
Saat ini Diandra tengah bersandar di da da bidang sang suami. Seperti malam yang sudah-sudah, Diandra akan menceritakan kegiatannya dan keempat anak mereka sehari-hari. Sementara Abi menjadi pendengar yang baik sambil mengelus pucuk kepala istrinya sambil sesekali mendaratkan kecupan mesra disana.
"Nggak kerasa ya mas, mereka udah gede aja. Padahal rasanya baru kemarin aku lahirin mereka". Tangan Diandra mulai usil dengan bermain-main diatas da da bidang suaminya, membentuk pola abstrak yang mengakibatkan aliran listrik disekujur tubuh Abi.
"Heem.." Sahut Abi mulai tak berkonsentrasi karena ulah tangan istrinya membangunkan adik kecilnya yang dibawah sana.
"Ham hem aja sih dari tadi, didengerin enggak aku cerita?". Sewot Diandra yang langsung duduk tegak didepan suaminya sambil melotot.
"Gimana mau dengerin kalo tangan kamu nggak mau diem. Liat tuh yang dibawah udah ngajak ribut". Diandra mengikuti arah lirikan Abi. Dan benar saja, dibawah sana ada sesuatu yang menyembul diantara dua paha suaminya, membuat rona kemerahan diwajah Diandra.
Meski sudah menikah selama 10tahun dengan Abi, Diandra masih kerap malu jika sang suami membicarakan hal-hal vulgar seperti saat ini.
"Sini tanggung jawab". Abi menarik tangan Diandra dengan lumayan keras hingga Diandra jatuh diatas tubuh suaminya.
"Kan kata kamu anak-anak udah gede. Berarti mereka udah bisa dikasih adek lagi". Seringai mesum Abi jelas nampak diwajah tampannya membuat Diandra menatap tak percaya pada suaminya.
"Nggak usah ngaco deh mas. Mereka berempat udah cukup". Diandra memukul pelan da da suaminya.
"Banyak anak banyak rejeki sayang". Diandra mencebik mendengar pepatah suaminya.
"Kamu aja yang hamil kalo gitu". Sungut Diandra membuat Abi terkekeh kemudian langsung melu mat bibir istrinya itu dengan rakus.
Ciuman itu membuat hawa dikamar yang cukup luas itu tiba-tiba panas, padahal pendingin ruangan sudah dinyalakan sejak tadi. Namun seolah tak berpengaruh pada dua orang yang sudah mulai terbakar gai rah.
"Aku mau sekarang sayang.." Suara Abi terdengar berat dan serak karena desakan naf su. Dan Diandra hanya mengangguk dibawah kungkungan sang suami.
Abi mendekatkan wajahnya, hanya kurang satu senti saja bibir keduanya menyatu. Namun Abi langsung menjauh saat mendengar gedoran pintu kamarnya.
Dan tebak, suara siapa yang Abi dengar??
Benar, suara Kara yang terus memanggil mama dan papanya sambil menangis keras.
Diandra mendorong tubuh Abi hingga jatuh disampingnya, beruntung kamar ia kunci. Akan ia jawab apa jika putrinya melihat sang papa mengungkung dirinya dibawah tubuh kekar itu.
Diandra segera mencari dala man dan daster yang sudah dilemparkan oleh Abi secara sembarang. Ia melirik sekilas suaminya yang nampak frustasi karena hasrat yang tidak tersalurkan.
"Cepet pake baju sama celananya mas. Itu anak kamu udah kejer". Perintah Diandra membuat Abi melakukannya meski lesu.
"Makanya kata aku juga jangan dimanjain banget. Nggak dengerin sih". Gerutu Diandra yang masih sibuk mengaitkan bra nya.
__ADS_1
"Nanti aku kasih bonus ekstra mas, tapi cepetan pake baju ama celananya". Abi mendongak, menatap istrinya dan segera memakai celananya dengan semangat juang.
Bahkan ia yang membuka pintu padahal istrinya belum selesai memakai dasternya.
"Ish, dasar laki-laki. Denger bonus gituan aja cepet ngapa-ngapainnya". Cibir Diandra yang masih sibuk merapikan daster yang ia kenakan.
"Kenapa hm?? Incess nya papa kenapa teriak-teriak malem-malem??". Abi sudah menggendong tubuh mungil putrinya yang masih saja menangis.
"Kakak..huaaa, kakak.."
Deg
Diandra dan Abi masih saling pandang meski perasaan Diandra mulai tak nyaman dan terselip kekhawatiran pada putra angkatnya.
"Kakak kenapa sayang?". Tanya Diandra sambil berjalan dengan tergesa menuju kamar Baim diikuti Abi yang menggendong Kara.
"Pa--nas". Suara Kara terputus-putus karena tangisannya.
Diandra bahkan sedikit berlari karena panik, ia takut terjadi hal buruk pada putranya.
"Pelan-pelan sayang. Kamu bisa jatuh nanti". Peringat Abi ketika melihat istrinya berlari.
