
Saat ini kandungan Diandra memasuki usia 7bulan. Mama Ana dan mama Dita sudah merencanakan acara 7bulanan bagi Diandra dan calon anaknya. Sementara Gaara sudah seperti satpam yang siaga 24jam menjaga mama dan calon adik kembarnya.
Ya, saat ini Diandra tengah mengandung anak kembar yang diperkirakan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Betapa bahagia nya Diandra dan Abi saat mendengar kabar besar itu. Tapi diantara semua orang yang berbahagia, calon kakak lah yang paling antusias mengetahui jika calon adik yang ada diperut sang mama ada dua. Bahkan laki-laki dan perempuan.
Sejak Diandra memberi peringatan pada ibu dari teman sekolah anaknya beberapa bulan lalu itu, sudah tak ada lagi yang berani mengusik Gaara apalagi mencemooh nya.
Bahkan anak-anak yang dulu nya suka mengejek Gaara anak tiri kini mulai mendekati dan ingin berteman dengan Gaara. Namun anak lelaki yang sebentar lagi akan berusia 5tahun itu justru menjauh dan memberi jarak.
"Kenapa abang nggak mau temenan sama Aldo?". Tanya Diandra. Dan jawaban putranya membuat dirinya bangga dengan pola pikir anak sekecil Gaara.
" Ndak mau..Dulu meleka bilang kalo abang cuma anak tili. Tapi meleka deketin abang pas tau kalo abang anak papa sama cucu kakek Helman. Meleka ndak tulus belteman sama abang, mama".
"Terus abang temenan sama siapa dong disekolah?". Tanya Diandra lagi. Ia tak mau jika putranya sulit berteman karena trauma dengan teman yang dulu selalu mengganggu dan menghinanya.
" Ndak ada". Jawab Gaara santai namun membuat Diandra terkejut.
"Mama.." Belum sempat Diandra bertanya hal lain, tiba-tiba Gaara menempel padanya dan menatap dirinya dengan mata yang lucu. Sudah pasti anaknya itu menginginkan sesuatu.
"Abang mau apa hm??". Tanya Diandra mengelus pucuk kepala putranya.
" Abang punya temen. Tapi kasiaaaaan banet mama". Raut wajah Gaara tiba-tiba terlihat sendu.
"Kasian kenapa sayang?". Tanya Diandra mengangkat tubuh Gaara dan memangkunya.
" Dia pintel, tapi ndak bisa sekolah".
"Kenapa?". Tanya Diandra Cepat
Gaara menceritakan tentang sosok teman yang ia maksud kan. Anak lelaki dengan kecerdasan yang setara dengannya namun kurang beruntung karena tidak bisa bersekolah karena keadaan ekonominya.
__ADS_1
Gaara juga bercerita jika temannya itu tidak memiliki ayah dan ibu karena keduanya meninggal. Berkali-kali Gaara menangis saat menceritakan tentang sosok teman yang kini membuat Diandra penasaran.
Ibu muda itu juga penasaran seperti apa sosok teman yang diceritakan putranya itu. Bahkan putranya sampai menangis, sungguh hebat teman misterius putranya itu bisa membuat Gaara menangis hanya dengan mengingatnya. Bukan karena memilih dan memandang rendah sosok teman putranya yang hanya seorang pemulung. Namun zaman sekarang, berhati-hati dan waspada sangat diperlukan. Ia tak mau sampai anaknya dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
" Ya mama, ya ya ya..boleh ya". Rengek Gaara menggoyangkan lengan sang mama. Anak lelaki itu meminta sang mama untuk membantu menyekolahkan temannya disekolah yang sama dengannya.
"Ehhmm..besok mama lihat dulu ya temen barunya abang..baru nanti mama pikirin lagi". Diandra menangkup kedua pipi gembul putranya itu dan mengggesekkan hidungnya dan hidung putranya.
" Holeeee..."
Keesokan harinya, Diandra benar-benar memenuhi keinginan putranya. Rupanya benar apa yang dikatakan oleh putranya. Anak seusia Gaara itu nampak mencuri dengar dari luar tembok kelas sambil membawa sebuah buku lusuh ditangannya.
Dari jauh Diandra tersenyum. Ia sudah meminta orang kepercayaan suaminya untuk menyelidiki asal usul anak itu, dan semua aman. Neneknya hanya seorang buruh cuci dan keduanya tinggal dilingkungan kumuh yang tidak terlalu jauh dari sekolah putranya itu.
