Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
Akting bagus


__ADS_3

Kini giliran Abi dan Diandra yang melongo saat melihat foto yang ditunjukkan Baim pada mereka. Bagaimana tidak, proyek besar yang diincar oleh perusahaan Abi maupun perusahaan Abram rupanya dimenangkan oleh Baim?


"Bagaimana bisa?". Tanya Abi. Ia sungguh penasaran bagaimana cara Baim mendapatkan proyek sebesar itu. Mengalahkan perusahaannya serta perusahaan milik Abram yang notabene nya lebih besar dan terpercaya.


"Jadi kamu yang memenangkannya?". Tanya Diandra terkejut, namun juga sangat bangga dan bahagia.


"Ya, ma.." Baim tersenyum menatap mamanya.


"Aku datang pada tuan Fredy dan membawa beberapa desain buatanku. Aku sebenarnya tidak yakin..tapi aku mencobanya demi Kara". Setiap mengingat Kara. Bibir Baim selalu menyunggingkan senyuman manis.


"Lalu?". Tanya Abi yang sudah sangat penasaran dengan cara putranya mendapatkan proyek besar itu.


"Dia menyukainya. Tapi dia memberikan aku syarat jika ingin aku yang memegang proyek itu. Bahkan beliau bilang aku tidak perlu mengeluarkan modal apapun jika rancanganku mampu membuatnya tertarik". Abi terus menyimak, masih belum percaya jika pengusaha besar seperti tuan Fredy memilih perusahaan Baim yang bahkan tidak terkenal sedikitpun.


"Apa syaratnya nak?". Tanya Diandra yang juga penasaran.


"Tuan Fredy memberi aku waktu tiga hari untuk membuat desain dan anggaran biayanya. Jika aku sanggup dan desainku menarik baginya, maka proyek besar itu menjadi milikku".


"Dan kamu berhasil?". Tanya Diandra antara percaya dan tidak.


"Ya..aku berhasil ma..dia menyukai semua rancangan yang aku buat dan anggaran yang low budget tanpa mengurangi kualitasnya". Diandra tersenyum bangga. Pun dengan Abi yang tidak dapat menyembunyikan perasaan senangnya.


"Jadi papa salah jika menyerang cafe milikku..karena tanpa cafe itupun aku bersyukur masih memiliki pemasukan lain". Abi mendengus namun tetap bangga.


Putra angkatnya memang tak bisa diremehkan. Bahkan ia kecolongan sampai tidak mengetahui apapun tentang perusahaan yang dirintis Baim. Apa nama perusahaannya dan dimana kantornya saja Abi sama sekali tidak tahu.


"Cerdik. Kamu terlalu cerdik bahkan untuk menjadi lawan papa sekalipun". Batin Abi menatap bangga pada Baim.


"Papa hanya berpesan padamu, kak. Kara masih sangat muda dan manja. Papa yakin kamu lebih tahu dia dibanding papa sekalipun.." Suasana tiba-tiba hening.


"Papa percaya jika kamu akan bisa membimbing dan mendidiknya kelak. Jadi papa mohon, tolong jaga putri papa sama seperti selama ini kamu menjaga dan menyayanginya". Abi selalu berubah sendu setiap membahas putrinya. Bagaimanapun, Kara adalah putri satu-satunya. Dan selama ini Kara selalu manja dan sangat dekat dengannya.


"Baim tidak bisa menjanjikan apapun pa..tapi kebahagiaan Kara, akan selalu menjadi yang paling utama buat aku. Papa bisa percaya tentang itu.." Ucap Baim yakin membuat Abi menepuk pundaknya beberapa kali.


"Mama dan papa mempercayaimu..jaga selalu kepercayaan kami. Sama seperti selama ini kamu menjaga hati kami.." Diandra mengelus pucuk kepala putranya.


"Ayo kita keluar sebelum pintu kerja papa mu didobrak oleh Kara". Semua terkekeh, mereka sadar sudah terlalu lama berada didalam ruang kerja Abi.


