Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
hukuman setimpal


__ADS_3

"Beri jalan!!". Teriak Diandra yang melihat beberapa orang hendak menjegal langkah Melisa. Ia tidak bisa mempertaruhkan keselamatan putranya.


"Lepaskan anakku mbak..jangan sakiti dia". Mohon Diandra.


" Kamu sudah menempati tempat yang seharusnya milikku. Dan semua itu karna anak ini bukan?!". Diandra membekap mulutnya ketika Melisa mengguncang tubuh mungil Gaara hingga tangisan bayi itu memenuhi seluruh ruangan meeting.


"Aku tidak peduli. Jika kamu menginginkan Abi maka aku akan menyerahkannya". Abi melotot mendengar Diandra semudah itu menyerahkan dirinya.


"Lepaskan anakku!! Atau aku akan membuatmu menyesal mbak!!". Diandra meradang, ia tidak akan membiarkan Melisa semakin seenaknya.


" Berhenti!! Atau aku benar-benar akan melenyapkannya!!". Ancam Melisa ketika Diandra mulai mendekat.


"Tenang Di..Gaara akan baik-baik saja". Abi coba menenangkan meski sebenarnya ia sendiri sangat khawatir.


" Ayo om..kita keluar". Pak Priyo tersenyum pongah, namun senyuman itu surut saat beberapa anggota polisi sudah menghadang dipintu.


"Suruh mereka menyingkir!!". Diandra kembali berteriak saat Melisa membuka pintu menuju balkon ruang meeting dan membiarkan tubuh Gaara mengambang diudara.


" Kamu gila!!! Lepaskan anakku!!!". Teriak Diandra berurai air mata.


"Aku akan melepaskanmu, tapi kembalikan putraku". Diandra sudah tak bisa lagi menggertak, nyawa putranya sedang dipertaruhkan.


" Aku mohon mbak.." Lirih Diandra yang sudah ada dipelukan Abi. Bahkan ia tak menolak saat Abi memeluknya. Yang ada dipikirannya hanya Gaara dan Gaara saja.


"Sepertinya melihat kehancuranmu untuk kedua kalinya menyenangkan.." Melisa melepas sebelah tangannya, menyatukan dua lengan mungil Gaara dan memegangnya dengan satu tangan.


Tanpa berpikir dua kali, Diandra berlari menerjang Melisa dan merebut tubuh Gaara. Berhasil! Namun tubuhnya yang tak seimbang dengan mudah didorong Melisa.


Semua orang memekik dan berteriak melihat adegan mengerikan yang terjadi dihadapan mereka. Diandra bertahan dengan berpegangan pada sisi balkon dengan sebelah tangannya, Sementara tangan yang lain ia gunakan untuk mendekap tubuh Gaara yang sejak tadi menangis.


"Bertahan sayang.." Bisik Diandra diikuti isak tangisnya. Merasa gagal melindungi Gaara.


Tangannya terasa perih, rupanya Melisa sempat menginjak tangannya sebelum petugas kepolisian mengamankannya. Tangan kanan yang ia gunakan untuk menopang tubuhnya dan Gaara semakin terasa lemah. Ia memejamkan matanya saat tak kuat lagi menahan beban tubuhnya.

__ADS_1


"Sayang.." Diandra membuka matanya, dan langsung bertemu dengan mata tajam milik suaminya yang juga sudah berembun.


"Bertahan Di..aku mohon.." Abi memegang kuat tangan Diandra.


"Gaara..selamatkan Gaara mas". Lirih Diandra


" Jangan biarin dia jatuh mas.." Diandra semakin mengeratkan dekapannya.


"Kamu juga nggak akan jatuh Di..aku janji". Alvin yang tersadar dari rasa terkejutnya segera membantu Abi dibantu beberapa staf yang sepertinya juga baru tersadar. Semuanya terlalu terkejut dengan apa yang dilakukan Melisa pada Diandra.


Sekuat tenaga Diandra mengangkat tubuh mungil Gaara agar Alvin bisa menggapainya. Sementara Abi terus berusaha menarik tubuh Diandra.


" Dapat!!". Seru Alvin setelah Gaara berada didekapannya.


Diandra tersenyum lega sebelum pandangannya mulai mengabur dan semuanya menjadi gelap.


#####


Perlahan kelopak mata yang sudah terpejam lebih dari dua jam itu bergerak. Menandakan pemiliknya akan segera membuka matanya.


"Gaara.." Gumam Diandra pelan. Kepalanya terasa sakit entah karena apa. Mungkin efek tegang dan dirinya yang belum makan apapun sejak pagi.


Ah harusnya ia makan banyak tadi pagi. Memalukan sampai pingsan didepan Abi. Mungkin itu isi pikiran Diandra.


Diandra langsung duduk ketika mengingat Gaara. Dimana putranya itu?? Bagaimana kondisinya??


