
"Suka banget ya dicium abang..ampe merem-merem gitu". Sontak Nala membuka lebar matanya mendengar ucapan frontal Gaara yang lebih terdengar menjengkelkan.
Apalagi ibu jari lelaki itu masih mengusap lembut bibirnya yang basah akibat ulah Gaara sebelumnya. Dan bisa-bisanya si kang gara-gara menanyakan hal memalukan itu, Nala benar-benar ingin menempeleng kepala Gaara saat ini.
"Abang aja yang suka cari kesempatan. Nyosor aja terus kaya bebek". Kesal Nala yang justru membuat Gaara terbahak.
"Apa ketawa-ketawa!". Semakin kesal saja Nala karena Gaara tertawa semakin keras.
"Kamu juga suka kan disosor-sosor kaya bebek". Gaara terus menggoda Nala dengan memainkan alisnya naik turun.
"Iya suka. Sukaaaaaa banget!". Kelewat kesal, Nala menekan keras luka di pipi Gaara dengan tangan hingga membuat Gaara mengaduh.
"Aw..aw..aw..sakit La". Rintih Gaara membuat Nala mendengus.
"Nih sakit nih..nih...nih..." Nala terus menekan setiap luka di wajah Gaara hingga lelaki itu terus mengaduh.
"Astaga..kejam banget sih". Gaara mengelus pelan pipinya yang terasa sakit karena pukulan Haikal yang rupanya juga tak main-main. Ditambah Nala yang kesal dan menekan lukanya.
"Udah diem!". Gaara tersenyum tipis melihat bagaimana galaknya Nala. Pantas saja dia bisa satu frekuensi dengan si santen. Ternyata sama galaknya, batin Gaara.
"Kenapa--"
"Diem abang. Ngomong mulu sih, heran deh. Ditinggalin lama makan apaan aja sih, cerewetnya ngalahin si santen". Potong Nala cepat sebelum Gaara selesai berbicara.
Dengan telaten Nala mengolesi luka memar Gaara dengan salep dan membersihkan luka yang mengeluarkan darah.
"La..."
"Hm..." Nala hanya berdehem menjawab Gaara karena masih fokus dengan luka-luka Gaara.
"Anala.." Gaara kembali memanggil Nala.
"heemmm apa?". Tanya Nala tanpa menatap Gaara hingga akhirnya Gaara menarik pelan tangan Nala yang sibuk mengobati lukanya agar gadis itu menatapnya. Dan berhasil, Nala menatap Gaara yang juga menatapnya.
"Apa abang??". Tanya Nala yang masih saling menatap dengan Gaara.
"Kenapa?".
__ADS_1
"Apanya?". Tanya Nala dengan alis berkerut karena tidak paham dengan maksud Gaara.
"Kenapa kamu maafin Nia? Kamu bisa tuntut dia. Seenggaknya dia harus ngerasain jeruji besi walau semalam". Gaara menatap Nala serius. Sejak tadi, hal inilah yang mengganjal dipikiran dan hatinya.
Perlahan Nala melepaskan genggaman tangan Gaara dipergelangan tangannya. Dan kembali menyibukkan dirinya mengobati luka diwajah Gaara.
"Kak Nia nggak salah bang.." Ucap Nala pelan membuat Gaara mengangkat dua alisnya. Tak percaya dengan apa yang Nala katakan. Bagaimana bisa Nala bilang jika Nia tidak bersalah.
Nala mengangkat wajahnya. Menatap Gaara yang masih terus menatapnya dengan wajah bingung. Nala tersenyum tenang.
"Kalau aku jadi kak Nia, mungkin aku bisa lakuin hal yang lebih ekstrem lagi bang". Nala kembali tersenyum.
"Kak Nia cuma mencoba melindungi apa yang menjadi hak nya dia aja. Mana ada perempuan rela laki-laki yang dia cintai diambil orang bang". Jelas Nala membuat Gaara mencebik.
"Emang kamu ngerasa ngambil?!". Pertanyaan yang sarat akan kekesalan.
"Ehmm..." Wajah Gaara semakin ditekuk saja saat Nala berpura-pura berpikir sebelum menjawab pertanyaan.
"Iya apa enggak?! Kaya gitu aja pura-pura mikir lama". Gemas, Gaara menoyor kepala Nala hingga membuat gadis itu terkekeh.
"Yaelah, nggak sabaran banget sih jadi orang". Gerutu Nala di sela tawanya.
"Ya nggak lah bang. Abang kira-kira aja lah. Biarpun jomblo, aku ini jomblo terhormat. Nggak mau lah ngambil suami orang". Jawab Nala membuat Gaara tersenyum lega.
"Ya tapi Nia salah, La". Keukeuh Gaara.
"Yaampun bang, kan udah dibilang. Kak Nia nggak sepenuhnya salah".
