Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
hanya butuh waktu


__ADS_3

Pagi itu Diandra maupun Abi masih sama-sama diam. Tak sedikitpun bersuara meski tetap makan bersama putra putrinya.


"Ma.." Kara memberanikan diri membuka suara setelah sekian lama bungkam.


"Selesaikan makan kalian". Tanpa mengalihkan pandangannya pada Kara, Diandra berkata dengan dingin.


"Kara mau ngomong ma.." Ucap Kara memohon menatap sendu pada mama dan papa nya.


"Mama.." Raffa yang duduk disamping Kara menggenggam tangan saudara nya. Meminta nya untuk mendiamkan kedua orang tua mereka dulu sampai keduanya tenang.


"Aku pergi dulu. Assalamualaikum". Kara mengambil paksa tangan Diandra dan mencium punggung tangan wanita yang sudah melahirkannya itu. Kemudian melakukan hal sama pada sang papa.


"Raffa susul Kara dulu". Raffa bergegas menyusul Kara yang sudah lebih dulu keluar dengan kepala tertunduk.


"Aku rasa mama dan papa sedikit berlebihan". Abi dan Diandra mengangkat kepalanya. Menatap Gaara yang kini juga tengah menatap mereka.


"Berlebihan?". Tanya Diandra tak suka.


"Aku tau mama dan papa mungkin kecewa. Tapi siapa yang tau cinta akan tumbuh diantara mereka".


"Nggak seharusnya papa dan mama bersikap seperti ini. Bukankah terlalu kekanakan?". Gaara menatap kedua orang tuanya dengan senyum miring.


"Jaga bicaramu bang. Jangan kurangajar pada mama. Papa tidak pernah mengajarkan kamu seperti ini". Gaara dengan berani tetap menatap kedua orang tuanya.


"Lalu apa? Mereka saling mencintai pa, kenapa harus dihalangi?". Tanya Gaara menusuk


"Kamu belum tau apa itu cinta". Desis Abi


"Salah. Aku tau! Bahkan sangat tau". Sergah Gaara mulai kesal dengan sikap kedua orang tuanya. Sungguh ini bukan orang tua yang ia kenal selama ini.


"Apa selama ini yang kalian berikan pada kami bukan cinta?? Cinta seperti apa yang tidak aku tahu?". Tanya Gaara begitu menusuk kedua orang tuanya.


"Jangan berdebat! Mama dan papa tau yang terbaik untuk adikmu". Lerai Diandra yang tidak ingin kedua lelaki terkasihnya berdebat.


"Mama salah! Mama nggak tau apa yang terbaik buat Kara". Gaara menatap kedua orang tuanya dengan tatapan kecewa.


"Kalo mama dan papa tahu yang terbaik buat Kara. Kalian nggak akan kaya gini! Harusnya kalian tau kalo Kara bahagia cuma sama Baim".

__ADS_1


"Abang!". Bentak Abi menatap galak Gaara.


"Kenapa pa?? Aku akan mendukung Baim untuk bisa memiliki Kara. Bahkan jika kalian tidak mengijinkan sekalipun". Gaara pantang menyerah memperjuangkan cinta adik dan saudara angkatnya.


"Mereka bersaudara, bang". Lirih Diandra menunduk


"Mereka bersaudara karena mama dan papa angkat Baim jadi anak. Mereka nggak ada hubungan darah, pa, ma. Lalu apa masalahnya???". Tanya Gaara frustasi. Ia pikir orang tuanya adalah manusia dengan pemikiran modern, tak menyangka jika keduanya bisa berpikiran se kolot ini.


"Apa alasanmu membela mereka hingga seperti ini?". Tanya Abi menatap putranya yang terlihat gigih itu.


"Karna abang yakin nggak ada laki-laki sebaik dan se pengertian Baim. Apalagi itu tentang Kara". Mata tajam Gaara menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Lagian abang heran sama papa mama. Apa yang bikin kalian nggak terima hubungan mereka? Mama adalah orang yang paling tahu kaya apa Baim. Dia laki-laki yang terbaik buat Kara. Dan abang yakin kalo mama sadar soal itu. Terus apa masalahnya??". Tanya Gaara kesal.


"Mama.." Namun sebelum Diandra menjelaskan pada Gaara, pemuda itu sudah kembali memotong ucapannya.


"Mama yang besarin Baim. Diantara kami semua, mama orang yang paling mengenal Baim. Terus kenapa bisa mama ragu?? Abang nggak ngerti lagi". Gaara menggeleng tak mengerti dengan jalan pikiran kedua orang tuanya.


"Kenapa dia mirip sekali sama kamu sih sih mas. Semua ucapannya sama persis. Menyebalkan". Batin Diandra masih menatap Gaara.


