
Kara diperiksa diruang rawat Nala, sesuai permintaan Baim, suaminya.
Sebelumnya dokter manyarankan Baim agar membawa kara ke ruang gawat darurat saja, namun Baim tidak sabar jika harus kesana dan kembali menunggu.
Baim menunggu dengan wajah tidak sabar sekaligus khawatir saat dokter masih memeriksa kondisi Kara.
"Tenang, Im. Jangan panik gini". Gaara coba tenangkan saudaranya meski jujur dirinya juga sangat khawatir dengan kondisi adiknya.
Perasaan Baim tak menentu dibuatnya. Apalagi melihat berbagai reaksi yang ditunjukkan dokter melalui ekspresi wajahnya.
"Bagaimana? Bagaimana kondisi istri saya?". Tanya Baim cepat setelah dokter melepaskan stetoskop dari telinganya.
"Saya tidak bisa memastikan pak. Tapi akan lebih baik kalau ibu diambil sampel darahnya untuk diperiksa lebih lanjut". Mungkin jika Kara tidak pingsan, dokter bisa lebih mudah memeriksa sambil menanyakan apa keluhan wanita muda itu. Namun kondisi Kara yang pingsan membuat dokter ragu dengan analisanya.
"Tapi adik saya baik-baik saja kan dok?". Tanya Gaara ikut khawatir.
"Semua tanda vital nya bagus. Denyut jantungnya juga normal. Hanya tekanan darahnya saja yang sedikit rendah. Mungkin bu Lengkara hanya kelelahan". Baik Nala maupun suaminya, terlebih Baim mengehela nafas lega.
Setidaknya Kara dalam kondisi baik-baik saja dan tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan.
"Apa bisa diambil sample darahnya disini dok?". Tanya Baim
"Sebenarnya tidak bisa pak..bapak harus mendaftarkan bu Lengkara dulu ke bagian pendaftaran, baru setelahnya kami bisa melakukan tindakan". Ucap Dokter dengan seulas senyum ramah.
"Ambil saja sampel darah adik saya dok, saya yang akan mengurus pemdaftaran dan administrasinya". Ucap Gaara yang disetujui oleh istrinya yang masih memangku tubuh mungil putri kecilnya.
"Tidak mau dibawa ke unit gawat darurat saja?". Dokter menawarkan pilihan, namun baik Gaara maupun Baim tetap kukuh memilih Kara diperiksa diruang perawatan Nala.
"Disini saja, dok". Akhirnya dokter pasrah dan mulai mengambil sample darah Kara.
"Saya akan urus pendaftarannya sekarang". Gaara bergegas keluar didampingi salah seorang perawat yang tadi ikut masuk bersama dokter.
"Berapa lama hasilnya keluar dok?". Tanya Baim yang kini sudah duduk disamping Kara sambil menggenggam tangan istrinya itu.
"Tidak akan lama. Satu jam lagi kita sudah akan tahu hasilnya, kenapa bu Lengkara pingsan". Ada senyum penuh arti yang ditunjukkan dokter. Namun Baim tak bisa menebak apa arti senyuman itu.
Tak butuh waktu lama, Gaara dan perawat yang mendampinginya sudah kembali dengan membawa rekam medis baru untuk Kara yang memang belum pernah memeriksakan diri dirumah sakit tersebut.
dengan uang dan kekuasaan, semua bisa lebih mudah dan tentunya lebih cepat. Begitu mungkin yang ada dipikiran para tenaga medis itu ketika melihat Gaara sudah kembali padahal belum ada setengah jam berlalu.
"Tidak bisa lebih cepat dok hasilnya??". Kini Nala yang bersuara, ia pun sama khawatirnya. Ia juga ingin cepat tahu apa yang terjadi pada adik iparnya.
"Kita utamakan ketelitian dan keakuratan saja ya bu..agar hasilnya tidak sampai salah". Dengan sabar dokter menjelaskan, membuat Nala dan Baim mengangguk patuh.
"Kalu begitu saya tinggal dulu. Kalau nanti hasil lab nya sudah keluar, saya akan kembali kesini, semoga bu Lengkara segera sadar". Baim mengangguk dan berterimakasih pada dokter.
"Sayang.." Baim masih menggenggam tangan Kara yang terasa lebih dingin dari biasanya.
"Jangan panik, Im". Gaara memegang pundak saudaranya yang jelas terlihat khawatir itu.
"Iya kak. Kara pasti baik-baik aja kok". Timpal Nala yang juga mencoba membuat Baim tenang.
