Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
kecewa


__ADS_3

Semua mata menatap Baim. Terutama Diandra dan Abi yang terlihat sangat antusias. Sudah lama mereka menantikan Baim mengenalkan seorang gadis pada mereka. Namun sepanjang usia Baim hingga kini menginjak usia 22 tahun yang sebentar lagi akan 23 tahun, Baim tidak pernah terlihat dekat dengan gadis manapun kecuali adiknya, Lengkara.


"Siapa?".


"Apa mama dan papa mengenalnya?".


"Siapa orang tuanya?". Pertanyaan Abi dan Diandra saling bersahutan. Sementara Gaara dan Raffa saling pandang tak tahu harus berbuat apa.


Baim menelan saliva nya kasar. Berusaha mengumpulkan segenap keberaniannya untuk mengungkapkan siapa kekasih hatinya. Wanita yang berhasil mengoyak pertahanannya, wanita yang berhasil membuat hatinya tak tenang, wanita yang berhasil membuatnya tak bisa berpaling kepada gadis manapun selain gadis itu. Wanita yang saat ini duduk tepat disampingnya dan menggenggam erat tangannya.


"Jadi? Siapa dia kak?". Tanya Diandra mendesak.


"Apa mama dan papa mengenalnya?". Tanya Diandra lagi menatap penuh harap pada Baim.


Baim menghela nafas panjang. Memantapkan hatinya untuk mengatakan kebenaran. Ia sudah memutuskan mempertahankan Kara, artinya ia harus siap berkata jujur pada kedua orang tuanya meski harus menyakiti keduanya.


"Mama kenal..bahkan sangat mengenalnya". Diandra dan Abi saling menatap bingung. Siapa gadis yang dibicarakan putranya itu.


"Siapa?". Abi dan Diandra bertanya kompak membuat Baim kembali menghela nafas panjang. Namun seulas senyum tersungging dibibirnya saat genggaman tangan wanitanya menguat. Ia tahu betapa takutnya Kara saat ini.


"Siapa kak? Jangan bikin mama penasaran dong.." Bukan hanya Baim yang gugup, Gaara bahkan berkali-kali meneguk air putih didepannya.


"Kenapa gue yang deg-degan gini sih. Mereka yang mau ngaku, kenapa gue yang kaya maling mau ketauan". Batin Gaara menatap kedua saudaranya dengan perasaan berdebar.


"Dia ada disini ma, pa". Abi dan Diandra saling menatap kemudian celingukan mencari orang yang dimaksud putranya.


"Disini?". Beo kedua orang tua itu bersamaan dan dijawab anggukan kepala oleh Baim.


"Dimana?". Tanya keduanya kembali kompak.


"Dia disini ma, pa..disampingku". Abi dan Diandra mematung.


"Kekasih yang aku maksud ada disampingku saat ini ma, pa. Dia adalah putri kalian, Lengkara". Akhirnya kebenaran itu terucap juga malam ini. Setelah hampir 3tahun lamanya keduanya diam dengan hubungan mereka, malam ini semua terbuka.


"A-apa?". Baim tak sanggup menatap mata Diandra maupun Abi. Ia tak sanggup melihat kekecewaan dari kedua orang tuanya.


"Maafkan aku ma, pa. Maaf kalau aku lancang dan mencintai Kara. Aku benar-benar tidak bisa menahan perasaan ini tumbuh..bahkan setelah aku keluar dari rumah ini. Aku tetap tidak bisa melupakan Kara dan mengenyahkan perasaan ini.." Baim masih tak berani menatap kedua orang tuanya. Hanya genggaman tangan Kara yang menguatkannya.


"Ap-apa-apaan ini". Suara Diandra terdengar bergetar dan semakin membuat Baim merasa bersalah. Namun begitu, kini Baim merasa beban berat yang selama ini menghimpit dadanya seolah terangkat semua.


Meski kini rasa takut itu berganti dengan perasaan bersalahnya pada kedua orang tuanya yang masih diam menatapnya dan Kara.


"Ma.."

__ADS_1


"Pa.." Baim kembali membuka suara saat kedua orang tuanya diam seribu bahasa. Ia beranikan diri mengangkat kepalanya dan melihat wajah penuh kekecewaan itu. Dan sungguh itu sangat menyakitkan bagi Baim.


"Hahaha..kamu bercanda nya nggak lucu ah kakak". Diandra mencoba tertawa meski terdengar hambar. Diikuti tawa kaku Abi yang masih menatap keduanya.


"Ma..pa.." Lirih Baim membuat tawa Diandra dan Abi mereda ketika melihat mata Baim memancarkan kebenaran.


Ditambah lagi kedua orang tua itu melihat tautan tangan keduanya yang begitu erat. Ditambah lagi Kara yang masih tak berani mengangkat kepalanya.


"Ini nggak lucu kak.." Diandra menatap putra angkatnya yang menatapnya sendu penuh rasa bersalah.


"Maaf ma, pa. Tapi aku serius.." Baim kembali menunduk membuat Diandra dan Abi kehabisan kata-kata.


Tanpa berkata apapun, Diandra bangkit dan berjalan menjauh hingga seseorang bersimpuh di kakinya.


"Lepaskan, kak.." Suara Diandra terdengar dingin menusuk sanubari Baim.


"Aku mohon maafkan aku ma..aku benar-benar minta maaf". Baim tidak bisa menahan sakit di hatinya, berusaha sekuat hati agar tidak menangis.


"Lepaskan". Baim justru mempererat pelukannya di kaki sang mama.


