
Kara mendengus kesal saat Raffa tiba-tiba menginjak rem motornya hingga membuatnya hampir terjatuh karena sejujurnya ia sedang tidak fokus.
"Lo beneran sarap! Mau mati jangan ngajakin gue!". Sentak Kara yang kesal pada saudaranya.
"Ya kalo kaga gue rem baru kita mati". Balas Raffa tak kalah sengit.
"Haissh..gue kira udahan masalah tadi tuh". Sungut Kara yang melihat motor mereka dihadang oleh beberapa motor.
"Turun lo berdua!!!". Teriak pemuda yang berdiri angkuh dihadapan keduanya. Kara ingat jika lelaki itulah yang tadi ia tampar dengan sepenuh hati๐
"Si kunyuk! Hayu buruan! Pengen cepet balik gue". Kara menabok pundak saudaranya agar segera turun dan menyelesaikan masalah yang belum usai.
Baru saja Kara dan Raffa melepas helm nya, para pemuda itu langsung maju menyerang keduanya dengan membabi buta hingga membuat Raffa dan Kara terdesak.
Untunglah keduanya memiliki bekal ilmu beladiri yang sangat mumpuni jadi mereka bisa menangkis dan membalas pukulan lawan. Meski tak bisa dielakkan keduanya juga beberapa kali terkena pukulan dan tendangan dari lawannya.
Wajah rupawan keduanya sudah terlihat babak belur dibeberapa bagian wajahnya. Sudut bibir Kara bahkan kini juga sudah sama seperti Raffa. Robek dan mengeluarkan darah segar yang langsung diusap kasar oleh Kara dengan lengannya.
Kesal karena memang sejujurnya mood nya sudah jelek sejak pagi. Ditambah kini ia dihadapkan dengan hal menjengkelkan membuat Kara memb*ntai habis lawannya hingga menyisakan seorang untuk dilawannya dan satu orang tengah bertarung dengan Raffa. Tiga lainnya sudah ambruk dihajar oleh Kara dan Raffa.
Kara sudah berhasil memojokkan lawannya dan hendak melayangkan tinjunya sampai sebuah teriakan membuat tangannya menggantung diudara dan fokusnya buyar.
"LENGKARAAAA!!!!". Kara menoleh ke sumber suara. Terkejut? Jelas saja iya. Bahkan dengan Kara yang tidak fokus dengan pertarungannya, lawannya menjadi mudah menyerangnya. Sebuah tinjuan keras mendarat tepat dipipi mulusnya hingga membuat sudut bibirnya kembali mengeluarkan darah segar dan tubuh rampingnya terjungkal ke belakang.
Kara menghapus darah dengan lengannya. Kemudian dengan secepat kilat ia balik menghajar tanpa memperdulikan teriakan dari dua orang lelaki yang sedari tadi meminta nya berhenti sambil berjalan mendekatinya.
Saat ini Kara sudah berada diatas tubuh musuhnya dengan kepalan tangan yang siap melayang ke wajah lawannya yang sudah tergeletak tak berdaya.
Kekesalan yang ia pendam sejak pagi setelah melihat Baim berjalan bersisian dengan seorang gadis membuat dirinya kini membutuhkan pelampiasan untuk kekesalannya. Beruntung ada mahkluk menyebalkan yang tadi mengganggu Raffa hingga kini ia punya pelampiasan untuk kekesalannya.
"Jangan ganggu gue lagi!!! Anj*ng!!!!". Teriak Kara menghadiahkan bogem mentahnya diwajah sang lawan.
Saat hendak memukul kembali lawannya, tangannya sudah ditahan oleh seseorang.
"Cukup!!! Kamu apa-apaan sih Ra!!". Bentak orang yang tak lain adalah Baim.
Sementara Gaara, ia sedang memisahkan Raffa dengan seorang lelaki yang juga sudah babak belur, sama seperti kedua adiknya.
