Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
tatapan permusuhan


__ADS_3

Abram menatap heran pada putranya yang terlihat gelisah dan tak tenang. Bukan seperti Gaara yang ia kenal selama ini. Lelaki bertangan dingin yang sangat tenang jika sedang berhadapan dengan klien.


Apakah mungkin Gaara bersikap demikian karena anak gadis dari kliennya yang kini ada dihadapan mereka? Tapi sejak tadi Gaara bahkan tak melirik sedikitpun gadis yang terlihat jelas tertarik pada Gaara.


"Sepertinya putra putri kita sangat cocok pak Abram. Mereka sama-sama cerdas dan hebat dalam bisnis". Senyum sumringah terpampang nyata di wajah lelaki yang menjadi klien Abram.


"Papa..apaan sih". Dengan malu-malu, gadis yang Abram tau bernama Ferisha itu nampak mencuri pandang pada Gaara yang tampak gelisah namun tak melirik gadis muda itu.


"Saya sih bagaimana putra saya saja. Tidak ingin memaksakan". Jawab Abram bijak. Apapun pilihan Gaara, jika itu membuat anak lelakinya itu bahagia, maka Abram akan mendukungnya.


Nick menatap Gaara dengan alis berkerut. Karena sejak tadi, atasannya itu tak sedikitpun fokus. Benar-benar bukan seperti bos nya yang sangat perfeksionis jika menyangkut pekerjaan.


"Ada apa lagi sama si bos? Abis nikahannya si Raffa udah kumat uring-uringan nggak jelas. Sekarang malah banyak bengong". Batin Nick menatap Gaara intens.


"Ngapain kamu liatin saya ampe kaya begitu?". Nick terlonjak kaget saat Gaara bertanya dengan suara sangat pelan.


"B-bukan apa-apa pak. Saya kira bapak sedang kurang enak badan karna sejak tadi hanya diam". Gaara mendengus. Meskipun sejak tadi dirinya terlihat tidak fokus dan tidak mendengarkan, namun telinga dan mata tajamnya masih bekerja sangat baik.


Ia bahkan tau jika sejak tadi gadis bernama Ferisha itu terus mencuri pandang ke arahnya. Ia juga mendengar papa Ferisha yang mengatakan jika dirinya dan putrinya itu sangat cocok.


"Cih..apanya yang cocok". Gaara berdecih namun tentu hanya dalam hati. Ia masih tau tempat dan situasi untuk memperlihatkan wajah menyebalkannya.


"Yah, aku pamit dulu ya. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan", Pamit Gaara pada Abram. Ia sudah jengah mendengar bujuk rayu papa Ferisha agar Abram mau menjodohkan dirinya dan Ferisha.


"Ya..ayah akan segera menyusul". Abram paham kode mata putranya. Menandakan jika putranya tidak nyaman berada dekat dan lama dengan klien mereka kali ini.


"Saya permisi, pak.." Gaara bangkit, membungkuk sedikit untuk sebuah kesopanan pada Ferisha dan papanya.


"Kenapa buru-buru. Kamu bahkan belum makan". Gaara menarik keatas sebelah bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman miring.


"Maaf, mungkin lain waktu. Saya ada pekerjaan lain. Saya permisi". Gaara segera berlalu dari ruangan VIP sebuah restoran yang baru mereka gunakan untuk meeting.

__ADS_1


Abram menggeleng pelan. Putranya lebih mirip dengan Abi. Jika tidak menyukai, maka akan langsung diperlihatkan saat itu juga. Tapi ia senang, putranya tidak menjadi lelaki b*jingan seperti dirinya dulu.


"Kita mau kemana pak?". Tanya Nick yang mengikuti langkah cepat Gaara.


"Si bos mau kemana sih ini sebenernya. Jalannya udah kaya diuber kang nagih utang". Gerutu Nick namun ia tetap mengikuti Gaara.


"Jangan menggerutu apalagi mengumpati aku meski dalam hati sekalipun, Nick". Nick menelan salivanya dengan susah payah. Apa bos nya kini juga seorang cenayang? Batinnya lagi.


Untunglah tubuh Nick hampir sama tinggi nya dengan Gaara, meskipun memang lebih tinggi Gaara. Setidaknya ia tidak terlalu kesulitan mensejajari langkah kaki bos nya itu.


Nick terus mengikuti Gaara dalam diam. Ia tak tahu kemana bos nya ini akan pergi. Yang ia tahu hanya terus mendampingi bos galaknya itu.


"Astaga. Kenapa lagi sekarang?". Batin Nick saat Gaara tiba-tiba menghentikan langkahnya. Untung saja Nick fokus, jika saja tidak. Sudah bisa dipastikan ia akan menabrak punggung kokok Gaara.


