
Suasana diruang tamu saat ini terasa begitu mencekam. Jika tidak mengingat adab dan sopan santun, sudah sedari tadi Diandra melempar keluar pria yang saat ini duduk diam didepannya.
Gaara dan Baim sudah Diandra perintahkan untuk masuk kedalam kamarnya.
"Jangan keluar sampai mama yang memintanya. Kalian mengerti?". Kedua anak itu mengangguk patuh atas perintah sang ibu.
"Anda datang kesini hanya untuk duduk dan diam seperti ini?". Sinis Diandra membuat Abram mengangkat wajahnya.
Ia bisa melihat jelas tatapan tak suka penuh kebencian dari mata Diandra, adik dari wanita yang pernah ia lukai dan ia hancurkan.
"Katakan. Aku yakin manusia sepertimu tidak akan merendahkan harga diri dengan mendatangi kami hanya untuk diam saja". Abi mengelus pundak istrinya, berharap emosi Diandra sedikit mereda.
"Sebelumnya maafkan saya yang datang malam-malam begini, maaf jika mengganggu". Ucap Abram sopan.
"Bahkan setiap waktu kehadiranmu sangat mengganggu". Sambar Diandra cepat membuat Abi menghela nafas. Inilah istrinya, tidak akan berbasa-basi pada orang yang memang tak ia sukai.
Abram tersenyum kecut, bahkan sebelum mengutarakan maksudnya saja Diandra sudah sebegitu benci padanya. Lalu akan seperti apa reaksi wanita itu saat tahu maksud dan tujuannya datang kerumah mereka.
"Cepat katakan". Desak Diandra yang sudah mulai kehilangan kesabaran.
"Aku datang untuk mengambil putraku".
Deg
Rasanya jantung Diandra berhenti sesaat mendengar apa yang Abram katakan.
"Apa?". Tanya Diandra memastikan, ia yakin jika telinganya tadi sedikit bermasalah.
"Aku.." Meskipun sedikit ragu, Abram kembali mengutarakan maksudnya.
"Aku datang untuk mengambil putraku". Mata Diandra menajam, bahkan kini sudah memerah karena amarahnya.
"Anakmu? Tidak ada anakmu disini. Jadi kenapa datang kesini untuk mengambil anakmu". Sengit Diandra.
"Gaara.." Mata Diandra melotot bahkan hanya dengan Abram menyebut nama putranya.
"Gaara adalah putra kandung ku dan Dea.." Mama Ana tampak syok, pun dengan papa Ihsan.
"Bawa mama istirahat pa.." Papa Ihsan mengangguk, melihat dari reaksi anak dan menantunya, sepertinya keduanya sudah mengetahui jika hal seperti ini akan terjadi.
"Hahha..Aku rasa kamu sudah tidak waras tuan Abraham!". Diandra menenkankan nama Abraham.
"Gaara adalah putra kakakku dan Abi, dia putaku!. Jangan bergurau hal gila semacam itu". Meski bibirnya berkata dengan yakin, namun ada sedikit keraguan di hatinya.
"Dia putraku dan Dea, aku yakin itu". Abram kembali berbicara.
"Tutup mulutmu itu b*jingan!!". Geram Abi berusaha menahan suaranya agar tidak sampai terdengar oleh kedua putranya.
"Aku dan Dea melakukannya. Jadi jangan berbicara omong kosong!". Tatapan tajam Abi hunuskan pada lelaki yang duduk tenang dihadapannya.
"Kau yakin? Kau yakin benar-benar menidurinya?". Abi terdiam mendapat pertanyaan itu
"Bukankah kau tidak mengingatnya sama sekali?".
"Jawab mas!! Katakan pada lelaki brengs*k ini kalo kamu sudah meniduri kakak". Desak Diandra yang mulai kalut. Jika dulu ia sangat marah mengetahui kenyataan Abi menghianatinya, maka hari ini, detik ini ia sangat mengharapkan penghianatan itu benar-benar terjadi.
"Dia tidak akan menjawab, Diandra. Karena dia tidak mengingat apapun. Yang dia ingat hanya bangun dengan kondisi tanpa busana dan berada dibawah satu selimut dengan Dea dalam kondisi yang sama". Diandra menatap tajam Abram.
