Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
flashback


__ADS_3

Baik Gaara dan Nala tak ada yang berani mengangkat wajahnya. Apalagi keduanya merasa ada sepasang mata yang menatap keduanya begitu tajam.


"A-aku bisa jela---"


Gaara yang baru mengangkat wajahnya dan membuka mulut kembali tak bersuara saat sosok didepannya mengangkat tangannya, pertanda meminta Gaara diam.


"Apa yang udah Gaara lakukan ke kamu sayang?". Nala memberanikan diri mengangkat wajahnya. Netranya saling menatap dengan sosok wanita yang begitu ia kenal.


"A-abang..abang nggak ngapa-ngapain ma.." Cicit Nala.


"Beneran sayang? Kamu nggak usah takut..bilang aja sama mama". Nala menggeleng cepat.


Ya, seseorang yang memergoki kedua anak manusia itu adalah Diandra. Wanita yang berstatus sebagai ibu dari seorang Sagaara.


"Beneran ma, abang nggak ngapa-ngapain. Tadi itu Nala---" Ucapan Gaara kembali menggantung saat Diandra sang mama kembali mengangkat telapak tangannya dan menatap tajam padanya.


"Kamu kebanyakan alasan!". Sengit Diandra.


"Beneran kok ma, tadi abang cuma bantu aku".


"Soalnya tadi aku kelilipan.." Cicit Nala kembali menunduk saat Diandra menatapnya penuh selidik.


"Percaya sama kita ma". Gaara ikut bersuara membuat Diandra berdecak.


"Kamu nggak bisa dipercaya". Gaara hendak menjawab. Baru saja mulutnya terbuka, ultimatum Diandra membuat keduanya terbelalak tak percaya.


"Mama nggak mau tahu! Secepatnya nikahi Nala. Jangan mau enaknya saja".


"Apa??? Nikah???", Seru keduanya tak percaya dengan apa yang Diandra ucapkan.


"Ya, ME-NI-KAH!! Apa kurang jelas???". Baik Gaara maupun Nala menelan salivanya dengan susah payah. Ini benar-benar diluar prediksi mereka berdua.


"Segera temui orang tua Nala dan lamar dia. Jadi laki-laki sejati yang bertanggung jawab. Jangan mau enak-enaknya saja. Mama dan papa tidak mendidik kamu jadi laki-laki pengecut". Diandra tak memberi kesempatan bagi keduanya membela diri.


Gaara bungkam, menundukkan kepalanya dalam, ia memang ingin menikahi Nala. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Ia ingin Nala sendiri yang menerima pinangannya. Bukan karena paksaan sang mama.


Sementara Nala, gadis yang masih terlihat syok itu juga menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tak menyangka akan berakhir seperti sekarang ini. Ia pun sama seperti Gaara. Ingin menikah dan membina rumah tangga dengan lelaki itu. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Dirinya harus memastikan lebih dulu seperti apa sebenarnya perasaannya pada lelaki itu, juga sebaliknya bagaimana perasaan lelaki itu pada dirinya. Benar-benar sudah mencintainya atau hanya karena perasaan bersalah karena perbuatannya dimasa lampau.


Saat kedua anak muda itu tengah menunduk dengan segala pemikirannya. Diandra diam-diam tersenyum dalam diamnya.


Sama seperti Diandra, ada tiga orang manusia yang tersenyum puas didepan pintu apartemen Gaara yang tidak tertutup sempurna itu. Dua diantaranya bahkan melakukan tos. Seolah apa yang didengarnya kini adalah sebuah kejutan istimewa.


*flashback dulu yaaa**🤭*

__ADS_1


Kara yang masih penasaran dengan siapa itu Haikal berusaha untuk terus meminta penjelasan asisten Gaara yang minim akhlak itu.


Berulang kali Kata menghubungi Nick namun belum juga ada jawaban.


"Kemana sih itu asisten sableng! Udah berkali-kali ditelpon nggak diangkat". Gerutu Kara


"Mungkin sedang dijalan, Ra. Atau mungkin sibuk". Baim coba menenangkan.


"Kakak tahu siapa laki-laki yang ganggu Nala tadi?". Tanya si santen tak masuk akal. Bagaimana cara Baim tahu, melihat saja tidak. Namun lelaki sabar itu hanya menggeleng.


"Oh iya, kakak kan nggak lihat orangnya ya". Ucap Kara kemudian sambil menepuk sendiri keningnya. Baim hanya terkekeh pelan.


"Angkat dong Nick! Lama banget sih angkat juga". Kara terus menggerutu.


"Hallo!! Nick.. Sekarang jelaskan padaku siapa laki-laki tadi? Dan apa hubungannya dengan Nala dan abang??". Baru telepon diangkat, Kara sudah mencerca Nick dengan berbagai pertanyaan.


Terdengar helaan nafas panjang diujung sambungan telepon sana. Membuat Kara mencebik sementara Baim tersenyum, gemas dengan kelakuan calon istrinya itu.


