Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
panas


__ADS_3

Waktu berjalan tanpa terasa, sudah dua bulan Nala memperjuangkan cintanya. Nala menghela nafas panjang, kembali menyemangati dirinya yang terkadang merasa lelah karena Gaara tak kunjung membalas perasaannya.


Selama dua bulan ini, Nala selalu memberi perhatian pada Gaara. Mulai dari membawakan makan siang untuk lelaki itu dan mengantarkannya ke kantor. Tidak ada yang Nala tidak tahu dari seorang Sagaara. Bahkan hal kecil yang Gaara tidak sukai pun Nala tahu.


Kata-kata pedas yang selalu diucapkan Gaara masih terngiang jelas ditelinganya. Bagaimana Gaara membandingkan dirinya dengan gadis yang mungkin sampai saat ini masih menjadi pemilik hati lelaki itu.


"Pagi calon suami.." Seperti yang sebelum-sebelumnya, Nala selalu menyapa lelaki itu dengan ramah dan memeluk serta memberi kecupan singkat di pipi Gaara.


Nala selalu berani, namun hanya saat dirinya berdua dengan Gaara. Ia tidak akan berani berbuat nekat jika ada kedua orang tua Gaara maupun ayah lelaki itu.


"Abang pagi-pagi udah bete aja sih.." Nala duduk disamping Gaara, menatap wajah tampan itu dengan tatapan memuja.


"Lo nggak capek, La? Gue aja capek liat lo tiap hari". Ketus Gaara dengan wajah kesal. Namun Nala menanggapinya dengan senyuman.


"Gue masih punya waktu sebulan bang.." Nala tersenyum manis menatap Gaara yang tampak biasa saja.


"Gimana? Abang udah cinta belom?". Pertanyaan itu yang setiap harinya selalu Nala tanyakan pada Gaara. Dan jawaban selama dua bulan ini belum juga berubah. Lelaki itu selalu berkata jika ia tidak akan pernah mencintai Nala.


Tanpa Gaara sendiri sadari, ia sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Nala yang selalu mengganggu. Semua perhatian Nala dan sikap beraninya sudah membuat Gaara tanpa sadar nyaman.


Bahkan Gaara tidak sadar jika setiap harinya ia selalu menunggu pesan dari gadis cantik itu. Semua foto yang dikirim oleh Nala, awalnya Gaara tanpa ragu menghapus foto selfie yang dikirim Nala pada dirinya. Namun semakin lama, Gaara selalu menantikan foto konyol seperti apa lagi yang akan dikirimkan Nala.


"Udah gue bilang kan. Berhenti berharap". Gaara menatap Nala serius, namun seperti biasa. Gadis itu tidak pernah mendengarkan semua ucapan Gaara.


"Abang nggak pengen apa kaya santen ama kak Baim? Mereka aja minggu depan udah tunangan..nggak pengen nyusul gitu?". Tanya Nala terus menatap wajah Gaara intens.


"Nggak!". Jawab Gaara cepat membuat Nala menghela nafas panjang.


"Makan dulu bang.." Nala dengan cekatan menyiapkan makan untuk Gaara. Sudah sering ia datang ke kantor Abram, hanya untuk mengantarkan makan siang.


"Aaa.." Gaara membuka mulutnya saat sesendok nasi beserta lauk disodorkan Nala.


Dengan sabar Nala menyuapi Gaara yang sibuk dengan banyak berkas yang menumpuk di meja kerja nya. Kekagumannya pada sosok Gaara semakin menggila saja.

__ADS_1


"Ganteng banget sih lo bang kalo lagi serius kaya gini.. Gimana gue nggak makin cinta ama elo". Tatapan mata Nala tak bisa lepas dari Gaara yang terlihat semakin tampan saat sedang fokus bekerja seperti saat ini.


Tangan Nala terus menyuapi lelaki yang ia gadang sebagai calon suaminya itu hingga tanpa terasa makanan didalam piring habis tak tersisa.


Inilah mengapa Nala masih memiliki rasa percaya diri jika ia akan bisa menakhlukkan Gaara. Lelaki itu sangat menyukai masakannya.


Ia teringat perkataan Diandra yang mengatakan jika dengan masakan sekalipun, lelaki bisa jatuh hati.


Nala memberikan segelas air putih pada Gaara yang langsung meneguknya hingga tandas. Gerakan tangannya terhenti saat merasakan usapan lembut dibibirnya.


"Makannya belepotan.." Nala tidak sadar jika Gaara tengah menatapnya.


"Oke, udah ganteng lagi". Nala tersenyum lebar dan menyadarkan Gaara dari lamunannya.


