
"Nginep aja disini. Disini masih ada dua kamar kosong". Nala langsung menatap sang kakak yang dengan mudahnya menawarkan Gaara untuk menginap.
"Sebentar lagi Nick kesini. Aku akan tidur dihotel saja". Sahut Gaara membuat pandangan Nala beralih pada pria itu.
"Kau yakin?". Zayn memastikan dan Gaara mengangguk yakin.
Jen yang duduk disamping Nala hanya menatap ketiganya bergantian. Bingung juga jika harus ikut nimbrung pembicaraan Zayn dan Gaara.
Satu hal yang saat ini ingin Jen sampaikan adalah rasa terimakasihnya pada Gaara yang sudah menyelamatkan Nala dan membungkam mulut-mulut kotor penuh sampah milik teman-temannya.
"Aku akan menyelidiki lebih dalam siapa dalang yang menyebarkan foto-foto itu". Tangan Zayn terkepal kuat. Ia masih tak terima dengan apa yang dialami adiknya akibat ulah seseorang yang menyebarkan foto-foto Nala dan Haikal hingga membuat adiknya tersudut.
Gaara menghela nafas panjang. Ia sudah mengetahui semuanya. Bahkan tentang siapa dalang yang menyebarkan foto itu.
"Aku sudah tau siapa orangnya". Zayn langsung menatap Gaara. Pun dengan Nala dan Jen yang juga terlihat sangat terkejut.
"A-apa maksud abang? B-bukannya itu ulah pak Haikal?", Tanya Nala bergetar.
"Iya. Bukannya itu ulah guru sableng itu?". Timpal Jen yang juga terkejut.
Rasa terkejut keduanya semakin besar saat Gaara menggeleng pelan dengan helaan nafas panjang.
"Siapa?", Tanya Zayn singkat dengan wajah dingin.
"Iya. Siapa orangnya? Biar aku uleg itu orang. Kurangajar, bisa-bisanya nyebar foto yang nimbulin fitnah". Jen jadi emosi sendiri. Ia benar-benar ingin memberi pelajaran pada orang yang sudah menyebarkan foto-foto tak berfaedah itu.
"Nia". Satu kata yang mampu membungkam semua orang. Nala dan Jen bahkan terus menggeleng tak percaya. Terlebih Nala yang juga sudah menganggap Nia sebagai kakaknya sendiri.
Ia benar-benar masih belum mempercayai jika Nia lah dibalik semua kekacauan dan kesusahan yang menimpa dirinya belakangan ini.
"A-abang jangan becanda". Nala tertawa kaku, mencoba menepis segala prasangka yang kini bersarang dikepalanya.
"Aku dan Nick sudah memastikannya". Nala menutup mulutnya. Masih tak percaya jika wanita yang ia anggap sebagai kakak tega melakukan hal ini.
Namun begitu ia juga tidak bisa menyalahkan Nia sepenuhnya. Jika dirinya berada di posisi Nia. Tidak menutup kemungkinan ia akan melakukan hal serupa.
__ADS_1
Tapi selama ini Nia masih begitu baik padanya. Bahkan ia kira Nia tidak mengetahui perihal perasaan Haikal pada dirinya.
"Nia tahu Haikal menyukaimu". Ada nada tak suka ketika Gaara mengucapkannya. Dan itu membuat sudut bibir Zayn sedikit terangkat.
"Dia berpura-pura tidak tahu. Menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan kalian. Terutama kamu yang dianggapnya merebut suami baj*ngannya itu". Kini Jen yang berusaha menyembunyikan senyumnya. Mendengar ucapan Gaara saja, Zayn tahu betul jika lelaki itu begitu cemburu.
"Pak Haikal menyatakan perasaannya. Aku kira dia hanya bercanda". Semua kini berfokus pada Nala. Mereka ingin tahu bagaimana awal dari semua ini.
"Tapi ternyata dia serius. Tapi aku bener-bener nggak punya perasaan apa-apa ke pak Haikal bang", Nala langsung menatap Gaara, hingga membuat hati Gaara menghangat karena Nala mencoba meyakinkan dirinya.
"Aku udah nolak berulang kali. Aku juga udah coba menghindar..tapi dia---" Nala tak melanjutkan ucapannya. Karena ia yakin semua sudah tahu bagaimana kelanjutannya.
"Aku tahu. Aku mempercayaimu". Nala kembali menatap Gaara. Gadis itu tersenyum lega mendengar Gaara mempercayai dirinya.
"Selamat siang". Semua mata tertuju pada sosok lelaki yang baru saja sampai.
"Bagaimana?", Tanya Gaara yang sudah dipahami oleh Nick.
