
Baim yang sedari tadi menatap mama dan sudaranya dikejutkan dengan sebuah tepukan halus dipundaknya.
"Papa.." Gumamnya membuat Abi tersenyum.
Rupanya Abi menyadari Diandra yang meninggalkannya dikamar seorang diri. Abi pikir Diandra hanya ke kamar mandi atau mungkin mengambil air ke dapur. Namun lebih dari 5menit Diandra tak kunjung kembali, Abi memutuskan mencari istrinya. Saat hendak mencari istrinya, ia tak sengaja melihat Baim yang berdiri didepan pintu kamar Gaara yang tak tertutup sempurna.
Karena penasaran, Abi mendekati Baim. Namun sebelum ia menanyakan mengapa putra angkatnya itu ada disana, pandangan matanya mengikuti arah pandang putra angkatnya yang terlihat sendu.
Matanya membeliak melihat Diandra dan Gaara saling berpelukan sambil menangis. Da da nya terasa sesak saat samar-samar ia mendengarkan percakapan keduanya.
"Gaara.." Lirih Baim dengan mata berkaca-kaca.
"Biarkan dulu Gaara dan mama ya. Kita kembali ke kamar". Baim mengangguk, namun kembali menatap Gaara dan Diandra sebelum akhirnya mengikuti Abi yang berjalan lebih dulu.
Sementara didalam kamar, Gaara masih dipeluk Diandra. Hatinya terasa damai, dan dirinya merasa lebih tenang karena Diandra terus memberinya keyakinan jika tidak akan ada seorang pun yang bisa memisahkan dirinya dari sang mama.
"Sekarang abang tidur ya..mama temenin". Gaara mengangguk, merebahkan tubuhnya dikasur empuknya diikuti Diandra yang juga merebahkan tubuhnya disamping Gaara sambil memeluk anaknya itu.
Tak butuh waktu lama bagi Gaara untuk kembali terlelap. Karena rasa kantuknya memang sudah mendera sejak tadi, ia juga belum terlalu lama tidur saat Diandra masuk kedalam kamarnya.
"Kamu akan tetap disamping mama sayang. Sampai kapanpun". Diandra mengeratkan pelukannya dan ikut tertidur bersama putranya.
----
Beberapa bulan berlalu, tak ada hal yang aneh pula selama itu. Meski beberapa kali Monika mencoba memprovokasi dirinya lewat pesan-pesan yang selalu wanita itu kirim pada Diandra.
"Apa dia nggak punya kerjaan selain ngusik hidupku?". Geram Diandra yang kembali memblokir nomor baru yang masuk ke ponselnya.
"Siapa ma?". Tanya Gaara yang masuk kedalam mobil sang mama.
Saat ini Diandra sedang menjemput Gaara dan Baim, jangan lupakan si cerewet Kara dan si jahil Raffa yang juga ikut mama nya menjemput kedua kakaknya.
"Bukan siapa-siapa sayang". Diandra tersenyum lembut, menerima uluran tangan dua jagoannya.
"Gimana sekolahnya? Lancar? Atau ada yang abang sama kakak nggak paham?". Seperti itulah Diandra. Ia akan selalu menanyakan tentang sekolah anak-anaknya. Itulah salah stu bentuk perhatiannya sebagai seorang ibu.
"Semuanya lancar ma.." Jawab Baim sambil tersenyum.
"Anak-anak mama emang hebat.." Diandra mengusak pelan pucuk kepala Gaara dan Baim secara bergantian.
__ADS_1
"Kara juga hebat mama.." Dan jelas si bungsu tak akan mau kalah dari kakak-kakaknya.
"Iya, hebat dalam hal nangis kan ya santen sachet". Ledek Gaara membuat adiknya melotot tak terima.
"Hih takut ah.." Bukannya berhenti, Gaara semakin senang menggoda adiknya.
Gaara memutuskan melupakan semua yang ia dengar malam itu. Ia tak peduli siapa ibu ayah kandungnya. Bagi Gaara, Diandra adalah ibu terbaiknya dan Abi adalah pahlawan dan panutannya. Ia tak mau pusing-pusing memikirkan ucapan orang lain sedangkan Diandra dan Abi dengan tulus menyayangi dan mencintainya.
"Mama..." Rengek si bungsu
"Kara tukang nangis.." Raffa ikut meledek hingga kini wajah Kara sudah memerah, antara marah dan menahan tangisannya.
"Sini.." Baim melambaikan tangannya pada Kara. Ia tahu kalau adiknya itu akan segera menangis jika tidak ditenangkan.
