
Suasana didalam mobil terasa hening karena sejak tadi Kara hanya diam. Padahal biasanya sangat bawel. Dan ketiga pria yang berada satu mobil dengannya tahu pasti apa penyebab diamnya Kara.
"Kamu tahu kan alasan kita semua larang kamu naik motor..jangan ngambek ya". Baim melirik Kara yang membuang pandangannya keluar jendela.
"Tau lo. Pagi-pagi aja udah bikin drama segala". Sembur Raffa membuat Kara melotot.
"Diem deh lo nggak usah berisik!". Kara balas menyemprot Raffa.
Gaara dan Baim yang duduk didepan hanya bisa menggeleng. Kenapa dua anak itu tidak pernah akur barang sedetik saja.
"Dasar bocah Sableng!". Sengit Raffa
"Lo sarap!!". Keduanya kembali bertatapan dengan tajam membuat kedua kakaknya menghela nafas kasar.
"Lo pda kaga mau turun?". Ucapan Gaara memutus perang mata antara kedua adiknya.
"Gue masuk dulu bang, kak". Pamit Raffa menyalami kedua kakaknya. Meskipun biang rusuh, Raffa dan Kara adalah anak yang sopan.
"Kara masuk dulu". Kara mencium punggung tangan Gaara, kemudian beralih pada Baim.
"Jangan cemberut gitu. Masa hari pertama sekolah udah badmood.." Baim coba menghibur namun sepertinya mood adiknya sudah terlanjur buruk.
"Assalamualaikum". Tanpa menjawab ucapan Baim, Kara berlalu. Masuk dengan langkah gontai meninggalkan Baim dan Gaara yang masih menatapnya.
"Cabut". Baim mengangguk, kemudian melempar kunci mobil pada Gaara.
"Karaaaa..." Teriakan seseorang membuat Kara berbalik.
"Apa..." Sahutnya lemas
"Dih, baru juga masuk hari pertama. Udah loyo aja lo". Anala, teman Kara mencibirnya.
"Ecieee, dianter kak Baim nih kayanya". Goda Nala melihat Baim masuk kedalam mobil dan menatap Kara sesaat.
"Kalian berdua!! Buruan masuk". Belum sempat Kara menjawab, suara seseorang membuat keduanya berjalan masuk kedalam sekolah.
Hari pertama di sekolah hanya diisi dengan acara pengenalan lingkungan sekolah saja.
Dilain tempat, Gaara dan Baim sedang duduk berdua disebuah cafe yang tidak jauh dari kampus mereka. Cafe sederhana yang Baim sengaja bangun dengan mengumpulkan uang jajannya sejak masih duduk di bangku SD.
"Keren juga cafe elo". Puji Gaara tulus.
Cafe yang Baim bangun belum terlalu lama berdiri. Baru sekitar 3bulan lalu cafe miliknya itu beroperasi. Tanpa diketahui oleh kedua orang tua angkatnya.
Meski baru beberapa bulan dibuka, cafe yang didirikan Baim sudah memiliki banyak pelanggan. Selain karena menu makanan yang cukup unik, cafe dengan desain yang juga unik menarik banyak pelanggan. Apalagi anak-anak millenial yang senang dengan tempat-tempat bagus untuk di upload disosial media mereka.
__ADS_1
"Nggak mau kasih tau mama sama papa? Mereka pasti bangga". Baim meilirik sekilas saudaranya.
"Belom waktunya. Ini belom bisa dibanggain ke papa sama mama". Baim kembali menatap cafe miliknya.
"Mau nyampe kapan lo kabur?". Baim menoleh kembali pada Gaara yang sudah menatap keluar jendela.
"Kabur? Siapa yang kabur? Gue masih disini sini aja". Sahut Baim sambil terkekeh.
"Gue kenal elo dari piyik In. Kaga usah boong ama gue".
"Gue tau bukan mandiri alesan lo sebenernya keluar dari rumah". Baim mengalihkan pandangan saat Gaara menatapnya intens.
"Ngomong apaan sih lo. Nggak usah ngaco". Baim memilih meninggalkan Gaara yang masih menatapnya.
"Gue mau liat, ampe kapan lo bisa bertahan kaya sekarang Im". Gaara menatap punggung Baim yang semakin menjauh.
---***---
Seperti pagi sebelumnya. Diandra perlu tenaga ekstra untuk membangunkan kedua anak kembarnya. Setelah kepindahan Baim ke apartemen, tugas Diandra menjadi bertambah.
Jika dulu ada Baim yang bisa membangunkan si kembar dengan sekali panggil, maka kini dirinya harus bernyanyi setiap pagi agar kedua anaknya itu bangun tepat waktu.
