
Kara berdehem dan segera menyambar tissu diatas meja. Membersihkan mulutnya dari sisa saus yang sebelumnya sudah diusap oleh Arkan.
"M-makasih kak". Ucap Kara canggung membuat Arkan tersenyum.
"Lanjutin gih makannya". Kara mengangguk, menunduk dan terus memasukkan mi ayam kedalam mulutnya dengan cepat. Hingga akhirnya ia tersedak karena tidak hati-hati.
"Astaga, Ra. Lo kaya anak kecil.." Kekeh Arkan menepuk punggung Kara perlahan dan menyodorkan sebotol air mineral.
"Makasih kak". Kara segera meneguk air mineral yang Arkan berikan hingga menyisakan sedikit.
"Biasa aja, Ra. Nggak usah canggung.." Bukannya santai, Kara malah makin merasa canggung dan tak enak. Karena Arkan tahu jika dirinya merasa canggung dan tak nyaman.
"Abis ini mau kemana?". Tanya Arkan memecah suasana yang tiba-tiba hening.
"Kakak mau kemana?". Kara balik bertanya
"Ada film baru. Mau nggak nemenin nonton?". Kara nampak berfikir sejenak lalu mengangguk. Semakin lama ia pulang, maka semakin sedikit kesempatan sang mama menanyakan perihal perjodohan.
"Oke sip. Lanjut dulu makannya. Abis itu kita nonton". Keduanya melanjutkan makannya dalam diam hingga mangkok dihadapan mereka bersih tak bersisa.
"Berapa mang?". Tanya Kara merogoh dompet di tas nya.
"Tambah pangsitnya tadi mang, dua. Ama air mineral juga dua".
"35ribu neng". Kara yang sedang mencari dompetnya menghentikan gerakannya saat Arkan menyodorkan selembar uang berwarna merah kepada penjual.
"Kembaliannya buat bapaknya aja". Arkan berbicara sopan.
"Aduh..Ini sih banyak pisan kembaliannya den". Arkan hanya tersenyum
"Rejeki bapak.." Jawabnya dengan suara lembut membuat Kara mengerjap beberapa kali.
"Hatur nuhun pisan atuh ya den. Mudah-mudahan dilancarin rejeki adennya.." Arkan hanya mengaminkan dan keluar dari waung tenda itu.
"Makasih neng Kara. Sering-sering kesini atuh. Mamang suka kangen denger suara cemprengnya si eneng". Kara melotot pada penjual langganannya itu.
"Ini muji apa ngeledek mang?". Si penjual hanya tertawa
"Kara pamit mang. Makasih ya mang. Miayamnya kaya biasanya..mantap". Puji Kara membuat si penjual tersenyum. Sedekat itu Kara dengan seorang penjual miayam. Arkan masih tak habis pikir.
"Let's go kak". Seru Kara semangat. Bukan semangat karena pergi dengan Arkan, melainkan bisa menghindari sang mama lebih lama.
Berkali-kali Kara melihat ponselnya, berharap ada pesan dari kekasihnya. Namun rupanya nihil, tak ada satupun pesan dari kekasihnya hingga membuatnya menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Kenapa?". Kara segera menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Lo ngehela nafas, kaya yang ada pikiran".
"Hah? Oh nggak ada kak. Pusing mikirin bentar lagi ujian". Kilah Kara setelah menemukan alasan yang menurutnya masuk akal.
"Lo pinter kok kayanya. Jadi nyantai aja..gue yakin lo bisa". Kara hanya tersenyum sekedarnya mendengar pujian Arkan.
Tak butuh waktu lama keduanya sampai disebuah mall. Setelah beberapa saat sibuk mencari tempat parkir, keduanya turun dari mobil.
"Mau langsung?". Tanya Arkan diangguki cepat oleh Kara.
Keduanya berjalan bersisian, namun Arkan menghentikan langkahnya disebuah toko pakaian membuat Kara ikut berhenti.
"Kenapa kak?". Tanya Kara bingung.
"Kesini dulu". Arkan menarik tangan Kara yang masih terlihat bingung.
"Tunggu sini bentar". Kara hanya menurut saat Arkan memintanya duduk dan lelaki itu meninggalkannya seorang diri.
Kara melihat sekelilingnya. Alisnya mengernyit ketika menyadari bahwa itu toko pakaian perempuan. Kara mengendikkan bahunya, ia berpikir mungkin Arkan ingin membelikan pakaian untuk adiknya, Icha.
"Nih ganti.." Kerutan di dahi Kara semakin terlihat saat Arkan menyodorkan satu stel pakaian pada dirinya.
"Nggak mungkin kan nonton pake seragam. Gih ganti". Kara menatap celana panjang hitam dan sebuah kaos berwarna biru yang dipegang Arkan.
