Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
Janji


__ADS_3

"Kamu kalo bengong tambah cantik.." Goda Abi hingga membuat Diandra tersadar dari keterkajutannya.


"Gausah nanya kenapa bukan pak Salim. Kan suami kamu itu aku, bukan pak Salim.." Diandra kembali dibuat melongo dengan tingkah Abi.


Apa selama ia tinggal pergi, kepala Abi terbentur sesuatu dengan keras hingga otaknya sedikit bergeser? Kenapa seperti melihat Dimas yang selengekan? Padahal selama ini Abi selalu berwibawa dan sangat dingin. Lalu kemana perginya semua sikapnya itu.


"Anak papa udah bangun.. mau pindah depan nggak?? Masa papa disamain kaya pak Salim sih.." Dan bayi berumur empat bulan itu pun hanya tertawa-tawa saja tanpa paham apa maksud sang ayah.


"Suruh siapa jadi supir". Sengit Diandra membuat Abi tersenyum.


" Gapapa deh jadi supir buat mama Diandra sama Gaara mah.." Diandra melengos, tak berniat berpindah tempat duduk ke depan.


"Yaudah deh kalo mama nggak mau nemenin papa.." Ingin sekali Diandra menempeleng kepala suaminya itu.


Abi kembali melajukan mobilnya, sementara Diandra masih terus mengumpati kebodohannya yang sama sekali tidak menyadari tingkah sopir yang mengantarnya. Memang sejak kapan pak Salim suka memakai topi saat sedang menyetir.


"Benar-benar bodoh". Gumam Diandra menatap pemandangan diluar kaca jendela mobil.


" Mau makan dulu sayang??". Tanya Abi yang langsung membuat Diandra menatapnya tak suka.


"Jangan melotot kaya gitu Di..aku takut". Semakin senang saja Abi menggoda istrinya.


" Diamlah dan fokus menyetir". Ketus Diandra sementara Abi hanya tersenyum meski sejujurnya hatinya begitu sakit mendapat perlakuan dingin itu dari Diandra.


Sepanjang sisa perjalanan hanya ada keheningan diantara mereka. Hanya suara ocehan Gaara yang membuat suasana sedikit hidup. Sementara Diandra menganggap seolah tidak ada Abi disana.


Alis Diandra berkerut saat menyadari Abi mengarahkan mobilnya ke hotel yang memang sudah ia pesan. Darimana suaminya itu tahu dimana dirinya akan menginap.


Kini jantung Diandra semakin kencang berdetak. Apakah dirinya harus berada satu kamar dengan Abi? Tidak!! Diandra tidak mau jika harus satu kamar dengan Abi. Tapi tidak mungkin juga dirinya memaksa Abi memesan kamar lain. Dirinya sadar jika dirinya adalah seorang istri, terlepas dari semua perjanjian yang sudah diajukannya pada Abi, namun jika lelaki itu meminta dirinya, maka sudah kewajibannya menuruti permintaan suaminya itu. Tapi tidak, Diandra tidak siap.


"Ayo turun Di.." Diandra tersentak ketika pintu dibuka oleh Abi. Rupanya sudah sampai dihotel.


"Ayo..kamu nunggu apa?". Tanya Abi bingung.

__ADS_1


" Ah..Iya ". Sahut Diandra cepat turun dari mobil setelah menggendong Gaara.


Abi membuka bagasi mobil dan menurunkan koper miliknya dan milik Diandra.


" Kamu udah pesen kamar kan?". Seperti orang linglung, Diandra mengangguk dengan polosnya


"Oke..kita check in dulu..istirahat baru kalo nanti malam mau ke rumah Naya akan aku antar". Diandra kembali mengangguk patuh.


Jantung Diandra berdetak keras, pikirannya sudah melayang kemana-mana membayangkan dirinya harus berada satu ruangan dengan Abi. Jika dulu, mungkin ini salah satu impian Diandra. Berada dekat dengan Abi terus menerus, namun tidak sekarang. Rasanya berada dekat dengan Abi terlalu menyesakkan untuk dirinya.


Tanpa Diandra sadari, ia dan Abi serta Gaara sudah sampai didepan pintu kamar bernomor 627 yang merupakan kamarnya.


" Masuk dulu sana..kamu sama Gaara perlu istirahat. Nanti malam aku antar ke rumah Naya.." Diandra tersadar ketika Abi membuka pintu dan menyerahkan koper miliknya.


"Aku ada dikamar sebelah..kalau kamu butuh sesuatu panggil saja aku..oke". Sentuhan lembut dipucuk kepalanya membuat dirinya semakin tersadar. Ia bernafas lega saat Abi berjalan menjauh.


" Huh..mama kira mama harus satu kamar dengan papa". Diandra berbicara pada Gaara yang tengah menatap Diandra.


