
Saat ini Diandra sudah berdiri disamping mobilnya. Meski sudah dilarang oleh Abi, Diandra tetap ngeyel dan mengendarai mobilnya sendiri saat mengantar dan menjemput Gaara sekolah.
Sesuai janjinya, Baim datang dengan seorang wanita paruh baya yang Diandra perkirakan berumur 50tahunan. Keduanya tampak lebih rapi dan bersih dari sebelum Diandra melihatnya tadi.
Keduanya datang menghampiri Diandra yang sudah tersenyum lembut pada keduanya.
Kali ini Baim langsung mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Diandra yang tersenyum puas. Sementara sang nenek menatap Diandra sambil tersenyum dan mengangguk.
Namun yang tak disangka oleh sang nenek, Diandra meraih tangannya dan mencium punggung tangan nya layaknya pada ibunya sendiri.
"Nyo-nyonya..anda tidak perlu melakukannya". Ucap nenek gugup. Ia merasa tidak sopan orang kaya seperti Diandra mencium tangannya.
" Nama ibu siapa?". Tanya Diandra tanpa memperdulikan sang nenek yang terlihat salah tingkah.
"Nama saya..nama saya Ratih nyonya". Diandra mengangguk
" Bu Ratih kerja apa?". Tanya Diandra lembut.
"Saya..hanya buruh cuci nyonya". Lirih bu Ratih dengan wajah sendu.
" Sebelumnya maaf nyonya..apa cucu saya melakukan kesalahan pada anda?". Tanya Bu Ratih hati-hati. Dirinya sangat terkejut saat tadi cucunya pulang dan memberitahu dirinya jika ada nyonya cantik yang mengajak dirinya dan sang nenek ke rumah mereka.
Pikiran bu Ratih sudah berkelana kemana-mana, takut cucunya melakukan kesalahan fatal dan membuat mereka dalam masalah besar.
"Mama..." Seru Gaara yang berlari menghampiri Diandra. Wajah tampan putranya itu tampak berseri melihat keberadaan teman dekatnya.
"Baim.." Seru Gaara dan segera mendekati Baim setelah menyalami sang mama.
"Ayo kita pulang.." Ajak Diandra membuat bu Ratih semakin ketar ketir.
"Tapi nyonya.."
"Panggil saja saya Diandra, bu". Potong Diandra cepat.
" Saya akan sampaikan maksud saya nanti saat sampai dirumah". Jelas Diandra melihat keraguan di mata tua itu.
"Mari bu.." Diandra bahkan membukakan pintu belakang untuk Baim dan sang nenek.
"Nenek Baim didepan saja ya..Abang pengen sama Baim". Celetuk Gaara yang sudah menarik Baim duduk dibangku belakang.
__ADS_1
" Biar saya dan Baim naik angkot saja nyonya..nanti mobilnya kotor". Diandra tersenyum menatap bu Ratih.
"Kita searah bu, tidak perlu naik angkot. Naik ini saja, sama saja.." Dengan sedikit paksaan, akhirnya bu Ratih pasrah dan duduk disamping Diandra yang mengemudi.
Mobil sudah berjalan dan mulai memasuki lingkungan perumahan yang Diandra tinggali. Rumah kedua orang tuanya dan kedua mertuanya.
Bu Ratih dan Baim menatap kagum pada setiap bangunan yang mereka lewati. Rumah dengan berbagai gaya yang sangat mewah.
Diandra menghentikan mobilnya didepan gerbang yang menjulang tinggi. Dari luar saja bu Ratih bisa melihat betapa mewahnya rumah dibalik gerbang tinggi itu.
Kini dirinya semakin merasa kecil dan tidak pantas. Sebenarnya apa yang cucunya lakukan hingga bisa berurusan dengan anak orang kaya seperti ini.
"Tolong ya pak Sarif.." Satpam yang bekerja dengan keluarganya beberapa tahun belakangan menyambut kedatangan Diandra.
"Siiap neng.." Pak Sarif memberi hormat pada majikannya yang terkekeh pelan.
"Ayo bu..kita masuk". Ajak Diandra pada bu Ratih dan Baim yang justru mematung setelah keluar dari mobil.
" Bu..Bu Ratih?". Diandra memegang pundak bu Ratih yang justru membeku ditempatnya.
"Ta-tapi nyonya.."
Belum usai kekaguman bu Ratih pada wajah ayu Diandra, kini ada dua orang wanita yang sepertinya tak berbeda jauh umurnya dengannya berdiri anggun didepan pintu.
