Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
lelaki tak tahu malu


__ADS_3

Nick benar-benar melakukan apa yang beberapa hari diucapkannya. Segala sesuatu menyangkut kepindahan Nala benar-benar ia urus tuntas hingga masuknya kembali Nala ke kampusnya dulu.


Zayn yang sudah diberitahu lebih dulu oleh Nick terlihat biasa saja saat Nala mengutarakan keinginannya untuk kembali pindah ke kota dimana kedua orang tua mereka tinggal. Zayn mengizinkan Nala meski sebenarnya terasa berat kembali berpisah dengan adik bungsunya itu.


Zayn juga sependapat dengan Nick. Dengan Nala pindah, itu artinya Haikal tidak akan mudah menemui Nala sewaktu-waktu karena jarak.


Sementara Jen yang belum diberitahu oleh Zayn terlihat terkejut dan sedih. Ia merasa kehilangan sosok sahabat yang begitu ia sayangi.


"Aku pasti dateng kalo nanti kalian tunangan". Nala menenangkan namun Jen malah semakin keras menangis.


"Aku pasti kangen banget sama kamu, La". Jen memeluk Nala disela-sela kegiatan mereka membereskan baju Nala. Karena sore ini juga, Nala akan kembali ke rumah orang tuanya.


"Lagian kenapa sih pake pindah segala. Kan tinggal berapa semester aja". Jen masih tak rela melepaskan Nala.


"Ini juga gara-gara ulah asisten sableng itu. Kalo nggak ada foto sama video itu aku juga nggak mau pindah, Jen". Batin Nala menjerit.


Sungguh ia mengutuk kelakuan Nick yang membuatnya harus kembali ketempat yang dulu membuatnya selalu mengingat luka.


"Maaf mbak. Saya capek ngikutin bos, jadi terpaksa saya paksa balik mbak Nala". Nala masih ingat ucapan Nick saat ia mengomeli lelaki itu.


"Sudah siap??". Zayn melongok kedalam kamar adiknya. Dua buah koper yang berukuran cukup besar sudah siap didepan lemari.


"Ayo, kamu bisa ketinggalan pesawat". Ya, Zayn memilihkan moda transportasi yang lebih menghemat waktu untuk adiknya.


"Seneng ya aku tinggal". Sengit Nala membuat Zayn tersenyum tipis sambil menggeleng. Mana mungkin ia bahagia ditinggalkan adik bungsu kesayangannya.


Zayn sebenarnya sudah terbiasa dengan keberadaan Nala. Dua tahun lebih ditemani sang adik membuatnya tak pernah kesepian. Namun Zayn kembali teringat kalimat panjang dari asisten lelaki yang mencintai adiknya.


"Saya yakin, pak Zayn juga pasti menginginkan yang terbaik untuk mbak Nala. Kalau mbak Nala masih disini. Saya yakin, laki-laki bernama Haikal itu akan terus mengganggu mbak Nala, pak. Kasihan mbak Nala, pasti tidak nyaman. Lagipula kalau mbak Nala di kota J, akan lebih mudah mbak Nala dan pak Gaara dekat kembali pak". Ternyata Nick benar-benar berniat membuat Nala kembali ke kota kelahirannya. Bahkan Zayn pun sudah masuk dalam perangkapnya.


"Mana bisa mas seneng ditinggal kamu. Lagian kan ini kamu yang mau pindah. Kok ngambeknya ke mas sih". Ya, memang Nala yang meminta izin pada Zayn untuk kembali kepada orang tuanya. Tentu saja karena usulan asisten menyebalkan itu.


"Kalau kamu nggak mau pindah ya nggak usah pindah, dek". Hanya satu yang Zayn tidak tahu, alasan mengapa Nala menyetujui usulan si sontoloyo Nick.


Zayn tidak tahu jika ada ancaman dibalik keinginan Nala kembali ke kota kelahirannya dan melanjutkan study nya disana. Bisa dinikahkan saat itu juga jika sampai Zayn melihat foto dan video yang Nick miliki.

__ADS_1


"Aku benar-benar mengutukmu Nick. Aku doakan kamu cepet dapet cewek posesif yang bikin kamu kalang kabut. Asisten nyebelin!!!". Jelas kutukan dan umpatan itu hanya terealisasi dalam hatinya Nala saja.


"Jadi gimana? Mau dibatalin aja?". Zayn kembali bertanya membuat Nala bingung. Haruskah ia membatalkan keberangkatannya???


Nala menggeleng cepat. Itu sama saja dirinya menggali lubang kuburnya sendiri. Ah sudahlah, hanya pasrah saja yang bisa Nala lakukan sekarang.


"Papi sama mami nggak dikasih tau kan mas?". Tanya Nala dan Zayn menggeleng.


"Sesuai permintaan kamu. Katanya mau kasih kejutan". Nala tersenyum ceria karena kakaknya menuruti permintaannya.


Ada satu hal lagi yang Nala tak tahu. Bahwa Gaara, sama sekali tidak mengetahui jika Nala akan kembali berada disekitarnya lagi.


"Yaudah, ayo berangkat". Zayn menarik kedua koper adiknya.


