Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
Ayo bicara


__ADS_3

"La.." Jen melirik Nala yang wajahnya berubah tak nyaman.


"Jangan dibahas Jen. Aku bener-bener nggak mau bahas tentang dia lagi". Nala benar-benar enggan membahas tentang lelaki yang baru saja ia temui.


"Jadi sampai sekarang dia masih.." Belum selesai Jen dengan kalimatnya, Nala sudah mengangguk dengan helaan nafas panjang.


"Kenapa pada diem disini? Katanya mau lanjut belanja". Kedua gadis itu segera menoleh ketika mendengar suara Zayn. Wajah keduanya tampak sedikit tegang, takut jika Zayn mendengar percakapan mereka baru saja.


"Nungguin mas Zayn..." Elak Nala dengan wajah berubah tengil. Kakaknya tak perlu tahu apa yang sempat terjadi antara dirinya dan lelaki bernama Haikal itu. Atau akan ada masalah baru jika kakaknya mengetahui apa yang diucapkan Haikal pada Nala.


"Ngapain nungguin? Tadi kayanya buru-buru banget.." Mata Zayn memicing, mencoba mengintimidasi Nala dan berharap adiknya mau terbuka.


"Nggak ada yang bawain belanjaannya dong kalo mas Zayn ditinggal". Ucap Nala enteng dengan seringai kecil menghiasi bibirnya.


Zayn mendengus kesal mendengar alasan adiknya. Dasar adik durjana, batin Zayn.


Ketiganya tidak menyadari jika masih ada sepasang mata yang sejak tadi tak melepas pandangannya dari wajah Nala.


"Maaf La..maaf kalau semua itu bikin kamu nggak nyaman. Tapi aku bisa apa La.." Sepasang mata itu terus menatap punggung Nala yang semakin hilang ditelan jarak. Ia hanya bisa menghela nafas panjang saat menyadari semuanya tak akan bisa sesuai harapannya.


---***


Pagi ini Nala pergi ke kampus dengan wajah berseri, bagaimana tidak senang, belakangan ini sikap Gaara benar-benar manis dan mampu membuatnya melayang.


"Abang manis banget siiiih.. lama-lama abang bisa bikin aku diabetes kalo kaya gini terus.." Gumam Nala sambil membaca pesan dari Gaara yang bisa membuat senyumannya semakin mengembang sempurna.


"Have a good day my girl. Abang sayang banget sama kamu..abang harap kamu bisa cepet kasih kepastian. Jangan lupa makan ya.." Nala kembali membaca pesan singkat yang Gaara kirimkan. Aaah, ingin rasanya Nala berteriak karena rasa bahagia nya saat ini.

__ADS_1


Nala menggenggam ponselnya dengan kedua tangannya dan mendekapnya erat didada sambil tersenyum cerah.


Namun senyuman itu hilang dalam sekejap saat seorang lelaki menghadang jalannya. Lelaki dewasa dengan wajah oriental, kulitnya putih dengan wajah yang bisa dibilang diatas rata-rata ketampanan seorang lelaki pada umumnya.


Nala mencoba menghindar, melewati lelaki itu dengan berjalan disisi kosong. Namun langkahnya terhenti saat tangannya dicekal oleh lelaki yang tak lain dan tidak bukan adalah Haikal, dosen yang mengajarnya sekaligus sahabat kakak lelakinya.


"Maaf, tolong lepaskan". Ucap Nala dingin. Ia benar-benar tak ingin berurusan dengan lelaki satu ini.


Nala melirik situasi sekitar, untungnya keadaan tempat parkir tidak terlalu ramai. Akan jadi berita tidak enak jika sampai ada banyak mata yang melihat kejadian yang tengah berlangsung saat ini.


"Kakak mau bicara sebentar.." Nala melirik cepat. Tatapan tajam ia hadiahkan pada lelaki yang masih mencekal pergelangan tangannya dengan cukup kuat.


"Saya bilang lepaskan!". Nala menghempas kuat tangannya hingga cekalan Haikal terlepas.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Saya juga tidak merasa perlu berkonsultasi dengan anda mengenai materi yang anda ajarkan". Nala hendak berlalu namun Haikal kembali mencegatnya.


"Kasih aku satu kesempatan buat jelasin, La". Nala kembali menepis tangan Haikal yang kembali memegang tangannya.