"Breng sek!". Umpat Gaara dengan tangan terkepal. Matanya menatap lurus ke depan dengan sorot mata tajam.


"Eh..kenapa?". Batin Nick. Ia menyembulkan kepalanya untuk bisa melihat ke depan sesaat lalu kemudian kembali berdiri tegak.


Ia kemudian menatap wajah Gaara dari samping. Rahangnya terlihat mengeras, wajahnya kaku bak kanebo kering. Nick lalu kembali menatap lurus ke depan, dan menatap wajah Gaara. Ia melakukannya beberapa kali hingga membuat Gaara kesal.


"Maaf bos.." Nick sadar dengan tingkahnya dan segera meminta maaf.


"Pantes aja mukanya kaya kanebo kering. Pawangnya udah ada yang punya". Nick tersenyum tipis sambil menunduk. Bisa habis dia kalau sampai Gaara melihat senyumnya.


Sedikit banyak ia tahu tentang kisah admara Gaara dan gadis yang saat ini masih terus Gaara tatap itu.


Sejujurnya ia juga kesal dengan bos nya, mengapa memilih mempertahankan gadis yang dulunya pernah menorehkan luka dibanding gadis yang selalu setia mendampingi seperti Nala kala itu.


Dan ya, gadis yang saat ini tengah menjadi titik fokus pandangan Gaara adalah, Nala. Gadis yang dulu menghiasi hari-harinya dengan suara cemprengnya dan juga perhatiannya. Kini Gaara harus melihat perhatian itu Nala berikan pada lelaki yang tak pantas untuk diberi perhatian.


"Kamu bisa kembali ke hotel, Nick. Beristirahatlah! Aku ada urusan dan kau, tidak perlu ikut". Perintah Gaara tanpa menatap Nick yang terlihat semakin bingung. Namun ia tetap menurut saja. Kapan lagi ia bisa pulang saat matahari masih nampak dan beristirahat.

__ADS_1


Satu tahun belakangan ia bekerja bagaikan kuda. Jarang istirahat apalagi libur karena mengikuti jam kerja bos galaknya itu.


"Baik, bos. Hubungi saya jika anda membutuhkan sesuatu". Gaara mengangguk tanpa menoleh.


"Dan aku harap anda tidak butuh bantuanku hari ini, bos. Aku ingin tidur". Batin Nick tersenyum senang. Nick segera melarikan diri dari tempat itu sebelum bosnya berubah pikiran dan kembali mengajak dirinya bekerja dan bekerja lagi.


"Kamu terlalu polos, La". Geram Gaara yang melihat Nala tengah memeluk lengan lelaki yang beberapa jam lalu ia lihat menggenggam tangan seorang gadis lain.


Gaara melangkahkan kakinya semakin dekat dengan Nala dan seorang pria yang tak lain adalah Zayn. Ia tersenyum sinis saat melihat bagaimana manjanya Nala pada lelaki itu.


Entah akan seperti apa perasaan Nala jika tahu kekasih hatinya itu menduakan cinta nya. Mengingat hal itu membuat Gaara semakin kesal dan marah.


Langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya melebar sempurna saat melihat gadis yang tadi berjalan bersama Zayn datang menghampiri Nala dan Zayn.


"Dia siapa La? Apa kamu benar-benar tidak tahu jika calon suami yang kamu cintai itu menduakanmu?". Gumam Gaara terus menatap dalam Nala yang terlihat sangat dekat dengan gadis yang belum ia tahu siapa namanya.


"Ini nggak bener. Aku harus selamatin Nala". Ucap Gaara dan segera berjalan kembali menghampiri Nala dan Zayn.


"Gaara.." Nala segera menoleh saat sang kakak memanggil nama lelaki yang masih ada didalam hatinya itu.


Matanya seketika melebar dengan jantung berdebar kencang saat Gaara semakin dekat dengan dirinya. Bukan hanya Nala, gadis yang tak lain adalah Jen, sahabat Nala pun ikut menatap Gaara.


Jen berusaha mengingat siapa lelaki yang tidak asing itu. Dan seketika ia membekap mulutnya yang sedikit terbuka saat mengingat jika lelaki yang tengah menghampiri mereka saat ini adalah cinta yang selalu Nala banggakan dan ceritakan.


"Abang.." Lirih Nala yang masih belum percaya jika dirinya kembali dipertemukan dengan Gaara.


Suasana terasa kaku saat Gaara sudah berdiri didepan ketiganya. Ia memberikan tatapan permusuhan pada Zayn yang terlihat bingung. Gaara juga menatap sengit Jen yang langsung saling pandang dengan Zayn.


...¥¥¥•••¥¥¥...


Eaaaa..si kang gara-gara makin salah paham aja dah ah😂😂

__ADS_1


Segini dulu ya semua..mudah2an nanti bisa up lagi..


__ADS_2