Sudah berlalu setengah jam sejak dokter keluar, pintu ruang rawat kembali terbuka membuat semua orang menatap kesana. Didepan pintu, terlihat mama Diandra dan mami Nita sudah berdiri disana dengan membawa paperbag yang entah berisi apa.
__ADS_1
"Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.." Semua menjawab salam dari mami Nita dan mama Diandra.
"Loh kalian disini juga?". Tanya Diandra yang melihat Baim serta Kara yang terlihat tertidur diatas sofa.
"I-iya ma.." Sahut Baim gugup. Ia takut sang mama akan panik jika tahu Kara pingsan.
"Ish anak ini..dateng jenguk kakak ipar sama ponakannya kok malah numpang tidur sih". Omel Diandra yang masih belum memahami situasi.
"Bangunkan istrimu..masa kesini cuma numpang tidur". Semua saling menatap bingung. Bingung cara menjelaskannya pada Diandra.
"Kok malah diem sih..ayo bangun---" Diandra tak melanjutkan ucapannya saat matanya menangkap sebuah benda putih menempel pada lipatan siku putrinya.
Diandra berjalan mendekati Kara yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Matanya semakin memicing saat tahu benda yang menempel dilengan anak perempuannya itu adalah sebuah plester kecil.
"Ini..." Diandra memegang lengan Kara pelan, lalu menatap pada menantunya.
Belum sempat Baim menjawab, pintu kembali terbuka membuat semua orang kembali berfokus pada siapa yang masuk. Dan kali ini seorang wanita dengan snelli nya yang masuk.
"Hasil lab nya sudah keluar pak.." Diandra menatap bingung pada anak dan menantunya. Memang siapa yang cek darah? Mungkin itu arti tatapan mata Diandra.
"Mama duduk dulu ya, nanti aku jelasin. Sekarang kita denger penjelasan dokter dulu.." Baim membawa Diandra duduk di sofa yang lain. Untunglah Nala ditempatkan diruangan yang sangat memadai fasilitasnya. Jadi meskipun banyak orang didalam ruangannya, tak akan membuat udara disana pengap dan mengganggu si bayi yang kini terlelap dalam box nya.
Dokter menjelaskan panjang lebar tentang kondisi Kara melalui hasil lab yang ia pegang. Pada intinya Kara tidak memiliki kelainan apapun.
"Untuk lebih memastikannya, saya sarankan bapak membawa bu Lengkara untuk USG, agar semuanya lebih pasti. Saya akan bantu". Semua diam, seolah tengah mencerna penjelasan dokter yang panjang lebar itu.
"Apa aku ada salah menjelaskan? Kenapa mereka jadi diam begini?". Batin dokter bingung melihat reaksi keluarga pasien.
"Bu..." Dokter muda itu memberanikan diri menyentuh lengan Diandra yang langsung tersadar.
"Ah i-iya..bagaimana tadi dok?", Diandra berusaha membangun kesadarannya. Jika benar yang disampaikan oleh dokter, itu artinya Kara, putrinya mengandung? Suatu hal yang sudah lama dinantikan putrinya itu.
"Dari hasil lab, bu Lengkara mengandung. Tapi untuk lebih memastikan lagi, saya sarankan untuk melakukan USG. Itu akan lebih akurat lagi". Dokter kembali tersenyum menatap Diandra yang kini matanya sudah berkaca-kaca.
"Eungh.." Lenguhan Kara membuat Baim tersadar. Cepat-cepat ia menoleh dan menatap istrinya yang terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali.
"sayang.." Baim langsung memeluk Kara. Setidaknya dokter sudah mengatakan istrinya itu hamil. Dan bukankah hasil pemeriksaan darah sudah cukup akurat untuk membuatnya berharap.
"Kakak.." Lirih Kara membalas pelukan Baim. Meski tak tau ada apa dengan suaminya, namun Kara tetap membalas pelukan tulus Baim.
Dokter tersenyum melihat pasangan muda itu. Sepertinya kabar yang ia sampaikan adalah sesuatu yang sudah lama keluarga itu tunggu.
Setelah beberapa saat, Baim memutuskan membawa Kara keruang pemeriksaan dokter obsgyn. Dan itu berhasil membuat Kara kebingungan.
"Kak.." Kara menahan lengan Baim saat hendak masuk kedalam ruang pemeriksaan. Ia tahu, jika Baim inginkan seorang anak. Tapi Kara takut akan mengecewakan Baim lagi.
