
Siang ini Diandra kembali harus datang ke kantor Abi lantaran Abi kembali meninggalkan berkasnya dirumah.
"Apa sekarang papa mu itu benar-benar sudah tua? Kenapa pelupa sekali". Ucap Diandra pada putranya yang baru berumur lima bulan itu.
Saat ini Diandra sedang berada didepan sebuah restoran dimana Abi dan asistennya berada. Beberapa waktu lalu Abi menelpon Diandra dan mengatakan jika kontrak kerjasama yang harus ia tanda tangani siang ini tertinggal dimeja kerjanya. Akhirnya Diandra terpaksa mengantarkannya karena tidak ada orang lain dirumah, kedua orang tua dan kedua mertuanya sedang ada perjalanan bisnis sekaligus berlibur bersama. Benar-benar menyebalkan, pikir Diandra.
Diandra turun dari taksi dengan outfit yang sangat santai. Kaos berwarna putih yang berukuran sedikit besar dimasukkan kedalam celana jeans berwarna biru langit serta sebuah sneakers berwarna senada dengan kaosnya. Tampilannya begitu segar seperti seorang remaja. Tak akan ada yang mengira bahwa dirinya sudah bersuami. Bahkan mungkin orang mengira jika bayi dalam gendongannya itu adalah adik atau keponakannya.
" Panas sekali sayang.." Diandra menutupi kepala putranya dengan map yang ia bawa untuk ia serahkan pada suaminya.
Ia hendak melangkah saat seseorang menarik paksa tas yang ia sampirkan dibahunya. Beruntung dirinya tidak terjatuh bersama Gaara karena ada yang hendak merebut tasnya secara paksa. Bahkan ia masih bisa mempertahankan tasnya.
"Lepas!!". Ancam seorang lelaki yang saat ini tengah memegang erat tas Diandra. Sementara Diandra memegang kuat tali tasnya.
" Ya situ yang lepas lah. Orang ini tas saya!". Balas Diandra santai pada lelaki yang hendak menjambret tasnya.
"B*cot lu!!!". Ketika penjambret hendak melayangkan tangannya, dengan gesit Diandra menghindar. Ia bahkan sempat menghadiahi sebuah tendangan pada tulang kering si penjambret hingga tas nya terlepas dan.kembali pada dirinya.
Keributan yang tercipta karena Diandra dan sang penjambret membuat beberapa orang mulai memperhatikan. Bahkan orang yang bertugas sebagai keamanan restoran mulai mendekat ketika melihat keributan.
" Serahin tas lu!!". Ancam si pria mengacungkan sebuah pisau.
"Di!!!". Diandra menoleh saat mendengar suara yang sangat ia kenali. Ia melihat Abi berlari menghampirinya diikuti Alvin dibelakangnya.
" Diandra awas!!!!". Teriak Abi yang melihat si penjambret melayangkan pisaunya pada sang istri.
Namun langkah Abi dan Alvin terhenti saat melihat Diandra dengan mudah menghindar dan justru menendang keras perut si penjambret. Abi melupakan sesuatu, Diandra bukan gadis biasa seperti pada umumnya, ilmu beladiri nya sudah cukup mumpuni untuk melindungi dirinya sendiri dari gangguan-gangguan kecil semacam ini.
"Harusnya situ pergi dari tadi. Jadi situ nggak perlu urusan sama polisi. Banyak gaya sih". Cibir Diandra melirik si penjambret yang masih mencoba bangun setelah merasakan tendangan mautnya.
" Utututu..anak mama seneng diajak main ya". Ucap Diandra menatap Gaara yang tertawa didalam gendongannya.
Petugas keamanan segera bergerak cepat dan mengamankan pria yang berniat menjambret Diandra.
"Kamu gapapa sayang? Ada yang luka?? Ada yang sakit??". Abi langsung memberondong pertanyaan pada Diandra sambil meneliti seluruh tubuh Diandra.
" Gapapa mas..ini dokumennya". Diandra menyerahkan dokumen yang sejak tadi ia pegang.
"Yaudah aku pulang.." Pamit Diandra namun tangannya dicekal Abi.
"Sebentar lagi aku selesai sayang. Masuk dulu tunggu aku, kita pulang bareng ya". Diandra berpikir sejenak sebelum mengangguk dan mengikuti Abi masuk kedalam restoran. Sementara lelaki yang berniat menjambret Diandra sudah diamankan oleh pihak keamanan restoran dan kemudian dibawa ke kantor polisi.
__ADS_1
Diandra duduk disalah satu meja yang ada didalam restoran. Ia bisa melihat Abi dan Alvin yang sedang berada diruang VIP restoran yang dibatasi dengan kaca.
" Di?". Merasa dipanggil, Diandra menoleh. Senyumnya mengembang sempurna melihat siapa yang memanggilnya.
"Dimas?!". Pekik Diandra kegirangan.
" Ngapain disini lu?". Tanya Dimas yang langsung duduk didepan Diandra.
"Tuh.." Diandra menunjuk Abi dengan dagunya. Dimas mengikuti arah pandang Diandra, dan bertepatan dengan itu Abi juga tengah menatap keduanya.