Baim masih mencengkeram lengan adiknya. Ia meringis sendiri melihat wajah Kara yang sudah..ah tak perlu dijelaskan seperti apa berantakan dan amburadulnya penampilan dan wajah Kara saat ini.
"Kamu kenapa sih nggak ada capeknya bikin masalah? Liat sekarang muka kamu penuh luka kaya gini". Omel Baim tanpa melepaskan tangan Kara.
__ADS_1
"Tau lo berdua! Heran gue ama lo berdua. Elo juga dek! Lo tuh perempuan". Timpal Gaara yang sudah berhasil memisahkan Raffa.
Sedangkan musuhnya sudah melarikan diri dengan tertatih setelah dihajar sampai babak belur oleh dua bersaudara itu.
"Kamu bisa nggak sih berhenti buat masalah?!". Kara bungkam namun matanya menyiratkan kesedihan.
"Mereka yang bikin masalah duluan kak". Sahut Kara lirih
"Kamu bisa ngehindar kan? Nggak usah ditanggepin dan diladenin, bisa kan?? Liat sekarang muka kamu". Baim masih belum berhenti mengomeli Kara.
"Liat baju kamu". Kara menelisik baju yang kini ia kenakan. Sudah tak berbentuk lagi, beberapa kancing bajunya terlepas, pun ada beberapa bagian yang sobek. Untunglah ia memakai dalaman tanktop hingga dua asetnya masih terlindungi.
"Dari dulu kenapa kamu susah dikasih tau sih. Jangan berantem terus, kamu itu perempuan". Suara Baim sudah melembut namun justru membuat hati Kara perih.
Dengan kasar ia menyentak tangan Baim yang masih memegangi lengannya hingga terlepas. Ia menatap nanar Baim kemudian menatap Gaara yang juga menatap khawatir padanya.
"Kalian selalu nyalahin gue! Gue nggak pernah mulai keributan! Mereka yang selalu mulai duluan! Tapi kenapa gue yang selalu kalian salahin!". Mata Kara sudah memanas. Menatap kedua kakaknya bergantian dengan tatapan terluka hingga membuat keduanya tersentak.
Terutama Baim, tidak pernah selama ini Kara berkata lo gue apalagi pada dirinya. Dan hari ini Kara melakukannya. Jelas karena kecewa dengan caranya menegur Kara.
"Ra.." Gaara yang hendak menyentuh lengan adiknya segera ditepis kasar oleh Kara.
"Gue cuma bela diri! Terus gue musti gimana kalo mereka nginjek-injek harga diri gue? Gue musti diem? Hah? Gitu maksud lo berdua?!". Kedua kakaknya bungkam. Sementara Raffa merasa bersalah, jika saja dirinya tidak bermasalah dengan para pemuda tadi, Karaa tidak akan mendapat masalah ini dan terjebak dengan keadaan seperti saat ini.
"Terus gue harus diem liat sodara gue dihajar ampe babak belur? Gitu maunya kalian?!" Tak ada jawaban dari kedua orang yang sejak tadi mengomel dan menasehatinya.
Kara segera pergi dari sana, meninggalkan ketiga saudaranya yang mematung melihat Kara yang berlari menjauh.
"Ra..Lengkara!!". Teriak Baim namun Kara tak menghiraukannya.
"Dia cuma bantuin gue bang, kak". Raffa menatap kedua kakaknya.
"Dia emang urakan, tapi dia nggak pernah mulai keributan sama siapapun kecuali ada yang ganggu dia. Dan itupun kalo udah keterlaluan. Dia selalu pura-pura budeg sama semua yang ngajak ribut. Tapi gue rasa lo berdua juga nggak akan diem aja kalo diganggu terus". Kedua kakaknya semakin mematung. Apalagi melihat Raffa menjauh, adiknya itu menaiki motornya kemudian mengarahkan motornya untuk mengejar Kara.
