
Hari ini Kara sudah merasa lebih baik. Luka diwajahnya juga sudah mulai hilang meski masih samar terlihat.
Kara memutuskan pergi ke sekolah setelah dua hari meliburkan diri bersama Nala. Selama itu pula ia selalu mengacuhkan Baim dan Gaara. Entah itu saat mereka datang untuk melihatnya atau ketika kedua kakaknya mencoba menghubunginya lewat pesan dan telepon.
"Yakin udah sehat?". Tanya Nala memastikan kondisi Kara.
"Dari kemaren juga gue udah sehat, La. Kemaren kan muka gue masih banyak bekas luka. Takut jadi ribut satu sekolah". Nala mengangguk paham dengan kekhawatiran Kara.
"Ntar jalan ke mall yuk pulang sekolah. Gue mau beli baju ama skincare". Kara tampak diam sesaat lalu mengangguk mengiyakan.
"Gue juga mau beli baju deh ntar. Mau coba ubah penampilan gue". Nala tersenyum, ia teringat dengan tips yang semalam mereka baca.
'Cobalah tampil lebih dewasa untuk menarik perhatian seorang pria'. Keduanya sama-sama tersenyum
"Kuy lah..kita berangkat sekarang". Kara mengangguk dan keduanya berjalan menuruni tangga bersama.
"Mau makan dirumah apa ntar disekolah aja?". Tanya Nala saat keduanya sampai diruang makan.
"Dirumah aja lah. Ngapain beli kalo dirumah udah disiapin. Lagian mubadzir juga. Kasian juga si bibi udah susah-susah masakin". Nala mengangguk setuju dan keduanya duduk dengan tenang dan memulai sarapannya.
"Wiih, enak nih kayanya. Ikut makan lah.." Keduanya langsung menoleh dan mendapati Raffa sudah tampan dengan seragam sekolah yang dibalut dengan hoodie berwarna navy.
Tanpa menunggu persetujuan si tuan rumah, Raffa langsung duduk dan menyendok nasi goreng kedalam piringnya.
"Lo ngapain pagi-pagi kesini?". Tanya Kara heran.
"Jemput lo. Mau sekolah kan?". Kara mengangguk
"Kan gue bisa bareng ama si Nala".
Raffa terdiam sesaat. Mengapa ia tak terpikirkan jika Kara akan pergi bersama Nala. Ia hanya berpikir ingin menjemput saudaranya dan pergi ke sekolah bersama-sama.
"Lupa. Kaga kepikiran". Sontak jawaban Raffa membuat Nala dan Kara tergelak.
"Umur aja muda. Tapi udah kaya embah-embah pikun". Ledek keduanya
Ketiganya menghabiskan sarapannya. Namun mata Raffa sedikit memicing saat Kara bangkit dari duduknya. Ada sesuatu yang berbeda dari tampilan saudaranya.
"Kenapa?". Tanya Kara yang melihat Raffa masih menatapnya.
"Ada yang aneh". Gumam Raffa kembali menelisik tampilan Kara.
Mata Raffa melebar saat menyadari apa yang membuat adik kembarnya nampak berbeda pagi ini.
"Lo beneran sehat Ra?". Tanya Raffa sambil terus menatap aneh saudara kembarnya.
__ADS_1
"Sehat lah. Kenapa sih?". Tanya Kara bingung
"Kepala lo kemaren nggak kebentur kan?". Raffa langsung mengecek wajah dan kepala Kara.
"Ish..lo apa-apaan sih ah". Kara menepis tangan Raffa.
"Udah siang ni. Lo berdua silahkan lanjutin kalo mau ribut. Gue sih ogah disuruh berjemur apa ketos somplak itu". Nala manyambar tas nya dan menyampirkannya dipundak.
"Heh KumAn!! Tungguin!". Teriak Kara yang ikut menyambar tas nya dan segera mengejar Nala yang sudah menatapnya kesal.
"Nama gue bukan kuman!". Ketus Nala membuat Kara terkekeh.
"Sama aja..KUMayra ANala Wijaya".
"Kuman..singkat kan?". Kara tersenyum manis melihat Nala sudah siap memarahinya.
"Lo ama si sarap juga ganti nama gue seenak jidat. Nama bagus-bagus Sabhita Lengkara Argantara, Lo berdua main ganti aja jadi sableng. Mana manggil gue juga santen sachet lagi". Semprot Kara membuat keduanya akhirnya tertawa.
Jika dipikirkan lagi, mengapa nama mereka jika disingkat justru menjadi kata yang sangat aneh.
"Heh lo berdua, ngapain masih disitu? Bukannya udah dari tadi ninggalin gue dimeja makan. Gue udah nambah sarapannya aja lo masih ngejogrok disitu". Kedua gadis itu menoleh, mendapati Raffa yang sudah berdiri dibelakang mereka.
"Lo bareng gue aja deh santen". Raffa merangkul pundak saudaranya yang terlihat mendelik kesal.
"Gue mau ama si Kuman aja". Kara melepas rangkulan Raffa.
"Kalian mau terus ribut? 15menit lagi bel sekolah". Ketiga remaja itu sontak menoleh mendengar suara seseorang.
Mata Kara melebar melihat siapa yang saat ini duduk diatas motor besar itu. Wajah tampan dengan senyuman maut dan tatapan yang bisa membuatnya meleleh saat itu juga. Jangan tanyakan jantungnya. Saat ini jantungnya bekerja sangat cepat.