" Ini lagi diajak ma.." Sahut Diandra yang kemudian tanpa ragu menggandeng lengan bu Ratih dan membawanya masuk.
Sampai didepan mama Ana dan mama Dita, bu Ratih membungkukkan badannya memberi hormat pada orang-orang terhormat itu.
"Ini temennya abang itu?". Tanya mama Ana saat Baim menyalami dan mencium punggung tangan nya.
" Iya..ini Baim. Temen abang, oma". Dengan bangga Gaara memperkenalkan Baim pada kedua neneknya.
"Baim, kenalin..ini oma Ana, kalo ini nenek Dita". Kedua nenek muda itu tersenyum lucu melihat Gaara yang sok dewasa.
" Ayo ayo masuk..tamunya malah dianggurin didepan pintu. Aduh maaf ya bu.." Mama Dita menepi dan membiarkan Diandra membawa bu Ratih masuk.
"Nggak usah dilepas bu sandalnya.." Ucap Diandra saat melihat bu Ratih melepas alas kakinya.
"Tapi kotor nyonya.." Ucap bu Ratih pelan.
__ADS_1
"Bisa dibersihkan nanti". Diandra terus menggandeng dan membawa bu Ratih masuk kedalam rumah.
Bu Ratih menatap kagum seluruh isi rumah, betapa mewahnya. Batinnya.
" Duduk bu.." Diandra mempersilahkan bu Ratih dan Baim duduk
"Gaala tinggal dulu ya Baim. Nanti aku dimalahin mama kalo ndak ganti baju dulu". Bisik Gaara yang masih didengar Diandra.
" Apa abang??". Tanya Diandra membuat Gaara terkikik dan memberinya ciuman untuk menyogok sang mama agar tidak marah padanya.
"Ayo Baim..duduk sayang". Diandra sudah lebih dulu duduk dan mengibaskan tangannya didepan wajah. Cuaca diluar cukup panas, apalagi ia sedang hamil.
" Loh kok dibawah sih..duduk diatas bu". Diandra terkejut bukan main saat bu Ratih dan Baim duduk dilantai.
"Ini Gimana sih kamu. Kok tamunya disuruh duduk bawah". Omel mama Dita yang baru datang dari dapur membawakan minuman dan cemilan.
" Sini Bu..jangan dibawah". Diandra membawa Baim dan mendudukkannya disampingnya.
"Disini saja nyonya..nanti kursinya kotor". Bu Ratih menundukkan kepalanya. Merasa tidak pantas duduk bersama orang-orang kaya seperti Diandra. Terbiasa dipandang rendah dan dihina membuat mentalnya terluka.
" Nggak akan bu. Kalau kotor kan tinggal dibersihkan". Mama Ana datang dan membawa bu Ratih duduk bersebelahan dengannya.
Tak lama Gaara turun. Anak lelaki itu sudah berganti baju rumahan. Terlihat jelas raut kebahagiaan dari wajah mungil itu.
"Kita makan dulu ya, sudah siang". Ajak mama Ana yang langsung diangguki yang lain. Tapi ttidak dengan bu Ratih dan Baim yang masih diam.
" Ayo Baim..kita makan". Gaara menarik tangan Baim, namun Baim tetap teguh ditempatnya duduk.
"Kami sudah makan nyonya..maaf sebelumnya, tapi sebenarnya ada apa kami diminta datang?". Tanya Bu Ratih sangat hati-hati. Ia benar-benar takut jika cucunya membuat kesalahan.
" Nanti kita bicarakan setelah makan ya bu". Diandra dengan lembut memegang lengan bu Ratih dan mengajaknya ke ruang makan.
Sementara Baim sudah ditarik paksa oleh Gaara dan duduk bersebelahan dimeja makan.
"Saya benar-benar sudah makan nyonya.." Tolak bu Ratih halus, meskipun ia sangat lapar, ia merasa sungkan. Ia sungguh sungkan diperlakukan begitu baik oleh keluarga Diandra.
"Tidak baik menolak rezeki bu.." Mama Dita duduk disamping bu Ratih.
Akhirnya bu Ratih pasrah dan menerima semua perlakuan baik keluarga Diandra pada dirinya dan cucunya.
__ADS_1
"Abang..pimpin berdoa ya". Gaara memang dibiasakan untuk berdoa bersama, kadang anak itu yang memimpin doa.