Dengan cepat Kara berpindah tempat duduk, yang awalnya duduk dikursi depan, kini ia melompat kebelakang dan segera memeluk kakaknya sambil menyembunyikan wajahnya diceruk leher Baim.
"Kara anak hebat kok, pinter, cantik lagi". Puji Baim membuat Kara semakin mengeratkan pelukannya.
"Abang sama Raffa cuma bercanda". Timpal Gaara yang kasian melihat adiknya.
"Kara kan adiknya abang yang paling cantik, Pinter lagi". Puji Gaara
"Soalnya cuma Kara yang perempuan". Raffa ikut menimpali namun bukan memuji.
"Iya kan mama? Kara cantik karena perempuan sendiri. Sama mama cantik mama". Raffa tak henti menggoda saudara kembarnya. Sementara Gaara berusaha menahan tawanya melihat kelakuan adiknya.
"Mamaaaa..." Kara mulai merengek membuat Diandra memijit pelipisnya.
"Kita pulang yaaa.." Diandra menoleh ke belakang, Kara sudah kembali menyembunyikan wajahnya diceruk leher kakaknya.
"Ada yang mau es krim??". Tanya Diandra yang tahu kelemahan putrinya jika sedang marah.
"Mauuuu". Seru keempatnya bersamaan, tapi jelas suara Kara paling keras.
"Okeee..let's go". Seru Diandra membuat anak kembarnya bersorak kegirangan.
"Mama.." Diandra melirik sebentar putrinya yang sudah duduk tenang disamping Baim.
"Apa sayang.." Tanya Diandra lembut.
__ADS_1
"Kara nanti mau bobok dirumah nenek". Diandra menganggukkan kepalanya, sudah biasa Kara tidur dirumah mamanya.
"Raffa juga mau tidur dirumah nenek". Sambar Raffa cepat, ia tak mau Kara menikmati segala fasilitas nenek kakeknya seorang diri.
"Ngapain Rapa ikut? Nggak usah". Ketus Kara menunjukkan wajah permusuhan pada kakak kembarnya.
"Stop..jangan dilanjutin. Nanti Raffa sama Kara bobok dirumah nenek. Nggak usah berantem ya.." Kedua anak itu mengangguk patuh tanpa bantahan.
"Anak-anak pinter". Puji Diandra membuat anak-anaknya tersenyum senang.
------
"Sepi ya ma kalo nggak ada si santen". Ucap Gaara yang sedang bermanja dengan Diandra. Sedangkan Baim duduk disisi lainnya.
"Abang ih..seneng banget panggil Kara santen sachet". Diandra gemas dan mencubit hidung mancung anaknya.
"Lucu ma kalo ngamuk-ngamuk". Gaara tergelak setiap mengingat wajah masam adiknya saat ia ganggu.
Kedua mertua Diandra dan Abi hanya tersenyum melihat bagaimana manja nya Gaara pada Diandra. Benar-benar seperti ibu dan anak kandung. Tak akan ada yang percaya jika mereka mengatakan bahwa Gaara bukan lahir dari rahim Diandra.
Perhatian semua orang beralih ke pintu utama saat mendengar bel berbunyi. Mereka saling menatap dalam diam, seolah bertanya siapa yang bertamu malam-malam begini.
"Palingan juga si santen ma. Pasti ngerengek minta nenek anter pulang". Diandra tersenyum mendengar ucapan Gaara. Pasalnya apa yang diucapkan Gaara memang benar, anak kembarnya itu hanya senang dirumah neneknya. Tapi jika waktu sudah malam, keduanya akan meminta diantar pulang oleh nenek dan kakeknya.
"Biar oma bukain". Mama Ana bangkit namun Abi menahannya.
"Aku aja ma". Mama Ana mengangguk dan kembali duduk, sedangkan Abi berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
Abi mematung ditempatnya saat melihat siapa orang datang kekediamannya malam-malam begini.
Diandra yang melihat suaminya hanya berdiri mematung merasa heran. Siapa tamu yang datang? Mengapa suaminya itu justru diam dan tidak mempersilahkan tamu nya masuk.
"Sebentar sayang, mama susul papa dulu. Kok malah bengong didepan pintu kaya gitu sih, bukannya nyuruh tamu nya masuk". Gaara dan Baim bergeser agar Diandra leluasa berjalan.
"Mas..kok tamunya nggak disuruh masuk sih. Malah bengong didepan pintu". Omel Diandra yang belum melihat siapa yang datang.
"Emang siap--a----" Suaranya menggantung ketika melihat wajah pria yang bertamu ke rumahnya.
"Abram..."
__ADS_1
$$$--$$$
Hayo loh..inget engga nih siapa Abram??? Kira-kira ngapain ya dateng malem-malem ke rumah Diandra??