Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
baby twins has come


__ADS_3

"Sayang, potong kukunya dulu ya. Kata dokter harus higienis pas ketemu dede kembar". Bujuk Abi yang bingung harus berkata apa pada istrinya.


"Kuku aku bersih kok mas. Aku kan rajin meni pedi". Diandra mengamati kuku-kuku cantiknya.


"Kulit bayi kan halus sekali sayang.." Mama Ana mendekat setelah melihat kode dari sang putra.


"Iya nak..kan kasian kalo baby nya kena kuku cantik mama nya". Mama Dita ikut andil membujuk, sementara para kakek hanya memperhatikan sambil bermain bersama dua cucu lelakinya yang datang bersama mama Ana tadi.


"Mama bantu potongin ya.." Diandra menggeleng saat mama Ana menawarkan diri membantunya memotong kuku.


"Aku sendiri aja ma.." Tolak Diandra kemudian mengambil gunting kuku yang dipegang suaminya.


"Nenek, Abang mau apel". Pinta Gaara, Dita segera mendekat dan mengupas apel sesuai permintaan cucunya.


Sejak berada dirumah sakit beberapa waktu lalu, sudah berkali-kali Gaara dan Baim menangis. Alasannya karena sedih melihat sang mama kesakitan, bahkan tangisan keduanya jauh lebih keras dari orang yang mau melahirkan.


"Ayo dimakan, mama ngupasnya banyak loh" Mama Dita meletakkan apel yang sudah ia kupas dan ia potong.


"Allahuakbar". Semua mata tertuju pada lelaki yang berstatus asisten pribadi Abi itu, namun hanya sesaat karena Disndra juga merintih kesakitan.


Semua nampak bingung melihat Alvin yang meringis kesakitan sambil bibirnya terus bertasbih.


"Sakit sayang?". Tanya mama Ana yang melihat Diandra meringis mengelus perutnya dengan sebelah tangan sementara tangan lain ia gunakan untuk mencengkeram lengan Alvin.


Mungkin memang rejekinya Alvin yang saat itu sedang ingin mengambil potongan buah apel yang ditawarkan mama Dita. Bertepatan dengan tangannya yang baru menyentuh sepotong apel, Diandra kembali merasakan kontraksi hingga membuatnya mencengkeram apa yang ada didepannya.


"Sakit banget tante". Rintih Alvin karena kuku Diandra yang belum selesai dipotong itu kini menancap dilengannya.


"Tarik nafas sayang..atur nafasnya nak" Mama Dita menginstruksi Diandra, namun Alvin juga melakukannya karena rasa perih yang ada dilengannya.


"Sakit mas.." Rintih Diandra membuat Abi mengelus perut istrinya dan menghapus keringat didahi Diandra.


"Itu tangan laki lu nganggur Di". Alvin merasakan kulit tangannya terkelupas karena Diandra mencengkeramnya sangat kuat.


Diandra melepaskan tangannya saat kontraksi diperutnya mereda. Setelah dilepaskan, Alvin segera beringsut menjauh. Takut jika Diandra merasakan kontraksi lagi tangannya menjadi korban.

__ADS_1


Satu jam berlalu terasa begitu menyiksa bagi Diandra. Kontraksi terus datang dalam waktu dekat dan berlangsung cukup lama hingga rasanya Diandra ingin menyerah. Diandra juga sudah dipindahkan ke ruang bersalinnya.


"Sakit banget mas..aku nggak kuat". Diandra menangis dalam pelukan Abi


"Mama..." mama Dita yang dipanggil segera mendekati putrinya dan menggenggam tangan Diandra.


"Mama disini sayang. Kamu kuat nak, jangan nangis ya". Tangan mama Dita terulur menghapus air mata Diandra meski air matanya tak henti mengalir.


"Sakit banget mama.." Mama Dita benar-benar tak tega melihatnya.


Tak lama dokter Stevi datang, ia tersenyum melihat Abi yang terlihat kebingungan melihat istrinya kesakitan.


"Masih sakit bu?". Tanya dokter Stevi lembut


"Masih. Sakit banget dok.." Dokter muda itu kembali tersenyum tenang.


"Rasa sakit yang ibu rasakan itu dirasakan oleh semua ibu yang melahirkan normal. Tapi ibu hebat sekali, tetap memilih melahirkan normal daripada operasi". Sambil mengobrol, dokter Stevi memakai sarung tangan medisnya.


