
"Tapi aku ayahmu.." Lirih Abram membuat Gaara tersenyum miring.
"Kenapa baru sekarang?". Abram langsung menatap Gaara. Sedangkan pak Burhan yang sudah tidak tahan bersembunyi memilih bergabung diruang tamu dan duduk disamping istrinya.
"A-apa?".
"Kenapa tidak dulu? Saat ibu yang melahirkan saya membutuhkan anda".
"Ka-kamu?".
"Kenapa? Anda kira mama Diandra akan merahasiakan semuanya dari saya??". Gaara menatap tajam Abram.
"Saya tahu semuanya, siapa anda, siapa wanita yang melahirkan saya. Saya tahu semuanya". Mata Abram melebar, ia tak menyangka jika Diandra menceritakan semua.
"Awalnya tidak mudah. Karna malaikat yang selama ini menjaga dan menyayangi saya ternyata bukan yang melahirkan saya. Tapi beliau meyakinkan saya jika tidak akan ada yang berubah meski saya tidak lahir dari rahimnya".
"Dan itu bukan hanya sebuah janji. Sudah 7tahun berlalu sejak mama memiliki anak sendiri dengan papa. Tapi kasih sayang mama tidak pernah berkurang sedikitpun pada saya. Bahkan semakin hari saya merasa kasih sayang mama pada saya semakin besar".
"Apa maksudmu mengatakan ini?". Gaara kembali tersenyum.
"Saya rasa anda orang terpelajar, harusnya anda sudah tahu kemana arah pembicaraan saya ini tanpa saya harus menjelaskan bukan?".
"Harusnya dari awal anda tahu jika saya tidak akan mau dipisahkan dari keluarga saya".
"Tapi kami keluargamu". Bentak Abram
"Maaf..selama saya hidup, saya hanya tahu keluarga papa dan mama sebagai keluarga saya. Kenapa anda yang baru datang dihidup saya harus saya akui sebagai keluarga?". Mama dan papa Abram saling melirik, merasa kagum pada Gaara yang tak gentar meski Abram sempat membentak.
"Saya tidak ingin berbasa-basi. Cabut gugatan anda pada kedua orang tua saya dan anggap kita tidak pernah bertemu. Karena selama ini anda juga hidup baik-baik saja tanpa saya. Begitupun saya, saya hidup dengan sangat baik dan bahagia tanpa kehadiran anda. Saya masih berharap anda memiliki kesadaran diri. Jangan menunggu sampai tangan Allah bekerja terlalu lama untuk memperingatkan anda". Telak, Gaara memukul telak ayah kandungnya hingga bungkam tak bersuara. Jika saja pantas, papa Burhan ingin tertawa keras meledek putranya.
"Saya permisi, tuan, nyonya".
"Assalamualaikum.." Gaara mencium punggung tangan kedua orang tua Abram dan segera keluar dari rumah itu. Meninggalkan Abram yang termenung menatap kepergian Gaara.
"Dia hebat.." Puji papa Burhan setelah punggung Gaara menghilang.
"Orang tua yang mendidiknya pasti lebih hebat pa". Timpal bu Yuli
__ADS_1
"Tentu saja, siapa yang tidak mengenal pebisnis muda dengan segala kehebatannya itu". Kedua orang tua itu melirik Abram yang masih termenung.
"Dengarkan apa yang dikatakan anakmu. Mama rasa kamu akan menyesal jika tidak mendengarnya". bu Yuli menepuk pundak putranya dan pergi bersama suaminya.
"Kenapa tidak ada yang mendukungku?". Geram Abram sambil meremas rambutnya kuat.
"Astaga.." Pekik Gaara saat seseorang tiba-tiba merangkulnya didepan gerbang rumah Abram.
"Baim?!". Seru Gaara dengan wajah terkejutnya.
"Ka-kamu disini?". Tanya Gaara tergagap. Ia benar-benar tidak menyangka Baim mengikutinya.
"Lain kali jangan sembunyikan apapun dariku. Kita bersaudara bukan? Maka jika salah satu diantara kita memiliki masalah, itu akan kita selesaikan bersama". Baim tersenyum menatap saudaranya.
"Ta-tapi bagaimana?".
"Aku sudah curiga padamu sejak tadi. Aku tau kamu merencanakan sesuatu. Makanya aku terpaksa bohongi mama, jadi aku bilang pada mama kalau hari ini aku dan kamu ada les tambahan. Mama tidak akan curiga, tapi ini yang pertama dan terakhir aku mau berbohong meski demi dirimu. Jadi lain kali, jangan coba sembunyikan apapun dariku. Mengerti?". Gaara mengangguk dan tersenyum.
"Aku berjanji. Kita pulang sekarang, mama pasti sudah menunggu. Lagian aku udah laper banget pengen makan masakan mama". Kedua saling merangkul dan berjalan bersama, meninggalkan rumah Abram dengan perasaan ringan tanpa beban.
---
"Aku takut dia menggunakan cara kotor sayang". Jelas Abi membuat Diandra tersenyum.
