Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
Nonton


__ADS_3

"Udah ah, Kara mau pulang". Gaara dan Baim menatap adiknya yang sudah berdiri dan menyelempangkan tasnya.


"Nanti kakak anter aja". Baim menahan Kara.


"Nggak usah, kakak lanjut aja sama temen-temen kakak. Aku udah telpon sarap suruh jemput kok". Kara tersenyum tenang meski hatinya bergemuruh karena sejak tadi Amandha selalu menempel pada Baim.


"Tapi..."


"Sampe ketemu ntar malem dirumah kak". Pamit Kara sebelum Baim kembali mencegahnya.


"Heh!! Salim lo, mau gue kutuk lo". Kara menghentikan langkahnya, mengambil tangan abangnya dan mencium punggung tangannya dengan setengah hati.


"Kutuk jadi cantik ya kan bang?". Kara tersenyum menggoda dan Gaara yang gemas mencubit hidung mancung adiknya.


"Dasar abang nyebelin. Aku bilangin mama kalo abang pacaran". Kara menjulurkan lidahnya dan berlari ke arah Baim dan kemudian berpamitan.


"Sama kita nggak salim juga, Ra". Aaron memainkan alisnya naik turun menggoda Kara.


"Nggak boleh kak Aaron. Bukan muhrim". Sontak jawaban Kara membuat teman-teman Aaron termasuk kedua kakaknya tertawa puas. Pasalnya selama ini tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Aaron.


"Kara pamit..Assalamualaikum". Kara berlalu dari sana, meninggalkn kedua kakaknya dan teman-temannya.


Senyum palsu yang sedari tadi menghiasi bibirnya mungilnya menghilang sudah. Rasa sakit dihatinya seolah semakin terasa, apalagi melihat bagaimana Amandha yang begitu sempurna itu.


Kara hanya terus berjalan mengikuti kemana langkah kaki membawanya. Dijemput Raffa hanya alasannya saja untuk bisa segera pergi dari apartemen sang kakak.


tin...


Kara berjingkat saat bunyi klakson berbunyi, diikuti sebuah motor sport berhenti disampingnya.


"Beneran elo..gue kira salah orang". Mata Kara memicing. Mencoba mengingat siapa lelaki yang menyapanya ini, apalagi lelaki itu memakai masker diwajahnya.


"Biasa aja kali liatin gue". Lelaki itu membuka maskernya hingga membuat mata Kara membola.


"Kak Bara???". Pekik Kara dengan wajah sumringah.


"Gue kira lo lupa ama gue". Lelaki bernama Bara itu tersenyum simpul.


"Kakak ngapain disini?". Tanya Kara sambil melihat sekeliling.

__ADS_1


"Lo sendiri ngapain? Kaya orang ilang jalan sendiri". Bara balik bertanya membuat Kara tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


"Ngapain ya.." Kara malah balik bertanya membuat Bara tergelak.


"Dasar santen aneh". Ledek Bara


"Ish..masih aja nyebelin kaya dulu". Kara memasang wajah masam membuat Bara gemas. Bara adalah kakak kelas Kara sewaktu duduk di bangku SMP.


"Kakak kok disini? Bukannya di luar kota ya?". Tanya Kara masih dengan posisi berdiri disamping motor Bara.


"Udah balik gue. Mau kuliah disini aja, lagian bisnis nyokap ada disini". Kara hanya ber oh ria menanggapinya.


"Kenapa?". Tanya Kara yang merasa diperhatikan oleh Bara.


"Gue kira tadi salah liat. Mukanya mirip tapi gue kira nggak mungkin itu elo".


"Emang kenapa mikir gitu?". Tanya Kara lagi


"Sejak kapan lo doyan make baju beginian?". Bara kembali menatap Kara dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Ish..ngeselin banget jadi orang". Kara mencebik kesal membuat Bara terbahak.


"Oke-oke..sorry. Tapi lo cantik kok kaya gini". Puji Bara tulus


"Iya deh iya..yang cantik mah". Cibir Bara membuat Kara tidak bisa menahan tawanya.


"Jadi lo mau kemana kaya orang ilang gini?". Tawa Kara mereda, ia jadi ingat tentang Baim dan Amandha.


"Jangan bilang lo lagi patah hati?". Tebakan Bara tepat sasaran. Namun Kara bisa menutupinya dengan apik.