"Sekarang aku tanya sama abang, kalau abang punya istri, terus istri abang ternyata tertarik sama laki-laki lain yang abang kenal. Pasti abang bakal mikir kalau temen abang yang tertarik ke istri abang. Kak Nia juga sama, cuma salah paham karena takut kehilangan orang yang dicintai bang". Jelas Nala panjang lebar.
"Ya tetep aja. Nia nggak punya hak buat lakuin itu ke kamu lah. Itu udah melanggar hukum". Masih saja si kang gara-gara tak terima.
"Gimana abang aja deh. Capek jelasin ke abang. Giliran pake logika, logikaaaaa aja terus yang dipake. Giliran emosi, logika nya mogok nggak jalan". Gaara mendelik menatap Nala yang cuek dan membereskan kotak obatnya.
"Apa-apa tuh harus pake logika dulu. Emang nya kamu, apa-apa cuma ngandelin percaya doang. Akhirnya dibikin susah sama orang". Ucap Gaara tak mau kalah.
Nala meletakkan kembali kotak obat yang sudah ia rapikan itu dan kemudian menatap Gaara.
__ADS_1
"Iya deh iyaaaa..mister logika". Nala mendengus kemudian memalingkan wajah dari Gaara.
"Terus kenapa waktu itu kamu lepasin aku?". Tanya Gaara memancing.
"Karna abang nggak bisa nerima aku. Abang masih terlalu terikat sama masa lalu abang..buat apa aku bertahan kalo akhirnya aku gagal". Jawab Nala cepat
"Kan kamu belom coba". Gaara kembali bersuara dan sepertinya Nala belum sadar apa yang kini mereka bahas sudah keluar dari pembahasan awal.
"Gimana? Gimana gimana?? Belom apa bang? Belom nyoba???". Tanya Nala mulai kesal. Sejujurnya Gaara takut jika macan betina didepannya mengamuk. Tapi biarlah, demi mengetahui hal yang ingin ia ketahui.
"Terus menurut abang, bertahun-tahun aku kaya cewek nggak punya harga diri, tiap hari nyamperin abang ke kantor, bawain makan, ngasih perhatian ampe over dosis kaga tuh ama perhatian aku. Terus sekarang dengan entengnya abang ngomong kalo aku belum mencoba?".
"Emang maunya abang aku nyoba apa?? Nyoba nawarin tubuh ke abang?". Nafas Nala naik turun lantaran berucap panjang lebar dengan penuh amarah.
"Ya tapi kamu nggak coba lakuin kaya Nia. Nggak pernah coba singkirin masa lalu aku". Pancing Gaara lagi. Ia senang berdebat dengan Nala seperti ini. Karena perdebatan seperti inilah yang ia rindukan.
"Aku udah coba bang. Emang semua yang aku lakuin biar apa???? Ya biar abang tu lupa ama masa lalu yang masih setia nempel disekitar abang".
"Emang maunya abang aku gimana nyingkirin masa lalunya?? Tu perempuan kaga tau malu aku lempar keluar kantor abang? Atau aku bawa ke lobby kantor terus aku ajak gelut? aku ajak jambak-jambakan gitu biar rame?".
"Berarti kamu nggak cinta banget dong sama aku. Buktinya nggak kamu lakuin". Sela Gaara cepat.
"Itu bukti cinta aku bang...Astaga..." Nala menghela nafas panjang. Menghadapi Gaara benar-benar menguras emosi.
"Aku cinta sama abang makanya aku milih pergi. Biar abang bahagia sama masa lalu abang tanpa ada yang ngehalangin lagi. Aku bisa bahagia kalo emang abang bahagia sama masa la--"
"Sekarang kamu masih cinta dong sama aku". Setelah beberapa saat, Gaara melancarkan pertanyaan pamungkasnya.
"Kalo aku nggak cinta emang aku mau dicium-cium sama abang. Mikir kenapa sih bang. Lama-lama kepala abang aku tempeleng juga deh". Kesal Nala
"Berarti masih cinta ya???". Seolah tersadar, Nala tiba-tiba mematung. Bahkan untuk sekedar melirik pun tak ia lakukan. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dirinya kelepasan berbicara sebegitu panjang lebar dan menjelaskan semuanya pada lelaki menyebalkan bernama Gaara itu. Nala benar-benar merutuki mulutnya yang kelewat lemes.
...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...
Selamat morning readers...
Gimana nih kabarnya hari ini??? Semoga sehat semua yaaa..aamiin🤲🏻
__ADS_1
Asupan hari libur nih..semoga pada suka yaa, tapi 1bab aja. Hari libur waktunya si incess sama misua🤭😁
Yang mana nih ngaku temennya si kuman, itu pisahin pada gelut loh😅 si kang gara-gara mah pinter ya, pokoknya disetiap situasi dan kondisi harus menang ya😂😪