Rupanya anak itu sudah tak memiliki orang tua dan hanya tinggal dengan neneknya saja. Sungguh kasian, di usianya yang masih sangat belia, anak itu harus menjalani kehidupan keras di kota besar seperti ini.
Perlahan wanita dengan perut buncit itu turun dari mobilnya dan menghampiri anak lelaki itu. Tampan, bahkan saat kondisi tubuhnya tidak bersih pun Diandra masih melihat betapa tampannya anak lelaki itu, bahkan dari jarak yang masih jauh.
"Aduh Gaara..jangan main sama dia. Dia kotor, nanti kamu sakit". Diandra berdiri diam ditempatnya saat wanita yang dulu merusak mental putranya mendekat dan mengingatkan Gaara. Ia ingin tahu apa jawaban putranya
" Iya Gaara..nggak apa-apa. Kamu main sama mereka aja". Perlahan anak lelaki itu melepaskan tangan Gaara yang menggenggam tangannya.
"Gaara main sama Aldo aja ya. Dia nggak pantes main sama Gaara, nggak selevel nak". Wanita itu terus memprovokasi Gaara, namun Gaara tetap terlihat tenang dan acuh.
" Kata mama, abang ndak boleh memandang rendah olang lain tante. Baim temen Gaala, semua sama di mata tuhan kata mama. Kita ndak boleh beda-bedain olang. Itu ndak baik". Diandra tersenyum bangga melihat tulusnya sang anak yang tidak memandang rendah orang lain. Bahkan setelah di provokasi orang lain.
"Mama..!" Seru Gaara saat melihat Diandra mendekat. Sementara wanita yang tak lain adalah nyonya Latif itu segera menggeser tubuhnya dan menjauh.
Tanpa melepaskan genggaman tangannya, Gaara mengajak anak lelaki bernama Baim itu menghampiri ibunya. Gaara langsung mencium punggung tangan sang ibu, Baim ingin mengikutinya namun berkali-kali ia melihat tangannya. Walaupun bersih, ia takut jika ibu dari teman baru nya itu akan menolak niat baiknya. Lingkungan yang sering mengacuhkannya membuat dirinya minder.
__ADS_1
"Baim salim.." Perintah Gaara menatap Baim.
"Tangan Baim kotor Gaara..nanti mama Gaara ikut kotor". Cicit Baim membuat Diandra berjongkok didepan anak lelaki itu kemudian menyodorkan tangannya.
"Baim nggak salim? Nggak sopan loh. Tangan Baim bersih kok, nih tangan Gaara juga bersih padahal abis gandeng tangan Baim kan?." Ucap Diandra lembut
"Tangan Baim kotor nyonya". Lirih Baim membuat Diandra terhenyak mendengar Baim memanggilnya nyonya.
" Tangan Baim bersih sayang.." Diandra terus menyakinkan anak lelaki itu hingga akhirnya mau menyambut uluran tangannya meski terlihat ragu-ragu.
Dengan ragu Baim menerima uluran tangan Diandra dan mencium punggung tangan wanita cantik didepannya itu.
"Mama kenapa kesini? Abang masih belum pulang". Tanya Gaara menatap Diandra.
" Mama ada perlu sama kepala sekolah. Nanti pulang sekolah ajak temennya ke rumah ya sayang". Diandra mengelus kepala Gaara.
"Boleh??". Tanya Gaara polos.
" Boleh dong.."
"Holleeeee.." Seru Gaara kegirangan.
"Tapi..." Gaara langsung diam saat Diandra berbicara lagi.
"Baim harus ijin dulu sama nenek ya. Sekalian nanti ajak nenek ya sayang". Baim menatap Diandra.
Melihat penampilan anggun dan mewah itu berulang kali. Dalam hati ia masih tak percaya orang sekelas Diandra berlaku begitu lembut padanya. Bahkan dengan tangan terbuka mengundangnya ke rumah mereka.
" Baim mau kan?". Tanya Gaara menatap Baim penuh harap. Sementara Diandra juga menatapnya dengan senyum lembut hingga membuat Baim akhirnya mengangguk dan Gaara kembali berseru senang.
__ADS_1
"Yaudah..Sekarang Baim pulang dulu, bilang sama nenek. Abang masuk dulu, belajar lagi. Nanti kita ketemu didepan ya buat pulang bareng". Kedua anak tampan itu mengangguk patuh dan kembali pada kegiatan yang diperintahkan Diandra tadi.
Setelah memastikan Gaara masuk kedalam kelas, Diandra berlalu menuju ruang kepala sekolah. Melewati segerombolan ibu-ibu yang terus menatapnya namun Diandra mengacuhkannya.