Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
End


__ADS_3

Suara riuh tepuk tangan menyambut datangnya mempelai wanita yang terlihat begitu anggun dengan gaun indah berwarna putih membalut tubuh indahnya.


Malam ini Nala benar-benar nampak seperti seorang putri dari negeri dongeng.


Gaara tak bisa mengalihkan fokus matanya dari gadis yang pagi tadi sudah ia sah kan menjadi istrinya.


Dengan gagah Gaara berjalan mendekati istrinya. Ah, istri..hanya mengingatnya saja sudah mampu membuat Gaara tersenyum bahagia.


Nala tersenyum melihat bagaimana rupawannya sang suami malam ini. Terlihat gagah dan tampan. Jika saja Hani berada disana saat ini, Nala pastikan wanita itu akan belingsatan melihat bagaimana rupa suaminya yang kini dihiasi senyum kebahagiaan itu.


Kara dan Jen yang tadinya mengapit Nala melepaskan tangan mereka dan mundur satu langkah saat Gaara sudah berdiri didepan Nala dengan mengulurkan tangannya pada Nala.


Keduanya berjalan berdampingan dengan tangan Nala mengamit lengan kekar sang suami. Keduanya berjalan seirama menuju panggung yang sudah disediakan untuk mereka malam ini yang menjadi raja dan ratu semalam.


Senyum kebahagiaan tak pernah pudar dari wajah keduanya. Senyum yang menular pada semua orang yang melihat mereka.


Mami Nita menyeka setitik cairan bening yang tiba-tiba menggenang diujung matanya. Tak menyangka akan secepat ini melepaskan gadis kecilnya yang tanpa ia sadari sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.


"Dia sudah bahagia mi.." Papi Andre merangkul mesra pundak istrinya yang mengangguk membenarkan.


Orang tua mana yang tak bahagia melihat anaknya tersenyum. Setelah semua yang Nala lewati, semua kebahagiaan ini adalah bayaran yang sangat setimpal. Buah dari kesabaran dan cinta tulus Nala untuk Gaara selama ini.


"Kamu cantik.." Bisik Gaara membuat wajah Nala bersemu. Bukan pertama kali Gaara memuji dirinya, namun semua pujian yang terlontar dari bibir seksi suaminya itu selalu berhasil menciptakan semburat merah dikedua pipinya.


"Abang juga ganteng.." Balas Nala malu-malu dan itu membuat Gaara sangat gemas.


"Kita ke kamar aja yuk.." Nala melotot mendengar ajakan Gaara. Bisa-bisanya suaminya itu mengajaknya ke kamar sementara saat ini keduanya tengah menjadi pusat perhatian semua orang.


Nala memukul pelan lengan suaminya yang justru terkekeh. Jika saja dirinya tak mengingat jika tamunya adalah orang-orang penting, sudah bisa ia pastikan akan menyeret Nala ke kamar pengantin mereka dan mengurungnya disana.


Siang tadi, setelah acara ijab qabul dilaksanakan. Gaara hendak melaksanakan kewajibannya terhadap sang istri. Namun semua ambyar saat adik tercintanya terus menerus mengetuk pintu kamar hotelnya. Lebih tepatnya menggedor.


Kesal? Tentu saja. Apalagi mendengar alasan si santen yang bisa membuat kepalanya pusing.


"Abang nikah duluan padahal aku dulu yang dilamar terus tunangan! Jadi sekarang Nala punya aku sama Jen! Abang jatahnya nanti malem aja!". Tanpa menunggu persetujuan Gaara, gadis cantik yang sampai saat ini masih berstatus adiknya itu mendorongnya keluar kamar dan menutup pintu seraya menguncinya.


Ingin rasanya Gaara memaki. Namun makian itu hanya ia rapalkan didalam hatinya saja. Adiknya memang selalu berhasil jika itu tentang membuatnya kesal dan naik darah.


"Kenapa lagi sih?". Diandra yang melihat putri bungsunya duduk dengan wajah ditekuk bertanya.


Abi tersenyum dalam diam. Ia tahu apa yang membuat putri tersayangnya itu uring-uringan selama berhari-hari.


"Aku juga mau kaya Nala". Rengek Kara membuat Abi menatapnya gemas. Usia putrinya bukan lagi belasan, gadis itu sudah berusia 21tahun. Namun tingkahnya masih seperti anak kecil.


"Kaya Nala gimana?", Diandra mengerutkan keningnya.


Saat ini Diandra dan Abi tengah duduk di kursi yang khusus disediakan untuk keluarga mempelai. Sebuah meja panjang dengan banyak kursi mengelilinginya.