__ADS_1
"Tutup mulutmu!! Aku tidak bicara padamu!!". Sentak Diandra.
"Tapi itulah kenyataannya". Diandra semakin geram karena Abram menunjukkan senyum penuh kemenangan.
"Percayalah, Gaara adalah darah dagingku". Diandra tak menjawab
"Kenapa?". Abram menatap Diandra yang juga menatapnya.
"Kenapa baru sekarang? Dan kenapa bisa Abi? Dan.." Ucapan Diandra menggantung. Ia benar-benar bingung saat ini.
"Aku akan menjelaskannya.." Abram menatap lurus kedepan. Ingatannya kembali berputar pada kejadian 12tahun lalu.
flashback..
"Apa yang kamu lakukan Abram?!". Dea terlihat gelisah
"Kamu selalu menolakku, hanya dengan cara ini aku bisa memilikimu". Abram menunjukkan seringai licik.
"Apa yang kamu berikan padaku?". Tanya Dea lagi yang wajahnya sudah mulai memerah nafasnya juga sudah mulai tersengal menahan sesuatu yang mulai bergejolak dalam tubuhnya.
"Kita akan bersenang-senang". Bisik Abram sensual membuat Dea meremang.
Abram melancarkan aksinya, melucuti pakaian Dea dan hanya menyisakan bra nya saja. Abram tak tahu jika Dea sempat menelpon Abi dan memberi tahu lokasinya saat ini.
Namun sayang, Abram sudah berhasil menikmati tubuh Dea sebelum Abi sampai. Saat Abram ingin kembali menyentuh Dea, Abi sudah lebih dulu datang dan menghajarnya hingga babak belur.
"Ikuti mereka. Pastikan obat itu kau berikan". Dalam kondisi lemah dan babak belur serta dalam penjagaan pihak keamanan, Abram menelpon orangnya untuk mengikuti Abi dan Dea.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Dea. Kau hanya milikku". Gumam Abram
Lelaki besar dengan wajah menyeramkan itu tersenyum miring saat melihat gelagat yang mencurigakan dari Abi.
"Sepertinya laki-laki itu juga dalam pengaruh obat". Gumamnya pelan.
Lelaki itu menyiapkan alat injeksi yang sudah berisi cairan berwarna kuning. Ia menyiapkan dua, untuk Abi dan tentu saja untuk Dea.
"Berapa dosis yang Tuan berikan sampai nona itu masih agresif padahal sudah mendapat pelepasan". Lelaki itu hanya menggeleng dengan senyuman yang tak bisa diartikan.
Dengan perlahan lelaki itu masuk kedalam kamar yang didalamnya ada Abi dan Dea yang sama-sama lepas kendali. Namun terlihat jika Abi masih bisa menahan diri.
Orang itu berjalan cepat dan segera menusukkan jarum suntik ke leher Abi hingga membuat Abi tersungkur. Setelahnya, ia melakukan hal sama pada Dea yang sudah telanj*ng.
"Kalian tidak akan mengingat apapun yang terjadi pada kalian". Senyuman lelaki itu semakin terlihat mengerikan.
"Aku sudah melaksanakan perintah anda tuan". Ia menutup panggilan teleponnya.
Ia kembali memeriksa kondisi Abi dan Dea. Semua sesuai perintah bosnya, ia juga sudah menanggalkan pakaian Abi dan menyelimuti keduanya dengan keadaan polos tanpa sehelai benangpun.
flashback off
"Aku mendengar kabar pernikahan kakakmu dan Abi setelah kejadian itu. Tapi aku tidak berniat memberitahu hal sebenarnya". Abram terlihat menghela nafas panjang, sedangkan Diandra sudah mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih.
"Tiga bulan setelah pernikahannya dan Abi, dia datang padaku. Dia bilang jika dia tahu, dia ingat semuanya. Dia memintaku untuk bertanggung jawab". Diandra semakin marah namun Abi menggenggam tangannya. Meski marah, Abi ingin mendengar keseluruhan ceritanya.
"Tapi aku..aku memanfaatkannya lagi. Aku bilang akan bertanggung jawab dan menikahinya asal dia mau tidur denganku lagi". Mata Diandra melebar, kenapa ada manusia bej*t seperti Abram didunia ini.
