Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
alasan


__ADS_3

Semua sudah kembali duduk di ruang keluarga. Gaara dan Kara menatap kedua orang tuanya meminta penjelasan.


"Kalian jangan kaya gini dong". Baim menarik pelan tangan Gaara dan Kara namun keduanya masih terus menatap kedua orang tuanya penuh permusuhan.


Sementara Raffa hanya tersenyum melihat kedua saudara nya sedang menyidang kedua orang tuanya.


"Apa maksud mama sama papa?". Tanya Gaara menatap tajam papa dan mama nya.


"Apa? Memang apa?". Tanya Diandra tanpa rasa bersalah.


"Ma!". Sentak kedua anak itu bersamaan.


"Kaaa! Gaara!". Gantian Baim yang memanggil keduanya keras.


"Kami cuma bela kakak". Ucap Kara tak mau kalah.


"Paling tidak Dengarkan dulu apa yang mama dan papa katakan! Kalian nggak boleh melampaui batasan kalian sebagai anak! Mereka tetap orang tua kita yang wajib kita hormati". Omel Baim menatap Gaara dan Kara bergantian. Sementara Diandra tersenyum menatap Baim. Anaknya itu memang selalu bisa diandalkan dalam segala hal.


"Tapi ini kelewatan! Kenapa harus ada pembatalan adopsi". Gaara masih tak terima. Hanya karena saling mencintai, Baim di coret dari daftar nama keluarga Argantara.


"Lalu apa maumu bang?". Tanya Abi santai. Tak sedikitpun terprovokasi dengan kemarahan kedua anaknya.


"Apalagi? Batalin semua yang mama sama papa lakuin". Raffa sejak tadi hanya menjadi pendengar yang baik sambil bermain game.


"Aku setuju sama abang. Mama sama papa nggak harus gini. Emang aku salah kalo cinta sama kakak?". Pertanyaan Kara berhasil membuat sudut bibir kedua orang tuanya terangkat, pun dengan Baim yang tersenyum melihat Kara.


"Yakin?". Tanya Abi dan Diandra serempak dan dijawab anggukan kepala oleh Gaara dan Kara.


"Oke. Dia sendiri yang nolak ya kak.." Diandra menatap Baim penuh arti membuat Gaara dan Kara saling menatap bingung.


"Apa maksud mama?". Tanya Gaara penasaran.


"Mama dan papa akan masukin nama Baim lagi ke daftar nama anggota keluarga kita. Tapi ya..."


"Tapi apa?". Tanya Gaara dan Kara kompak.


"Kara sama Baim harus bener-bener putus". Jawab Abi santai membuat Gaara dan Kara kembali emosi.


"Papa!". Pekik keduanya bersamaan.


Baim menghela nafas panjang. Kemana kecerdasan Kara dan Gaara selama ini. Mengapa tidak mengerti juga apa maksud kedua orang tuanya sampai membatalkan pengadopsian atas dirinya.


"Lo berdua teriak-teriak mulu. Pinter tu makanya diratain ke semua aspek". Lelaki yang sejak tadi acuh dan sibuk dengan game itu akhirnya angkat bicara.

__ADS_1


"Maksud lo?". Raffa mendengus melihat kekompakan abang dan saudara kembarnya.


"Kalo kakak masih jadi anak papa sama mama, ya lo berdua kaga bisa bersatu!". Raffa yang gemas langsung menoyor kepala Kara yang saat ini justru melongo dan diam. Pun dengan Gaara yang masih berusaha mencerna ucapan adiknya.


"Lah? Loading mereka.." Cibir Raffa melihat kedua saudaranya tak bergerak maupun bersuara.


Baim menatap Gaara dan Kara, kemudian menatap Abi dan Diandra yang tersenyum geli melihat reaksi Gaara dan Kara. Baim ikut tersenyum, ingatannya kembali pada beberapa saat lalu ketika dirinya menyusul Abi dan Diandra ke dalam ruang kerja sang papa.


flashback on


Baim memasuki ruang kerja sang papa. Perasaannya tak menentu, antara takut dan gugup.


"Masuk kak.." Suara lembut sang mama membuatnya berani mengangkat wajah. Ia menatap kedua orang tuanya yang kini duduk berdampingan di sofa dalam ruangan kerja itu.


"Duduklah.." Titah Abi membuat Baim duduk dihadapan keduanya.


"Sebelumnya Baim minta maaf pa, ma. Kakak tahu ini pasti sangat mengejutkan dan melukai kalian". Baim kembali menghela nafas, sementara Diandra dan Abi tak ada sedikitpun niatan untuk memotong ucapan anaknya.


"Kakak sangat menyesal..menyesal karena membuat papa dan mama kecewa. Tapi kakak sama sekali tidak menyesal mencintai dan memperjuangkan Kara". Diandra dan Abi hanya saling melirik dan tersenyum.


"Kakak tahu, Kara adalah kesayangan kita semua. Pasti mama dan papa memikirkan bagaimana nasib Kara nantinya. Dan kakak sudah memikirkannya..mungkin belum sebesar perusahaan papa..tapi kakak sudah merintis perusahaan kecil. Kakak juga sudah membangun cafe..omzet nya memang tidaklah sebesar itu. Tapi Baim akan terus mengembangkan semuanya, demi Kara". Abi dan Diandra masih diam. Ini kali pertamanya Baim buka suara soal usaha yang selama ini ia jalankan.