Bukan hanya Abi dan Diandra, disana juga ada kedua orang tua Nala. Kedua kakak Nala dan jangan lupakan Raffa beserta istrinya. Dan tentu saja santen dan Baim.


"Mama ih..mau nikah", Kara kembali merengek membuat Baim menggeleng pelan. Bukan dirinya tak ingin cepat-cepat menghalalkan Kara, tapi dirinya harus sedikit bersabar lagi. Dirinya sedang mempersiapkan sebuah kejutan besar untuk calon istrinya itu.


"Astaga Ra.." Diandra menepuk keningnya.


"Papa sih nggak adil". Kini omelan Kara beralih pada sang papa yang terlihat menaikkan alisnya ketika mendengar putri tersayangnya menyalahkan dirinya.

__ADS_1


"Kok papa?". Alis Abi berkerut. Sengaja melakukan hal itu untuk menggoda Kara.


"Kenapa abang sama Nala dulu yang nikah. Kan aku duluan yang dilamar terus tunangan". Ucapan itu sudah terucap entah ke berapa kalinya dari bibir mungil Kara.


"Kamu masih dibawah umur, santen". Nala langsung mendongak. Mendapati pengantin laki-laki tengah menatapnya dengan tatapan mengejek.


"Heh, terus kalo aku dibawah umur, apa kabar tuh istri abang?!". Sengit Kara membuat Gaara tergelak.


Setelah tamu yang datang memberinya selamat, Gaara sengaja membawa sang istri untuk ikut bergabung dengan keluarga nya itu.


Jelas tujuannya untuk menggoda si santen yang terus uring-uringan dan tak terima karena Gaara dan Nala menikah lebih dulu dibandingkan dirinya.


"Itu beda situasi sih. Susah lah dijelasinnya". Semakin senang saja Gaara menggoda Kara yang terlihat memelototinya.


"Abang udah deh..kasian santen". Bisik Nala yang mencoba menghentikan suaminya. Sejujurnya ia kasihan pada Kara, namun tak bisa berbuat apapun. Keadaan memaksa dirinya untuk cepat menikah dengan Gaara.


"Dengerin tuh bini nya! Dasar abang durhakim!", Semprot Kara yang membuat semua tertawa gemas.


"Papa ih.." Kembali si santen sachet menatap kesal sang papa yang memasang wajah tanpa dosanya.


"Apa Lengkara?", Kara mendengus melihat sang papa acuh saja.


Baim yang duduk disebelah Kara menggenggam tangan calon istrinya. Memberinya senyum menenangkan hingga Kara diam.


"Untung calon suami aku sabar. Kalo dia bukan penyabar, pasti aku udah ditinggal kabur gara-gara harus nunggu aku lulus kuliah. Keburu tua". Bibir mungil itu kembali menggerutu.


Sementara si pengantin baru tampak kembali ke panggung setelah puas menggoda Kara. Terlihat jelas jika keduanya sangat bahagia, terlihat jelas dari pancaran wajahnya yang terlihat bersinar.


"Sabar, minggu depan giliran kamu". Kara yang sedang menatap kakak dan sahabatnya yang tengah dipajang dipanggung hanya berdehem saja menanggapi ucapan sang papa.


Namun sedetik kemudian, kepalanya menoleh pada Abi dengan tatapan tak percaya. Dahinya berkerut dalam karena masih tak percaya. Ia takut salah dengar.


"Maksud papa???". Kara menggeser kursinya hingga menempel dengan sang ayah yang terkekeh melihat kelakuan putri kecilnya.


"Papa pusing dengerin kamu ngomel-ngomel mulu. Uring-uringan nggak jelas tiap hari, makanya papa putusin ijinin Baim nikahin kamu secepatnya". Diandra menjelaskan membuat Kara kembali menatap papanya setelah beberapa saat menatap sang mama.


"Beneran pa??". Tanya Kara dijawab anggukan kepala oleh Abi.


Kara memekik senang. Bahkan beberapa tamu tampak mengalihkan perhatian mereka karena mendengar suara Kara.


Kara bangkit dari duduknya. Memeluk leher sang ayah dan memberikan ciuman di kedua pipi sang papa.


"Aaa..sayang banyak-banyak sama papa. Papa emang the best". Kara kembali mencium pipi sang papa.


"Heleh..sekarang aja bilang sayang papa banyak-banyak. Papa the best, kemaren aja kerjaannya nyalahin papa sama mama gara-gara nikahin abang duluan". Cibir Diandra yang dijawab cengiran oleh Kara.


"Haaaah? Satu minggu lagi??". Semua kembali terkejut saat Kara kembali memekik.


"Terus gimana dong? Aku belum fitting mama..belum siapin apa-apa. Terus gimana dong?". Kara nampak panik.