"Kita bicara di tempat lain". Haikal yang rupanya juga menyadari kondisi mulai tidak kondusif menarik paksa Nala yang masih terus mencoba berontak.


"Lepaskan tangan saya pak! Ini akan sangat tidak pantas jika sampai banyak teman mahasiswa dan dosen melihat". Haikal menulikan telinganya dan memaksa Nala masuk kedalam mobilnya yang terparkir paling dekat dengan posisi keduanya saat ini.


Nala mencoba keluar, namun s*alnya Haikal sudah lebih dulu mengunci mobilnya dan segera berlari memutari mobil.


"Anda benar-benar keterlaluan". Sengit Nala dengan tatapan menyala, menatap tak percaya sosok yang dulu begitu ia hormati itu hanya karena sebuah rasa yang tak sepantasnya dimiliki.


"Kita butuh bicara serius, La. Kita tidak bisa begini terus". Ucap Haikal kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melajukan kendaraannya meninggalkan kampus.

__ADS_1


Haikal melirik Nala yang tampak membuang pandangannya keluar kaca mobil. Ia benar-benar benci dengan situasi saat ini. Akan semakin banyak kesalahpahaman dan akan semakin banyak mata yang menatapnya benci mulai kini.


Selama ini dirinya hanya berusaha menutup telinga dari semua isu dan fitnah yang berhembus dikampusnya. Berita yang mengatakan jika dirinya adalah kekasih gelap dari dosen muda itu. Ia berusaha menghindar dari Haikal demi untuk menjaga nama baiknya dan juga sang dosen serta menjaga keutuhan rumah tangga lelaki yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu.


Namun hal tidak terduga terjadi beberapa minggu lalu saat dengan lantang, Haikal menyatakan jika dirinya menyayangi Nala. Awalnya Nala hanya menanggapinya dengan senyuman. Karena ia berpikir perasaan sayang yang Haikal miliki untuknya sama seperti perasaan sayang seorang kakak pada adiknya.


"Aku menyayangimu bukan sebagai adik, La. Kamu adalah wanita yang bisa mengetuk kedalaman hatiku..hati yang sudah lama mati untuk perempuan manapun". Senyuman Nala kala itu sirna seketika. Bagaikan palu godam yang menghantam langsung kepalanya. Ia merasa dunia berhenti untuk sesaat.


Saat ini, Nala masih berusaha mengatur amarahnya. Ia tak ingin berbuat jauh dan memaki lelaki yang menculiknya saat ini. Sementara Haikal beberapa kali melirik Nala yang terlihat sedang dikuasai amarah. Lelaki itu hanya bisa menarik nafas panjang.


"Kita turun dulu.." Nala melirik Haikal kemudian mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru tempat.


Sebuah taman kota yang terlihat sedikit sepi. Haikal keluar lebih dulu dari mobil, berniat membukakan pintu untuk Nala. Namun rupanya gadis itu sudah lebih dulu turun sebelum Haikal sampai dipintu.


"Ayo bicara.." Nala segera menepis tangan Haikal saat lelaki itu hendak meraih tangannya.


"Disana. Ayo bicara disana". Nala berjalan lebih dulu setelah Haikal menunjuk sebuah kursi panjang yang ada dipinggiran danau.


Nala duduk diujung, tak ingin duduk berdekatan dengan lelaki yang sudah menghancurkan kepercayaannya pada sosok itu. Haikal menghela nafasnya untuk kesekian kalinya. Gadis itu benar-benar menjaga harak dengannya kini.


"Cepat katakan apa yang ingin anda katakan. Saya tidak ingin bersama terlalu lama dengan anda". Suara Nala terdengar dingin hingga membuat Haikal kembali menghela nafas.


...¥¥¥•••¥¥¥...


Hayoloh..siapa lagi ni pak Haikal...kira-kira si abang tau nggak nih ya??🤔🤔


Terus kalo tau gimana ya kira-kira nanti reaksinya???

__ADS_1


Hmmm🤔🤔 penasaran?? Sama ih..othornya juga penasaran da😅


Ikuti terus ya ceritanya..semoga hari ini bisa double up ya manteman tersayang..sehat-sehat terus reader semuaa💋💋💐💐


__ADS_2