Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
melarikan diri


__ADS_3

Abram menatap pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul 2 siang, namun belum ada tanda-tanda Gaara akan bangun. Sedangkan dirinya harus kembali ke kantornya jika tak ingin sang papa curiga dan mencari tahu kebenarannya.


"Bagaimana ini? Gaara belum bangun, tapi papa akan curiga kalau aku keluar terlalu lama dari kantor". Gumam Abram yang jelas terdengar oleh Gaara.


"Kalian berdua masuklah". Perintah Abram pada anak buahnya.


"Aku harus kembali ke kantor. Jaga anakku dan jangan sampai dia kabur". Kedua lelaki berbadan kekar itu mengangguk patuh.


"Bagus. Pergilah dan kalau perlu tidak usah kembali". Batin Gaara yang seolah memiliki sedikit harapan untuk bisa melarikan diri dari kekangan Abram.


"Satu lagi. Pastikan dia tidak kekurangan apapun dan turuti keinginannya". Kedua anak buah Abram mengangguk.


"Pastikan dia dibawah pengawasan kalian. Karena jika sampai anak ini lolos, aku akan memenggal kepala kalian". Ancam Abram sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruang rawat Gaara.


Beberapa saat lalu dokter masuk untuk memeriksa Gaara, ia yang awalnya percaya jika Gaara diculik mendadak ragu saat melihat bagaimana perhatiannya Abram pada Gaara. Terlebih mulut berbisa Abram yang mengatakan jika putranya sedang marah dan mogok makan. Dokter yang awalnya hendak menghubungi pihak kepolisian mengurungkan niatnya karena melihat Abram seperti orang baik-baik. Terlepas dari rasa penasarannya mengapa harus menggunakan dua pengawal yang senantiasa berjaga didepan ruang rawat Gaara.


"Kita keluar. Kita jaga didepan". Ajak salah seorang anak buah Abram pada temannya.


"Huh..akhirnya keluar juga mereka. ayo Gaara mikir. Kamu harus bisa keluar dari sini". Gaara bangkit perlahan karena kepalanya masih terasa pusing.


Ia melirik nakas disamping ranjangnya. Melihat makan siangnya yang belum ia sentuh. Tiba-tiba seulas senyum terbit diwajah tampan itu.


prang...


Anak buah Abram bergegas masuk mendengar keributan dari dalam kamar rawat anak bosnya.


"Tuan muda..anda baik-baik saja?". Tanya salah seorang pengawal menelisik tubuh Gaara yang masih duduk bersandar diranjang.


"Aku baik-baik saja". Lirih Gaara dengan suara yang begitu lemah.


"Anda butuh sesuatu?". Tanya salah seorangnya lagi.


"Aku lapar.." Terlihat jelas Gaara sangat lemah. Membuat keduanya saling menatap bingung.


"Saya akan minta makanan untuk tuan muda ke pihak rumah sakit". Gaara menggeleng pelan.


"Aku tidak suka makanan rumah sakit. Lebih baik aku tidak makan". Lirihnya lagi dan kembali merebahkan tubuhnya sambil membelakangi dua pengawal yang terlihat semakin kebingungan.

__ADS_1


"Bagaimana ini?". Keduanya saling berbisik namun Gaara masih bisa mendengarnya.


"Tuan sudah berpesan agar tuan muda tidak kekurangan apapun. Kalau sampai tuan muda tidak makan karena kita, bisa mati kita". Gaara diam-diam tersenyum mendengar keduanya saling berbisik.


"Kalo kabur gimana?". Tanya yang satunya lagi.


"Lu denger kan apa kata si bos tadi. Turutin semua maunya. Masih sayang kaga ama tu kepala?".


"Lu aja yang beliin makan. Gue jagain". Keduanya mengangguk, merasa mendapat ide.


"Tuan muda.." Gaara hanya bergumam


"Saya akan belikan makanan untuk anda. Apa yang ingin anda makan". Tanya pengawalnya membuat Gaara bersorak dalam hati.


"Kita ada didaerah mana?". Kedua pengawalnya saling menatap curiga.


"Aku tidak tahu disini ada makanan yang aku inginkan atau tidak. Kalau aku tahu dimana daerah ini, aku akan mudah meminta apapun pada kalian". Keduanya mengangguk paham lalu memberitahu dimana lokasi mereka saat ini. Mereka tidak tahu jika Gaara sedang mengingat dimana daerah itu untuk memuluskan rencananya.


"Aku mau makan bubur yang dijual di restoran xx. Orang tuaku selalu membelikan aku bubur disana jika aku sakit".