"Lo nikahnya pake piyama tidur aja. Yang biasa lo pake tidur". Si saudara kembar nan laknat membuat Kara melotot kesal.


"Ngaco!", Ketus Kara membuat Raffa tergelak.


"Kakak..gimana ini?",

__ADS_1


"Mama sama papa kenapa kasih taunya ngedadak sih". Masih saja si santen menyalahkan kedua orang tuanya.


"Ni anak beneran pengennya dikutuk jadi cangkir ya. Dinikahin belakangan salah, ini dicepetin juga masih disalahin. Astaga". Gerutu Diandra membuat Abi terkekeh.


"Semua sudah siap sayang.." Baim menengahi membuat Kara menoleh.


"Maksud kakak?". Baim tersenyum tenang.


"Terus gaunnya?". Tanya Kara membuat Baim kembali tersenyum. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah gaun berwarna soft pink yang sangat anggun dan cantik.


Kara menatap Baim kembali. Ia kemudian kembali menatap layar ponsel Baim. Ia mencoba mengingat kapan dirinya memesan gaun itu, tapi dirinya belum pernah memesannya.


"Semua udah sesuai ukuran kamu sayang".


"Kok bisa?". Baim tak menjelaskan, namun Diandra yang menjelaskannya. Semua rencana dadakan ini mereka lakukan.


Tanpa Kara sadari, selama ini dirinya juga tengah mempersiapkan pernikahannya dengan Baim. Lelaki itu selalu menanyakan ingin seperti apa pernikahannya nanti saat mereka ikut sibuk mempersiapkan pernikahan Gaara.


Dan dari situlah Baim tahu semua yang Kara inginkan saat merayakan pernikahannya nanti. Dimulai dari konsep, warna gaun pesta hingga hidangan apa saja yang Kara inginkan saat nanti mereka menikah.


Semua Baim lakukan tanpa Kara sadari. Hingga kini gadis itu tampak terharu sekaligus bahagia. Calon suaminya benar-benar laki-laki romantis.


"Makasih kak.." Kara memeluk erat Baim yang mengelus pucuk kepalanya.


Percakapan dilanjutkan dengan sesekali mereka membahas tentang rencana pernikahan Kara dan Baim.


Biarlah Kara tahu, sebenarnya mereka semua akan memberikan kejutan pada Kara saat hari pernikahan. Tapi melihat Kara yang terus merajuk memaksa mereka membuka rencana mereka yang sudah tersusun rapi.


Tepat satu minggu setelah pernikahan Gaara dan Nala, pesta besar untuk kedua kalinya digelar.


Pesta dengan tema garden party digelar sama mewahnya dengan pesta Gaara dan Nala.


Kara tampil cantik dengan gaun berwarna soft pink yang membuat kulit putihnya semakin terlihat berkilau.


Baim tampil gagah dengan balutan tuxedo yang senada dengan warna gaun Kara. Rona kebahagiaan jelas terpancar dari kedua pengantin baru itu. Ucapan selamat datang silih berganti dari para tamu undangan, keluarga, sahabat dan sanak saudara.


Nala dan Gaara berjalan menghampiri kedua mempelai. Saling memeluk untuk menyalurkan perasaan bahagia mereka hingga sebuah teriakan membuat atensi mereka beralih.


"Liat sini!!". Teriak Raffa yang sudah memegang kameranya.


"Senyum.." Keempat orang yang tengah berdiri disebuah panggung kecil itu tersneyum menatap kamera.


Kebahagiaan yang dulu tak berani mereka bayangkan kini telah mereka dapatkan. Baik Kara maupun Nala, serta Baim dan Gaara. Mereka terlihat sangat bahagia. Bahkan bukan hanya mereka, seluruh keluarga juga terlihat bahagia menatap keempatnya.


"Nanti malem ati-ati, Ra. Sakit", Kara mendelik menatap Nala yang tersenyum penuh arti sambil melangkah meninggalkan dirinya dan Baim.


...END...


...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...


...Akhirnyaaaa...perjalanan panjang mereka berakhir sudaaaahhhh...Sumpah ini panjang banget, 1500 kata lebih😱😱...


...Terimakasih buat semua readers yang sudah mendukung semua karya aku🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻...


...Maaf kalau endingnya nggak sesuai ekspektasi kalian semua🙏🏻 Othornya udah berusaha maksimal. Tapi yang terpikir hanya cerita ini saja untuk akhir kisah mereka🤭✌🏻...

__ADS_1


...Mari kita lanjutkan kehaluan kita di cerita othor yang selanjutnya..hidup haluu✊🏻👏🏻👏🏻😅😂...


...Sarangheo banyakbanyak readers tercintakuh😘😘😘🥰💋💐...


__ADS_2