
"Bod*h!!! Bagaimana bisa menjaga seorang anak saja kalian tidak mampu!!!". Teriakan itu menggema, memenuhi seisi ruangan yang kini terasa hampa karena Gaara sudah tidak ada disana.
"Maafkan kami tuan". Kedua anak buah Abram hanya menunduk takut melihat kemarahan Abram.
"Maaf kalian tidak berguna!!! Sia-sia aku menculik Gaara! Karena kebod*han kalian aku kehilangan anakku!!". Abram terus mengamuk dan sesekali memukul anak buahnya.
Abram sedang meeting dengan calon investornya saat salah seorang anak buahnya menelpon dan mengabarkan jika Gaara berhasil melarikan diri. Pantas saja sejak tadi ia merasa tidak tenang.
Tanpa menunggu lama, Abram pergi meninggalkan meeting penting itu untuk bergegas mencari putranya. Ia tidak tahu jika itulah titik kehancurannya.
Kemarahan Abram menguap begitu melihat dua pasang mata yang menatap kecewa padanya.
"Papa sudah menduga jika semua ini ulahmu! Kau benar-benar bukan manusia Bram. Papa kecewa padamu". Pak Burhan langsung berlalu tanpa menunggu istrinya yang masih menangis.
"Mama tidak menyangka melahirkan anak tak memiliki hati sepertimu, Abram. Kamu sudah benar-benar salah jalan. Mulai saat ini, anggap kamu sudah tidak memiliki orang tua". Setelah mengutarakan kekecewaannya, bu Yuli segera menyusul suaminya. Hatinya benar-benar sakit melihat putranya semakin jauh dari jalan kebenaran. Ia merasa sudah tidak lagi mengenal Abram, putranya.
"Ma..!! Pa..!! Dengarkan aku!!". Teriakan Abi tidak sedikitpun didengar kedua orang tuanya yang sudah terlanjur kecewa dengan apa yang diperbuat Abram.
"Semua ini karena kelalaian kalian!! Dasar tidak berguna!!!". Maki Abram membuat anak buahnya semakin menunduk dalam.
Sementara di lain tempat, Diandra tidak melepaskan Gaara. Tidak membiarkan putranya itu menjauh sedikitpun darinya. Tak membiarkan sosoknya menghilang sedetikpun dari jangkauan matanya.
Bahkan kali ini Diandra sedikitpun tak mau mengalah pada si kembar yang juga sangat merindukan abangnya itu. Abi bahagia, sangat bahagia melihat Diandra kembali hidup setelah selama empat hari ini ia juga tersiksa melihat penderitaan istrinya.
Diandra berkali-kali mengecup pucuk kepala Gaara yang saat ini ada dipelukannya.
"Sayang..badan kamu panas". Seru Diandra saat merasakan suhu tubuh Gaara lebih hangat dari biasanya.
"Mas panggil dokter.." Diandra mulai panik karena wajah Gaara juga pucat. Terlalu senang karena putranya kembali membuat Diandra tidak sadar kondisi Gaara.
"Aku gapapa ma.." Lirih Gaara. Sejujurnya ia sedikit pusing, hal yang lebih ia rasakan saat ini adalah rasa lapar.
"Di..jangan panik. Tenanglah atau anak-anak akan ikut panik". Naya mendekat dan menenangkan Diandra yang sudah hampir menangis lagi.
"Abang gapapa ma..asal ada dideket mama, abang akan baik-baik aja". Gaara membenamkan tubuhnya dalam rengkuhan Diandra. Terasa sangat nyaman dan menenangkan.
"Sebenarnya kamu kemana sayang?". Tanya Diandra pelan karena takut Gaara kembali mengingat hal yang tidak ingin dia ingat.
"Sayang..jangan tanyakan hal itu dulu. Biarkan Gaara istrirahat dulu..kita akan membicarakannya saat Gaara sudah benar-benar pulih". Diandra mengangguk dan kembali memeluk Gaara.
"Ma..." Lirih Gaara menatap Diandra
"Apa sayang? Kamu butuh sesuatu?". Tanya Diandra begitu lembut.
__ADS_1
"Abang laper.." Gaara berucap lirih, antara lemas dan malu pada Naya dan Al.
"Astaga..maaf sayang. Mama sampai lupa.." Diandra menepuk keningnya. Namun Gaara menahannya saat ia beranjak ingin mengambilkan Gaara makan.
"Jangan pergi ma..aku takut nanti kepisah dari mama lagi". Meskipun tegar, rupanya penculikan itu menyisakan trauma tersendiri bagi Gaara.
"Tapi kamu harus makan sayang..mama hanya sebentar". Gaara tetap menggeleng dan memeluk Diandra lebih erat.
"Biar papa yang ambil.."
"Atau abang pengen sesuatu?". Tanya Abi
"Apa aja pa..Abang laper banget". Sahut Gaara membuat Abi tersenyum dan berlalu ke dapur mengambil makanan untuk putranya.
Jika ditanya kemana Baim dan kedua adiknya serta anak-anak Naya. Jawabannya, mereka ada di kamar si kembar dan bermain. Meskipun ingin bersama Gaara, namun Baim paham jika saat ini mama nya yang lebih membutuhkan kehadiran Gaara. Pun dengan Gaara yang pasti sangat merindukan sang mama setelah berhari-hari tak bertemu.
Tak terasa malam menyapa, seluruh keluarga Diandra dan Abi kini berkumpul. Lengkap dengan kedua orang tua mereka.