"Jangan menghela nafas dengan cara seperti itu Nick!". Omel Kara membuat lelaki diseberang sana menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara Kara yang kelewat cempreng.


"Hallo!! Nick? Kamu masih disana kan? Denger saya ngomong kan???!", Cerocos Kara.


"Bagaimana saya menjelaskn kalo mbak Kara ngomong terus". Kara tampak berpikir dan sesaat kemudian tersenyum malu.


Setelah menghela nafas panjang, Nick mulai menceritakan semuanya. Tentang Gaara, Nala dan juga lelaki bernama Haikal. Pun dengan masalah yang sempat Nala hadapi karena ulah Haikal.


"Dasar laki-laki edan". Umpat Kara membuat Baim menoleh dengan alis berkerut.


"Aku setuju dengan pemikiranmu. Dimana abang dan si kuman sekarang?". Kara terlihat mengangguk beberapa kali.


"Oke. Kita ketemu disana. Aku bakal bawa seseorang yang nggak bisa mereka tentang perintahnya". Kara menyunggingkan senyum penuh arti dan kemudian mematikan panggilan teleponnya.


"Kita pulang kak..cepet". Meski bingung, Baim tetap menuruti Kara sambil mendengarkan penjelasan gadis itu. Beberapa kali Baim nampak terkejut dan kadang tersenyum.


Sampai dirumah, Kara langsung turun dan berlari masuk padahal mobil belum terparkir sempurna.


"Ma..mama...MAAAAA-MAAAA..." Gadis cantik itu terus berteriak memanggil sang ibu.


"Aw..." Pekik Kara saat telinganya ditarik seseorang.


"Salam Lengkara..berapa kali mama bilang. Kalo pulang itu bukan teriak-teriak tapi ucapin salam". Omel Diandra yang entah datang dari mana.


"Aw..aw..sakit mama". Rengek Kara sambil memegang tangan Diandra yang masih menjewer telinganya.

__ADS_1


"Iya..iya maaf". Perlahan Diandra melepaskan tangannya.


"Tapi ada keadaan urgent. Sekarang mama ganti baju". Diandra mengerutkan keningnya. Wajahnya terlihat berpikir sekaligus mengandung kekhawatiran.


"Ada apa?? Kenapa?? Jangan bikin mama panik deh Kara.." Diandra menatap si santen yang memasang wajah super serius.


"Assalamualaikum.." Diandra menoleh dan menjawab salam putra angkatnya. Salah, calon menantu maksudnya.


"Wa'alaikumsalam nak.." Sahut Diandra lembut.


"Kakak tahu ada apa?". Diandra bertanya pada Baim yang baru saja masuk.


"Tahu apa ma?". Tanya Baim bingung. Pasalnya ia tak tahu perbincangan apa yang tengah dilakukan kekasih dan calon ibu mertuanya itu.


"Udah mama ganti dulu aja..nanti aku ceritain sambil jalan. Kita nggak punya waktu banyak ma.." Kara mendorong tubuh sang mama menuju kamarnya.


"Ada apa sih Ra? Jangan bikin mama takut deh". Sambil berjalan Diandra terus berjalan.


"Nanti Kara kasih tau..sekarang mama ganti. Target nya keburu bubar". Alis Diandra semakin berkerut dalam. Apa pula maksud putrinya itu dengan sebutan target.


"Target apa lagi sih ini". Baim hanya menggeleng pelan sambil tersenyum.


Kara tetaplah Kara. Gadis yang selalu bersemangat jika itu menyangkut saudara dan sahabatnya. Apalagi hal-hal yang berbau mengerjai dan hal-hal yang minim akhlak, jelas kekasihnya itu akan ada dibarisan terdepan.


Meskipun kebingungan, akhirnya Diandra pasrah dan menuruti permintaan putrinya untuk mengganti pakaiannya. Entah apa lagi yang tengah direncanakan putri bungsunya itu.


"Mama udah belum. Ayo cepetan.." Diandra berdecak kesal. Sebenarnya menurun dari siapa kecerewetan anak gadisnya itu.


"Baim emang hebat. Kuat-kuatnya deket sama Kara tiap hari". Sambil mengambil tasnya, Diandra bergumam pelan.


"Mudah-mudahan kuat terus itu calon menantu aku". Gumamnya lagi sambil berjalan keluar kamar. Karena sepertinya si santen memang sudah tak sabar. Terlihat dari cara gadis itu terus menggedor kamar sang mama.


"Oke ayo...kita gerebek target nya". Kara menarik lembut tangan sang mama yang semakin kebingungan saja dengan semua ucapan anak gadisnya itu.


...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...


Segini dulu ya..dilanjut besok takutnya pada ueeek nanti kebanyakan😅😅


Udah keliatan tapi ya siapa biang kerok dari penggerebekan Nala dan Gaara..


Pokoknya si adek dan si asisten yang sama-sama kaga ada akhlak emang cucok kalo soal beginian mah😂😂


Sarange sakebon readers kuhhh🥰🥰💋💋💐💐💐

__ADS_1


__ADS_2