"Hahaha..kak Bara becanda aja. Mau patah hati ama siapa kalo pacar aja nggak punya". Akhirnya keduanya tertawa bersama.


"Kakak sendiri mau kemana?". Kara balik bertanya pada lelaki yang kini duduk dibangku akhir sekolah atas itu.


"Nggak tau gue. Bosen dirumah..makanya keluar aja. Eh ketemu orang ilang kaya elo.." Kara mendengus kesal karena terus digoda oleh Bara.


"Temenin gue nonton aja lah ya. Lo juga bingung kan mau kemana?". Kara diam sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya untuk meminta izin pada mama nya.


"Lah malah mainan hp. Dasar santen sachet.." Gerutu Bara membuat Kara terkekeh pelan.

__ADS_1


"Harus ijin dulu sama mama, kak. Nanti dicari kan repot". Kara tersenyum manis, membuat Bara terpaku. Sejak dulu senyuman gadis itu memang tak pernah berubah, selalu bisa membuat jantungnya berdebar.


"Nih pake". Kara menatap jaket yang disodorkan oleh Bara.


"Masuk angin ntar lo. Gue nggak mau ya diamuk ama emak lo gara-gara lo sakit". Meski mencebik, Kara menerima dan memakai jaket Bara.


"Sini". Kara kembali menurut dan mendekat pada Bara. Dengan lembut, Bara memakaikan helm ke kepala Kara dan mengaitkannya.


"Aww..hih dasar batu berjalan". Dengus Kara karena Bara menepuk keras helm yang sudah terpasang di kepalanya.


Dengan berpegangan pada pundak Bara, Kara naik ke atas motor yang cukup tinggi itu. Setelahnya Kara berpegangan pada ujung kaos yang dikenakan Bara.


"Okeee..let's gooo". Teriak Kara keras membuat Bara menggeleng.


"Baju aja yang berubah. Toa nya mah masih sama". Gumam nya pelan


"Apa kak?". Tanya Kara yang tidak mendengar jelas gumaman Bara.


"Kaga ada..pegangan yang bener", Kara mengangguk dan Bara mulai melajukan motornya, membelah padatnya jalanan kota siang itu.


Sepanjang jalan, bibir mungil Kara tidak ada hentinya berbicara. Menceritakan hal-hal yang sebenarnya tidak penting bagi Bara namun Bara sangat menikmati suara yang sama sekali tidak merdu itu.


"Haaah..akhirnya nyampe". Wajah Kara terlihat lega. Karena jujur sejak tadi ia merasa kurang nyaman. Bukan karena Bara, namun karena dress yang ia kenakan selalu terbang tertiup angin.


"Heh santen! Lo mau kemana?". Teriak Bara yang melihat Kara berjalan menjauh darinya.


"Ya masuklah. Kakak nggak mau masuk?". Bara turun dari motor dan berjalan mendekat kemudian mengetuk kepala Kara.


"Yang ada lo dilempar keluar. Masuk mall pake-pake helm kaya gini". Kara menepuk keningnya sendiri lalu nyengir.


"Lupa..hahaha" Tawa Kara menular pada Bara yang tak habis pikir dengan kelakuan Kara.


"Lo tuh, Ra, Ra. Cewe tuh dimana-mana pada jaim didepan gue. Lah elo, bisa-bisanya kaya gini". Bara geleng-geleng kepala.


"Tunggu sini bentar ya. Gue taruh dulu ni helm". Kara mengangguk, dan dengan patuh menunggu Bara yang masih meletakkan helm ke motornya.


Se kembalinya Bara, keduanya berjalan bersisian memasuki lobby mall. Keduanya sama sekali tidak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang menatap keduanya tajam. Apalagi melihat semua perlakuan Bara pada Kara. Orang yang sejak tadi mengawasi keduanya mengepalkan tangan dengan rahang mengeras. Sorot matanya begitu tajam seolah bisa menghancurkan apapun yang ia lihat.


...----^^^----...

__ADS_1


Hayo loh..siapa nih yang melototin si santen kira-kira??


Akhirnya lolos review juga, nulis kemaren 2bab, terus ditambah ini 2bab. Tambah satu bab lagi bosen nggak ya???🤔


__ADS_2