"Setelah aku puas, aku tidak menepati janjiku padanya, aku meninggalkannya. Aku pergi ke Paris untuk melanjutkan dan mengembangkan bisnisku".
__ADS_1
"B*jingan!!". Geram Diandra
"Ya, aku memang b*jingan, Di. Aku tidak tahu jika perbuatanku membuatnya hamil". Abram menunduk penuh penyesalan.
"Aku kira, Dea mengandung anak Abi. Tapi..."
"Ternyata suamimu tak pernah menyentuhnya". Abram semakin tertunduk.
"Aku minta maaf, aku sangat menyesalinya". Ucapan Abram terdengar tulus, namun bagi Diandra itu semua tak lebih dari pembelaan diri atas sikap pengecutnya.
"Laki-laki b*jingan!!!". Teriak Diandra yang langsung maju menyerang Abram yang terlihat pasrah menerima pukulan dan tamparan Diandra.
"Sayang tenanglah..aku mohon". Abi menarik Diandra dan mendekapnya. Sementara Abram mengusap sudut bibirnya yang terasa perih.
"Bagaimana aku bisa tenang mas? B*jingan ini..b*jingan ini yang sudah menghancurkan keluarga kita!!". Diandra benar-benar tidak bisa mengontrol amarahnya.
"Gimana?? Gimana bisa dia hidup tenang sementara kakak menderita mas". Diandra menangis histeris.
"Kamu dan kakakku menerima kebencianku begitu lama atas ulah manusia tak berhati seperti dia". Diandra menatap tajam Abram yang menunduk.
"Kakak pasti sangat menderita. Memendam semua sendirian. Dia pasti takut".
"Dan aku? Aku justru membencinya sepenuh hati karena ulah b*jingan ini!!" Diandra terisak dalam pelukan Abi.
"Aku kira kalian menjalani rumah tangga seperi umumnya. Karena kamu diam saja saat Dea hamil". Kini Abi yang terdiam berpikir. Selama ini ia memang tak menyentuh Dea. Dea juga tidak pernah ingin disentuh olehnya. Tapi mengapa ia begitu bodoh, tidak berpikir mengapa Dea bisa hamil sedangkan mereka tidak pernah berhubungan. Kini ia mendapat jawaban, saat semua sudah terlambat.
"Kenapa manusia tak berhati sepertimu hidup!! Kenapa bukan kakakku saja!!". Teriakan Diandra terdengar memenuhi seluruh penjuru rumah.
"Maafkan aku.." Abram hanya terus meminta maaf, ia tahu kesalahannya bahkan tak pantas mendapatkan maaf.
"Mama.." Diandra menoleh, ditengah tangga sudah ada Gaara dan Baim yang menatapnya khawatir.
"Mama.." Seru keduanya menghambur memeluk Diandra.
Awalnya Abram tidak mengenali anak Dea, namun saat keduanya mengangkat wajahnya, ia langsung bisa mengenali yang mana putranya.
"Mama kenapa?". Tanya Gaara menghapus air mata ibunya.
"Ada apa ma? Siapa yang buat mama nangis?". Timpal Baim
Kedua anak itu kemudian mengalihkan pandangannya pada lelaki asing yang baru pertama ini mereka lihat.
"Jangan ganggu mama kami. Jangan pernah, atau anda akan berurusan dengan kami". Gaara menatap tajam pada lelaki asing itu.
"Gaara.." Lirih Abram
"Pergilah. Aku tidak mau sampai menjadi pembunuh didepan anak-anakku. Dan lupakan niatmu untuk mengambil apa yang bukan milikmu". Suara Abi terdengar rendah namun penuh penekanan. Sedari tadi ia sudah menahan amarahnya mengetahui kenyataan gila ini. Ia tak mau semakin gila dan lepas kendali didepan istri dan anak-anaknya.
•••***•••
Oke deh akhirnya 3bab juga, aku juga udah
gemes mau nulis soalnya😂😂
Jangan bilang nggak masuk akal ya, anggep aja masuk akal lah pokoknya ya😂😂othornya maksa pokoknya😄😄✌🏻
Jangan bosen-bosen ya bacanya..
__ADS_1