Gaara terus menatap Nala yang terlihat mahir merapikan kembali semua tempat bekal yang tadi ia bawa. Terlalu larut dengan tatapannya, Gaara sampai tidak menyadari jika Nala juga tengah menatapnya.


"Gimana bang? Udah siap jatuh cinta?". Gaara terkesiap, lalu membuang pandangannya ke arah lain hingga membuat Nala terkekeh.


"Udah sana pulang". Usir Gaara yang mampu membuat hati Nala berdenyut sakit.


"Jangan lama-lama cinta ama gue bang..gue udah mulai capek". Tangan lentik Nala mengusap bibir Gaara dengan lembut. Membuat sesuatu dalam diri Gaara bangkit.


Nala menegakkan kembali tubuhnya dan ikut mengusap bibirnya sendiri dengan senyum getir. Ia berbalik hendak pergi. Namun langkahnya terhenti saat Gaara menarik tangannya hingga gadis itu terjatuh diatas pangkuan Gaara. Membuat posisi keduanya kini sangat dekat, bahkan hidung keduanya bersentuhan.


Tanpa banyak berkata, Gaara mencium bibir Nala dengan lembut me ***** nya lembut. Gaara memeluk pinggang ramping gadis itu dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang lain ia gunakan untuk menahan tengkuk Nala saat gadis itu mencoba melepaskan ciuman Gaara.


Setelah puas dan merasa keduanya hampir kehabisan oksigen, Gaara melepaskan ciumannya dna mengusap bibir Nala yang terlihat sedikit bengkak dengan ibu jarinya. Deru nafas keduanya terdengar saling bersahutan setelah kejadian panas yang baru saja mereka lewati.


"Jangan pernah berani ngelakuin hal kaya gini sama laki-laki lain". Peringat Gaara dengan suara seraknya. Lelaki itu menatap langsung pada netra teduh milik Nala yang seolah ingin menenggelamkannya disana.


Nala bukan gadis polos yang tidak memahami keadaan, ia tahu Gaara sedang bernaf su padanya. Apalagi ia merasakan benda yang saat ini terasa mengeras tepat ditempatnya duduk saat ini.


Setengah mati Gaara mencoba menahan hasratnya. Ia lelaki normal, bagaimana mungkin ia tidak tergoda dengan kecantikan wajah Nala dan tubuhnya yang terlihat sangat menggoda itu.

__ADS_1


Setan dalam dirinya berbisik agar ia merasakan bagaimana tubuh gadis yang selalu menguji imannya itu. Namun sebisa mungkin, Gaara menangkis semua pikiran buruk itu.


"Permis---i". Gaara segera mendorong tubuh Nala saat seseorang masuk kedalam ruangannya.


"Maaf saya tidak tahu bapak sedang ada tamu". Nala menatap wanita yang baru saja masuk kedalam ruangan Gaara.


Ia sedikit terkejut melihat siapa wanita yang berani-beraninya masuk kedalam ruangan Gaara tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Pulanglah.." Nala menoleh, wajah Gaara terlihat dingin. Padahal beberapa detik lalu, Gaara menatapnya hangat.


"Tapi bang---"


"Pulang Anala. Saya harus kembali bekerja". Dengan hati terluka, Nala berjalan mendekati meja dan menyambar wadah makan yang tadi ia bawa dan segera berlalu dari sana. Namun ia berhenti tepat disamping wanita yang membuat keintimannya dengan Gaara.


"Lo udah mutusin pergi. Harusnya lo nggak pernah balik lagi apapun alesan lo!". Sengit Nala dengan mata tajam menatap wanita yang menunduk disampingnya.


"ANALA.." Gaara memanggil namanya penuh penekanan hingga membuat Nala menoleh menatapnya dengan seulas senyum sinis.


"Gue balik bang". Nala berlalu meninggalkan dua orang yang masih terpaku menatapnya.


Gaara meremas rambutnya. Ia kemudian menatap wanita yang masih berdiri didepan pintu ruangannya dengan kepala tertunduk.


"Ada apa?". Tanya Gaara memecah keheningan.


"Hah? Oh iya maaf pak..ini ada berkas yang harus anda tandatangani".


"Letakkan di meja. Aku akan memeriksanya dulu". Gaara membalikkan tubuhnya, menatap pemandangan diluar kaca jendela ruang kerjanya.


Matanya menatap sosok wanita yang berjalan keluar dari gedung kantornya dengan wajah penuh kekecewaan. Gaara bahkan melihat beberapa kali Nala mengusap pipinya. Dan Gaara tahu jika gadis itu pasti tengah menangis.


"Ga.."


"Keluarlah. Aku ingin sendiri".

__ADS_1


...___€€€___...


Double up manteman..


__ADS_2