"Tapi sakitnya nggak ilang-ilang ini dok". Diandra merasa semua tulangnya diremukkan dalam waktu bersamaan. Rasanya sangat sakit.


"Rasa sakit yang ibu rasakan akan hilang saat bertemu dengan si kembar nanti.." Setelah membuka kaki Diandra, dokter Stevi kembali memeriksa jalan lahir yang rupanya sudah mendekati sempurna itu.


"Ibu ikuti aba-aba dari bu bidan ya.." Diandra mengangguk meski tak sepenuhnya mendengarkan instruksi dokter Stevi. Sakit yang ia rasakan kali ini benar-benar tak terkira hingga ia merasa separuh jiwanya melayang bersama rasa sakit itu.


Semua para medis sudah bersiap dengan tugasnya masing-masing. Seorang bidan yang bertugas memberi arahan pada Diandra berdiri disampibg kiri Diandra. Sementara mama Dita berdiri membelakangi si bidan sambil terus memanjatkan doa untuk keselamatan anak bungsunya dan cucu kembarnya.


"Tarik nafas ya bu.." Bidan mulai memberi arahan pada Diandra untuk bernafas dengan benar dan jangan sampai berteriak saat mengejan nanti.


"Tarik nafas..yak sekarang mengejan bu.." Diandra mengejan sekuat tenaga. Bahkan bukan hanya Diandra, penghuni ruangan itu yang paling tampan pun tak kalah berjuang dari sang istri.


Percobaan pertama Diandra masih belum berhasil, namun rambut bayi nya sudah terlihat hingga membuat Abi semakin semangat.


"Ayo kita coba lagi sayang..rambut si dede nya udah keliatan" Girang Abi sambil menggenggam erat tangan istrinya.


oek..oek..

__ADS_1


Dokter Stevi masih berada ditempatnya, sementara bayi pertama Diandra sudah berpindah tangan ke dokter anak untuk dibersihkan.


"Anak pertamanya laki-laki bu, bapak.." Wajah Abi terlihat girang sekaligus terharu.


"Anak kita sayang.." Suara Abi bergetar, jiwanya serasa ikut melayang melihat bagaimana perjuangan istrinya melahirkan buah hati mereka.


Hanya berselang 5menit, Diandra merasakan desakan lagi dibawah sana.


Bidan kembali memberikan aba-aba, sedangkan dokter Stevi sudah siap untuk persalinan anak kedua Diandra.


"Ayo sayang.." Suara ejanan Abi terdengar lebih keras dari Diandra yang akan melahirkan.


"huh..huh..aku nggak--kuat mas". Suara Diandra terdengar terputus.


"Kamu kuat sayang..aku tau kamu wanita kuat". Abi menghujami wajah Diandra dengan ciuman.


"Ayo ibu..sedikit lagi". Dokter Stevi sedikit melongok untuk melihat Diandra.


"Ikuti aba-aba saya lagi ya bu.." Diandra mengangguk sambil terus mencoba mengatur nafasnya.


"Aaaaa..." Akhirnya Diandra berteriak saat percobaan terakhirnya, ia mengerahkan seluruh energi nya untuk melahirkan anak keduanya.


oek...oek...


Suara tangisan bayi terdengar memenuhi seluruh ruangan itu. Diandra memejamkan matanya, air mata bahagia mengalir dari kedua matanya.


Sementara Abi sudah menghujani wajah sang istri dengan ciuman bertubi. Berulang kali mengucapkan terimakasih pada sang istri yang sudah susah payah melahirkan kedua anaknya.


"Makasih sayang..makasih" Abi kembali menciumi wajah istrinya.


"Selamat ya ibu, bapak..putra putrinya lahir selamat dan lengkap tidak kurang suatu apapun.." Tangis Diandra pecah


Tangisan bahagia seorang ibu yang berhasil berjuang melahirkan buah hati yang telah ia nanti selama sembilan bulan lamanya.


######

__ADS_1


Maafin othor yang baru bisa up ya manteman, hp bermasalah dari kemaren...udah nulis satu bab tapi ilang😭😭 jadi maafin kalo ceritanya agak kurang berkenan🙏🏻🙏🏻


Happy reading semuaaa..Lopelope sekebon💐💐


__ADS_2