"Kenapa sih buru-buru kak". Jen seolah tak ingin melepas Nala.


"Dia bisa telat, Jen".


"Nggak usah pindah ya..disini aja". Rengek Jen membuat Zayn tersenyum tipis. Sama halnya Jen, Nala pun sebenarnya sudah nyaman. Tapi kembali lagi pada ancaman Nick, Nala yakin lelaki itu tak pernah main-main dengan ucapannya.


"Sudah ayo..jangan membuat langkah Nala berat". Dengan lesu, Jen mengikuti langkah Zayn dengan merangkul erat lengan Nala.


"Jaga diri, jangan lupa makan. Dan ingat, jangan terlalu baik". Peringat Zayn saat adiknya berpamitan dan memeluk dirinya.


"Apaan pesen kaya begituan. Dimana-mana tuh dinasehatin biar jadi orang baik". Sungut Nala masih dalam pelukan Zayn hingga membuat Zayn terkekeh.


"Jangan lama-lama kak. Aku juga mau peluk Nala". Zayn menggelengkan kepalanya saat Jen menggeser tubuhnya dan memeluk Nala.


"Nggak usah pindah ya. Disini aja..ntar aku nggak ada temen", Jen masih melancarkan usaha terakhirnya membujuk Nala.


"Aku bakal sering-sering kesini kok Jen.." Nala balas memeluk Jen.


"Masuk sekarang". Tiba-tiba Zayn memisahkan paksa keduanya hingga membuat Nala maupun Jen menatap bingung Zayn.


"Masih ada waktu bentar lagi, mas". Ucap Nala namun Zayn menggeleng dan dengan cepat mendorong Nala.

__ADS_1


"Udah sana berangkat". Jen terlihat bingung, namun kemudian ia juga meminta Nala segera masuk saat matanya menangkap sosok laki-laki tak tahu malu.


"Nala!!". Menolehkan kepalanya, Nala melebarkan matanya melihat siapa yang memanggilnya.


"Hish..kenapa nggak bilang ada dia sih". Gerutu Nala dan segera berlari sambil melambaikan tangannya pada kakak dan sahabatnya.


"Nala!! Tunggu La!! Kita harus bicara". Lelaki yang tak lain adalah Haikal mencoba mengejar Nala. Namun langkahnya terhenti saat lengannya dicengkeram kuat oleh Zayn.


"Sudah aku katakan. Jangan pernah lagi temui adikku". Mata Zayn memancarkan kemarahan sekaligus kekecewaan.


"Aku hanya ingin bicara pada Nala, Zayn. Aku--"


"Aku tidak peduli apapun alasanmu. Jangan pernah ganggu adikku. Dia sudah bahagia dengan calon suaminya". Zayn melirik Nala yang sudah tak terlihat. Ia melepaskan cengkeraman tangannya.


"Aku---"


"Berhenti menjadi laki-laki parasit yang tidak tahu malu pak. Nala sudah bahagia". Sinis Jen membuat Haikal bungkam.


"Lebih baik bapak berusaha memperbaiki hubungan bapak dengan bu Nia. Sebelum semua terlambat dan bapak kehilangan semuanya". Sambung Jen kemudian melingkarkan tangannya pada lengan kekar Zayn.


"Ayo kak, kita pulang". Zayn mengangguk menyetujui ajakan Jen. Tidak ada gunanya terus berbicara dengan lelaki tak tahu malu seperti Haikal.


"Aku akan mengejarnya Zayn. Meskipun kamu tidak setuju sekalipun. Aku akan menyusul Nala secepatnya". Zayn menghentikan langkahnya.


Dengan perlahan melepaskan tangan Jen dan secepat kilat berbalik kemudian menghadiahkan sebuah pukulan keras tepat di pipi kiri Haikal hingga lelaki itu tersungkur dengan bibir robek.


"Coba saja lakukan. Maka setelah itu aku benar-benar tidak akan pernah menganggapmu teman. Aku anggap kita orang asing yang tidak saling mengenal". Ucapan tajam Zayn membuat Haikal membeku sesaat. Zayn adalah sahabat baiknya, namun hatinya benar-benar menginginkan Nala.


"Ayo Jen". Zayn meraih tangan Jen dan menggenggamnya. Sebelum Zayn menariknya, Jen menahan tangan Zayn sesaat dan menatap Haikal.


"Jangn coba lagi ganggu Nala pak. Sebelum calon suaminya benar-benar habis kesabaran dan anda benar-benar dihancurkan", Peringat Jen sebelum ia dan Zayn pergi meninggalkan Haikal. Jen bukan hanya sekedar mengancam, ia yakin jika Gaara tidak akan diam lagi jika sampai Haikal kembali mengganggu Nala.


...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...


Hollaaaa readers ku tercintah🥰🥰 Sehat ya?? Pasti sehat dong yaaa...

__ADS_1


Gimana nih? Enaknya diapain nih si pak Haikal ini? Kok semakin nakal saja ya😪😅


Kalo yang ganggu Nala si kang gara-gara mah masih gemes-gemes gimana gitu ya. Ini kok kalo pak dosen yang gangguin rasa-rasa pengen ngelempar panci ke muka nya ya😤😤


__ADS_2