"Baim? Nak?? Kamu dimana sayang?". Diandra semakin panik karena tidak menemukan Baim dikamar anak itu.
"Kakak kemana sayang?". Diandra menoleh pada Kara yang digendong Abi. Abi bisa melihat dengan jelas kekhawatiran dimata jernih istrinya.
"Kamu benar-benar mencintainya seperti anakmu sendiri, Di. Kamu benar-benar malaikat". Batin Abi bangga
"Mas, jangan bengong aja dong. Cari kakak, dia kemana". Diandra semakin panik, bahkan matanya sudah berkaca-kaca karena ketakutan yang menderanya.
"Kakak..ini mama sayang". Suara Diandra sedikit keras, berharap putranya mendengar teriakannya.
"Kamu dimana nak? Mama disini.." Air mata Diandra sudah luruh karena perasaan khawatirnya terhadap putra angkatnya.
"Abang sama Raffa kemana sayang?". Kara yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya sambil memeluk leher sang papa. Gadis mungil itu tak berani menatap mata ibunya.
"Tenang sayang, jangan panik begini dong. Kita cari pelan-pelan". Abi berusaha menenangkan.
"Tenang gimana sih mas. Anak kamu nggak ada dikamarnya ini, kata Kara dia panas. Terus pergi kemana anak itu". Cerocos Diandra sambil terus memeriksa kamar anak angkatnya, bahkan sampai kamar mandi tak luput dari pemeriksaannya.
__ADS_1
"Ini abang kemana sih? Biasanya mereka barengan terus, kok ini nggak ada dua-duanya". Tangis Diandra akhirnya pecah juga. Kini ia semakin khawatir karena Gaara juga tidak muncul. Padahal kamar keduanya hanya bersebelahan, sudah pasti Gaara akan mendengar suaranya. Tapi ini Gaara juga tak menampakkan diri.
Diandra berjongkok, menyembunyikan wajahnya diantara lututnya dan menangis sesenggukan. Perasaan khawatir bercampur takut memenuhi hati dan pikirannya.
"happy birthday mama..happy birthday mama, happy birthday..happy birthday..we love you mama..."
Diandra mengangkat wajahnya saat mendengar suara-suara yang amat ia kenali. Ia menatap semua orang yang saat ini berdiri dihadapannya dengan sebuah cake dengan lilin berlambang angka 34.
"Mas.." Lirih Diandra menatap suaminya yang masih menggendong putrinya tengah tersenyum lembut padanya.
Diandra kembali menatap semua orang, ada Gaara yang membawa kue, serta Raffa yang ada didalam gendongan Baim. Ada kedua orang tua dan mertuanya yang juga menatapnya penuh cinta.
Bukannya mereda, tangis Diandra semakin pecah karena terharu sekaligus bahagia mendapat kejutan dari orang-orang terkasihnya.
Gaara membawa kue itu mendekat pada sang mama, pun anggota keluarga yang lain ikut mendekat.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya----"
"Doa dulu ya sayang.." Abi sudah berjongkok disamping sang istri. Karena memang Diandra masih diposisi nya tadi, berjongkok.
Gaara menyanyikan lagu itu untuk mamanya. Dengan sedikit kesusahan, Diandra mencoba mengatur nafasnya dan kemudian meniup lilin itu meski setelahnya ia kembali menangis dan menyembunyikan wajahnya dengan dua tangannya.
Gaara meletakkan kue dilantai dan memeluk sang mama, disusul Baim dan si kembar yang pasti tak mau kalah.
Diandra masih menangis dengan terus memeluk keempat buah hatinya. Meski anak-anaknya berkali-kali mengusap air matanya, air mata bahagia itu seolah tak pernah habis.
"Selamat ulang tahun mama..." Seru keempat anak Diandra serempak. Mereka bergantian mencium pipi sang mama.
"Selamat ulang tahun sayang..doa terbaikku untukmu. Semoga kamu selalu dilimpahi kebahagiaan dan kesehatan agar terus bisa bersama kami. Kami sangat mencintaimu". Abi mendaratkan kecupan dikening Diandra cukup lama.
Namun tentu tak akan bertahan lama karena ada anak-anaknya yang jelas tak akan terima jika sang mama dimonopoli seorang diri oleh ayahnya.
---^^^---
Gemes ya sama keluarga cemarah ini...cemarah apa ceramah ni??ππ
Jangan lupa tinggalin jejak ya semuaaa, mak othor lagi semangat banget nih nulisnya ampe sehari dikasih tiga bab.. mana rengkep lagi ya jarak waktunyaπ
Jangan bosen yaaaa, kalo lapak yang ini lama update, boleh deh melipir dulu ke dokter cantik sama si fotographer somplak di '**imperfect partner' sama ada juga kisah si cantik pemberani di '**cinta kirana'
__ADS_1
Makasih ya buat jempol sama komennyaππ»ππ»ππ»πππ