
Baim memijat pangkal hidungnya. Saat ini ia sudah ada di cafe miliknya setelah tadi pulang dari rumah orang tua angkatnya.
Kondisi cafe nya sudah kembali stabil setelah Baim mendapatkan kembali semua karyawan yang dicuri paksa oleh seseorang beberapa waktu lalu.
Meski sudah tahu akan sulit meluluhkan hati kedua orang tuanya, tetap saja hatinya terasa sakit melihat tatapan kecewa orang terkasihnya.
"Aku benar-benar minta maaf, ma, pa.." Tak ada kata lain yang mampu terucap dari bibirnya selain permintaan maaf.
Bukan menyesal karena mencintai Kara dan ingin memperjuangkannya. Namun perasaan bersalah karena membuat kedua orang tuanya kecewa dengan dirinya.
"Aku sudah pantas kan untuk Kara?". Pertanyaan itu ia tujukan untuk dirinya sendiri.
Ponselnya berdering, nama sang kekasih terpampang memenuhi layar ponselnya. Membuat dua sudut bibirnya terangkat sempurna.
"Assalamualaikum.." Senyumnya semakin mengembang sempurna saat mendengar suara kekasih hatinya.
"Hmm..kakak juga kangen banget sama kamu". Baim terkekeh sendiri setelah mengatakan hal itu.
Cinta memang se gila itu. Bahkan dulu ia tidak pernah terpikir akan bisa se alay ini pada seorang perempuan. Tapi dengan Kara, ia seolah tak peduli dengan penilaian orang lain tentang dirinya. Yang terpenting baginya adalah kebahagiaan gadis yang sudah mampu memenuhi seluruh ruang di hatinya.
"Nanti kakak jemput ya..sekalian kakak mau coba ngomong lagi sama papa sama mama.." Senyum di wajah lelaki itu tak luntur mendengar suara yang menenangkan baginya.
"Kamu nggak perlu khawatirin apapun sayang. Kakak selalu baik-baik aja selagi kamu bahagia sama kakak". Baim tahu jika pasti kekasihnya sedang bersedih saat ini.
"Kakak tutup dulu ya..belajar yang bener. Jangan mikirin hal lain dulu selain pelajaran. Serahin ke kakak sisanya.."
"Iya sayang..assalamualaikum". Baim menutup panggilan teleponnya. Menatap layar yang sudah menghitam sepenuhnya.
Dirinya selalu merasa memiliki tambahan kekuatan setiap mendengar suara gadis cantik itu.
"Aku bisa. Aku pasti bisa meluluhkan hati papa dan mama. Yakin! Lo harus yakin Baim! Lo pasti bisa dan lo harus bisa!!". Baim kembali memecut semangat dan tekadnya.
Ia kembali menyibukkan dirinya dengan pembukuan cafe nya yang beberapa waktu lalu carut marut karena ulah orang yang cukup ia kenal itu.
__ADS_1
Sementara dilain tempat, Abi dan Diandra sedang duduk di kursi ruang keluarga. Hanya ada mereka berdua.
"Kamu ngapain sih dari tadi liatin hp mulu". Keluh Abi melihat Diandra terus memainkan ponselnya. Abi sengaja tidak masuk kantor agar bisa bermesraan dengan istrinya di rumah. Malah kini ditinggal sibuk sendiri dengn ponselnya.
"Gimana ya mas?", Alis Abi hampir menyatu memdengar pertanyaan Diandra yang sangat tidak jelas menurutnya.
"Gimana?? Yang gimana apanya sayang? Jangan bikin bingung deh. Mas udah pusing kalo dikantor, masa dirumah juga pusing denger pertanyaan kamu". Diandra mencebik kesal. Dia hanya berucap tiga kata dan suaminya membalas begitu panjang.
"Nanya nya yang jelas sayang..." Abi memasang mode lembut saat melihat wajah istrinya menggelap. Sudah pasti akan ada petir tanpa hujan jika tidak segera ditanggulangi.
"Iya gimana..aku bingung mas.." Nada rengekan yang selalu bisa membuat Abi senang. Ia tahu apa yang dikhawatirkan istrinya. Karena sejujurnya ia juga mengkhawatirkan hal yang sama.
"Segera ambil keputusan sayang. Aku ikut aja sih..toh anak itu sepertinya juga bisa diandalkan". Diandra mengangguk. Kemudian mengirimkan pesan pada seseorang.
--••--
Baim sudah berdiri disamping mobilnya. Menunggu kekasih hatinya keluar dari gerbang sekolah. Tak butuh waktu lama, gadis yang ia tunggu sudah berlari ke arahnya dengan senyum cerah yang selalu berhasil membuat hatinya menghangat.