Sesungguhnya Diandra heran pada dua anak itu. Keduanya bisa bangun tepat waktu saat adzan subuh berkumandang, pun shalat malam yang tak pernah terlewatkan oleh keduanya. Tapi mengapa jika sudah lepas shalat subuh, keduanya seperti pingsan dan sulit dibangunkan.
"Lama-lama abis suara aku kalo kaya gini". Gerutu Diandra yang sedang menuruni tangga. Abi hanya tersenyum kecil melihat istrinya setiap pagi selalu mengomel perihal si kembar.
"Udah wangi banget sih anak mama.." Puji Diandra
"Apasih lo! Awas deh ah.." Ketiga orang yang sudah lebih dulu duduk dimeja makan mengalihkan perhatian mereka.
Ditengah tangga sudah ada Raffa dan Kara yang saling sikut, tak ada yang mau mengalah sama sekali.
"Lo yang awas!". Sengit Raffa
"Kenapa kaga elo aja!". Kara jelas tak akan mau mengalah.
"Sableng!".
"Sarap!!". Keduanya masih terus saling sikut sampai menjatuhkan tubuhnya dikursi masing-masing.
Sudah tidak ada keinginan pada diri Diandra untuk melerai perdebatan kedua anaknya itu. Itu hanya akan menguras tenaganya saja tanpa menghasilkan apapun.
"Gue dulu!". Kara menarik piring berisi roi dengan selai coklat kesukaannya dan Raffa yang disodorkan sang ibu.
"Gue dulu!! Lo yang kecil ngalah". Raffa mengungkit masalah umurnya yang lebih tua 7menit dari Kara.
__ADS_1
"7menit. Cuma beda 7menit".
"Heh. 7menit juga waktu tau. Gini-gini berarti gue udah lebih dulu liat dunia dibanding elo".
"Bodo amat". Ketus Kara kemudian menarik piring itu dan berakhir menjadi miliknya.
"Hahaha..kalian kaga capek apa ribut mulu". Tanya Gaara yang heran pada kedua adiknya. Mengapa tidak pernah lelah berdebat, dan bagaimana mungkin setiap hari selalu ada topik yang dijadikan bahan debat.
"Tau nih si santen. Ama yang lebih tua kaga mau ngalah". Sinis Raffa menggigit rotinya.
"Heh salah konsep lo! Dimana-mana yang tua yang ngalah". Balasnya tak kalah sinis.
"Hah.." Abi dan Diandra sama-sama mengembuskan nafas kasar. Betapa lelahnya melihat anak-anak yang dulu terlihat menggemaskan itu kini berubah menjadi dua anak yang sangat senang bertengkar.
"Noh liat. Papa sama mama udah capek liat lo berdua". Gaara hanya terkekeh melihat wajah frustasi kedua orang tuanya.
Kedua biang rusuh itu hanya mengendikkan bahunya lalu melanjutkan makannya dalam diam.
"Ingat..jangan buat masalah". Selama beberapa hari bersekolah, tidak ada pesan lain dari mama dan papanya.
Hanya mengingatkan agar dirinya dan saudara kembarnya tidak membuat masalah disekolahnya.
"Raffa sih enggak. Nggak tau tuh si sableng". Cibir Raffa melirik Kara yang sudah menatapnya tajam.
"Nggak usah mulai deh lo berdua. Nurut aja napa sih. Hobi kok ribut". Gaara masih tak habis pikir, dari mana hobi itu kedua adiknya dapatkan.
"Assalamualaikum mama, papa. Kara sayang kalian". Kara berlalu pertama, meninggalkan kakak dan saudara kembarnya.
----
"Lo anak baru nyolot ya!!". Bentak seorang siswi dengan dandanan yang lumayan mencolok.
"Nyolot gimana? Elo duluan yang ganggu gue". Kara tak mau kalah dan balik menatap kakak kelasnya.
"Kudu dikasih pelajaran anak so kecantikan kaya dia mah!". Kini ada tiga orang gadis yang berdiri didepan Kara dengan gaya angkuhnya.
"Nggak usah repot-repot. Disini udah ada guru yang ngasih gue pelajaran yang bermutu. Nggak kaya elo". Sinis Kara dengan muka nya yang songong.
"Ah elah itu bocah. Baru juga seminggu sekolah, udah bikin masalah aja disekolah baru". Raffa menepuk keningnya melihat Kara sudah berhadapan dengan kakak kelasnya.
...---^^^---...
Sat sit set sat sit set..
Dikasih 3bab langsung semuaaa..
__ADS_1
Semoga masih setia menunggu kelanjutan cerita cintanya si biang onar yaa..