
Tepat pukul 11.30 Diandra sampai digedung perkantoran yang dibangun Abi. Sebentar lagi jam makan siang, sudah pasti semua orang pergi meninggalkan ruangannya bukan?? Saat yang tepat untuk Diandra beraksi.
Diandra segera turun dari mobil dan memasuki lift perusahaan. Ia menekan angka 11 dimana ruangan para direktur berada.
Jantung Diandra berdegup kencang, perasaan takut dan khawatir menguasainya. Apalagi saat ini dirinya membawa Gaara.
Ah, s*al..harusnya ia menuruti perkataan ibunya untuk menitipkan Gaara. Ini semua terlalu beresiko untuk bayi tampan itu.
"Mama akan melindungi kamu nak. Bantu mama ya sayang..ini semua mama lakukan untuk kamu".
" Mama harus minta bantuan tante Tiara dulu.."
Diandra keluar daei lift saat sampai di lantai 11, dari kejauhan ia melihat sekretaris direktur umum masih ada ditempatnya. Akan menimbulkan kecurigaan jika ia masuk dan dilihat orang lain.
Sebelumnya ia sudah tahu jadwal sang direktur umum hari ini, pria buncit itu akan kembali setelah makan siang. Tepatnya saat akan diadakan meeting dengan jajaran direksi.
Sudah pasti lelaki buncit dengan nama Priyo itu akan melancarkan aksinya untuk menguasai uang perusahaan suaminya. Dan Diandra tak akan tinggal diam.
"Hallo Assalamualaikum kak.."
"Wa'alaikumsalam Di. Kenapa??".
" Bisa minta tolong??"
Diandra lantas menceritakan apa yang ia rencanakan. Dengan senang hati Tiara membantu apa yang Diandra rencanakan.
Tak butuh waktu lama, sekretaris pak Priyo pergi meninggalkan meja kerjanya. Tak mau membuang waktu, Diandra segera memasuki ruangan yang cukup luas itu setelah memastikan kondisi sekelilingnya.
"Kamu senang hm??". Tanya Diandra saat putranya justru tersenyum saat ia ajak berjalan cepat memasuki ruangan pak Priyo.
Diandra mulai mencari laporan yang benar dan yang sudah dimanipulasi oleh pak Priyo dan Melisa. Ia membuka seluruh laci dan memeriksa semuanya namun tak kunjung ia temukan. Ia hampir putus asa sampai matanya menatap laporan yang ada diatas meja kerja pak Priyo.
" Yang dicari didepan mata malah sibuk nyari kemana-mana". Diandra terkekeh sendiri kemudian mengambil laporan itu.
"Oke siiip dapet". Diandra memekik kegirangan dan menciumi wajah putranya. Namun semua euphoria itu berubah menjadi kekhawatiran ketika sang pemilik ruangan kembali keruangannya.
Diandra mengambil langkah cepat dengan bersembunyi dibawah meja kerja pak Priyo.
" Ah kenapa udah balik". Gumam Diandra panik. Sudah pasti rencananya akan hancur jika pemilik ruangan ini memergoki dirinya.
"Bagaimana Mel? Semua sudah kamu siapkan?". Suara itu adalah milik pak Priyo.
" Sudah om..tapi apa aman om? Sepertinya istri Abi mengetahui rencana kita". Mata Diandra melebar. Om?? Melisa adalah keponakan pak Priyo?? Mereka memiliki hubungan kekerabatan?? Pantas saja sangat mudah bagi Melisa memanipulasi laporan keuangan.
"Hahaha..bocah tengik itu?? Tenanglah..setelah siang ini Abi menandatangani berkas itu. Semua uangnya akan berpindah kepada kita". Diandra membekap mulutnya yang hampir berteriak. Sudah sejauh ini?? Dirinya pikir hanya akan mengeruk sebagian uang perusahaan suaminya. Tapi ternyata seluruh uanganya??
Diandra menatap Gaara, mata jernih itu mengingatkannya pada sang kakak. Ia berharap Gaara akan tetap tenang seperti ini sampai keadaan aman.
__ADS_1
Diandra melirik tangannya, jam sudah menunjukkan angka 13.00 Masih ada 30menit lagi untuk diadakan rapat direksi.
Rasanya akan sangat mustahil dirinya bisa lolos, apalagi Gaara sangat tidak betah jika hanya disuruh berdiam seperti sekarang ini.
" Ya Allah..tolong kami.." Diandra merapalkan doa. Keselamatannya tak terlalu ia pikirkan, tapi putranya? Ia tak akan bisa memaafkan dirinya jika Gaara terluka karena rencana gila nya ini.
Tiba-tiba Gaara sedikit merengek membuat Diandra dilanda kepanikan.
"Jangan sayang..mama mohon. Tahan sebentar ya.." Bisik Diandra ditelinga putranya.
"Suara apa itu??". Jantung Diandra semakin berpacu kencang. Akankah semua berakhir sebelum ia memberi perlawanan?
" Suara apa om? Aku tidak mendengarnya". Sahut Melisa.
"Aku rasa berasal dari meja kerjaku". Suara derap langkah membuat Diandra semakin dilanda rasa takut.
tok..tok..tok..
Diandra bernafas lega saat pintu ruangan pak Priyo diketuk dari luar. Terdengar suara sekretaris pak Priyo yang memberitahu jika jadwal meeting diajukan menjadi sekarang.