Dan bahkan kini ada Naya beserta suami dan anak-anaknya. Suasana rumah yang seperti mati beberapa hari ini terasa hidup kembali berkat kembalinya Gaara.
Sejak tadi Gaara terus menempel pada sang mama. Pun Diandra yang memang tidak melepaskan putranya itu.
"Mama..Kenapa dari tadi sama abang terus. Aku dicuekin!". Si bungsu mulai kesal karena sejak tadi sang kakak memonopoli mama nya.
"Makasih sayang.." Baim mengangguk saat membaca isyarat bibir mamanya.
"Nggak mau. Abang udah sama mama dari sore..Kara juga mau". Rengeknya lagi membuat Raffa mencebik.
"Dasar manja santen sachet". Cibirnya membuat Kara memelototinya.
"Rapa berisik!". Balasnya tak kalah tajam. Dan terjadilah sesuatu yang memang harusnya terjadi.
Apa??
Ya..betul. Tentu saja si kembar biang rusuh akan tetap rusuh dan membuat keributan. Namun hal itulah yang membuat suasana rumah malam itu semakin hangat dan menyenangkan.
"Anak-anak kamu gemesin deh". Bisik Naya yang duduk bersebelahan dengan Diandra. Ia begitu gemas melihat si kembar berdebat.
"Gemesin tapi bikin pusing". Diandra balas berbisik. Ia benar-benar sudah kembali menjadi seorang Diandra setelah kepulangan Gaara.
Suasana hangat itu sangat berbanding terbalik dengan kondisi di kediaman tuan Dani, suami Monika.
Sejak kedatangan Abi yang memperingatinya, tuan Dani benar-benar kesulitan dengan bisnisnya karena istrinya terus berulah dengan mengganggu istri dan anak-anak Abi.
__ADS_1
Ditambah masalah terakhir ketika Monika membantu Abram menculik Gaara setelah sidang putusan beberapa hari lalu.
"Lihat ulahmu!!! Kita akan bangkrut sebentar lagi!!!". Bentak tuan Dani penuh amarah
Menatap sengit istrinya yang menunduk takut karena selama ini suaminya itu begitu memuja dan memanjakannya.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan!!! Dasar perempuan tidak berguna!!!". Bentaknya lagi.
"Aku minta maaf sayang.." Monika mencoba merayu suaminya berharap bisa sedikit meredam kemarahannya.
"Maafmu sudah tidak berguna!! Dasar pel*cur!!".
"Selama ini kau memanfaatkan tubuhmu untuk menjerat lelaki kaya bukan??". Seringai mengerikan nampak di bibir tuan Dani hingga membuat Monika bergidik ngeri.
"A-apa yang mau kau lakukan?!". Tanya Monika dengan tubuh gemetar karena suaminya terus merangsek maju.
Beberapa waktu belakangan tubuhnya sudah remuk karena dihajar oleh suaminya. Tak hanya sampai disitu. Suaminya juga akan bermain sangat kasar saat berada diatas ranjang. Bahkan beberapa kali Monika tak sanggup bangun dari ranjang karena cara bermain suami tua nya itu.
"Sekarang aku akan gunakan tubuhmu juga untuk mendapatkan uang dan menyelamatkan perusahaanku!". Monika melotot tak percaya, sementara tuan Dani menyeringai licik.
Tanpa banyak berkata, tuan Dani menyeret tubuh Monika. Melepaskan semua pakaian yang melekat ditubuh istrinya dan menggantinya dengan pakaian yang sangat minim. Mirip seperti wanita penggoda diluaran sana.
"Bukankah kau suka berpakaian seperti ini agar diperhatikan banyak lelaki? Ini juga bukan caramu menjeratku dan menyingkirkan istriku dulu?!". Pertanyaan, atau lebih tepatnya pernyataan menohok itu membuat Monika tercekat.
"Sayang, aku mohon jangan. Aku berjanji tidak akan mengganggu mereka lagi". Monika terus memohon, namun tuan Dani tidak mempedulikannya.
"Terlambat! Harusnya kau lakukan itu jauh-jauh hari sebelum tuan Abimana itu benar-benar menghancurkan bisnis yang ku bangun selama ini! Dan itu semua karena dirimu!!!! Dasar wanita tak tau diri!!!". Monika menjerit saat sebuah tamparan mendarat mulus dipipinya.
"Ikut aku sekarang!! Kau harus menghasilkan banyak uang untukku!". Tuan Dani menarik paksa Monika kedalam mobilnya.
Dan inilah akhir kisah Monika, menjadi wanita pem*as na*su para pria hidung belang disebuah club ternama kota itu. Dijual oleh suaminya sendiri ke beberapa rekan bisnis agar bisa mendapatkan tender dan membangun kembali bisnisnya.
Monika benar-benar hancur. Dan kehancurannya disebabkan oleh keserakahan yang ia miliki. Serta ambisinya untuk menghancurkan keluarga Diandra justru kini berbalik padanya. Kini dirinya sudah benar-benar hancur tak bersisa.
...__***__...
Suka yak..suka pasti Monika udah kena azabnya..Kasian juga tapi yak?🤔
Tapi gajadi kasian deh ya, nyebelin sih. Masa dari dulu jadi biang masalah mulu..Udah deh sekarang dihempaskan saja..
Tinggal nunggu azabnya bapak durjana nih ya..sabar ya semuaaa. Hari ini cukup 3bab dulu aja, takutnya readers bosen baca cerita aku🤭
Selamat membaca semuaaa..Sehat-sehat ya manteman semua. Lopelope sekebon semuaaa💐💐❤️💋
__ADS_1