Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
sidang


__ADS_3

Diandra menatap tajam Abram yang duduk bersebrangan dengannya. Kemudian ia tersenyum sinis dan membuang pandangan ke arah hakim yang baru memasuki ruang persidangan.


Ini adalah kali kedua mereka bertemu diruang sidang. Sidang pertama, hakim memberikan waktu pada keduanya untuk membahas permasalahan ini secara kekeluargaan.


Diandra sudah melunak dengan bujukan Abi dan orang tuanya, dia akan membiarkan Abram tetap berkomunikasi dengan Gaara dan bisa menemui putranya itu. Namun rupanya Abram tidak menerima kebaikan itu. Lelaki itu bersikukuh ingin memiliki hak asuk Gaara hingga membuat Diandra naik pitam.


Sama seperti persidangan sebelumnya, hakim masih coba membujuk dua belah pihak untuk menyelesaikan permasalahan hak asuh Gaara dengan cara damai. Hakim berkata jika permasalahan ini akan mempengaruhi kejiwaan Gaara.


Karena keduanya tetap bersikukuh dengan keinginannya masing-masing, hakim akan memutuskan hak asuh Gaara nanti saat persidangan selanjutnya. Berharap dengan diundurnya putusan pengadilan itu bisa membuat Diandra maupun Abram berubah pikiran.


"Cara kotor apapun yang anda pakai tidak akan bisa membuat Gaara terpisah dari saya". Cibir Diandra saat keduanya berpapasan didepan ruang persidangan.


"Kita lihat saja siapa yang akan memenangkan perkara ini". Balas Abram tak kalah tajam.


"Ayo mas.." Abi dan Diandra berlalu meninggalkan Abram dan pengacaranya.


"Ayo ma.." papa Herman hanya menatap sekilas pada Abram, kilatan benci jelas nampak di mata tajam papa Herman.


"Sebentar pa.."


"Papa duluan". Mama Dita mengangguk. Menatap punggung suami dan anak serta menantunya yang menjauh.


Matanya beralih menatap Abram yang masih berdiri didepannya. Ia menatap jeli wajah lelaki yang sudah menghancurkan kedua putrinya hingga tak bersisa. Jauh didalam hatinya ia mengutuk lelaki itu. Namun karena lelaki itulah ia memiliki seorang cucu seperti Gaara.


Jika ditelisik lagi, garis wajah Gaara lebih mirip Abram. Alis matanya yang juga tebal seperti Abi membuat siapapun sulit membedakan siapa ayah kandung anak itu.


"Tante.." Mama Dita mengangkat tangannya. Meminta Abram untuk tidak melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan.


"Apakah menghancurkan satu putriku belum cukup untukmu?". Mama Dita bertanya dengan lembut namun berhasil membuat Abram tersentak.


"Anak sulungku sudah pergi dari dunia ini. Dia pergi dengan membawa perasaan bersalahnya pada adik dan kekasih adiknya. Dia membuat seorang lelaki tidak bersalah bertanggung jawab untuk hal yang tidak sama sekali ia lakukan".


"Karena itu saya ingin menebus kesalahan saya, tante". Potong Abram cepat membuat mama Dita tersenyum lirih.


"Menebus kesalahan?". Abram mengangguk cepat.


"Menebus atau ingin menambah kesalahan?". Tak ada teriakan, makian atau apapun. Mama Dita bicara sangat lembut, tapi hati Abram terasa tertusuk berkali-kali.


"Tante.."

__ADS_1


"Saya tidak akan melarang. Toh sekarang semua sudah terlanjur berjalan". Mama Dita tersenyum.


"Dea berpesan, hanya adiknya yang berhak menjaga dan membesarkan putra yang ia lahirkan. Bahkan nama saja, Dea memberi kuasa penuh pada adiknya untuk menamai putranya".


"Kamu tau kenapa?". Abram tak menjawab walau hanya dengan anggukan atau gelengan kepala saja.


"Mungkin saat itu ia merasa sangat bersalah pada adik dan kekasih adiknya itu. Bagaimana ia bisa diam saja saat tahu bahwa anak yang ia kandung adalah benih dari pria lain. Sementara dirinya tetap membiarkan lelaki yang juga kekasih adiknya menanggung akibat perbuatan bodohnya dengan seorang lelaki pengecut".


"Gaara sangat bahagia kini. Saya rasa kamu bisa melihatnya. Bagaimana anak itu tumbuh dan mengasihi ibu sambungnya".


"Saya pikir kamu sudah berubah. Ternyata perubahanmu bukan menjadi manusia yang lebih baik. Bagaimana bisa kamu setega ini pada darah dagingmu sendiri". Mama Dita berusaha menahan tangisnya.


"Saya bersyukur karena kamu tidak mau bertanggung jawab atas putri sulung saya. Mungkin Dea akan semakin menderita jika saja kamu yang menikahinya". Abram mengangkat wajahnya, menatap dalam wajah wanita yang terlihat mirip dengan Dea.


