Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
salah paham


__ADS_3

Tidak seperti apa yang direncanakan oleh Nala dan Zayn sebelumnya. Kedua kakak beradik itu memutuskan menginap di hotel dekat dengan kediaman calon istri Raffa.


Keduanya memilih menginap karena berpikir waktunya akan lebih efisien jika datang satu hari lebih awal dan menginap di hotel.


"Udah siap?". Tanya Zayn yang berdiri didepan pintu kamar hotel adiknya. Menatap adiknya dari rambut hingga ujung kaki. Tampak cantik dan anggun dengan kebaya berwarna lilac yang membuat kulitnya tampak semakin putih bersinar.


Nala mengangguk dengan seulas senyum tipis. Sejak semalam ia tidak bisa tidur karena tegang dan takut bertemu Gaara dan akhirnya ia semakin tidak bisa melupakan Gaara.


Entah jam berapa matanya itu terpejam karena terakhir yang ia ingat hanya memeluk ponselnya yang tengah menampakkan foto Gaara.


"Kamu seneng banget sih pake kebaya. Nggak pake gaun aja?". Tanya Zayn yang tahu seberapa banyak koleksi kebaya adik bungsunya itu.


"Nggak tau mas. Nyaman aja.." Nala mengalungkan tangannya dilengan kekar sang kakak yang tersenyum tipis.


Pantas saja karyawan di kantor tempatnya bekerja juga selalu salah paham dengan hubungannya dengan Nala. Sikap manja adiknya yang selalu senang menempel padanya seperti ini pasti membuat siapapun salah paham dengan status hubungan mereka.


Sepanjang perjalanan menuju rumah calon istri Raffa. Nala berulang kali menghela nafasnya. Mencoba menenangkan diri dan hatinya agar kuat bertemu dengan Gaara.


"Panik banget sih. Belum tentu abang kamu itu ada disana nanti". Zayn tahu betul apa ketakutan adiknya.


"Ish..bukan itu. Aku udah lama nggak ketemu si santen ama si sarap". Zayn terkekeh pelan, alasan yang tidak masuk akal menurutnya.


"Iyain aja deh. Takut nanti nangis". Nala mendelik kesal karena tahu sang kakak meledeknya.


"Ssst.." Nala yang hendak protes langsung diam saat Zayn mengangkat jari telunjuknya.


"Turun. Kita udah nyampe". Nala menatap sekelilingnya dan ternyata benar jika mereka berdua sudah sampai di alamat calon mempelai wanita.


"Rumahnya bagus ya kak.." Puji Nala yang menatap kagum rumah luas yang kini ada didepannya.


"Hmm..kayanya anak pengusaha sih". Ucap Zayn yang juga ikut menatap rumah megah itu.


"Masa mas Zayn nggak kenal sih. Kan mas juga pengusaha". Ucap Nala polos membuat Zayn gemas dan ingin sekali mengacak-acak rambut adiknya itu yang sudah rapi.


"Ya kamu kira dunia bisnis cuma ada dikota kita aja". Cibir Zayn membuat Nala nyengir.


"Undangannya bawa kan? Nggak lucu banget diusir gara-gara kamu lupa bawa undangannya". Nala langsung menunjukkan layar ponselnya, dimana terdapat undangan elektronik yang dikirim Raffa beberapa hari lalu.

__ADS_1


"Oke, let's go". Zayn turun dari mobil, berlari kecil mengitari mobil dan membukakan pintu untuk adik tersayangnya.


"Silahkan tuan putri tersayangku.." Zayn mempersilahkan Nala keluar.


"Terimakasih pangeran tampanku.." Balas Nala menundukkan sedikit kepalanya. Tak lama keduanya tergelak. Geli dengan kelakuan mereka sendiri.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengawasi keduanya dengan sangat tajam. Tangannya terkepal begitu kuat hingga otot tangannya menyembul keluar. Rahangnya pun terlihat mengeras seolah tengah menahan desakan amarah yang begitu besar.


Tatapan mata itu semakin menajam saat melihat betapa mesranya Nala memeluk lengan Zayn. Dan dimata lelaki itu, pelukan Nala di lengan Zayn tampak sangat mesra.


"Kumaaaan!!!". Nala langsung melepaskan pelukannya dilengan Zayn dan menyambut kedatangan sahabat baiknya.


"Aaaa santeeeen!! Kangen banget". Keduanya berpelukan erat. Bukan hanya Nala yang merindukan Kara, namun Kara pun sangat merindukan Nala karena sudah beberapa waktu tidak bertemu sahabatnya.