"Ta-tapi itu sangat jauh tuan muda. Pasti buburnya akan dingin jika sampai disini". Gaara berpura-pura merajuk.


"Udah lu beliin aja. Mau lo digorok ama si bos". Terdengar helaan nafas panjang. Gaara yakin keinginannya akan dituruti.


"Orang-orang seperti kalian akan menuruti apapun perintah orang yang membayar kalian. Dan aku akan memanfaatkan kalian untuk bisa kabur dari sini. Lelaki itu meminta kalian menuruti perintahku bukan? Maka turutilah". Batin Gaara tersenyum puas.


"Saya akan pergi sekarang tuan muda. Mohon tunggu". Gaara mengangguk pelan.


"Kamu bisa keluar". Perintah Gaara pada salah satunya lagi. Ia harus berpikir bagaimana caranya mengelabuhi yang satunya.


"Baik tuan muda..Anda bisa memanggil saya jika perlu yang lain". Gaara hanya mengangguk tipis dan kemudian anak buah Abram keluar.


Gaara tampak termenung, berpikir keras bagaimana cara membuat anak buah Abram pergi meninggalkannya seorang diri.


Gaara menatap tangannya yang masih tertancap jarum infus. Yang pertama harus ia lakukan adalah melepaskannya. Perlahan, Gaara melepaskan jarum yang menancap dipunggung tangannya. Ia meringis saat kemudian cairan merah keluar dari bekas jarum yang menancap.


"Kenapa kalo di sinetron yang ditonton nenek nggak pernah keluar darah. Jangankan keluar darah. Kayanya pas dicabut juga nggak kerasa sakit. Tapi ini sakit banget padahal pelan-pelan. Kenapa mereka nggak kesakitan? Padahal mereka asal tarik. Dasar sinetron kibul". Gumam Gaara yang menarik beberapa lembar tisu untuk menghentikan darah yang masih menetes.

__ADS_1


Setelah merasa darah tidak lagi menetes. Gaara kembali menempelkan jarum infus ditangannya.


"Ini akan bekerja. Aku yakin.." Gumam Gaara kemudian mencari tombol darurat yang sering digunakan untuk memanggil paramedis saat mereka membutuhkannya.


Gaara mencabut dari pangkalnya, agar tidak bisa digunakan saat nanti dirinya memulai lagi aksinya mengelabuhi anak buah Abram.


"Oke, aku rasa cukup. Bismillah, aku pasti bisa". Gaara memejamkan matanya sebentar untuk berdoa lalu membuka matanya dan kemudian berteriak kesakitan.


"Tuan muda..Anda kenapa? Tuan muda.." Anak buah Abram terlihat panik melihat Gaara berteriak kesakitan.


"Sa-kit.." Ucap Gaara terbata


Anak buah Abram menekan tombol yang ada disamping Gaara berkali-kali. Namun tak kunjung ada dokter yang datang. Ia semakin bingung karena Gaara semakin terlihat kesakitan.


"Aaaaakh..sakit sekali". Gaara memegang perutnya seolah benar-benar merasa sakit.


"Tahan sebentar tuan muda. Saya akan segera kembali". Anak buah Abram bergegas keluar meninggalkan ruangan Gaara.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang tidak akan datang dua kali, Gaara langsung melepas plester infus dan melompat turun. Tubuhnya sudah jauh lebih kuat dengan dua kantong cairan infus yang sudah masuk kedalam tubuhnya serta istirahat yang sudah lumayan lama.


Gaara membuka pintu, melihat sekeliling dan segera berlari keluar saat mamastikan kondisi aman.


Gaara berlari dan terus berlari tanpa tahu arah tujuannya. Yang ia pikirkan saat ini adalah menjauh dulu dari rumah sakit agar orang suruhan Abram tidak bisa menemukannya.


"Sudah cukup jauh kan? Apa aku sudah benar-benar lolos?". Nafas Gaara terengah, keringat bercucuran diwajahnya.


Gaara menatap sekeliling, ia berharap jika ia pernah ke daerah ini agar ia semakin mudah melarikan diri.


Gaara tersentak saat seseorang menepuk pundaknya. Tubuhnya menegang karena takut usahanya sia-sia.


"Tidak!!! Jangan!!!". Teriak Gaara


...___^^^___...


Hayo loh, siapa tuh yang nemuin Gaara???


Mau Abram sama anak buahnya yang nemuin apa sapa nih?😁✌🏻

__ADS_1


Satu bab lagi..harap tunggu yaaa


__ADS_2