"Kakak udah lama?". Tanya Kara setelah mencium punggung tangan Baim.
Mungkin terdengar egois, namun Kara kecewa dengan sikap papa dan mama nya yang terus menolak hubungannya dan Baim.
"Aku mau jalan-jalan dulu aja sama kakak. Pusing pelajarannya.." Kilah Kara yang tak ingin Baim tahu bahwa dirinya enggan pulang karena kedua orang tuanya.
"Siap tuan putri.." Kara tersenyum dan segera menggandeng lengan kekar Baim. Kara sangat suka bergelayut manja pada lengan yang selalu memberinya ketenangan dan perlindungan itu. Sangat-sangat nyaman baginya.
"Ke apartemen dulu ya..kamu harus ganti baju". Kara mengangguk patuh dengan perintah kekasihnya.
Siang sore itu keduanya menghbiskan waktu berdua. Melupakan sejenak permasalahan mereka sebelum malam nanti kembali bertemu dengan kedua orang tua mereka.
Waktu berjalan tanpa terasa saat kita bersama dengan orang yang kita cintai. Pun seperti Baim dan Kara. Saat ini keduanya sudah ada didalam mobil dan siap pulang kerumah Abi.
"Kara tidur di apartemen kakak aja ya.." Baim tersenyum dan mencubit gemas hidung mancung kekasihnya itu.
__ADS_1
"Jangan ngaco. Yang ada papa sama mama makin nggak restuin hubungan kita sayang.." Kara mende sah lelah. Kenapa sesulit ini meluluhkan hati papa dan mama nya.
"Aku males ketemu papa sama mama kak.."
"Hush..nggak boleh kaya gitu, Ra. Mereka orang tua kita..kita juga harus coba pahami posisi mereka sayang. Kalau kita aja yang ngerasain butuh waktu buat saling terbuka sama perasaan kita..coba bayangin gimana perasaan mama sama papa pas tahu hubungan kita?". Kara diam, mendengarkan semua ucapan kekasihnya dengan seksama.
"Sulit kan?". Kara mengangguk. Ia tahu pasti kedua orang tuanya sangat terkejut dengan pengakuannya dan Baim.
"Begitu juga sama mama papa sayang..semua ini terlalu mengejutkan buat mereka. Anak-anak mereka tiba-tiba bilang kalau saling mencintai.."
"Jangan pernah membenci apalagi kecewa sama mereka, Ra. Mereka adalah orang-orang paling mulia dan berjasa untuk kita. Kalau bukan karena mama, mungkin kita nggak akan pernah bertemu". Kara segera memeluk Baim. Inilah alasannya begitu jatuh hati pada Baim. Lelaki itu benar-benar dewasa dan baik hati. Dia bagaikan malaikat didunia yang begitu kejam ini.
Kara tak habis pikir, bagaimana bisa Baim masih berpikir begitu tentang papa dan mama nya bahkan setelah apa yang kedua orang tuanya lakukan pada Baim.
"Aku tau kakak terluka..kakak nggak perlu pura-pura kuat". Baim justru terkekeh mendengar ucapan kekasihnya.
"Kakak baik-baik aja sayang. Emang sakit sih, apalagi lihat mama sama papa kecewa sama kakak. Tapi kakak nggak pernah nyesel jatuh cinta sama kamu. Kakak anggap ini sebagai ujian cinta kita..mama dan papa asalah perantara yang akan membuat hubungan kita semakin kuat ke depannya". Kara semakin membenamkan wajahnya di dada ternyaman itu.
Ia sangat bahagia dan merasa sangat beruntung bisa dicintai lelaki se sempurna Baim. Lelaki hebat yang penyabar dan sangat lembut itu adalah miliknya. Milik Lengkara.
"Kita pulang sekarang ya.." Kara menghela nafas panjang. Enggan sekali rasanya pulang dan kembali melihat sikap acuh kedua orang tuanya pada Baim.
"Nggak boleh gitu ah.." Baim menoel hidung Kara.
"Kakak juga harus penuhi undangan itu sayang.." Ucap Baim pelan membuat Kara menatapnya yang justru tersenyum sambil kemudian mengecup lembut keningnya.
...---¥¥¥---...
Okee, sudah 3bab ya manteman..
harap bersabar..tangan othor tremor nih nulisnya😂😂😂
Mari kita doakan yang terbaik untuk santen dan kakak Baim yang sangat sholeh itu..
__ADS_1
Pokoknya yang sabar aja ya..bab abis ini dikasih kesegaran lah ya. Aku juga capek dimarahin terus😂