
Seorang lelaki tampan tampak uring-uringan. Semua pekerjaan karyawannya seolah tidak ada satupun yang benar menurutnya.
"Apa kamu sudah tidak bisa bekerja?!". Tanya Gaara menatap tajam asistennya yang terlihat kebingungan karena sama sekali tidak merasa melakukan kesalahan.
"Maaf pak?". Gaara melempar berkas yang baru saja diberikan asistennya itu.
"Lihat baik-baik apa ada kesalahan!". Sentak Gaara.
Asisten Gaara yang merangkap sebagai sekretarisnya itu mulai meneliti berkas yang sebelumnya juga sudah ia teliti.
Sama seperti sebelumnya, ia sama sekali tidak menemukan kesalahan apapun pada berkas itu. Lagipula itu hanya berkas karyawan magang yang harus Gaara tahu.
"Lihat baik-baik!". Sentak Gaara saat melihat asistennya tak kunjung menemukan kesalahan yang membuatnya murka.
"Maaf pak..saya benar-benar tidak menemukannya". Asisten Gaara tertunduk dalam. Ia sudah menyiapkan jantung dan telinganya untuk mendengar kembali bentakan Gaara.
"Kau benar-benar.." Geram Gaara menatap tajam asistennya.
Asisten Gaara tersentak kaget saat berkas ditangannya kembali direbut oleh Gaara.
"Lihat ini!". Gaara menunjuk bulan yang tertera di berkas tersebut.
"Menulis nama bulan saja kau tidak becus!".
"Maaf pak". Ucap asisten Gaara mengalah karena tidak ingin terkena amukan yang lebih parah lagi.
"Astaga..ini hanya kurang satu huruf saja. Kenapa dia marah-marah seolah aku merugikan perusahaannya milyaran". Gerutu Aasisten Gaara, namun tentu hanya mampu ia ucapkan dalam hati.
"Lagipula ada apa dengannya sebenarnya? Sudah beberapa hari dia marah-marah tidak jelas padaku. Kemana pula pawangnya itu". Imbuhnya lagi yang baru menyadari jika sudah beberapa hari ini Nala tidak pernah datang ke kantor Gaara.
"Keluar sekarang!". Perintah Gaara yang langsung dituruti oleh asistennya.
"Astaga..bisa mati muda aku kalo setiap hari harus berhadapan dengannya". Gumam Nick, asisten Gaara yang baru saja keluar dari ruangan bosnya.
Nick segera menjauh dari ruangan bosnya saat mendengar Gaara berteriak. Entah apa yang sedang menjadi beban pikiran lelaki itu.
.
"Abang!!". Gaara yang sedang fokus dengan pekerjaannya tersentak kaget saat pintu ruangannya tiba-tiba terbuka dengan kasar.
"Hah". Gaara menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Pelan-pelan, La". Gerutu Gaara.
"Abang apain Nala?!." Tanya Kara dengan wajah memerah.
"Nggak gue apa-apain. Emang gue apain?". Gaara balik bertanya dengan wajah polos tanpa dosa hingga membuat Kara semakin kesal.
"ABAAANG!!!". Teriak Kara membuat Gaara menghentikan aktivitasnya dan menutup telinganya.
"Apaan sih santen.." Tanya Gaara lagi
"Abang apain sih si kuman ampe dia pindah?!". Gerakan tangan Gaara seketika terhenti. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga mendengar penuturan adiknya.
"P-pergi? Maksud lo?". Tanya Gaara takut-takut. Sudah hampir satu minggu Nala tidak menghubungi dirinya, sekedar mengirim foto atau pesan yang lain. Gadis itu benar-benar memenuhi janjinya untuk tidak mengganggu Gaara apalagi menampakkan diri didepan Gaara.
Kara tersenyum miring, menatap penuh kekesalan pada sang kakak yang saat ini wajahnya sudah memucat.
"Gue kecewa bang ama elo". Kara yang sudah terlanjur kesal hendak meninggalkan ruangan sang kakak. Namun Gaara lebih dulu mencekal tangannya.
"Pergi kemana? Nala pergi kemana?!". Tanya Gaara mendesak.
"Bukan urusan lo! Itu kan yang selalu lo bilang, apapun tentang Nala bukan urusan lo". Kara menyentak tangan Gaara. Namun karena cekalan Gaara kuat, tangan Kara tak terlepas.
"Jelasin dulu ke gue, apa maksud lo bilang Nala pergi". Pertanyaan Gaara membuat Kara tersenyum sinis.
"Apa untungnya buat lo bang? Lagian mau gue jelasin juga, sahabat gue udah terlanjur pergi jauh dari gue". Wajah Kara berubah sendu.
Dirinya baru saja kembali mengantarkan Nala ke bandara. Namun gadis itu tak mau memberitahu Kara kemana tujuannya dan sampai kapan akan pergi dari kota kelahiran mereka.
Bahkan Nala memaksa mengusirnya sebelum ada panggilan penerbangan miliknya. Semua ia lakukan hanya supaya Kara tak mengetahui kemana perginya dirinya.