"Ma, pa.." Abi dan Diandra yang sudah berjalan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap putranya.


"Terimakasih untuk semuanya.." Baim memeluk keduanya dan dibalas pelukan hangat kedua orang tua angkatnya.


"Terimakasih sudah menjadi orang tua terbaik yang pernah Baim miliki.." Air mata Baim hampir luruh. Namun ia tahan.

__ADS_1


"Terimakasih juga..kakak sudah menjadi anak yang sangat membanggakan untuk mama dan papa". Ketiganya tersenyum lega. Rasanya beberapa waktu ke belakang benar-benar mnejadi ujian bagi semua orang.


"Ayo cepat kita keluar. Atau pintu kerja papa akan benar-benar dihancurkan oleh kekasihmu itu". Baim terkekeh mendengar ucapan sang papa.


Baim melangkah lebih dulu diikuti Abi dan Diandra dibelakangnya. Dan benar saja, saat Baim keluar membawa map ditangannya, Kara sudah siap siaga menunggunya didepan ruang kerja sang papa.


Awalnya Baim ingin langsung mengatakan kebenaran dan berita bahagia itu. Namun sang mama dan papa sepertinya memiliki rencana untuk menggoda Kara lebih lama.


Akhirnya Baim pasrah dan mengikuti kembali permainan kedua orang tuanya.


flashback off


Baim kembali tersenyum ketika melihat Kara dan Gaara masih belum tersadar dari keterkejutan. Kenapa mereka berdua? Yang pasti itu benar-benar mengejutkan kedua orang itu.


Baim menepuk pelan pundak keduanya untuk menyadarkan mereka.


Keduanya menatap Baim dan Abi serta Diandra bergantian. Meminta penjelasan tentang apa yang terjadi saat ini.


"Akting mama sama papa emang paling the best. Harusnya mama sama papa jadi pemain film". Raffa tergelak mendapat pelototan dari kedua orang tuanya.


Diandra menghela nafas, kemudian menceritakan semuanya. Dari pertama dirinya dan Abi mengetahui kebenaran hubungan keduanya hingga rencana Diandra membuat Baim dan Kara mengakui hubungannya didepan Diandra.


"Awalnya mama kaget banget. Bahkan awalnya mama memang nggak restuin hubungan kalian". Diandra kembali menghela nafas. Saat itu ia dibuat sangat terkejut dengan apa yang Abi katakan.


Anak-anaknya menjalin hubungan asmara. Diandra benar-benar terkejut dan jelas menolak keras hubungan itu. Namun ia dan Abi berpura-pura tidak mengetahui apapun dan bersikap biasa pada Baim dan Kara meski sangat kecewa. Itupun atas permintaan Abi.


"Maafin Kara, ma..pa.." Lirih Kara disela Diandra menceritakan semuanya.


"Nggak apa-apa. Semua udah berlalu sayang.."


"Syukurlah papa bisa membuat mama yakin.." Semua mata menatap Abi.


"Memang papa bilang apa ma?". Tanya Raffa yang sebenarnya penasaran. Bagaimana awalnya kedua orang tuanya bisa menerima hubungan Baim dan Kara dan justru menyerang balik dengan merencanakan hal untuk membuat keduanya mengakui hubungan keduanya.


"Papa bilang, tidak ada laki-laki lain yang lebih baik dari kakak. Laki-laki yang sudah sangat tahu bagaimana sikap dan watak serta kebiasaan buruk Kara dan masih mau menerimanya dengan tulus.." Abi diam, mendengarkan cerita istrinya tentang dirinya.


"Papa.." Mata Kara sudah berkaca-kaca menatap cinta pertamanya didunia ini.


"Papa juga yang menyadarkan mama untuk mempercayai Baim. Karena dia adalah anak mama..anak yang mama besarkan dengan kedua tangan mama meski bukan lahir dari rahim mama.." Diandra menatap Baim penuh kasih sayang.


