
"Berjanjilah". Dea menatap Abi dengan penuh permohonan.
" Mintalah hal lain..tapi jangan itu. Apa kamu tidak berpikir jika itu sangat jahat De. Luka yang kita torehkan saja mungkin tidak akan pernah bisa sembuh.." Abi menghela nafas panjang.
"apalagi untuk meminta hal yang kamu katakan..itu pasti sangat melukai hatinya. Jadi ku mohon.."
"Justru karena luka itu berasal dari kita. Maka aku mohon sembuhkan luka adikku..hanya kamu yang bisa". Potong Dea cepat.
"Aku tau kamu masih sangat mencintai Diandra.." Abi bungkam, karena pada nyatanya dia memang masih mencintai Diandra.
"Maafkan aku Bi..seandainya malam itu aku tidak pergi ke acara itu. Pasti kamu sudah bahagia bersama Diandra.." Deanita kembali terisak mengingat kesalahannya, sedangkan Abi tak punya pilihan lain selain duduk disampin Deanita dan mencoba menenangkannya.
"Kalian tidak harus tersiksa dengan keadaan ini..ini semua kesalahanku".
" Cukup De..semua sudah terjadi. Aku juga bersalah atas kejadian itu. Jadi mari kita lupakan". Tangis Deanita semakin pecah.
"Sekarang fokuslah pada anak ini. Dia butuh kekuatanmu". Abi mengelus perut buncit Deanita.
" Berjanjilah.. " Abi menggeleng. Dirinya tidak bisa menjanjikan hal yang dirinya sendiri tidak yakin mampu.
"Aku akan berusaha menemukannya..tapi aku tidak berjanji bisa menikahinya apalagi memaksa Diandra menjadi ibu untuk anak kita. Karena aku yakin kamu akan baik-baik saja. Sekarang istirahatlah..aku akan keluar sebentar". Abi membenarkan selimut Deanita dan hendak berlalu meninggalkan Deanita karena kedua orang tua dan mertuanya sudah datang, bahkan mbok Tun ikut menengok anak majikannya itu.
" Sebentar Bi.." Abi kembali menghentikan langkahnya.
"Jika nanti anakku lahir..aku ingin Diandra yang memberikannya nama". Semua orang langsung menatap Dea.
" Jangan meminta hal yang mustahil De". Abi benar-benar dibuat tak percaya dengan permintaan Dea.
"Apa yang kamu katakan nak". Mama Dita sama terkejutnya dengan semua orang.
" Menemukannya saja terasa mustahil De..jangan mempersulit keadaan". Mama Herman ikut menasehati.
"Aku hanya meminta itu ma, pa. Berjanjilah padaku jika tidak ada yang boleh memberi nama pada anak ini selain Diandra". Abi menggeleng tak percaya mendengar keegoisan istrinya.
" Aku keluar". Abi pergi untuk menenangkan dirinya. Ia masih tidak mengerti jalan pikiran Deanita.
Abi berdiam diri di taman rumah sakit, entah sudah berapa lama dirinya disana. Ia tengah melamun hingga ponselnya berbunyi dan membuatnya tersadar dari lamunannya tentang Diandra.
" Mama Dita?". Gumam Abi
"Assalamualaikum ma.."
__ADS_1
"------------" Mata Abi melebar mendengar kabar yang diberikan mama Dita.
"Aku kesana ma". Abi mematikan sambungan telepon dan bergegas kembali kerumah sakit.
" Aku mohon bertahan De..kita akan sama-sama berjuang untuk mendapat maaf dari Diandra ". Batin Abi sambil terus berlari.
Baru saja mama Dita mengabari Abi jika kondisi Dea tiba-tiba menurun hingga mengharuskan bayi dalam kandungannya dikeluarkan sekarang juga. Akhirnya keluarga menyetujui untuk dilakukan tindakan operasi.
Nafas Abi tersengal, ia terus berlari untuk mencapai ruang operasi. Dan seluruh keluarganya sudah ada disana.
Abi melihat mama dan mama mertuanya sedang menangis dipelukan suaminya masing-masing. Hal ini sudah dikatakan dokter sejak pertama kali mengetahui Deanita hamil, namun Dea bersikukuh untuk mempertahankan kandungannya.
" Ma.." Mama Dita dan mama Ana menoleh.
Bersamaan dengan itu ruang operasi terbuka dan menampakkan seorang dokter yang keluar dari sana diikuti seorang perawat yang mendorong box berisi seorang bayi.
"Bagaimana kondisi ibunya dok??". Tanya papa Herman dengan suara parau.
" Masih ditangani oleh dokter kandungan pak..harap bersabar". Jelas dokter membuat semua orang terdiam.
"Ayah bayinya yang mana?". Dokyer menatap semua orang bergantian.
" Abi..nak!". Papa Ihsan mencoba menyadarkan Abi yang sejak tadi fokus menatap box berisi anaknya itu.
" Dia ayahnya dok.." Papa Ihsan menepuk pundak anaknya beberapa kali.