"Jangan. Yang dibutuhin Kara sekarang cuma Raffa". Baim menahan lengan Gaara yang hendak mengejar adik-adiknya.
"Tapi Kara pasti ngambek, Im. Gue musti minta maaf". Baim menggeleng pelan. Sungguh Ia juga mengkhawatirkan kondisi adiknya itu. Apalagi luka diwajah Kara bisa dibilang parah.
"Nggak sekarang. Kara butuh nenangin diri dulu, dia pasti kecewa ama kita yang nggak percaya ama dia dan malah nyalahin dia". Keduanya menatap nanar punggung kedua adiknya yang semakin menjauh.
Kara langsung menyandarkan kepalanya dibahu seseorang yang baru saja duduk disampingnya. Karena ia tahu pasti siapa lelaki itu, sudah pasti saudara kembarnya.
__ADS_1
Keduanya kini duduk ditepi danau buatan yang ada tak jauh dari tempat keduanya berkelahi tadi.
"Gue nggak pernah mulai keributan Rap. Kenapa gue yang selalu disalahin". Raffa mengerti kekecewaan Kara.
"Mereka cuma khawatir ama elo, Ra". Raffa membiarkan Kara menyandarkan kepalanya.
"Mereka malu kali ya, punya adek urakan kaya gue. Takut bikin nama keluarga jelek". Kara terkekeh namun buliran bening dari matanya menetes mengenai pundak Raffa.
"Nggak gitu lah Ra. Pikiran lo kejauhan". Raffa coba menenangkan.
"Lo kenapa sih kok jadi cengeng. Nggak cocok lo ah nangis gini. Masa cewe kuat nangis". Raffa kini memeluk Kara, lalu menghapus air mata saudaranya.
"Gue juga nggak mau selalu ribut, Rap. Tapi mereka selalu cari masalah ama gue".
"Iya gue tau. Udah lah ya.." Raffa menepuk lembut punggung Kara beberapa kali.
"Kita obatin luka lo dulu ya. Biar nggak bengkak". Raffa menelisik wajah Kara yang terlihat banyak luka memar dan ada beberapa yang berdarah.
"Nggak usah. Besok juga ilang sendiri". Kara menolak
"Lo mau mama sama papa pingsan liat muka anak gadis kesayangannya bonyok gini?". Raffa tak menyetujui keinginan Kara.
"Gue balik ke rumah si Nala aja. Ntar aja kalo sembuh baru balik". Raffa menggeleng tak setuju.
"Lo bilang ke mama sama papa aja, ama anter baju gue". Ucap Kara membuat Raffa kembali menggeleng.
"Berobat dulu. Ntar gue anter ke rumah Nala". Raffa menarik tangan Kara supaya mengikutinya.
Akhirnya Kara menurut saat Raffa membawanya ke sebuah klinik yang tak jauh dari sekolah mereka.
Berkali-kali Kara meringis saat kapas beralkohol menyentuh luka diwajah dan tubuhnya.
"Sakit?". Raffa ikut meringis melihat dokter mengobati luka Kara.
Entah bagaimana Kara bertarung, luka diwajahnya benar-benar banyak. Dan itu membuat Raffa semakin merasa bersalah karena luka di wajah dan tubuhnya tak sebanding dengan luka Kara.
"Dikit doang. Sans aja.." Kara tersenyum menenangkan karena tahu Raffa tengah merasa bersalah pada dirinya.
...___^^___...
Hayo loh, si santen ngambek kan jadinya. Pada nyalah-nyalahin mulu sih jadi kakak. Hok hayoh dibikin kalang kabut ntar berdua๐ ๐
__ADS_1
Tunggu saat si santen nyuekin dua kakaknya ya..anggep aja balas dendam soalnya diomelin ama disalahin mulu gara-gara berantem terus๐
Lagian perempuan juga hobi kok gelut sih, santen...santen..๐๐๐