"Enggak ma..aku nggak akan lepasin mama. Aku mohon jangan benci aku ataupun Kara ma..aku benar-benar mencintai Kara". Air mata yang coba Baim tahan akhirnya luruh juga. Rasanya sangat sakit diabaikan oleh orang yang disayangi.


"Kalian benar-benar membuat mama kecewa". Setelah mengucapkan kalimat itu, Diandra melepaskan tangan Baim dan berjalan meninggalkan Baim yang menangis bersimpuh dilantai.


"Pa.." Lirih Kara menatap sang papa yang masih diam dengan pandangan kosong.


"Papa..maafin Kara pa. Tapi Kara juga cinta sama kakak.." Abi bungkam, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal kuat.


"Kamu pulanglah". Kara menatap Abi dengan tatapan tak percaya. Apa yang baru saja dikatakan Abi? Sang papa mengusir Baim??


"Pa.." Lirih Kara menatap Abi sendu.


"Pulanglah.." Abi melewati Baim yang masih bersimpuh di lantai begitu saja.


"Kakak.." Kara mendekati Baim dan memeluknya setelah kedua orang tuanya masuk kedalam kamarnya.


"Kakak baik-baik aja, Ra". Baim menepuk punggung Kara perlahan.


"Kamu jangan nangis, sayang. Kakak akan baik-baik aja..asal kamu juga nggak seperti ini". Kara mengeratkan pelukannya. Sementara Gaara dan Raffa yang sejak tadi hanya diam menatap sedih kedua saudaranya yang masih saling berpelukan duduk diatas lantai.


"Maafin mama sama papa, kak". Lirih Kara membuat Baim tersenyum.


"Papa sama mama nggak salah sayang. Ini terlalu mendadak buat mereka..pasti mereka kaget sayang". Tangis Kara semakin terdengar memilukan membuat hati Baim terasa tersayat.

__ADS_1


"Dek.." Sebuah tepukan dibahu nya membuat Kara melepaskan pelukannya dari Baim. Ia menatap Gaara yang juga tengah menatapnya sedih.


"Abang.." Kara bangkit dan beralih memeluk Gaara.


"Lo pulang dulu aja, Im". Kara melepas pelukannya dan menatap galak abangnya.


"Abang ngusir kakak juga?!". Tanya Kara galak membuat Gaara gemas dan mencubit hidung adiknya.


"Pikirannya jelek mulu". Gaara mendengus kesal.


"Papa sama mama pasti butuh waktu buat cerna semua ini, Ra. Biarin dulu mereka tenang". Terang Gaara membawa Kara kedalam dekapannya dan mengelus kepala gadis galak itu.


"Iya kak. Lo pulang dulu aja, istirahat. Mungkin besok papa sama mama udah tenang. Gue ama bang Gaara bakal bantu ngomong ke mereka". Raffa ikut menenangkan membuat Baim tersenyum.


"Makasih Raf, Ga". Baim menatap kedua saudaranya.


"Titip santen gue ya..jagain jangan sampe nangis semaleman". Kara memberengut, meski air mata masih mengalir dari dua bola matanya.


"Janji sama kakak..jangan nangis. Kakak akan perjuangin kita..kakak akan yakinin papa sama mama kalo kita bahagia barengan". Baim menggenggam tangan Kara yang saat ini masih berada dalam dekapan Gaara.


"Kakak juga jangan sedih ya..mama sama papa pasti cuma kaget aja..besok pasti udah baik-baik aja kok". Kara menenangkan Baim dengan memberikan senyuman manis hingga membuat Baim mengangguk.


"Kakak pamit dulu ya.." Kara mengangguk meski berat.


"Kakak mau kemana?". Tanya Kara saat Baim justru mendekat ke arah kamar orang tua mereka.


"Biarin". Gaara mencegah Kara yang hendak menyusul Baim.


"Ma..pa..kakak tahu, pasti mama dan papa terpukul dan sangat kecewa dengan semua ini.." Baim berdiri tepat didepan pintu kamar orang tua angkatnya. Tubuhnya bersandar dipintu kokoh itu dan ia yakin kedua orang tuanya mendengar suaranya.


"Tapi Baim benar-benar mencintai Kara kita ma, pa. Maaf kalau perasaan aku salah..tapi aku benar-benar nggak sanggup untuk melepaskan Kara". Baim menghela nafas panjang.


"Baim akan tunggu sampai mama dan papa tenang..Baim akan kembali lagi untuk meyakinkan mama dan papa, kalau perasaan Baim tulus untuk Kara". Baim mencoba tersenyum meski sulit.


"Besok Baim akan kembali, dan meyakinkan mama dan papa kalau Baim adalah laki-laki yang pantas bersanding dengan putri istimewa kalian". Baim menatap Kara penuh cinta. Sedangkan yang ditatap hanya bisa menangis sesenggukan.


Malam itu Baim pulang ke apartemennya dengan sejuta rasa bersalahnya. Namun juga merasa lega karena sudah berbicara jujur pada kedua orang tua angkatnya.


...¥¥¥•••¥¥¥...


Huaaaahhh..aku yang nulis deg-degan sendiri deh suwerr✌🏻


Kira-kira piye iki temen-temen? Masa iya mak bapaknya kaga ada yang setuju..

__ADS_1


Auto patah hati dong ya..kasian Baim ama si santen😩 Sabar dulu tapi ya..belom end jadi nggak boleh suudzon pokoknya, okeee👌👌


Yang punya niat mau lempar panci sama santet online mohon dipending dulu..ojo grusa grusu😂😂


__ADS_2