"Untuk apa mengotori tangan kita mas. Dia akan mendapatkan hasil dari apa yang ia perbuat selama ini. Kita pun sama, Allah tidak akan menutup mata dengan apa yang kita alami. Kita hanya perlu berserah diri pada sang pencipta". Abi tersenyum, membawa Diandra kedalam pelukannya dan terlelap bersama.
Masih ada waktu dua minggu untuk sidang putusan atas gugatan yang Abram layangkan pada Abi dan Diandra. Tidak cukup lama sebenarnya, namun terasa menyiksa bagi Abram.
Bagaimana tidak, semua ucapan mama Dita dan Gaara serta perkataan Diandra seolah menjadi kenyataan.
Tangan Tuhan sudah bekerja untuk memperingati dirinya. Beberapa pabrik miliknya mengalami masalah yang cukup serius, mulai dari kebakaran, beberapa karyawan yang mengalami kecelakaan kerja hingga manager keuangannya membawa kabur uang produksi yang tidak sedikit membuat Abram pontang panting hingga beberapa asetnya ludes terjual untuk menutup kerugian.
"Papa sudah bilang, tidak akan pernah membantumu selama kau masih keras kepala". Papa Burhan tampak acuh dan menyesap perlahan kopinya.
"Tapi aku butuh bantuan papa". Rengek Abram seperti anak kecil meminta mainan.
"Sampai kapan kamu baru akan sadar Bram?". Abram menoleh, mamanya berjalan menghampirinya.
__ADS_1
"Ini teguran. Berhentilah selagi kamu masih bisa mengatasi teguran ini dari Tuhan. Atau mungkin kamu benar-benar ingin menunggu kehancuranmu sendiri?". bu Yuli benar-benar tak habis pikir dengan cara pikir putranya.
"Biarkan saja. Mata hatinya sudah tertutup". Pap Burhan nampak tetap acuh pada putranya yang terlihat kacau.
"Tapi kata Monika aku masih bisa menang ma, pa. Aku ingin mengasuh Gaara. Aku ingin menebus kesalahanku. Padanya, dan juga pada ibunya". Lirih Abram diakhir kalimatnya.
"Monika..Monika, Monika lagi? Kau tidak kapok mengikuti ucapan sepupumu itu?". bu Yuli sampai geleng-geleng kepala.
"Kenapa kamu tidak sadar jika awal kehancuranmu karena mengikuti rencana gila sepupumu itu? Berhenti sekarang atau kau akan benar-benar hancur!". Terlampau kesal dengan kebodohan anaknya, pak Burhan dan bu Yuli meninggalkannya seorang diri. Berharap Abram akan sadar dan berhenti membuat masalah.
"Kalau kamu memang benar-benar ingin menebus kesalahanmu itu, maka biarkan putramu bahagia dengan keluarga nya yang sekarang Bram. Karena menghadapi kebencian darah daging kita akan sangat menyakitkan". Abram terdiam, ucapan terakhir papanya berputar dikepalanya.
"Apa yang harus aku lakukan?". Gumam Abram.
*******
Sidang yang ditunggu akhirnya datang. Hari ini bahkan Gaara ikut menyertai, beserta Baim dan si kembar. Sedangkan Abram hanya bersama dua pengacaranya, tanpa keluarga ataupun kerabat menyertainya.
"Pengadilan negeri memutuskan, hak asuh atas nama anak Sagaara Argantara akan jatuh pada keluarga bapak Abimana Argantara beserta istri". Ketukan palu membuat Diandra dan Abi berpelukan erat dengan kebahagiaan memenuhi hatinya.
Senyum terpatri jelas diwajah Abi dan Diandra beserta keluarganya setelah hakim membacakan putusan sidang. Bagaimana tidak, hak asuh Gaara yang diperkarakan Abram tidak mengubah kenyataan bahwa anak bernama Sagaara Argantara itu akan tetap tinggal bersama ibu sambung dan nenek kakeknya dari mendiang sang ibu.
Diandra berkali-kali memeluk dan menciumi Gaara. Mengucapkan syukur atas diijabahnya doanya setiap waktu. Sedangkan Abram menatap sedih putranya yang terlihat bahagia saat keluarga ibu sambungnya memenangkan kasus yang ia perkarakan.
"Tidak ada yang boleh merebutnya dariku". Gumam Abram dengan tangan terkepal kuat.
"Aku mau ke toilet dulu ma". Pamit Baim yang sedari tadi menahan buang air kecil. Ia terlalu gugup menghadapi sidang hingga tak bisa menahannya lagi kini.
"Hm..cepat kembali ya. Kita langsung pulang habis ini". Baim mengangguk paham
"Aku temenin, Im". Gaara berlari mengejar saudaranya. Ia tidak sadar tengah mendatangi marabahaya.
---***---
Oke udah 2bab ya..lanjut besok lagi, dikit lagi kelar kok..beneran deh konfliknya dikit lagi udahan✌🏻
Happy reading semuahh..semoga menikmati yaaa☺️🥰🥰
__ADS_1