"Bagaimana mungkin mama tidak merestui mereka. Apa mama tidak percaya kepada anak yang sejak kecil mama didik? Apa mama tidak mengenal Baim? Tidak ada laki-laki yang lebih baik dari Baim untuk mendampingi Kara".


"Itu yang papa katakan saat itu. Dan itu benar-benar menjadi tamparan keras untuk mama. Mama disadarkan dari kebodohan. Mama lupa jika mama yang membesarkan lelaki hebat seperti Kakak dan mama sangat mengenal segala hal tentang kakak.."

__ADS_1


"Aaaa..mama...papa..." Kara menghambur kedalam pelukan Abi. Duduk diantara Diandra dan Abi kemudian memeluk keduanya.


"Jadi...kalian berduaaaa.." Diandra menatap Baim dan Kara bergantian.


"Jangan pernah kecewakan kami. Jangan hancurkan kepercayaan kami pada kalian. Ingat.." Diandra mengacungkan jari telunjuknya.


"Mata papa ada dimana-mana! Jangan coba macam-macam dibelakang papa", Lanjut Abi membuat semua tertawa pelan.


"J-jadi kapan mama sama papa tahu?". Raffa bertanya karena penasaran.


"Mungkin bareng sama kalian berdua". Abi menatap Gaara dan Raffa yang terkejut. Pun dengan Baim dan Kara.


"Papa ada direstoran saat kalian berempat membicarakan hubungan mereka". Abi melirik kembali Kara dan Baim.


"Kalo mama sih dikasih tau papa udah lumayan lama dari kalian resmi pacaran". Sindir Diandra membuat Baim dan Kara tersneyum bersalah.


"Maaf ma.." Diandra tersenyum.


"Nggak masalah..kalian pasti takut jujur saat itu". Ucap Diandra bijak.


"Tunggu. Gue lebih penasaran ama elo, Raf". Gaara menatap Raffa yang duduk disampingnya.


"Gue? Gue kenapa bang?". Tanya Raffa


"Lo dari tadi keliatan santai. Padahal gue ama Kara ribut sama mama papa". Gaara memicing, menatap curiga adiknya.


"Ooh..itu hasil perjuangan gue bang". Raffa tertawa mengingat beberapa hari lalu.


"Maksudnya?". Tanya Gaara.


Raffa menceritakan semua. Saat dirinya menemui kedua orang tuanya dan mengatakan semua kekecewaannya dan kemudian memaksa orang tuanya menerima dan merestui hubungan Kara dan Baim. Namun diluar dugaan, kedua orang tuanya justru memberitahunya tentang semua rencana mereka untuk Baim dan Kara. Oleh sebab itulah Raffa menjadi lebih tenang dan santai setiap kedua orang tuanya menjalankan lakonnya yang menentang hubungan Kara dan Baim.


"Kenapa lo nggak bilang?". Sewot Gaara. Ia pusing tujuh keliling dan Raffa menikmati semuanya. Benar-benar menyebalkan.


"Kaga seru kalo abang tau. Gue nggak bisa liat abang ngamuk-ngamuk". Raffa tertawa puas saat melihat Gaara melotot.


"Jadi maksud lo 'waahh' tadi?". Tanya Kara


"Gue salut ama akting papa mama. Meyakinkan banget". Raffa tertawa puas, ia senang sekaligus lega.


...¥¥¥••¥¥¥...


Wes ya..3bab dan semua udah dibuka. Semua akal-akalannya mak Diandra ama lakinya yang kurang kerjaan itu😩

__ADS_1


Lanjut besok ya..beberapa bab lagi udah end. Kalo dilanjut bisi ceritanya makin ngaco dan nggak jelas..


Doain biar otaknya othor bisa mikirin cerita ampe bab terakhir nanti😀😁


__ADS_2