Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
trauma masa lalu


__ADS_3

Abi sedang berkutat dengan pekerjaannya saat tiba-tiba semuanya menjadi gelap.


"Tumben banget listrik mati gini". Abi berjalan mendekati jendela ruang kerjanya. Semua nampak gelap karena listrik padam. Ia meraba meja kerjanya untuk mencari ponselnya dan menyalakan senter dari ponselnya.


" DIANDRA!!". Pekik Abi ketika mengingat sesuatu. Ia segera berlari hingga beberapa kali membentur benda-benda yang ada diruangannya. Tujuannya saat ini hanya satu, yaitu kamar istrinya.


"Di..buka pintunya!!! Diandra!!". Teriak Abi sambil terus menggedor pintu kamar istrinya. Ia ingin langsung menerobos masuk namun pintu kamar istrinya terkunci.


Abi hendak mendobrak pintu kamar Diandra saat mbok Tun datang dengan sedikit berlari membawa kunci cadangan kamar milik nona mudanya.


" Mas..ini..kunci kamar..si non". Nafas Mbok Tun tersengal lantaran berlari dari kamarnya menuju kamar Diandra.


"Makasih mbok". Tanpa menunggu lama, Abi segera membuka pintu kamar istrinya itu dan langsung menerobos masuk.


Ia mengarahkan cahaya senter yang berasal dari ponselnya keseluruh sisi ruangan kamar itu.


" Sayang!!". Abi berlari menghampiri Diandra yang meringkuk disamping kasur dengan menutup telinganya dan mata yang terpejam.


"Tolong tenangkan Gaara mbok". Pinta Abi pada mbok Tun yang masih setia mengikutinya.


" Baik mas.." Mbok Tun segera mengangkat tubuh mungil Gaara kedalam gendongannya dan membawanya keluar untuk menenangkannya.


"Sayang.." Panggil Abi namun Diandra tetap diam dengan tangan yang menutup rapat telinganya. Matanya pun terpejam hingga sepertinya ia tak tahu jika Abi ada disana.


Hati Abi bagai terisis sembilu melihat air mata terus menetes dari dua pelupuk mata istrinya. Rupanya trauma masa remaja istrinya itu masih belum juga hilang hingga kini dewasa.


"Sayang..hey. Aku disini.." Abi memegang kedua bahu istrinya. Namun Diandra malah berteriak sangat kencang dan menangis histeris.


"AAAAAA...!!! JANGAN!!! LEPAS!!! LEPASKAN SAYA MOHON JANGAN!!!". Diandra terus berontak namun matanya tak kunjung ia buka.


" Di..hey!!! Ini aku sayang.." Abi memeluk Diandra yang masih terus mencoba melepaskan dirinya.


"Buka mata kamu Di..ini aku, Abi". Abi semakin mengeratkan pelukannya saat Diandra semakin histeris.


Mendengar nama Abi, perlahan Diandra menghentikan gerakannya memukuli dada Abi, mata nya perlahan membuka dan bertemu tatap dengan lelaki yang kini sah berstatus suaminya, lelaki yang pernah mencintainya sepenuh hati namun juga lelaki yang sama yang membuatnya membenci sesuatu yang namanya cinta.

__ADS_1


" Mas.." Panggil Diandra dengan suara parau.


" Aku disini sayang..tenang lah". Abi menepuk pelan punggung Diandra yang mulai terisak.


"Aku disini..ada aku Di. Kamu akan baik-baik aja". Abi dapat merasakan jika tubuh istrinya bergetar dalam dekapannya. Diandra pasti sangat ketakutan saat semua tiba-tiba gelap.


Abi membantu Diandra bangun dan memapahnya untuk duduk dipinggiran kasur. Diandra pun masih enggan melepaskan pelukannya pada Abi karena kondisi masih gelap dan dirinya tidak menyukainya.


" Jangan kemana-mana mas". Diandra mengeratkan pelukannya pada tubuh Abi saat lelaki itu sedikit bergerak.


"Aku nggak akan kemana-mana Di. Aku cuma mau ambil hp aku dilantai". Diandra tetap menggeleng meski ponsel Abi berada tepat didepan mereka.


" Aku cuma mau hubungi pak Agus biar cepet nyalain lampunya sayang". Bujuk Abi namun Diandra tak bergeming.


"Nggak mau mas. Aku takut.." Diandra semakin membenamkan wajahnya didada bidang suaminya.


"Nggak ada apa-apa sayang. Percaya sama aku". Diandra tetap tak bergeming dengan posisinya memeluk Abi.


Tak lama lampu kembali menyala, perlahan Abi melonggarkan pelukannya pada Diandra.