Senyum jahil tersungging dibibir Dimas. Mengerjai dan membuat Abi semakin cemburu sepertinya sangat menyenangkan.
Jika boleh jujur, Dimas masih belum bisa melupakan Diandra. Cinta sejak pertama bertemu membuat Dimas sulit berpaling dan melupakan perasaannya. Namun dirinya bisa apa? Jika Abi bisa mencintai Diandra lebih besar dan kembali membuat Diandra bahagia, maka dirinya akan bahagia juga meski hatinya sakit.
"Hai jagoan.." Dimas beralih menoel lembut pipi gembul Gaara.
"Sini sama om.." Tubuh mungil Gaara sudah berpindah kedalam gendongan Dimas.
"Gile..ganteng banget ni bocah". Dimas mengagumi wajah rupawan Gaara. Padahal usianya masih 4bulan, namun bayi itu benar-benar tampan.
" Bapaknya ganteng atuh.." Celetuk Diandra membuat Dimas terkekeh.
"Iya..makanya kamu mau nikah sama dia". Goda Dimas membuat Diandra melotot kesal.
"Heh..jangan ngajarin anak gue yang enggak-enggak lu ye.." Dimas terbahak melihat kekesalan Diandra. Ia kembali melirik Abi yang rupanya terus mengawasinya.
"Bapak lu cemburuan ya tong?". Bisik Dimas pada Gaara.
" Nitip anak aku bentar deh ya..mau ke toilet bentar". Dimas mengangguk.
Bertepatan dengan Diandra pergi, Abi telah menyelesaikan meetingnya. Ia segera membawa langkah lebarnya mendekat pada Dimas yang tengah menggendong putranya.
Sejak tadi hatinya sudah diliputi perasaan cemburu melihat Diandra yang begitu bisa tertawa lepas dengan Dimas. Apalagi melihat Diandra begitu percayanya menitipkan Gaara pada Dimas.
"Sedang apa anda disini?". Tanya Abi dingin.
Dal hati Dimas sudah tertawa melihat wajah tak bersahabat Abi ketika menghampirinya.
" Sedang apa lagi?? Menemui kekasihku tentunya". Memnacing kemarahan orang lain adalah keahlian Dimas.
"Apa maksudmu!". Geram Abi
__ADS_1
" Apalagi?? Bukankah kamu lihat sendiri?". Rahang Abi mengeras, dan Dimas sangat tahu jika Abi tengah menahan amarahnya.
"Berhenti menganggu istriku!! Jangan dekati dia lagi!". Peringat Abi mengambil alih tubuh Gaara.
" Siapa yang mengganggu istrimu?? Aku kesini menemui kekasihku, bukan menganggu istrimu" Dimas semakin semangat menggoda Abi ketika wajah Abi semakin perah padam menahan amarahnya.
Dari sudut matanya Dimas melihat Diandra sudah kembali. Sebuah senyum jahil tersungging dibibirnya.
"Aku bilang jauhi istriku!!'. Suara Abi sedikit meninggi namun masih bisa menahan diri untuk tidak berteriak.
" Kenapa aku harus menjauhinya??". Dimas menantang.
"Kau..!!! Ini peringatan terakhirku! Jauhi istriku! Jangan temui dia lagi!!".
" Kau sengaja kesini ingin menemui istriku?!".
"Aku sudah bilang..aku kesini tidak menemui istri mu, aku menemui kekasihku".
Dari jauh Diandra bisa melihat ketegangan diwajah suaminya. Sementara Dimas terlihat santai seperti biasanya. Ia tahu jika sahabatnya pasti tengah menjahili suaminya.
" Berhenti memanggil istriku dengan sebutan kekasih!!". Kesabaran Abi hilang sudah.
"Ada apa??". Diandra mendekat dan bertanya.
" Tanya aja sama suamimu. Aku kesini menemui kekasihku. Kenapa dia yang marah". Senyum geli tersungging dibibir Dimas.
"Lyvia!!". Teriak Dimas sambil melambaikan tangannya pada seorang gadis yang baru saja memasuki restoran.
" Ada apa sih?". Diandra terlihat bingung
"Aku sudah bilang pada suamimu kalau aku kesini menemui kekasihku. Tapi dia marah dan melarangku". Dalam hati Dimas tertawa puas melihat wajah Abi yang juga terlihat bingung.
" Mak-sudmu?". Tanya Abi
"Aku kesini menemui kekasihku ini". Gadis yang dipanggil Dimas dengan nama Lyvia sudah berdiri disamping Dimas.
" Aku pergi dulu Di..berhati-hatilah. Suamimu pencemburu". Dimas merangkul pinggang Lyvia dan berlalu dari sana dengan tawa puas. Namun saat melewati Abi, ia menepuk pundak Abi sambil berbisik.
"Anda salah sasaran kalau cemburu tuan Abi.." Kekeh Dimas dan berlalu dari sana meninggalkan Abi yang terlihat salah tingkah karena kesalahpahamannya.
"Aku pergi Di..berbahagialah". Dimas melambaikan tangannya sambil berlalu meninggalkan Diandra yang nampak bingung.
__ADS_1
Ia terus menghindari kontak mata dengan Diandra yang terus menatapnya dengan tatapan penuh tanya.