"Kakak ngapain disini?". Tanya Raffa bingung melihat kakaknya.
"Tadinya mau liat Kara. Tapi kayanya udah sehat sih, buktinya udah ribut ama elo". Baim terkekeh melihat perdebatan dua adiknya.
Namun senyuman Baim surut dan berganti wajah terkejut melihat sesuatu yang berbda dengan adik perempuannya. Baim kembali melihat penampilan Kara dari ujung rambut hingga kaki.
"Gue bareng lo aja deh Raf". Nala langsung menarik lengan Raffa mendekat pada motor Raffa.
"Gue mau jemput si santen. Bukan lo, Kuman". Cebik Raffa membuat Nala mendengus.
"Kan ada kak Baim". Kara melotot horor menatap Nala.
Raffa menatap kakaknya yang masih terus menelisik penampilan saudara kembarnya. Ia yakin jika saat ini Baim juga sama terkejutnya seperti dirinya.
"Lo anter si santen ya kak". Raffa sudah memakai helmnya, pun dengan Nala yang sudah siap naik keatas motor.
__ADS_1
"Heh kok malah gue yang ditinggal sih". Kara terlihat gelisah. Meski sudah memantapkan hati untuk merebut hati pemuda tampan itu, tapi Kara belum siap jika secepat ini bertemu.
"Rapa!!! Heh Kuman!". Teriak Kara kesal yang justru dibalas lambaian tangan oleh Nala.
"Ng-nggak usah dianter. Kara naik ojek aja". Tubuh Kara terasa kaku saat tangannya justru dicekal oleh Baim.
"Kakak anter". Baim melepas jaket yang ia pakai dan ia berikan pada Kara.
"Pake aja ama kakak. Gue---" Perkataan Kara menggantung di udara saat Baim menatapnya tajam.
"Maksudnya, Kara nggak ngerasa dingin. Jadi nggak perlu pake jaket". Kara yang sangat tahu jika Baim tidak suka dirinya berkata lo gue pada sang kakak segera meralat kalimatnya.
"Bukan buat kamu pake". Kara mengernyit bingung.
"Kamu mau pamer paha?". Kara langsung menundukkan pandangannya. Dilihatnya rok yang ia kenakan memang terlihat lebih kecil daripada yang sehari-hari ia pakai.
"Ehm..ya..yaudah aku naik taksi aja". Kara menyerahkan jaket Baim namun Baim justru turun dari motor.
"Mau naik sendiri atau perlu kakak gendong naik ke motornya?". Kara menelan ludahnya kasar. Jika sudah begini, ia hanya bisa menuruti permintaan Baim.
"Tutup yang bener". Kara segera merapatkan jaket sang kakak dipaha mulusnya.
Dalam hati Kara tersenyum. Rupanya kakaknya sangat memperhatikan perubahan dirinya dan penampilannya. Atau lebih tepatnya perubahan yang sengaja ia buat untuk menarik perhatian Baim.
Baim menghela nafas panjang, jika masih ada waktu lebih, sudah pasti ia akan mampir ke toko seragam untuk membelikan seragam adiknya yang terlihat sangat minim dan sangat membentuk tubuh Kara yang memang sangat bagus itu.
"Besok ganti seragamnya". Perintah Baim membuat Kara mengernyit.
"Aku nyaman kok pake ini. Emang kenapa kak?". Seperti biasa, Kara selalu memeluk sang kakak jika sedang dibonceng dengan sepeda motor seperti saat ini. Hanya saja kini bedanya, jantung Kara berdegub sangat kencang. Aroma maskulin dari parfum yang Baim pakai membuat Kara betah berlama-lama menghirupnya.
Jika boleh jujur, Kara sebenarnya tidak nyaman memakai seragam minim seperti saat ini. Tapi demi misinya mendapatkan perhatian Baim, maka ia akan melakukannya meski tak nyaman.
"Dengerin aja apa kata kakak. Jangan pernah pake lagi seragam itu". Tegas Baim tak mau dibantah.
"iya". Akhirnya Kara pasrah saja daripada berdebat dan mengakibatkan dirinya telat.
...---โขโขโข---...
Hollaaa semua..mana nih tangannya yang masih nungguin santen nakal??
Si santen udah mulai meresahkan ya mak emak..segala pake yang merecet dibadan ampe kaya lontong segala..
Kakak Baim kalo nggak peka-peka awas loh ya kamu, disantet online lo ntar ama temen-temen halu nya si santen๐๐๐
Makasih ya buat semua dukungan dan komennya. Insyaallah akan memperbaiki diri dan tulisan aku biar lebih baik lagi. Dan yang bilang ini mirip cerita sebelah, jujur aku gatau ya. Karna emang ini pure hasil pemikiran aku sendiri sih..
__ADS_1
Mungkin juga sampai akhir minggu ini cuma bisa up 1bab tiap harinya. Othornya lagi mudik dulu bentar ini. Jadi cuma bisa nyempetin buat nulis 1bab. Lumayan lah ya, buat obat gabut๐๐
Sekali lagi makasih yang masih setia nunggu dan selalu kasih dukungan buat aku. Sehat-sehat sodara online aku semuanya๐๐ป๐๐ป