Jika kalian kira, Kara tidak mengetahui dimana keberadaan Nala. Maka jawabannya adalah salah. Karena sejak satu tahun terakhir, Kara sudah beberapa kali mengunjungi Nala ketika ia sedang libur kuliah. Bahkan beberapa kali Kara memilih izin dari kampusnya untuk bisa menemui Nala. Namun saat Gaara menanyakan dimana keberadaan Nala, maka Kara akan bilang jika ia tak tahu dimana Nala sekarang. Emang dasar si santen adek durjana😂


Zayn hanya tersenyum tipis menatap Nala dan Kara yang masih asyik berpelukan melepas rindu. Padahal jika diingat, kedua gadis itu baru bertemu satu setengah bulan lalu. Memang susah jika memiliki sahabat yang sudah satu frekuensi dengan kita.


Baim yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari Kara tersenyum tipis menatap seseorang yang sudah mengeluarkan asap tebal. Aura disekelilingnya nampak sangat gelap apalagi saat tadi ia melihat Nala melingkarkan tangannya di lengan lelaki yang Baim tahu adalah kakak tertua Nala.


"Kak Zayn tambah ganteng deh.." Puji Kara membuat Nala mencebik.


pletak..


"Aaawww.." Pekik Nala mengelus keningnya yang disentil oleh Zayn.


"Sakit mas". Zayn langsung membantu mengelus kening Nala dan kemudian meniupnya pelan.


"Kan udah dibilang. Kamu udah gede, jangan lo gue terus". Nala memberengut namun tetap menurut.


"Iya-iya..maaf mas Zayn aku yang tersayang". Zayn kembali tersenyum dan menggeleng pelan. Adik manjanya memang akan selalu manja seperti ini.


"Yaudah masuk dulu yuk.." Ajak Kara yang dijawab anggukan kepala Nala dan Zayn.


"Bentar ya, aku ama kak Baim nanti nyusul". Nala memberikan jempolnya sebagai jawaban dan terus menggandeng lengan Zayn masuk kedalam rumah besar milik Delisha, calon istri Raffa.


Kara tersenyum penuh makna menatap punggung Nala dan Zayn yang semakin menjauh.

__ADS_1


"Kakak harus bantu aku". Baim menghela nafas panjang. Sudah tahu kemana arah pembicaraan tunangan tercintanya itu. Apalagi melihat pantulan sosok lelaki tegap yang kini berjalan mendekati mereka.


"ya ampun, Nala cocok banget sama mas Zayn ya, kak.." Drama hasil karya si santen sachet pun dimulai.


Lelaki yang sejak tadi tak melepas tatapannya pada sosok gadis yang sudah membuatnya kelimpungan satu tahun terakhir semakin mendekat pada Kara dan Baim. Lelaki yang tak lain adalah Gaara, memasang telinganya sebaik mungkin saat Kara mulai membahas tentang Nala dan lelaki yang datang bersamanya.


"Tapi kayanya umur mereka jauh ya, sayang". Tak ada pilihan lain bagi Baim selain mengikuti permainan permaisuri hatinya. Bisa gawat urusannya jika sampai si santen ngambek.


"Kalo aku nggak salah denger sih kak, beda 7tahun katanya". Kara berkata jujur karena memang pada kenyataannya selisih usia Nala dan Zayn adalah 7tahun.


"Cih, udah tua". Batin Gaara bangga. Ia lupa jika ia dan Zayn hanya selisih usia 2tahun saja.


"Tapi kakak tau nggak sih, istilah..makin tua makin menggoda". Gaara mendengus kesal mendengar ucapan adiknya. Dengan sengaja ia melewati Kara dan Baim yang bergandengan tangan tepat diantara keduanya. Hingga tautan tangan keduanya terlepas.


"Abang..!" Ketus Kara membuat Gaara berhenti.


"Ngalangin jalan kalian berdua tuh". Cibir Gaara membuat Kara melipat bibirnya menahan tawa.


"Cih, bilang aja sirik". Kara berdecih menatap kakaknya yang tampak acuh dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Dasar jomblo galak". Teriak Kara sambil tertawa puas bisa membuat sang kakak kepanasan.


"Kebiasaan". Gumam Baim yang kemudian merangkul Kara.


"Udah cinta tapi masih gengsi ngakuinnya. Kan aku jadi kesel sendiri kak". Kesal Kara yang sudah lelah melihat Gaara menyiksa diri karena merindukan Nala.


"Biarin aja, kita bantu seperlunya. Urusan keputusan, itu udah jadi hak mereka". Kara mengangguk dan meletakkan kepalanya dipundak Baim.


"Kamu sudah bahagia? Kamu bahagia dengan dia? Apa benar kamu udah lupain aku, La". Gaara menatap sendu Nala yang kini tengah bergurau dengan Zayn. Senyum manisnya tak sedikitpun luntur dari wajah cantiknya itu


Ingin sekali rasanya Kara menetawakan kelakuan Gaara. Namun sebisa mungkin ia menahan tawanya.


"Aku yakin sih kak, abang pasti salah paham". Kara terkikik geli sambil memeluk lengan Baim.


...___¥¥¥___...


Hiya hiya hiyaaa..panas panas panas gengs😂😂

__ADS_1


Ada yang salah paham nich ceritanya😂😅 asa bahagia banget deh ah😂


__ADS_2