"Semua sudah beres bos. Saya pastikan nama pawang---" Nick terdiam sesaat sementara yang lain dahinya tampak berkerut mendengar kata pawang yang meluncur dari bibir lelaki dingin seperti Nick.
"Ni mulut bisa-bisanya kelepasan. Mikir Nick, cari aman apa engga lo bakal digantung ama si bos". Batin Nick merutuki kecerobohannya yang selalu keceplosan memanggil Nala sebagai pawang bosnya. Beberapa detik kemudian ia teringat sesuatu. Sesuatu yang akan menyelamatkan dirinya.
"Maaf bos. Ada yang ingin bertemu nona Nala. Dia menunggu di luar". Kerutan didahi semua orang semakin nampak jelas.
"Siapa?". Tanya Nala penasaran sekaligus takut.
"Suruh dia masuk". Zayn dan Gaara memberikan perintah yang sama. Mereka melupakan ucapan Nick tentang pawang yang belum sempat dijelaskan.
"Baik bos". Nick menunduk sebentar lalu keluar untuk memanggil seseorang yang katanya ingin bertemu Nala.
Tak lama kemudian Nick kembali masuk. Dibelakangnya ada sosok yang begitu Nala kenal. Pun dengan Zayn yang juga mengenal sosok itu.
"Nia". Gumam Zayn dengan tangan terkepal kuat. Untung ada Jen yang langsung menggenggam tangan kekasihnya dan memberikan senyum penenang.
"Kak Nia.." Lirih Nala dengan mata berkaca-kaca. Dirinya masih ragu dengan ucapan Gaara tentang Nia.
__ADS_1
"Maaf mengganggu.." Suara Nia membuat Nala segera bangkit. Ia mendekat dan membimbing Nia untuk duduk dengannya. Ia tak mau berprasangka buruk pada wanita baik ini.
Sementara Nia, terlihat jelas dari wajahnya jika dirinya merasa bersalah. Apalagi melihat bagaimana Nala masih memperlakukannya dengan baik.
"Aku bikinin minum dulu ya kak". Saat Nala hendak bangkit, Nia menahan tangan Nala dan menggeleng pelan.
Nia hanya melirik sekilas dua lelaki yang menghunuskan tatapan setajam pedang padanya. Ia tak memiliki cukup keberanian untuk membalas tatapan kedua lelaki itu. Ditambah Jen yang juga menatapnya penuh intimidasi.
"Nggak usah La. Aku nggak lama". Nala kembali duduk. Hatinya mulai tak tenang dan pikirannya mulai mengaitkan sikap Nia dengan ucapan Gaara. Namun sesaat ia kembali menggelengkan kepalanya untuk mengusir prasangka buruknya.
"Aku kesini untuk mengakui sesuatu". Nala masih diam. Menunggu apa lagi yang ingin Nia sampaikan.
"Cepat katakan. Waktu kami tidak banyak untuk mendengarkan mu". Nia mengangkat wajahnya. Menatap sekilas lelaki yang sudah berhasil mengetahui segala kebusukan dan niat buruknya pada Nala.
"Abang.." Nala menatap Gaara tajam. Ia tak suka Gaara bersikap seperti itu pada Nia.
"Gapapa La, aku pantas mendapat perlakuan ini". Nala menggeleng, apapun kesalahan Nia. Pasti ada alasan dibelakangnya.
"Nggak udah basa-basi deh kak. To the point aja". Kini Jen yang angkat bicara, jengah juga mendengar Nia berbicara berbelit-belit.
"Jen.." Gumam Nala, namun Jen terlihat acuh.
"Aku mau minta maaf, La". Nala langsung terdiam. Apa maksud permintaan maaf Nia. Benarkah wanita itu yang sudah menyebarkan semua fitnah yang menjeratnya?
"M-minta maaf kenapa kak?". Nala mencoba tenang dan tersenyum. Membuat Gaara tersenyum miring melihat bagaimana mudahnya Nala ditipu oleh orang disekelilingnya.
...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...
Hollaaa reader semua..apa kabarnya??? Semoga sehat-sehat semua ya🤲🏻
Maapin othor yang hilang beberapa waktu. Kondisi tubuh tiba-tiba drop. Nggak kuat nulis othornya..jangan kan mikirin alur ceritanya si kuman ama kang gara-gara. Mau melek juga berat😌😁
Semoga masih senantiasa bersabar nunggu kelanjutan ceritanya ya..
Maapkan juga kalo ceritanya nggak sesuai ekspektasi. Othor masih rada oleng dikit ini, tapi demi readers, aku paksain nulis meskipun yakin ceritanya acak adul😅 jadi mohon dimaafkan yaaa🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
Doain othor mudah-mudahan cepet sehat biar bisa kasih double up. Makasih semuaaaa..lopelope sekebon💐💐🥰🥰💋💋