Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
bertemu teman lama


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 11, Diandra sejak tadi hilir mudik didalam kamarnya. Memikirkan alasan apa yang bisa membawa dirinya mendatangi kantor suaminya.


"Mama harus apa sayang? Alasan apa yang mau mama pake buat bisa ke kantor papa kamu.." Diandra melirik Gaara yang sedang asyik dengan jarinya.


"Bantu mama mikir dong sayang..kalo ada om Dimas pasti dia punya segudang ide". Tiba-tiba Diandra teringat sahabat baiknya, Dimas.


Saat sedang memikirkan cara untuk bisa ke kantor suaminya, ponsel Diandra berdering. Ia melirik ponselnya, nama Abi tertera memenuhi layar ponselnya. Ada apa Abi menghubungi dirinya? Tak biasanya Abi menelpon.


" Assalamualaikum.. "


"Wa'alaikumsalam.. Di, apa aku bisa minta tolong?". Alis Diandra berkerut. Tumben sekali Abi meminta bantuannya.


" Apa?". Tanya Diandra penasaran setelah beberapa saat diam.


"Aku melupakan berkas penting untuk meeting siang ini. Bisakah kamu antar kesini??". Diandra memekik tertahan, kebetulan macam apa ini. Dirinya sedang pusing memikirkan cara untuk ke kantor Abi, dan kini Abi meminta dirinya untuk mengantarkan berkas ke kantornya. Benar-benar kebetulan yang luar biasa.


" Kalau tidak bisa tidak apa..aku akan meminta pak Salim mengantarnya". Abi kembali bersuara karena Diandra masih diam.


"Bisa!! Aku akan mengantarnya sekarang". Sambar Diandra cepat. Ia harus melihat medan perang sebelum turun langsung berperang.


" Maaf merepotkan..berkasnya ada diatas meja kerjaku, aku tunggu dikantor ya.."


"Ya..aku dan Gaara akan bersiap.."


"Assalamualaikum.."


Diandra mengakhiri panggilan teleponnya setelah Abi menjawab salamnya. Ia bergegas mengganti pakaian Gaara dan menyiapkan segala keperluan putranya itu sebelum dirinya ikut bersiap.


"Sudah siap sayang?? Ayo kita survei medan perang dulu sebelum mama turun tangan ikut berperang". Seolah paham, bayi yang baru menginjak usia 3bulan itu tersenyum lebar pada wanita yang kini telah menjadi mamanya.


" Kamu juga sudah siap?? Anak mama memang hebat.."


Dengan menggendong Gaara, Diandra berjalan menuju ruang kerja Abi untuk mengambil berkas yang dimaksud Abi.


"Dasar ceroboh, berkas penting begini bisa tertinggal". Cibir Diandra. Ia tak tahu jika Abi memang sengaja meninggalkan berkas penting itu supaya dirinya bisa membantu sang istri yang ingin menyambangi kantornya.


" Papa memang teledor ya sayang.."


"Loh..Di, kamu mau kemana sayang?". Mama Dita yang baru keluar dari kamar merasa penasaran melihat putrinya sudah rapi, juga cucu tampannya yang sudah berada didalam gendongan sang mama.


" Kantor Abi.." Jawab Diandra singkat.


"Apa ada masalah?". Tanya mama Dita khawatir. Pasalnya tidak biasanya Diandra mau datang ke kantor menantunya.


" Ada berkas penting yang tertinggal. Aku pergi dulu.."


"Tunggu sayang..boleh mama minta tolong bawakan makan siang untuk Abi? Dia sering telat makan.." Diandra berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

__ADS_1


"Aku pergi..pamit oma sayang. Assalamualaikum ma". Diandra menyodorkan Gaara agar dicium sang nenek. Mama Dita mematung, setelah beberapa bulan akhirnya Diandra mau mencium punggung tangannya lagi bahkan panggilan sesederhana 'ma' saja mampu membuat hatinya berbunga layaknya orang yang sedang kasmaran. Selepas Diandra menghilang dari pandangannya, air mata kebahagiaan luruh diwajahnya yang mulai menua.


"Terimakasih ya Allah..semoga putriku kembali seperti dulu lagi". Mama Dita menyeka air matanya. Sungguh hari ini ia sangat bahagia dengan maunya Diandra mencium punggung tangannya.


Sepanjang perjalanan Diandra terus berpikir tentang taktik perang apa yang akan ia terapkan untuk menghadapi para rubah penjilat yang menggerogoti perusahaan suaminya secara perlahan.


Jika dilihat dari sikap Abi, sepertinya suaminya itu tidak mengetahui siapa dalang dibalik semua ini. Meskipun belum seratus persen yakin, namun Diandra meyakini jika Melisa terlibat didalamnya.


" Sudah sampai non.." Pak Salim membuyarkan lamunan Diandra. Rupanya terlalu keras berpikir membuatnya tidak sadar jika mobil yang ia tumpangi sudah sampai digedung menjulang tinggi milik suaminya.


"Makasih ya pak Salim.." Pak Salim mengangguk dan tersenyum sopan pada majikannya.


"Bapak nggak apa-apa nunggu saya?". Ini yang membuat seluruh pekerja yang bekerja pada keluarga papa Herman betah. Mereka selalu dihargai layaknya saudara, bukan atasan dan bawahan yang diperlakukan semena-mena.


" Nggak apa-apa non". Sahut pak Salim cepat.


"Bapak ngopi dulu aja ya..nanti saya telpon kalo udah". Diandra menyodorkan selembar uang seratus ribuan, meski sudah menolak, namun Diandra memaksanya untuk menerima pemberiannya.


" Ini kebanyakan non.." Pak Salim merasa tak enak.


