
Baim memijat pangkal hidungnya. Mengapa masalah tiba-tiba datang terus menerus. Belum selesai masalah perjodohan yang dibicarakan sang mama, kini cafe nya juga bermasalah.
"Astagfirullah..tenang Baim. Tenang..lo harus tenang". Baim mencoba menenangkan diri.
"Ini nggak masuk akal. Ada yang sengaja pengen bikin cafe gue gulung tikar". Gumam Baim menatap pembukuan cafe nya.
Cafe nya sedikit bermasalah karena tiba-tiba ada beberapa karyawannya yang mengundurkan diri secara mendadak. Belum lagi koki utama yang membuat kondisi cafe semakin carut marut karena pengunduran dirinya juga.
Baim benar-benar dibuat kuwalahan menghadapi permasalahan yang datang bertubi-tubi. Ia harus bolak-balik ke cafe untuk membantu para karyawannya yang masih bertahan. Dan sementara menggantikan posisi koki utama sebelum mendapat penggantinya. Untunglah ia handal dalam hal memasak. Dan semua menu di cafe nya adalah ide dari dirinya sendiri.
Jadi meskipun kesulitan membagi waktu, setidaknya Baim masih bisa mempertahankan kepuasan pelang gan cafe nya. Jangan tanyakan tubuhnya. Tubuhnya seperti remuk redam karena kurang beristirahat.
Sementara di lain tempat. Kara sedang duduk melamun, menatap indahnya bunga-bunga yang ada ditaman rumahnya.
"Lo ngelamunin apaan sih, Ra". Raffa menyusul saudara kembarnya yang duduk ditaman kecil dirumah mereka. Sejak makan malam tadi, Kara tak banyak bicara. Bahkan lebih banyak melamun.
"Huft.." Kara menghela nafas kasar. Menyandarkan kepalanya pada pundak nyaman milik saudara kembarnya.
"Lo masih mikirin perjodohan yang mama rencanain?". Tebak Raffa tepat sasaran, dan Kara hanya mengangguk lemah.
"Kan udah gue bilang. Percayain sama kakak.."
"Lo tau kan gimana kakak". Kara kembali menghela nafas, seolah ada beban berat yang memerangkap hatinya.
"Rasa sayang kakak ke mama sebesar apa lo tau sendiri kan Rap". Raffa ikut menghela nafas panjang. Ya, ia pun tahu bagaimana sayang dan berbakti nya Baim pada sang mama. Sejujurnya ia juga ragu jika Baim akan bisa mengorbankan perasaan sang mama demi bisa memiliki Kara.
"Gue takut kakak nggak akan berani bilang ke mama. Gue juga takut kalo ini nyakitin mama". Raffa merangkul pundak Kara. Memberi ketenangan dan kekuatan pada Kara yang terlihat kalut.
"Gue harus gimana Rap?". Tanya Kara lesu
"Cuma ada dua cara, Ra". Kara menegakkan kepalanya. Menatap saudaranya penuh tanya.
"Jelasin semua ke mama dan bicara jujur. Siapin segala kemungkinan terburuk dan luluhin hati mama. Yakinin mama kalau kalian bisa bahagia kalo barengan.. Atau lo harus ikhlas terima keputusan perjodohan mama". Kara yang sempat berharap kembali lesu.
"Nggak ada pilihan lain apa?!". Ketus Kara kembali menyandarkan kepalanya di pundak Raffa yang diam karena tak memilik saran lain. Menurutnya, hanya itu cara yang menjadi jalan keluar bagi Kara dan Baim. Jujur, atau mengikhlaskan. Memang pilihan berat, tapi itu yang terbaik menurut Raffa saat ini.
Sementara di ruang keluarga, Gaara sedang memcoba membujuk sang mama untuk memikirkan kembali perjodohan yang sejak pagi tadi dibicarakan.
"Kara masih terlalu muda ma..kenapa harus dijodohkan? Lagipula abang yakin kalau banyak yang mau sama Kara meskipun mama nggak jodohin". Gaara memulai pembicaraan.
"Emang kenapa sih? Kayanya pada keberatan banget". Tanya Diandra dengan alis berkerut.
"Ya emang banyak yang mau sama adik kamu. Tapi kan belum tentu baik". Mama muda itu benar-benar terlihat santai.
__ADS_1
"Kasian Kara ma. Dari tadi dia jadi pendiem banget. Pasti dia kepikiran perjodohan yang mama bicarain". Gaara berusaha se netral mungkin agar tidak menyakiti sang mama ketika membicarakan keberatannya tentang rencana perjodohan sang mama.
"Arkan baik loh, bang. Abang tahu kan dia anak baik. Abang juga udah kenal baik kan? Terus masalahnya apa?". Tanya Diandra membuat Gaara bingung. Pasalnya apa yang dikatakan sang mama memang benar adanya.
"Arkan emang baik ma. Tapi aku tahu Baim jauh lebih baik, ma. Dan Kara bahagia sama Baim". Teriak Gaara. Namun hanya batinnya yang mampu berteriak. Mana berani ia berkata seperti itu didepan Diandra.
"Ya, dia anak baik. Tapi belum tentu Kara suka, sayang". Terang Abi membuat Diandra tersenyum menatap suaminya.
"Kan belom ketemu, mas. Lagi pula belum dicoba. Lusa malah Arkan sama tante Naya mau kesini". Mata Gaara dan Abi melebar mendengar ucapan Diandra.
"Ma.."