Melihat wajah Kara berubah sendu, Gaara yakin jika apa yang Kara sampaikan adalah benar adanya. Pikirannya kalut, memikirkan kemana perginya gadis yang tanpa ia sadari sudah mengisi hari-harinya selama dua tahun belakangan.
"Kemana dia, Ra?". Tanya Gaara mencengkeram kedua lengan Kara dengan kencang.
"Lo pikir dia bakal kasih tau kemana dia pergi?!". Sinis Kara membuat cengkeraman dikedua lengannya mengendur.
"Dia pergi pasti gara-gara elo bang". Gaara menatap adiknya.
"Ini yang terbaik buat dia, Ra. Gue nggak mau nyakitin dia karna gue belom bisa lupain masa lalu". Lirih Gaara membuat senyuman Kara semakin sinis.
"Ya. Jelas ini yang terbaik buat dia. Gue juga dukung dia pergi dari laki-laki yang gagal move on". Sengit Kara.
__ADS_1
Ya, Kara mendukung keputusan sahabatnya. Meskipun ia berharap sahabatnya akan bisa menjadi saudara iparnya, namun ia tak ingin sahabatnya lebih tersakiti jika terus berada dekat abang nya.
"Gue harap lo nggak akan pernah nyesel bang. Karna gue yakin, nggak akan ada yang bisa cintai elo lebih dari Nala. Karna dicintai tu lebih membahagiakan daripada mencintai". Kara melepaskan tangan Gaara dan berlalu meninggalkan Gaara yang mematung.
"Gue harap lo bisa belajar dari Nala, bang. Ngelepasin cintanya meskipun sakit. Karena akan lebih sakit kalau mempertahankan". Gaara menatap punggung adiknya yang semakin menjauh hingga kini tak terlihat lagi karena pintu ruangannya kembali tertutup.
"Aaaaaakh...!!!" Setelah beberapa saat, Kara tersenyum puas dibalik pintu ruangan kakaknya ketika mendengar teriakan frustasi kakaknya. Sungguh menyenangkan bisa membalaskan sakit hati sahabatnya. Meskipun harus membuat kakaknya frustasi.
"Selamat berjuang bang". Gumam Kara tersenyum bahagia dan melangkahkan kakinya dengan ringan.
"Hai Nick..jagain bos lo ya. Takut gantung diri.." Nick mengerutkan alisnya mendengar pesan yang disampaikan Kara.
"Ati-ati lo Nick. Makin galak tu orang kalo galau". Goda Kara yang membuat Nick kesulitan hanya untuk sekedar menelan ludahnya.
"Sekarang apalagi?". Gumam Nick menatap punggung Kara yang semakin menjauh dan kemudian menatap pintu ruangan bosnya. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri, dan hawa disekitarnya terasa sangat dingin. Ia bergidik ngeri kemudian memilih kembali ke ruangannya yang berada tepat didepan ruangan besar bos nya.
"Lo bener-bener pergi, La?". Gaara tertawa hambar.
"Harusnya dari dulu lo pergi. Kenapa baru sekarang?". Gaara terus berbicara meski tak akan mendapat jawaban dari siapapun.
"Harusnya gue kejar elo waktu itu, La. Harusnya gue bisa cegah kepergian lo". Gaara menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja nya.
"Gue cuma takut nyakitin elo, La. Gue takut bayang-bayang itu bakal selalu ngikutin gue dan akhirnya kita sama-sama terluka lebih dalam". Gaara menatap langit-langit ruang kerja nya. Kemudian memejamkan mata, dan sialnya, wajah gadis yang sudah satu minggu ini tak ia lihat yang muncul pertama kali saat ia memejamkan mata.
"Si al!!". Umpat Gaara kesal.
Satu minggu ini ia sudah merasa hidupnya begitu hampa. Tak ada lagi gadis cerewet yang datang ke kantornya dan membawakan sarapan atau makan siang untuknya. Tak ada lagi senyum cerah dan sikap berani gadis itu yang selalu mengecup pipi dan bibirnya setiap kali bertemu.
Kini Gaara benar-benar kehilangan sosok yang baru ia sadari telah memberi warna dihidupnya selama dua tahun ini.
Mungkinkah Gaara merindukan Nala? Atau mungkin mulai mencintai gadis itu? Atau hanya sekedar perasaan bersalahnya karena selama ini selalu menorehkan luka dihati gadis cantik itu?
...€€€\~\~€€€...
Mere tah si abang, beneran ditinggalin kan jadinya, meuni puas ngetawain si kang gara-gara😂😂
Oke kang gara-gara, selamat menikmati awal kesengsaraan anda😁😅 Aku akan dengan senang hati membuatmu berjuang ampe jungkir balik, koprol ampe kayang sekalian😂🤣
Lanjut jangan nih???🤔
Jangan lupa tampol like ama komennya ya..votenya juga mau atuh lah😁
__ADS_1