"Dimana Gaara??". Diandra mengedarkan pandangannya keseluruh ruang perawatannya. Abi yang sejak tadi tak beranjak sedikitpun dari samping Diandra dengan sigap membantu Diandra duduk.


Ia bernafas lega saat melihat papa Herman sedang menggendong Gaara.


" Gaara..aku mau Gaara pa". Diandra merentangkan kedua tangannya. Papa Herman yang tengah menggendong cucunya segera mendekat. Perlahan tubuh mungil Gaara dipindahkan kedekapan Diandra yang langsung memeluknya.


"Maafin mama sayang..mama lalai". Diandra menangis sesenggukan sambil memeluk tubuh Gaara. Sungguh ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri seandainya Gaara terluka.

__ADS_1


" Pasti sakit ya sayang.." Diandra mengelus lembut pergelangan tangan Gaara yang terlihat membiru karena cekalan Melisa yang kencang. Diandra bahkan tak menghiraukan luka ditangan dan keningnya. Entah terkena apa keningnya hingga harus ditambal seperti itu.


"Dia baik-baik aja Di.." Abi mengelus punggung istrinya yang terus bergetar.


"Maafkan mama sayang.." Diandra tak henti mengucap maaf dan memeluk serta menciumi wajah putra kecilnya. Rasanya nyawanya terbang entah kemana mengingat kejadian beberapa jam lalu.


"Sstt..semua akan baik-baik aja Di. Maafin aku yang nggak bisa jaga kalian". Abi memeluk Diandra yang tengah memeluk Gaara, jadilah ketiganya berpelukan layaknya keluarga sungguhan.


Kedua orang tua Abi dan Diandra hanya bisa tersenyum melihat keharmonisan yang tanpa sengaja tercipta karena kejadian mengerikan yang menimpa Diandra dan Gaara.


Para orang tua memilih keluar, meninggalkan Abi serta Diandra dan Gaara. Sementara Abi terus menciumi pucuk kepala Diandra yang masih memeluk Gaara.


Abi juga merasa gagal melindungi putranya dan juga istrinya itu. Seandainya tadi ia bisa mencegah Melisa berbuat nekat tentu Diandra tidak perlu dirawat seperti ini.


Kondisi Diandra yang sudah stabil membuat dokter mengijinkan Diandra maupun Gaara pulang. Meski kedua mama nya sudah menawarkan diri untuk membawa Gaara, namun Diandra menolaknya dan tetap menggendong Gaara.


Mobil melaju membelah jalanan kota sore petang itu, Diandra berada satu mobil dengan Gaara dan Abi, sementara para orang tua mengikutinya dari belakang.


" Maaf.." Diandra menoleh saat bibir Abi mengucap maaf. Sebalah alisnya terangkat karena bingung Abi meminta maaf untuk apa.


"Kalau aku lebih teliti mungkin kamu nggak perlu bantu aku..semua ini nggak akan terjadi". Abi melirik Diandra sekilas yang langsung membuang pandangannya keluar mobil.


" Makasih buat semuanya Di.." Diandra tetap bungkam. Entah mengapa memaafkan Abi dan bersikap seperti dahulu teramat sulit untuk Diandra.


Diandra bukan seorang pendendam, namun luka yang ditorehkan Abi dan kakaknya terlampau dalam untuk bisa ia lupakan dengan cepat. Memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang berbeda. Dan Diandra belum bisa melakukan keduanya terhadap Abi.


Sementara jika kepada Dea, ia seolah dipaksa keadaan untuk memaafkan kakaknya itu. Lagipula membenci pun hanya akan membuat dirinya dibelenggu rasa bersalah karena membuat orang yang meninggal tak tenang karena kebencian dan dendamnya.


"Aku harap----"


"Jangan berharap lebih dengan apa yang aku lakukan. Aku melakukan semuanya untuk Gaara. Tidak lebih". Potong Diandra cepat sebelum Abi selesai berbicara. Ia sudah tahu kemana arah pembicaraan Abi.


Dan Abi hanya bisa menghela nafas pasrah saat Diandra tak kunjung mau membuka pintu maaf untuk dirinya. Dirinya terlalu berharap saat tadi mendengar Diandra memanggil dirinya dengan panggilan kesayangan yang sudah lama tak ia dengar. 'Mas Abi', meski sederhana, namun Abi sangat merindukan panggilan itu. Ia ingin mendengar lagi Diandra mengucapkannya, namun sepertinya masih butuh banyak waktu. Mungkin tadi Diandra reflek mengucapkannya karena terlalu khawatir dengan kondisi Gaara.

__ADS_1


" Pastikan Melisa mendapat hukuman setimpal. Jika kamu tidak bisa, maka aku sendiri yang akan membuatnya mendekam dipenjara selamanya". Suara Diandra terdengar sangat dingin. Abi tahu Diandra sangat geram karena ulah Melisa yang hampir membuat putranya celaka.


"Aku pastikan dia tidak akan lolos Di.." Sahut Abi penuh keyakinan.


__ADS_2