"Sayang..." Seru kedua lelaki itu kompak.
"Kenapa?? Mama cuma mau mereka saling mengenal dulu kok. Mama juga nggak paksa mereka harus mau". Ucap Diandra santai.
"Jangan terburu-buru sayang. Kara pasti tidak nyaman". Abi menatap bingung istrinya.
"Kita lihat saja nanti mas.." Diandra tersenyum penuh arti membuat Abi menghela nafas panjang. Sedangkan Diandra berlalu dari hadapan kedua lelaki itu.
"Papa susul mama kamu dulu ke kamar ya". Gaara mengangguk kemudian menyandarkan kepalanya ke sofa.
"Kenapa jadi gue yang mumet sih. Lo berdua kenapa kaga jujur aja sih, biar nggak gini". Gumam Gaara memijit pelipisnya.
"Jangan terburu-buru seperti ini. Kasian Kara pasti kepikiran. Seenggaknya tunggu sampai dia ujian. Hanya beberapa bulan lagi sayang". Bujuk Abi namun Diandra malah menatapnya galak.
"Jangan kira aku nggak tau apa yang kamu lakuin ya mas". Abi menelan salivanya kasar.
"Jangan keterlaluan mentang-mentang aku diem aja". Imbuhnya membuat Abi salah tingkah.
"Tapi kan sayang.."
"Aku nggak mau debat mas. Yang jelas, lusa mereka akan kesini". Abi kembali menghela nafas panjang. Apa yang Kara pikirkan memang benar, papanya itu memang tak akan pernah menang jika berdebat dengan mama nya.
Sementara Kara galau dengan perjodohan gila yang mama nya bicarakan. Baim tengah sibuk mencari tahu alasan karyawannya mengundurkan diri secara serentak.
Baim tersenyum saat mengetahui siapa dalang dibalik mundurnya karyawan cafe nya itu. Tekad nya semakin besar untuk membuktikan dirinya layak untuk seorang Lengkara.
Selama berhubungan dengan Kara, memang beberapa kali ada pemuda yang mencoba mendekati Kara. Namun syukurlah, cinta gadis cantik itu memang sudah terpatri untuk Baim. Bahkan beberapa kali mengancam Baim untuk menjauhi Kara. Karena dengan adanya Baim, mereka merasa kesulitan mendekati Kara. Mereka hanya tahu bahwa Baim adalah kakak Kara, namun mereka tidak suka karena kedekatan keduanya.
"Kalian? Jadi kalian ingin mencoba membuatku mundur? Heuh.." Baim tersenyum lagi
"Itu tidak akan pernah terjadi. Bahkan jika kalian menghancurkan semua usahaku sekalipun, itu tidak akan mengubah apapun". Baim mengepalkan tangannya kuat. Sekuat tekadnya untuk mempertahankan Lengkara nya.
__ADS_1
---***---
Hari yang dinantikan oleh Diandra datang juga. Sahabat yang sudah seperti saudara baginya datang bersama putra tampannya yang Diandra gadang-gadang akan menjadi menantunya.
"Aku kangen banget sama kamu, Nay". Keduanya berpelukan erat setelah lama tak berjumpa.
"Aku juga kangen banget sama kamu.."
"Selamat siang tante.." Arkan mencium punggung tangan Diandra dengan takzim.
"Ganteng banget sih calon mantu aku.." Kedua mama yang masih terlihat awet muda itu kemudian tertawa. Membuat Arkan menggeleng pelan.
"Ayo masuk dulu.." Naya mengangguk dan masuk bersama Diandra diikuti Arkan dibelakangnya.
"Mana nih yang katanya calon mantu aku?". Tanya Naya sambil terkekeh.
"Belum pulang..masih sekolah". Sahut Diandra mempersilahkan kedua tamunya duduk.
"Arkan.." Merasa namanya dipanggil, Arkan menoleh.
"Kenapa ma?". Tanya Arkan pada sang mama.
"Jemput gih calon istri kamu.. Pasti dia kaget banget liat kamu". Diandra mengangguk setuju mendengar usulan Naya.
"Arkan mau kan??". Tanya Diandra antusias. Dan mana mungkin Arkan sanggup menolak permintaan kedua wanita itu.
"Tapi Arkan nggak tau sekolah Kara dimana, tante". Dindra tersenyum dan mengirimkan alamat sekolah Kara ke ponsel Arkan.
"Tante telpon Kara dulu, biar nggak pulang bareng Raffa". Dengan semangat Diandra mendial nomor putrinya dan segera mengatakan maksudnya menelpon setelah Kara mengangkatnya.
"Kamu pergi sekarang aja, Ar. Kayanya pas nanti, kamu nggak akan nunggu kelamaan". Wajah Diandra benar-benar terlihat antusias.
"Arkan pergi dulu tante. Ma, aku berangkat dulu". Naya dan Diandra mengangguk.
"Hati-hati bawa calon mantu mama ya.." Teriak Naya dijawab acungan jempol oleh Arkan dan membuat kedua ibu itu tertawa bersama.
...•••€€€•••...
Hayoh loh..calon mantu nya mak Diandra dateng beneran loh..
Beneran disantet online ama temen-temennya si santen ini mak Diandra😂😂😂
Kira-kira siapa nih ntar jodohnya si santen??
__ADS_1
Tenang, nggak lama kok konfliknya. Otak orhornya nggak bisa kalo mikir konflik kelamaan. Bisi ceritanya nambah nggak jelas nanti😅