Zayn---"
"Biarkan mereka pergi, Haikal". Kini semua mata tertuju pada sumber suara. Nala memejamkan matanya saat mendengar suara yang sangat familiar itu.
"Zayn.." Gumam Haikal menatap sosok lelaki yang berjalan tenang ke arah mereka.
Zayn menatap Gaara dan Nala. Kemudian menatap tajam pada Haikal. Ingin rasanya Zayn menghajar lelaki itu saat ini juga. Tak pernah ia sangka jika sahabatnya akan jatuh hati pada adiknya hingga menyebabkan masalah seperti saat ini.
"Bawa Nala. Aku percayakan dia padamu". Nala yang semula menunduk langsung mengangkat wajahnya. Ia seolah tak percaya dengan apa yang kakaknya katakan.
"Mas.." Gumam Nala membuat Zayn menoleh dan tersenyum.
"Ikut sama calon suami kamu. Nanti mas susulin..biar mas urus dulu orang ini". Mata Nala semakin melebar. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Zayn juga mengatakan jika Gaara adalah calon suaminya? Mungkinkah keduanya sudah merencanakan ini sebelumnya?
"Kamu ikut mereka dulu ya..nanti aku nyusul". Zayn beralih pada Jen yang terlihat sama terkejutnya seperti Nala. Namun sesaat kemudian Jen terlihat tersenyum lega dan mengangguk.
Zayn menatap Nala yang masih dirangkul mesra oleh Gaara semakin menjauh, diikuti kekasihnya yang berjalan tenang dibelakang keduanya.
"Ayo kita selesaikan!". Zayn berbalik dan langsung menatap tajam Haikal yang terlihat kaget.
"Z-Zayn..." Haikal tergagap saat tiba-tiba Zayn menyeret kerah bajunya.
Sementara Nick bertugas untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang sudah berani mengganggu pawang bos nya itu.
"Cari mati lo semua pada ya. Berani-beraninya ganggu pawangnya bos gue". Batin Nick tersenyum smirk.
...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...
Hayoloh Haikal..rasain deh sekarang. Udah mah kehilangan istri, Nala juga nggak dapet..masih bakal dapet hadiah dari mamas Zayn, eeeuuhh...seger-seger gimana gitu kan😅🤭
__ADS_1
Hari ini satu bab aja ya..soalnya hari libur begini misua suka minta diperhatiin aja, anaknya juga nggak mau kalah😂😂
Happy reading semuaaa🥰🥰 Lopelope sekebon readers ku tercintah💐💐💐💋💋💋