Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
bully


__ADS_3

Hari-hari yang dilalui Nala benar-benar tak mudah setelah beredarnya foto dirinya dan Haikal yang duduk ditepian danau beberapa hari lalu saat Haikal menariknya paksa.


Rasanya Nala enggan untuk ke kampus. Terlalu banyak caci maki yang harus ia dengar dan ternyata hatinya tak sekuat yang ia kira. Hatinya tak cukup siap menerima kebencian dari orang-orang yang tak tahu kebenaran ceritanya.


Keadaan semakin kacau saat terdengar selentingan kabar jika Haikal dan istrinya akan bercerai. Semakin bestambah buruk saja image Nala dimata para mahasiswi dan dosen. Nala kembali menghela nafas, hingga kini, kakaknya belum tahu masalah yang menimpa dirinya.


Atau mungkin hanya berpura-pura tidak tahu saja. Entahlah, Nala juga tidak tahu apakah kakak lelakinya itu mengetahui masalahnya atau tidak. Yang jelas Nala tak berniat memberitahu karena tak ingin menambah beban sang kakak.


Ponsel Nala berdering saat ia tengah duduk didepan cermin riasnya. Nama 'abang ganteng' terpampang memenuhi layar ponselnya membuat seulas senyum terbit dibibirnya.


"Abang.." Gumamnya pelan sambil perlahan menggeser ikon telepon berwarna hijau kemudian menempelkan benda pipih itu ditelinga.


"Assalamualaikum.." Nala mengucapkan salam lebih dulu dan terdengar jawaban dari seberang sana.


"Wa'alaikumsalam.." Alis Nala berkerut, suara Gaara terdengar dingin seolah mampu membekukan dirinya.


"Ada apa bang?". Tanya Nala mencoba berfikir positif.


"Kamu baik-baik aja?". Suaranya masih terdengar dingin, namun terselip nada kekhawatiran.


"Aku baik-baik aja bang.." Nala tak yakin, tapi ia merasa Gaara mengetahui masalah yang tengah ia hadapi.


"Jaga diri kamu baik-baik. Aku tutup dulu..Assalamualaikum". Nala menatap layar ponselnya yang kini sudah kembali menggelap.


"Wa'alaikumsalam.." Gumamnya pelan sambil terus menatapi layar ponselnya.


Tak lama setetes cairan bening mengalir melewati pipi putih nan mulus miliknya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku capek bang..aku harus gimana sekarang". Sambil terisak Nala bergumam pelan. Mendengar suara Gaara membuatnya merasa begitu lemah. Merasa ingin dilindungi dan dibela.


Cukup lama Nala menangis didalam kamarnya. Hingga terdengar ketukan pintu dikamarnya yang membuatnya cepat menghapus jejak air matanya.


"Masih lama enggak dek?". Suara Zayn terdengar dibalik pintu.


"Bentar lagi mas.." Nala berusaha mengatur suaranya agar Zayn tak curiga.


"Mas tunggu dibawah ya.." Kembali Zayn mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Iya.." Nala segera memakai riasannya untuk menutupi jejak air matanya.


Memastikan jika wajahnya sudah terlihat biasa saja, Nala segera menyambar tasnya dan berjalan keluar kamar.


"Tumben lama sih dek.." Zayn menatap penampilan adiknya. Belakangan ini adiknya memang lebih senang memakai riasan. Padahal biasanya Nala lebih senang wajahnya polos tanpa riasan. Hanya krim pelindung sinar uv dan pelembab bibir. Tapi akhir-akhr ini Zayn melihat Nala memakai riasan yang cukup tebal.


"Aku berangkat sendiri aja ya mas hari ini.." Ucap Nala sambil mengambil sehelai roti dan mengolesinya dengan selai coklat kesukaannya.


"Mas anterin aja". Nala menggeleng


"Nggak usah, tempat kerja mas sama kampus beda arah mas.."


"Nggak apa-apa. Masih pagi juga lagian". Nala tetap menggeleng, kondisi dikampusnya semakin hari kian tak kondusif. Jika Zayn mengantar, sudah pasti kakaknya itu tahu keadaannya saat ini. Dan Nala tak mau itu terjadi. Sudah cukup ia merepotkan sang kakak selama ini.


"Aku pergi sendiri aja mas..mau naik ojek. Udah lama nggak naik ojek". Nala memasang senyum terbaiknya untuk meyakinkan sang kakak yang sedari tadi menatapnya curiga.


"Kamu yakin?". Nala mengangguk yakin


"Kamu nggak lagi ada masalah kan dek?". Tanya Zayn terus menatap Nala yang kini terlihat sekali salah tingkah dan tak berani menatap sang kakak.


"Enggak. Masalah apa sih mas.." Nala kembali memasang wajah tenang dengan seulas senyum yang membuat Zayn justru menggeleng.


Nala segera pergi sebelum sang kakak menanyakan hal yang mungkin tidak akan bisa ia jawab dengan kebohongan.