Sejujurnya Abi ingin berada satu kamar dengan Diandra, ini kesempatan bagus untuk dirinya bisa berada sangat dekat dengan Diandra. Dirinya sempat ingin egois dan memaksa Diandra menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri agar ia bisa memiliki Diandra seutuhnya. Namun logika dan hatinya kembali berperang, jika itu ia lakukan..maka Diandra akan semakin membencinya dan menjauh darinya.


"Aku akan menunggu sampai kamu mau menerima aku lagi sebagai suami dan laki-laki yang kamu cintai sama seperti dulu.." Terkadang Abi ingin menyerah, namun rasa cintanya pada Diandra membuatnya tak rela melepaskan Diandra meski banyak batu terjal yang harus ia lalui.


"Sakit yang aku rasakan karena penolakanmu pasti tidak sebanding dengan sakit yang pernah kamu rasakan karena penghianatanku.." Mata Abi terasa panas jika mengingat kebodohannya hingga menyebabkan hubungannya dan Diandra hancur.


Matanya menerawang jauh keluar jendela kamarnya..menatap langit yang sore itu nampak sangat cerah.


"Doakan aku De..semoga aku bisa meluluhkan hati Diandra lagi. Aku tidak akan sanggup hidup kalau sampai dia pergi lagi dariku..mungkin aku akan menyusulmu agar dia mau memaafkan aku juga". Buliran bening itu akhirnya meluncur tanpa bisa lagi Abi bendung.


Ingatannya berputar ketika menemani istri pertamanya itu dirumah sakit sebelum melahirkan.


flashback on


" Apa kamu sudah berhasil menemukan Diandra, Bi?". Deanita yang terbaring menatap suaminya yang dengan setia menungguinya dikamar rawat.

__ADS_1


Penyakit jantung bawaan yang ia miliki membuatnya lemah dikehamilannya hingga berkali-kali dirinya dirawat dirumah sakit selama kehamilannya.


Abi menggeleng lemah menjawab pertanyaan istrinya. Sudah berbagai cara ia lakukan, namun Diandra seolah hilang ditelan bumi. Nomor ponsel dan seluruh media sosialnya diblokir hingga Abi kesulitan melacaknya.


"Aku takut tidak sempat bertemu dengan Diandra lagi, Bi". Deanita mulai terisak.


" Tenanglah De..kita mengenal baik siapa Diandra. Mungkin sekarang dia sedang menenangkan diri. Tapi yakinlah, dia akan datang kembali pada kita setelah hatinya sembuh.." Abi mengelus lengan Dea dan berusaha menenangkan meski dirinya tak pernah yakin jika Diandra nya akan bisa memaafkan kesalahan mereka.


"Jangan terlalu banyak fikiran. Pikirkan kesehatanmu dan calon anak kita.." Ucap Abi lagi. Namun Dea tetap menangis. Sudah tiga bulan ia tidak bisa menemui adiknya, bahkan sekedar mendengar suaranya pun tak bisa ia lakukan. Semua itu benar-benar menyiksanya.


"Bi.." Abi menatap Deanita, tangannya digenggam dengan erat oleh Deanita.


"Berjanjilah sesuatu.."


"Katakan..aku akan berusaha menepatinya De". Meski perasaannya pada Deanita hanya sebatas rasa tanggung jawab, namun sebisa mungkin Abi mencurahkan seluruh perhatian dan kasih sayangnya pada istrinya itu.


" Berjanjilah..temukan Diandra bagaimanapun caranya". Abi mengangguk mantap, karena sejujurnya dirinya pun ingin menemukan belahan jiwanya itu.


"Aku berjanji.."


"Dan berjanjilah..kamu akan menikahi Diandra dan menjadikan Diandra ibu dari anak kita". Abi melotot mendengar permintaan kedua Dea.


" Apa ini De? Permintaan macam apa yang kamu inginkan ini?? Aku tidak mungkin melakukannya. Kamu adalah istriku dan ibu dari anak ini". Abi mencoba meredam suaranya dengan mengelus perut istrinya yang sudah besar.


"Kamu tahu pasti kondisiku Bi..bahkan mungkin Allah tidak mempertemukan aku dengan anak ini". Abi menggeleng. Meski dokter sudah menjelaskan kemungkinan terburuknya, Abi masih menaruh harapan besar jika Dea akan selamat.


" Berjanjilah Bi.." Deanita menatap Abi dengan tatapan memohon.


"Aku tidak bisa De.." Abi berdiri.


"Aku mohon..aku tidak akan tenang sebelum kamu berjanji". Deanita memegang tangan Abi. Menahan Abi untuk tetap berada disana. Karena menurutnya pembicaraannya belum usai.


####//////####

__ADS_1


**Halooo readers...maapin othor yang nggak up berhari-hari, abis vaksin jadi badan kurang oke..takut kalo dipaksain ceritanya makin amburadul hehehe..


Mungkin satu chapter selanjutnya masih flashback ya, jadi harap sabar menanti..makasih yang masih setia nunggu othor up..semoga sukaaa**...


__ADS_2