"Bentar kak.." Kara mengambil pakaian ditangan Arkan dan segera pergi ke kamar pas untuk mengganti pakaiannya.
"Ternyata pas. Oke, ayo nonton". Arkan menatap kagum Kara. Bahkan hanya dengan celana dan kaos polospun Kara tetap terlihat cantik.
"Berapa ini kak? Gue ganti uangnya.." Kara menahan lengan Arkan yang hendak berlalu.
"Nggak usah. Anggep aja itu hadiah dari gue". Jawab Arkan santai.
"Udah ayo. Keburu malem ntar. Disuruh pulang sebelum makan malam kan?". Kara tersadar, menatap pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul 4 sore.
"Oke, ayo".
Sementara kedua muda mudi itu tengah menonton. Saat ini Baim tengah berusaha mati-matian untuk menyelesaikan projek rahasianya.
"Saya akan berikan proyek ini pada kamu kalau kamu bisa selesaikan design dan rancangannya dalam 3hari ke depan". Ucapan seseorang dua hari lalu kembali menari di kepalanya.
"Gue pasti bisa. Demi Kara, gue bakal buktiin kalo gue pantas". Baim kembali memecut dirinya dan semangatnya.
__ADS_1
Sepertinya sang mama benar-benar berniat menjodohkan Kara dengan anak dari sahabatnya itu. Meski tahu Arkan adalah lelaki baik, namun sampai kapanpun ia tak akan pernah bisa jika harus merelakan Kara untuk laki-laki lain.
"Maafin Baim ma..mungkin ini akan membuat mama kecewa dan sakit. Tapi Baim sangat mencintai Kara. Hanya Kara yang Baim cintai ma.." Gumam Baim menatap foto keluarga utuhnya. Ada sang mama, papa, Gaara, dan kedua adik kembarnya.
"Maaf kalau pada akhirnya Baim akan membuat mama sangat kecewa dan sakit hati..Tapi untuk melepaskan Kara, Baim juga nggak akan sanggup ma". Baim menghela nafas dalam-dalam dan kembali berkutat dengan pekerjaan yang akan ia gunakan untuk bisa membuat kedua orang tua angkatnya percaya jika dirinya lebih dari pantas untuk putri istimewa mereka.
Butuh keteguhan hati untuk menjalani semua ini. Karena apapun pilihan Baim, akan ada hati yang tersakiti dan mungkin kecewa.
Jika ia mengalah dan membiarkan sang mama menjodohkan Lengkara, maka sudah bisa dipastikan hatinya dan juga Kara akan remuk tak bersisa. Namun jika dirinya memperjuangkan Kara, maka keduanya harus siap membuat Diandra kecewa atau bahkan sakit hati.
---***
Kara berpikir ia sudah bebas dari Arkan dan mama nya. Namun rupanya ia salah duga. Arkan dan Naya masih ada dikota nya bahkan setelah tiga hari berlalu. Selama tiga hari itu pula Arkan mengantar dan menjemput Kara hingga gadis itu tak memiliki kesempatan untuk bertemu pujaan hatinya.
"Hari ini lo harus bantu gue, La". Ucap Kara serius membuat Nala mengernyit.
"Bantuin apaan? Kaga yang aneh-aneh tapi ya". Peringat Nala yang selalu was-was dengan ide Kara yang cenderung gila dan ekstrem.
"Hari ini gue harus ketemu kak Baim. Nggak peduli gimanapun caranya. Mama udah bener-bener keterlaluan. Masa iya gue dianter jemput ama kak Arkan". Bibir Kara terus menggerutu.
"Terus gimana cara lo kabur?". Tanya Nala
"Gue nggak tau. Makanya lo bantuin gue ama si Rapa". Nala melotot. Ia pikir Kara sudah menyiapkan rencana, tapi ternyata belum ada renana sama sekali.
"Gimana caranya coba?". Nala mendengus
"Nggak udah pusing. Tinggal bilang kalo santen udah pulang duluan. Gampang kan? Ntar lo ngumpet aja dulu". Kedua gadis itu menoleh, mendapati Raffa sudah berdiri dibelakang mereka.
"Mau kemana lo?", Tanya Nala saat melihat Kara menyambar tasnya.
"Gue kudu nemuin kak Baim sekarang". Raffa dan Nala melotot tak percaya. Ini masih jam pelajaran, dan Kara berniat membolos??
"nggak usah ngaco deh, Ra". Seru keduanya kompak.
"Gue juga nggak ngaco". Ini bukan kali pertama Kara membolos, jadi bukan hal sulit bagi Kara mengelabui para guru untuk bisa melarikan diri dari sekolah.
...----£££----...
yang sabar ya semuaaa..dinikmati dulu aja perjuangan mereka ya..
Mari sama-sama kita doakan mereka supaya berakhir bahagia. Aamiin🤲
Othornya jangan dibully dulu ya..
__ADS_1