"Silahkan ikut suster pak..bapak bisa mengadzani putranya". Dokter tersenyum ramah dijawab anggukan kepala oleh Abi.
Saat ini semua orang dilanda perasaan bahagia yang berbalut kesedihan. Mereka bahagia karena kehadiran anggota keluarga baru yang sehat dan sempurna, namun mereka juga diliputi kesedihan lantaran nasib Dea masih belum diketahui.
Selesai mengadzani putranya, Abi kembali ke ruang operasi. Disana seorang dokter tengah memberi penjelasan yang sepertinya sesuatu hal yang tidak baik.
" Saya sudah menyampaikan hal ini sejak awal kehamilan bu Dea. Namun beliau tetap bersikukuh mempertahankan kehamilannya. Ini yang saya takutkan.."
"Bagaimana keadaan istri saya dok?". Tanya Abi menyela penjelasan Dokter.
Sang dokter hanya menggeleng menjawab pertanyaan Abi.
" Papa...Dea pa". Mama Dita menangis histeris.
"Saat ini bu Dea hanya bertahan karena alat-alat medis yang kami pasangkan".
__ADS_1
" Maaf..kami tidak bisa melakukan lebih. Kami akan melepasnya saat pihak keluarga sudah mengizinkannya. Saya permisi". Setelah kepergian dokter, semua orang terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Satu minggu berlalu tanpa perkembangan apapun pada tubuh Dea. Bahkan Abi membawa putra mereka untuk bertemu Dea diruang ICU, namun tak ada respon apapun dari istrinya itu.
Setelah berunding dengan seluruh keluarga, akhirnya dengan berat hati mereka mengikhlaskan kepergian Dea untuk selama-lamanya. Mereka takut menyiksa Dea jika mereka egois dan terus membiarkan alat-alat itu menempel pada tubuh Dea yang semakin kurus kering.
flashback off
Abi menggeleng kan kepalanya beberapa kali. Tanpa terasa cairan bening itu luruh membasahi kedua pipinya.
"Ah..kenapa aku jadi cengeng begini". Abi tersenyum kecut menghapus air matanya.
" kuat Bi..kamu harus bisa mendapat maaf dari Diandra ". Abi mencoba mensugesti dirinya bahwa semua akan baik-baik saja nantinya.
Abi melirik jam yang ada dipergelangan tangannya. Sudah hampir magrib, rupanya sudah lama dirinya menghabiskan waktu untuk melamun dan mengenang masa lalu.
Abi berjalan mendekati kopernya, membuka dan mencari pakaian yang pantas untuk ia pakai mengantar Diandra ke kediaman kedua orang tua Naya yang juga merupakan rekan bisnisnya.
Abi memutuskan membersihkan dirinya dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ia berdoa dengan sangat khusu'. Memohon pada sang pemilik alam semesta untuk menguatkan dirinya dan melembutkan kembali hati istrinya untuk sudi memaafkan segala kesalahannya yang terdahulu.
Waktu menunjukkan pukul 18.30 saat Abi selesai bersiap. Kemeja berwarna navy dengan celana panjang hitam sudah membalut tubuhnya dengan sempurna. Abi bercermin sekali lagi untuk memastikan penampilannya sebelum menemui Diandra.
Setelah dirasa pas, Abi memutuskan menghampiri Diandra ke kamarnya. Mungkin istrinya butuh bantuannya
Abi mengetuk pintu beberapa kali hingga akhirnya pintu kamar itu terbuka. Menampakkan Diandra yang masih belum siap dan Gaara yang ada didalam gendongannya.
" Belum siap?". Tanya Abi dijawab gelengan kepala oleh Diandra.
"Gaara sedikit rewel". Jawab Diandra pelan.
" Kemarikan..kamu bersiaplah". Abi mengulurkan tangannya untuk mengambil alih tubuh Gaara yang rupanya sudah rapi.
"Kamu menyulitkan mama hm??". Abi langsung mendaratkan ciuman bertubi-tubi diwajah putranya.
" Aku akan bersiap". Abi mengangguk dan menunggu Diandra sambil bermain dengan Gaara diatas ranjang yang ditempati Diandra.
"Bantalnya aja wangi gini ya.." bisik Abi pada Gaara saat mereka tiduran diatas kasur.
"Ayo.." Abi melirik Diandra yang sudah siap dengan baju berwarna senada dengan dirinya. Sesungging senyum menghiasi bibir seksinya. Meski ia yakin Diandra tak sengaja memakai pakaian dengan warna senada dengan kemeja dan celananya, namun biarlah ia merasa senang sendiri.
"Ayo sayang..kita kerumah aunty cerewet". Diandra langsung mengambil tubuh Gaara tanpa memperdulikan Abi yang terus menatapnya.
__ADS_1
" Kamu mau tidur disitu?". Abi tersadar dan segera menyusul Diandra. Ia mengambil alih tas kecil yang berisi pakaian ganti dan diapers milik anaknya.
"Seandainya kamu tahu Di.." Batin Abi menatap punggung Diandra yang ada didepannya.