"Biarkan mama dan papa yang menilai, Ga. Aku akan terus berjuang sekalipun ditolak ribuan kali". Semua mata menatap sosok lelaki tampan yang sudah berdiri didepan pintu. Dia yang tak lain adalah Baim sudah mendengar semua perdebatan saudara dan orang tua angkatnya.


"Baim.." Lirih Diandra menatap putra angkatnya. Putra yang selama ini selalu membuatnya bangga dengan semua prestasi dan sikap sopan nya.


"Assalamualaikum.." Baim segera menyalami kedua orang tuanya bergantian saat mereka masih terkejut dengan kedatangannya.


"Jangan mendebat mama dan papa cuma buat belain gue, Ga". Baim menatap Gaara yang masih berdiri mematung menatap dirinya.


"Tapi gue.."


"Gue gapapa. Lo percaya kan ama gue?". Gaara menghela nafas dan mengangguk perlahan. Ia percaya, bahkan sangat percaya pada saudara angkatnya itu.


"Ma, pa.." Ucap Baim pelan saat Diandra dan Abi pergi begitu saja. Bahkan sebelum ia berbicara apapun pada keduanya.


"Im.." Gaara menepuk pelan pundak Baim yang langsung tersenyum tenang.


"Gue oke. Lo tenang aja..gue yakin mama sama papa cuma butuh waktu buat nerima hubungan gue ama Kara". Baim menanangkan Gaara yang justru terlihat gusar. Aneh bukan? Harusnya Baim yang ditenangkan, namun ini malah sebaliknya.

__ADS_1


Sementara didalam kamar, Abi dan Diandra tengah duduk bersisian dipinggiran ranjang mereka. Keduanya sama-sama membisu dengan segala pemikiran masing-masing, hingga suara ketukan pintu membuat mereka saling menatap meski masih diam.


"Ma, pa.." Keduanya hanya diam saat mendengar suara Baim. Namun mata Diandra sudah berkaca-kaca hanya dengan mendengar suara lembut putra angkatnya.


"Baim nyakitin papa sama papa ya?".


"Maafin Baim ya ma, pa. Baim jadi anak kurangajar..bikin mama sama papa sakit hati". Air mata Diandra lolos juga. Ia membekap mulutnya agar suara tangisnya tak pecah.


"Tapi Baim benar-benar mencintai Kara ma..sangat sangat mencintai Kara. Baim rela menderita asalkan Kara bahagia ma.." Diandra semakin terisak. Sementara Abi mencoba menenangkan istrinya.


"Baim mohon ijinkan Baim membuktikan sama mama dan papa kalau Baim laki-laki yang pantas untuk Kara..Baim nggak akan menjanjikan apapun pada kalian. Tapi demi kebahagiaan Kara, apapun akan Baim lakuin ma, pa".


"Baim pamit dulu pa, ma. Baim pasti dateng tiap hari..maaf kalo papa sama mama bosen liat aku. Tapi demi Kara, Baim akan terus berjuang bahkan meski berapa kalipun kalian tolak".


"Baim pergi dulu..Assalamualaikum.."


Tangis yang Diandra tahan sejak tadi akhirnya pecah. Ia menangis bahkan meraung saat mengingat setiap kata yang terlontar begitu tulus dari putra angkatnya itu.


"Mas.." Abi membawa Diandra yang masih menangis kedalam pelukannya. Ia mengusap punggung istrinya untuk menenangkan wanita yang telah menemani dirinya selama hampir 23tahun itu.


"Ini semua sudah keputusanmu sayang. Sesakit apapun rasanya, itu semua sudah kamu putuskan. Bahkan saat aku melarang kamu berkeras untuk menolak hubungan mereka. Jadi jangan menyesalinya sekarang". Diandra semakin terisak mendengar ucapan Abi.


"Kamu nyalahin aku?". Diandra menatap galak suaminya.


"Aku juga kecewa pada mereka sayang. Tapi kan aku hanya mengikuti maumu. Melarang hubungan mereka". Abi menghela nafas panjang hingga membuat Diandra semakin kesal saja.


"Jadi maksud mas, aku salah larang mereka?". Abi menelan susah payah salivanya melihat tatapan tajam istrinya.


"B-bukan gitu sayang..cuma kan---"


"Kamu juga sama aja mas. Inget apa yang kamu lakuin! Kamu lebih parah". Cibir Diandra membuat Abi tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


...¥¥¥•••¥¥¥...


Auk ah..pusing aku ama mak bapaknya si santen. Kaga inget dulu cinta-cintaan mereka gimana😌


Terus aja gitu, terus aja dipersulit anak-anaknya. Ntar kalo kalian berdua beneran di santet online ama temen-temennya santen aku nggak ikutan loh ya😂😂😂

__ADS_1


Sabar yaaa..insyaallah nanti dikasih satu bab lagi kalo jari jemariku bisa diajak kompromi😅


__ADS_2