"Rejeki bapak.." Diandra turun dari mobil, melangkah penuh percaya diri setelah berkali-kali menghela nafas dan menghembuskannya kasar. Dirinya sedang masuk kedalam kandang rubah, itu artinya dirinya harus berperan sebagai seorang singa agar rubah itu berpikir berkali-kali sebelum membuat masalah dengannya.


"Ayo kita selamatkan aset untuk masa depanmu sayang.." Dengan memantapkan hatinya, Diandra kembali melangkahkan kakinya memasuki lebih dalam lagi perusahaan yang sudah satu tahun lebih tak ia datangi.


"Selamat siang bu.." Resepsionis yang ada dilantai bawah langsung bangkit dan menyapa Diandra dengan ramah. Mereka tahu persis siapa wanita yang berdiri anggun didepan mereka kini.


"Siang..bisa saya bertemu pak Abi?". Tanya Diandra sopan, tak sedikitpun menunjukkan kuasanya sebagai istri pemilik perusahaan itu.


" Tentu bisa bu. Anda sudah ditunggu bapak diruangannya". Diandra tersenyum lembut, terlihat semakin cantik hingga membuat beberapa karyawan terpaku menatap istri bos besarnya itu.


"Mari bu saya antar.." Salah seorang resepsionis cantik segera menawarkan diri untuk mengantar Diandra.


"Terimakasih..maaf jika merepotkan".


" Sama sekali tidak bu. Sudah menjadi tugas saya.." Sambar resepsionis itu cepat.


Diandra berjalan disamping sang resepsionis, sesekali melirik bangunan besar yang sudah lama tak ia kunjungi itu. Semua masih sama, hanya terlihat semakin bersih dan tertata.


"Arlita?". Gumam Diandra saat netranya melihat sosok yang sepertinya ia kenali.


" Ar.." Panggil Diandra sedikit ragu.


Seorang gadis menghentikan langkahnya. Merasa namanya dipanggil. Hanya teman masa SMA nya yang memanggil dirinya dengan sebutan "Ar". Matanya berbinar saat melihat siapa yang memanggil dirinya.


" Diandra?!". Pekik Arlita


"Kamu beneran Arlita kan??". Diandra memastikan dan dijawab anggukan kepala oleh Arlita.

__ADS_1


" Ya ampun Di..kangen banget. Kemana aja sih??". Keduanya berpelukan melepas rindu setelah sekian lama tak berjumpa.


"Ehmm..kamu bisa kembali ke tempatmu. Nanti saya diantar oleh Arlita saja.." Meski ragu, resepsionis yang mengantarkan Diandra hanya mengangguk patuh.


"Kita duduk disana yuk..ngobrol bentar". Ajak Diandra


" Kalo aku dipecat gimana dong? Masih jam kerja nih.." Goda Arlita yang jelas tahu siapa Diandra saat ini.


"Nggak usah godain aku gitu deh.." Cebik Diandra dijawab kekehan oleh Arlita.


"Tapi nggak bisa lama ya. Manager aku kaya singa, hobinya teriak-teriak sama marah-marah". Bisik Arlita membuat Diandra terkekeh.


" Yang seneng teriak mah tarzan Ar.." Keduanya tertawa dengan obrolan ringan itu.


"Ini anak kamu Di??". Tanya Arlita yang baru menyadari ada bayi tampan digendongan Diandra.


" Iya..lebih tepatnya anak kak Dea sama Abi". Jawab Diandra sambil menatap wajah Gaara.


"Tapi mirip kamu loh Di.." Diandra terkekeh pelan.


"Udah ah..jadi gagal fokus". Diandra menepuk pelan pundak temannya.


" Kamu udah lama kerja disini??". Tanya Diandra


"Belum lama sih..baru sekitar 6bulan". Arlita menjawab setelah beberapa saat diam dan berpikir.


"Di bagian apa??". Tanya Diandra mulai mengulik posisi Arlita dikantor suaminya. Ia berharap Arlita ada dibagian keuangan, pasalnya ia dan Arlita memiliki kegemaran yang sama yakni berhitung.


"Ya bagian keuangan lah Di..hobi kita kan sama, ngitung-ngitung". Nampak jelas wajah berbinar Diandra.


" Seenggaknya aku harus punya mata dan telinga yang bisa aku percaya. Dan Arlita orang yang tepat.." Batin Diandra


"Kenapa sih? Abis nanya malah bengong". Diandra berjengkit, kaget dengan tepukan dipundaknya.


" Aku bisa minta tolong??". Arlita mengernyit bingung.


"Apa yang bisa aku bantu?". Meski bingung Arlita tak keberatan membantu Diandra semampu dirinya.


Diandra menceritakan semuanya hingga membuat Arlita melotot tak percaya. Keduanya sudah berteman sejak kecil, hingga selepas SMA, keduanya berpisah karena Diandra memilih menempuh pendidikan di luar negeri.


" Aku pasti bantu kamu Di. Kamu bilang aja apa yang harus aku lakuin.."


"Makasih Ar..sekarang aku harus ke ruangan Abi dulu. Aku akan menghubungi kamu apa yang akan kita lakukan nanti". Diandra pamit setelah bertukar nomor ponsel dengan teman lamanya.


" Nanti hubungi aku aja kalo ada yang bisa aku bantu". Keduanya kembali berpelukan sebelum berpisah.


"Oke sayang..kita sudah punya bala bantuan. Tante Arlita akan membantu kita untuk menyelamatkan perusahaan papa kamu". Semangat Diandra semakin berkobar mengetahui dirinya memiliki orang dalam yang sangat bisa ia percaya.

__ADS_1


#######


sesuai janji ya..dikasih up lagi. Hari ini beneran dikasih crazy up..


__ADS_2