" Kenapa tiba-tiba jadwalnya diubah?". Tanya Pak Priyo
"Apa dia sudah tidak sabar untuk segera bangkrut? Hahahaha". Ingin sekali Diandra keluar dan menendang perut buncit pak Priyo itu. Percaya diri sekali pria tua itu, batin Diandra.
" Ayo cepat kita kesana om.." Suara Melisa yang mengajak pak Priyo untuk segera meninggalkan ruangannya bagai oase ditengah gurun pasir.
Bersembunyi dibelakang pintu yang terbuka adalah jalan terbaik saat ini. Rupanya Melisa yang masuk, sepertinya ia teringat laporan yang akan ditanda tangani Abi. Namun sayang, laporan itu sudah berada ditangan Diandra.
"Kemana laporannya?? Kenapa tidak ada??". Terlihat Melisa yang kebingungan mencari laporan keuangannya.
" Asti!!!". Teriak Melisa membuat seorang wanita yang menjadi sekretaris pak Priyo masuk kedalam.
"Kemana laporan yang ada di meja ini??". Tanya Melisa galak. Keduanya tidak menyadari keberadaan Diandra disana.
Dengan sangat hati-hati, Diandra keluar dari ruangan itu tanpa menimbulkan bunyi apapun. Diandra baru bisa bernafas lega saat dirinya sudah ada didalam lift dan naik ke lantai 12.
Ia bergegas menghampiri meja Tiara dan menanyakan dimana suaminya.
" Meetingnya ada dilantai 4, Di..memang kenapa?? ". Tanya Tiara.
" Kenapa meeting dimajukan kak??".
"Abi yang meminta..setelah tadi aku bilang kamu ada di lamtai sebelas, dia minta diajukan meetingnya". Kini Diandra sadar, jika Abi melakukannya pasti untuk membantu dirinya meloloskan diri.
" Aku harus segera kesana kak.."
"Di...hey..!!".
__ADS_1
" Astaga..kenapa anak itu". Gumam Tiara bingung. Sejujurnya Tiara sudah menyimpan kecurigaan sejak Diandra memintanya untuk membuat sekretaris pak Priyo pergi dari meja kerjanya.
Diandra kembali memasuki lift dan menekan angka 4. Ia berdoa semoga Abi masih mengulur waktu dan semoga Melisa masih sibuk mencari berkas yang ia curi.
"Dimana ruang meetingnya??". Tanya Diandra pada salah seorang staf yang ia temui. Nafasnya tersengal karena sejak tadi ia terus berlari dengan Gaara yang masih ada didalam gendongannya.
" Di..." Diandra melihat Tiara yang juga tersengal karena mengikuti nya
"Kamu kenapa sih??". Tanya Tiara.
" Nanti aja jelasinnya mbak..dimana ruang meeting nya mbak??". Tanya Diandra tak sabar
"Kesini.." Meski tak paham, Tiara menunjukkan dimana ruang meetingnya.
"Tunggu!!!". Semua mata menatap dirinya yang mengganggu meeting yang bisa dibilang penting.
" Diandra??". Gumam Abi tersenyum lega.
"Jangan tanda tangan mas.." Cegah Diandra membuat semua orang kembali.menatapnya. Dilihatnya seluruh anggota rapat, sudah ada pak Priyo dan Melisa disana. Mereka sudah menyiapkan kemungkinan ini tentunya.
"Kenapa sayang??". Tanya Abi heran.
" Titip Gaara kak..tolong jaga dia dulu". Diandra melepaskan gendongan ditubuhnya dan memberikannya beserta Gaara pada Tiara yang hanya mengangguk patuh.
Diandra berjalan dan berdiri disamping Abi. Diambilnya berkas yang hampir ditandatangani suaminya itu. Sesungging senyum sinis terpatri diwajah cantiknya. Kemudian ia menatap wajah pucat pak Priyo dan Melisa bergantian.
"Kamu sudah baca isi berkas ini mas??". Tanya Diandra dijawab anggukan kepala oleh Abi.
" Termasuk yang ini??". Diandra menarik selembar kertas yang ternyata rangkap. Semua melongo melihatnya.
Diandra kemudian mengambil alih moderator dan menampilkan semua hasil penyelidikannya selama satu minggu ini. Semua peserta rapat menatap layar besar yang ada diruang meeting itu kemudian bergantian menatap pak Priyo dan Melisa.
"Enggak..ini nggak bener. Ini fitnah.." Teriak Melisa histeris membuat Diandra menatapnya dengan senyuman smirk.
"Apa bukti yang saya berikan kurang??". Diandra mengeluarkan semua berkas yang sengaja dipalsukan Melisa, semua ia dapat berkat bantuan Arlita, temannya.
" Dasar perempuan licik!!!". Teriak Melisa tak terima. Sementara pak Priyo berusaha kabur dari sana, namun sayang Alvin sudah lebih dulu mencekalnya.
Melisa yang kalap segera berlari menghampiri Tiara yang tengah menggendong Gaara. Ia merebut tubuh Gaara debgan kasar dan mendorong Tiara hingga terjungkal.
"Mundur semua!! Kalau kalian tidak memberi saya jalan..saya akan patahkan leher anak ini". Ancam Melisa membuat Diandra menggeleng kuat.
" Jangan!!!!". Teriak Diandra dibalas senyum penuh kemenangan oleh Melisa.
#######
triple up ya semuaaa...insyaallah nanti dikasih lagi
__ADS_1