"Saya hanya berharap, kamu sadar dan segera menghentikan ini sebelum tangan Tuhan yang bekerja. Karna jika Tuhan sudah bekerja, tidak akan ada yang bisa menghentikannya". Abram kembali tertampar oleh kata-kata lembut yang terasa menusuk itu.


Tanpa menunggu tanggapan apapun, mama Dita berbalik dan meninggalkan Abram yang berdiri menatap punggung wanita paruh baya itu.


Tanpa ada yang menyadari jika sejak awal Gaara sudah mengetahui permasalahan kedua orang tuanya. Anak berusia 13tahun itu diam-diam pergi ke rumah ayah kandungnya. Tanpa siapapun tahu.


Dan disinilah Gaara saat ini, berdiri didepan gerbang yang menjulang tinggi. Berulang kali ia menghela nafas panjang. Meyakinkan diri jika yang ia lakukan saat ini adalah benar.


"Abraham Sanjaya".


"Pak Abram belum pulang tapi". Si Satpam mengernyit bingung ada seorang anak mencari majikannya.


Tak lama mobil sedan hitam berhenti tepat dibelakang Gaara yang sama sekali tak berpindah dari tempatnya berdiri. Bahkan ia hanya berbalik untuk melihat siapa yang datang.


"Gaara.." Seru Abram tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Saya perlu bicara dengan anda". Wajah Abram terlihat berseri kedatangan darah dagingnya.


"Kita masuk. Pak Jo, buka gerbangnya". Satpam bernama Joko segera membuka gerbang.


"Ayo kita masuk.." Gaara menepis pelan tangan Abram yang merangkul dirinya. Abram tersenyum lirih melihat bagaimana putranya menjaga jarak dengannya.


"Mau minum apa?".


"Tidak perlu. Saya tidak lama". Tidak ada senyum atau apapun dari wajah Gaara, datar dan dingin seperti biasanya.

__ADS_1


"Kamu sudah pulang?". Abram menoleh mendapati sang ibu yang diam mematung melihat keberadaan Gaara.


Gaara bangkit, menyalami tangan seorang wanita yang sepertinya tidak jauh berbeda usianya dengan nenek dan oma nya.


"Siapa ini?". Tanya bu Yuli pada Abram.


"Dia Gaara ma, cucu mama.." Bu Yuli tersenyum senang lalu memeluk dan mencium cucunya tanpa penolakan apapun dari Gaara.


"Gaara dengan siapa kesini?". Tanya Bu Yuli


"Sendiri, nyonya.."


"Jangan. Jangan panggil nyonya sayang, panggil saja nenek.."


"Maaf, saya tidak bisa". Bu Yuli terhenyak namun sesaat kemudian tersenyum.


"Baiklah, panggil sesukamu asal kamu nyaman". Bu Yuli mengelus kepala Gaara


"Ma.." Abram hendak protes namun tatapan tajam bu Yuli menghentikannya.


"Ada apa sampai jauh-jauh kesini anak tampan?". Tanya Bu Yuli lembut.


"Saya ada urusan dengan tuan Abraham, nyonya". Bu Yuli melirik putranya, ia ingin melihat bagaimana putra semata wayangnya itu menghadapi darah daging yang dulu ia sia-siakan.


"Aku ayahmu Gaara, setidaknya panggil aku ayah atau apapun.."


"Saya hanya mempunyai satu ayah. Dan dia jelas bukan anda". Senyum bu Yuli semakin mengembang, bahkan pak Burhan pun diam-diam menguping.


"Saya datang kesini hanya ingin anda mengetahui, bahwa saya tidak akan pernah mau ikut dengan anda sekalipun anda memenangkan kasus ini. Saya tidak akan mau hidup dengan orang yang menggunakan uangnya untuk mendapatkan apapun meski dengan cara menjijikkan sekalipun". Mata Abram melebar saat mendengarnya.


"Bahkan jika pengadilan memenangkan anda dalam kasus ini, saya tetap tidak akan ikut dengan anda. Saya lebih baik menyusul ibu yang melahirkan saya daripada saya dipisahkan dari mama saya. Malaikat yang membesarkan dan mengasihi saya sejak saya ada didunia ini". Senyuman pak Burhan dan istrinya semakin melebar. Keduanya yakin jika Gaara dibesarkan oleh keluarga hebat hingga membentuk karakter kuat Gaara saat ini.


-----------


Maapin karna ternyata othor tidak sanggup nulis kemaren, jadilah up 3bab hanya dalam angan-angan saja😅


Insyaallah masih ada satu bab lagi, jangan bilang kelamaan ya, soalnya pengen masalah ini bener-bener clear dulu baru nanti dilanjut kehidupannya. Biar nggak muncul masalah lagi didepannya..


Terus dukung karya othor ya semua🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2