Abi membantu Diandra merebahkan tubuhnya dan menyelimutinya. Ia juga mendaratkan sebuah kecupan dikening istrinya. Entah karena terlalu takut atau memang Diandra tidak menyadari segala perbuatan manis Abi padanya. Ia hanya diam dan menerima semua yang Abi lakukan padanya.


"Jangan tinggalin aku mas. Aku takut". Diandra segera memegang tangan Abi saat Abi hendak bangkit dari duduknya.


Abi tersenyum meski sejujurnya hatinya sakit melihat wanita yang ia cintai masih dihantui trauma masa lalu.


" Aku disini..kamu sekarang istirahat aja ya". Abi kembali duduk dan menggenggam tangan Diandra dan mengelusnya.


Diandra mencoba memejamkan matanya, namun setiap kali matanya terpejam, kilasan kejadian bertahun-tahun lalu itu nampak jelas dipelupuk mata. Seolah saat ini dirinya tengah mengalami hal buruk itu lagi.


Air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah. Tubuhnya pun bergetar hebat karena rasa takut yang menderanya saat ini. Abi yang melihatnya segera merebahkan diri disamping Diandra dan membawa tubuh istrinya kedalam dekapannya sambil mengelus punggung Diandra yang masih bergetar.


"Ada aku sayang..kamu aman. Aku nggak akan biarin kamu terluka lagi.."


"Aku mohon tidurlah.." Diandra membenamkan wajahnya didada bidang Abi. Ia melupakan segala kebencian dan kekecewaannya pada Abi. Rasa takut yang ia miliki lebih besar dari kebenciannya. Saat ini dirinya membutuhkan Abi, karena hanya Abi dan kedua orang tuanya yang bisa menenangkannya disaat seperti ini. Ia bahkan tak mengingat putranya karena terlalu takut.

__ADS_1


Abi terus mengelus punggung Diandra dan berkali-kali mengecup pucuk kepalanya hingga perlahan nafas Diandra mulai terdengar teratur, menandakan bahwa Diandra sudah tertidur.


Abi melonggarkan pelukannya, menatap wajah cantik istrinya dan menyingkirkan selur rambut yang menutupi sebagian wajah yang terlihat sembab itu.


"Kamu harus kuat Di..kamu harus bisa lupain kejadian itu". Mata Abi menatap langit-langit kamar. Ingatannya menerawang kejadian saat Diandra duduk dibangku SMA kala itu.


flashback on


Sore itu Abi masih mengikuti mata perkuliahan saat ponselnya bergetar berkali-kali tanpa henti. Awalnya Abi mengacuhkannya, karena biasanya sang ibu hanya akan menanyakan pukul berapa ia pulang dan ingin makan apa malam nanti.


Beberapa saat ponselnya hening, mungkin sang mama lelah menghubungi dirinya dan ia acuhkan. Namun baru sebentar ia merasa lega, ponselnya kembali bergetar. Kali ini sebuah pesan.


Abi mengeluarkan ponselnya dan segera membuka pesan yang dikirimkan oleh ibunya. Matanya terbelalak saat membaca pesan dari sang ibu. Ia bahkan langsung berdiri tanpa sadar.


' Diandra diculik! Cepat pulang'


Hanya satu baris pesan yang mama Ana kirimkan. Namun berhasil membuat jantung Abi bekerja dua kali lipat dari seharusnya.


Tanpa meminta izin pada dosen yang sedang mengajar, Abi berlari keluar tanpa menghiraukan panggilan temannya Alvin, panggilan dosen pun ia abaikan. Yang ada dikepalanya saat ini hanyalah Diandra. Tidak ada yang lain.


Abi memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi. Ia tak peduli jika dirinya celaka sekalipun, ia terlalu mengkhawatirkan Diandra.


"Ah...****!!!! Kenapa jam segini macet sih!". Abi memukul stir mobilnya saat melihat kemacetan didepannya.


Ia melihat sekeliling sebelum membelokkan mobilnya pada sebuah minimarket. Ia memarkirkan mobilnya dan segera keluar. Ia berlari menghampiri pangkalan ojek yang ada disana. Saat macet seperti ini memakai ojek adalah pilihan terbaik dan tercepat.


Abi turun dari atas motor dan memberikan satu lembar uang seratus ribuan pada driver ojek dan langsung meninggalkannya tanpa memperdulikan teriakan sang ojek yang memanggil dirinya untuk memberikan kembalian.


###########


**Dilanjut bab selanjutnya ya flashbacknya..


Maapin othor yang hilang dari peredaran dunia pernovelan beberapa saat..Hp error jadi nggak bisa nulis novel beberapa waktu..


Semoga reader semua masih setia nunggu lanjutan cerita ini..insyaallah dikasih double up hari ini.

__ADS_1


Lopelope sekebon reader semuaaaaa... makasih yang terus dukung othor amatiran ini**..


__ADS_2