"Sampai kapan mau kaya gini.." Gumam Nala sambil berjalan menghampiri ojek pangkalan didekat perumahan sang kakak.


Namun belum sempat ia mendekat, sebuah mobil yang sudah sangat ia kenal siapa pemiliknya berhenti tepat didepannya.


"Ayo.." Nala tersenyum.


"Ah..irit ongkos deh". Ucapnya ringan sambil membuka pintu mobil.


"Sesuai aplikasi ya mbak.." Imbuhnya lagi membuat si pengemudi mencebik.


"Aplikasi aplikasi, dengkulmu". Nala tergelak melihat wajah kesal gadis yang tak lain adalah Jen.


"Yaelah, gitu aja sewot sih kakak ipar". Jen semakin mendengus mendengar panggilan Nala. Sejak mengetahui hubungannya dan Zayn, Nala selalu meledeknya dan memanggilnya kakak ipar.

__ADS_1


"Berisik". Ketus Jen membuat Nala semakin terbahak. Saat ini hanya saat bersama Jen dan Zayn saja Nala bisa tertawa lepas. Jika sudah sampai di kampus, Nala hanya bisa menunjukkan wajah muram. Apalagi kata-kata pedas teman-temannya yang terus memanggilnya wanita murahan dan pelakor.


"Kenapa sih nggak dirumah aja". Nala segera menoleh. Ia tahu Jen mengkhawatirkan kondisinya, terutama mentalnya. Belakangan adalah saat terberat bagi Nala, dirinya benar-benar menjadi sasaran bully seluruh isi kampus.


Haikal, lelaki itu bahkan masih berusaha menemuinya saat keadaan tengah memanas seperti ini. Dan itu membuat Nala benar-benar habis kesabaran.


Sudah berulang kali Nala menjelaskan, dibantu oleh Jen. Bahkan Jen mengarang cerita bahwa Nala sudah memiliki calon suami. Namun semua ucapannya tak dipercaya. Apalagi belakangan teman-teman kampusnya mengetahui jika Jen adalah kekasih dari kakak lelaki Nala. Lelaki yang selama ini mereka kira kekasih Nala.


"Bisa-bisa aku nggak lulus-lulus kalo nggak ngampus terus". Nala mencoba tenang meski hatinya bergejolak. Antara siap dan tidak kembali mendengar cemoohan banyak orang.


"Udah yok turun.." Ucap Nala, Jen memegang lengan Nala. Saat ini keduanya sudah sampai diparkiran kampus.


"Aku baik-baik aja Jen. Beneran deh aku nggak apa-apa". Nala berkata yakin meski hatinya tak memiliki keyakinan.


Jen menatap sekeliling mereka. Menghembuskan nafasnya kasar dan kemudian mengangguk. Ia akan membela Nala sampai kapanpun.


Dan benar saja, saat keduanya baru keluar dari mobil. Sudah banyak mata yang menatap jijik pada mereka. Atau lebih tepatnya pada Nala.


"Kamu duluan aja deh Jen". Ucap Nala. Ia tak mau Jen ikut terseret masalah yang membelitnya. Dukungan Jen untuknya sudah lebih dari cukup.


"Nggak akan. Kita masuk bareng". Jen menggandeng tangan Nala yang terlihat tersenyum sambil menatap tangannya yang digenggam Jen.


Dan tepat saat di lobby kampus, keduanya harus menghentikan langkahnya karena beberapa mahasiswi menghadang langkah keduanya.


"Dasar nggak tahu malu!! Masih berani ke kampus ya!". Suara nyaring seorang gadis membuat semua orang memusatkan perhatian mereka pada Nala.


"Mana tahu malu perempuan model beginian. Urat malu nya udah putus". Sambung yang lainnya. Sementara Nala hanya bisa memejamkan mata dan menguatkan hatinya.


"Jaga mulut lo pada ya!! Jangan seenaknya ngomong! Nala nggak kaya yang kalian omongin!". Bela Jen dengan suara tak kalah keras.


"Lagian Nala udah punya calon suami! Dan asal kalian semua tahu! Yang deketin itu bukan Nala! Tapi pak Haikal!". Jen sudah tak bisa diam lagi, ini semua sudah keterlaluan.


"Lo itu belain dia soalnya lo pacar kakaknya..kalo emang ini pelakor punya calon suami. Dimana orangnya? Kita nggak pernah liat tuh". Cibir yang lain setelah hening sesaat hingga suasana kembali riuh.


...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...


Hah, gara-gara si pak Haikal nih jadi Nala dibully. Mana tuh yang namanya pak Haikal, sini suruh ke rumah othor..nanti dibikinin kopi deh😤

__ADS_1


Haihaihai semuaaaah...sehat semua kan ya?? Semoga sehat..aamiin


Ikuti terus ceritanya ya menteman semua..jangan lupa dukungannya biar si othor amatir ini semangit nulis🤭😁


__ADS_2