"Nggak apa-apa. Percaya sama kakak ya.." Menghela nafas panjang sebelum akhirnya Kara menurut dan ikut masuk kedalam ruang pemeriksaan.
Wajah tegang jelas tergambar dari raut wajah keduanya. Tangan keduanya pun saling bertaut tanpa sedetikpun dilepaskan.
"Kita mulai ya bu.." Kara mengangguk sambil memejamkan matanya. Hatinya masih belum sanggup jika harus kembali kecewa dengan hasilnya nanti.
__ADS_1
Baik Kara maupun Baim sama-sama diam. Sedangkan dokter terlihat fokus pada layar didepannya dan tangannya sibuk bergerak diatas perut Kara.
"Alhamdulillah..selamat ya pak, bu.." Baim dan Kara langsung menatap dokter yang terlihat tersenyum tulus.
"Selamat ya pak, bu. Bu Lengkara hamil.." Dunia seakan berhenti berputar bagi Baim dan Kara. Berita bahagia itu benar-benar diluar perkiraan mereka.
Dokter kembali tersenyum hangat. Melihat reaksi kedua calon orang tua itu mampu membuat hatinya tersentuh.
Dokter mulai menjelaskan saat tangis haru Kara dan Baim mulai mereda. Kini keduanya sudah duduk didepan dokter.
"Usia kandungannya sudah memasuki usia delapan minggu..janinnya sangat sehat dan pertumbuhannya juga normal.." Dokter terus menjelaskan, sedangkan pasangan dihadapannya mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang dokter ucapkan.
"Terimakasih banyak dok.." Baim dan Kara menyalami dokter dan terus berterimakasih, seolah dokter itulah malaikat bagi mereka.
"Itu sudah tugas saya pak, bu. Sekali lagi selamat, saya turut berbahagia". Kara dan Baim pamit undur diri setelah dokter mengatakan jika penjelasannya sudah usai.
Dengan langkah ringan penuh kebahagiaan, Kara dan Baim berjalan menuju ruang rawat Nala. Mereka akan mengumumkan berita bahagia ini pada keluarga mereka yang saat ini sudah menunggu.
Kedatangan keduanya disambut hangat oleh mama Diandra. Rupanya ada Abi dan juga Abram disana, tak ketinggalan papi Andre.
"Bagaimana?". Tanya Diandra bersemangat. Namun semangatnya mendadak surut melihat wajah putrinya.
"Maaf ma.." Lirih Kara menundukkan kepalanya.
"Nggak apa-apa sayang..mungkin belum rejekinya ya". Diandra memeluk putri semata wayangnya dan mengelus lembut punggungnya.
"Maaf ya ma..karena mama harus repot nanti ngurus dua cucu sekaligus.." Diandra melepaskan pelukannya, menatap Lengkara yang tersenyum menatap nya juga.
"M-maksud kamu apa nak?". Tanya Diandra terbata.
"Maafin kalo nanti anak abang sama anak aku bikin mamam repot.." Kara nyengir, menampakkan deretan giginya sambil tangannya mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
Diandra menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Terkejut sekaligus bahagia disaat yang bersamaan. Saat kebahagiaan dengan kelahiran baby Kia belum sirna, kini kebahagiaan itu bertambah sempurna dengan kabar kehamilan Lengkara.
"Alhamdulillah..." Ucap semua orang. Bersyukur dengan anugerah yang diberikan sang kuasa pada keluarga besar mereka.
Rona kebahagiaan terpancar jelas dari raut wajah semua orang. Hanya ada tawa dan tangis bahagia yang mengisi ruangan itu.
...Selesaiiii......
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Akhirnyaaaaa..kisah si anak-anak yang dulu suka rusuh itu berakhir juga🥰☺️ Ending bahagia yang selalu diinginkan readers sama othor😊😊...
...Pliiis tulung jangan minta nambah bab lagi🙏🏻🙏🏻 Othore uwis mumet banget kalo dimintain tambahan lagi😂😂 otaknya udah poll mentok nggak bisa kasih ekstra lagi😂😂...
...Mending melipir ke sebelah aja yuk..baca kisah baru yang aku bikin😊😊 mode ngarep banget on😂😂...
...Sekali lagi makasih banyak buat kalian yang setia sama cerita ini bahkan sampe bab ke 200 lebih ini, makasiiiiih banget🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
...Sayang kalian banyak-banyak🥰🥰🥰 sarangheo sekebon readers😘😘🥰💋💐💐♥️♥️♥️...
...Sampai bertemu dicerita yang satunya🥰🥰...
__ADS_1