Tanpa Baim tahu, Abi dan Diandra sudah sangat mengetahui usaha cafe milik sang anak. Tapi ada yang mengganjal di hati keduanya. Perusahaan? Apa Abi dan Diandra melewatkan sesuatu?


Tanpa mengatakan apapun. Abi mendorong sebuah map ke depan Baim.


"Apa ini pa?". Tanya Baim bingung.


"Bukalah". Perintah Abi masih dengan wajah datar.


Perlahan, dengan tangan gemetar. Baim membuka map itu dan mengeluarkan isinya. Membacanya perlahan dan matanya semakin melebar membaca kata demi kata dari tinta yang tergores diatas kertas itu.


"A-apa ini ma, pa.." Suara Baim bergetar. Matanya sudah berembun menatap kedua orang tuanya yang juga menatapnya.


"K-kakak tahu kakak salah ma, pa. T-tapi.."


"Hanya ini yang bisa kami lakukan". Baim menggeleng tak percaya. Ia membaca sekali lagi surat ditangannya. Surat pembatalan adopsi atas dirinya. Tangannya semakin bergetar dan air mata akhirnya luruh juga saat melihat kapan surat itu dikeluarkan oleh pengadilan.


"Ma..pa.." Lirih Baim menatap Diandra yang rupanya kini juga sudah meneteskan air matanya.


"Maafkan kakak ma.." Baim meletakkan kertas itu dan segera memeluk erat sang mama.


"Maafkan kakak..tolong maafin aku ma.." Baim menangis memeluk sang mama yang juga sesenggukan dipeluk putranya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tega sama mama! Kamu nggak percaya sama mama?!". Pertanyaan Diandra diselingi isak tangis membuat Baim semakin mengeratkan pelukannya.


"Kakak minta maaf.." Lirih Baim saat Diandra memukul pelan punggungnya.


Setelah sama-sama menenangkan diri. Baim yang masih duduk disamping sang mama kembali menatap dua malaikatnya bergantian. Meminta penjelasan tentang semua hal yang masih belum sepenuhnya ia pahami.


"Kamu kira papa melepas kalian begitu saja?". Abi yang paham dengan tatapan Baim membuka suara. Senyum meledek tersungging dibibir Abi.


"Maaf.." Ucap Baim pelan.


"T-tapi surat ini?". Diandra mengelus sayang kepala Baim.


"Mama sudah membatalkan adopsi atas kamu 2tahun lalu. Mama tahu semua ini akan terjadi..jadi mama membatalkan adopsi kamu. Karena mama yakin kalian tidak akan bisa dipisahkan meskipun mama dan papa alasannya. Hanya ini yang bisa mama lakukan". Baim kembali memeluk Diandra.


"Pasti sakit sekali buat mama..kakak minta maaf". Diandra tersenyum lagi krena sejak tadi anaknya terus meminta maaf.


"Tidak ada yang salah dengn perasaan kalian sayang..mama dan papa juga harus minta maaf karena melakukan semua ini.." Baim menggeleng


"Mama sama papa hanya kecewa sama kalian. Karena setelah hampir tiga tahun, kalian tetap diam saja dan merahasiakan hubungan kalian. Itu sangat-sangat menyebalkan! Makanya mama minta bantuan tante Naya sama Arkan. Berharap kalian mau jujur saat mama mengatakan perjodohan itu. Tapi apa? Kalian benar-benar menyebalkan". Diandra sebenarnya kesal setiap mengingat bagaimana anak-anaknya menyembunyikan hubungan asmara mereka. Namun sebisa mungkin, Diandra mencoba memahami ketakutan kedua anaknya itu.


"Bisa-bisanya kalian nggak bilang sama kami". Sama seperti Diandra, Abi pun sama kesalnya.


"Untung papa nggak kelepasan bikin kamu beneran bangkrut". Ucap Abi membuat Baim menegakkan badannya menatap Abi.


"T-tapi bukannya?". Abi tersenyum miring


"Kamu kira Bara?". Baim mengangguk lugu. Ya, Abi mengenal Bara yang kebetulan juga memiliki cafe. Ia bekerjasama dengan Bara untuk membuat cafe Baim oleng, namun rupanya putranya memang bisa dibilang pebisnis handal. Bahkan anak buah Baim yang sengaja dibayar Abi untuk sejenak meninggalkan bosnya bisa dengan mudah kembali pada Baim dan mengembalikan uangnya secara utuh.


"Bara ikut andil. Tapi hanya sebagai topeng untuk mengelabuhimu. Papa kelewat kesal sama kamu". Abi mendengus kesal.


"P-papa tahu.."


"Kamu meremehkan papa, kak. Apapun papa dan mama tahu". Baim kehabisan kata-kata. Namun ada yang papa nya belum tahu tentang bisnisnya.


"Aku rasa nggak semua papa tahu.." Kini giliran Baim yang tersenyum penuh arti.


...---£££---...


Yak yak yak..siapa yang kena prank juga nih???😂😂😂


Tadinya mau dipanjangin ngibulin reader semua..tapi takut beneran ada panci ama santet online datang padaku. Yawes dibuka saja sekarang😅


Doain kuat satu bab lagi yaaa..

__ADS_1


__ADS_2