
Mata Baim melebar melihat apa yang baru saja diunggah Nala di sosial medianya. Rahangnya mengeras dengan tangan terkepal kuat menatap nanar foto seorang gadis duduk diboncengan sebuah motor besar dengan senyum cerahnya.
Baim meremas ponselnya kuat. Menyalurkan perasaan hati yang kini entah bagaimana ia tak paham. Apalagi melihat caption yang Nala tuliskan pada foto itu.
"Sukses ya kalian berdua. Ku dukung dengan doa dari sini.." Rahang Baim semakin mengeras. Pikirannya berkelana memikirkan apa kesuksesan yang dimaksud oleh Nala. Mungkinkah lelaki itu berniat menyatakan perasaan pada Kara? Baim semakin gusar.
"Bisa-bisanya dia ketawa kaya gitu. Sementara gue setengah mati mikirin dia". Gumam Baim menatap kembali foto gadis yang tak lain adalah Kara yang sedang berada diboncengan Bara.
Tanpa berpikir dua kali, Baim mencari nomor Nala dan segera menghubunginya. Baim semakin tidak sabar karena Nala tak juga mengangkat panggilan teleponnya.
"Dimana Kara?". Diujung telepon sana, Nala tersenyum. Ia bahkan belum mengucapkan salam sekedar kata 'halo' dan Baim langsung menodongnya dengan pertanyaan 'dimana Kara'.
Kalau memang sebegitu pedulinya dan takut kehilangan. Mengapa diam saat sahabatnya menyatakan perasaan cintanya? Cibiran Nala tentu saja hanya ia ungkapkan di hatinya saja.
"Kara?". Beo Nala berpura-pura tak paham.
"Iya, Kara. Lengkara". Baim menekankan nama Lengkara membuat Nala semakin mengangkat sudut bibirnya hingga membentuk senyum sempurna.
"Oh..tadi pergi kak". Sahut Nala tenang padahal ia sedang menahan tawa.
"Kemana? Sama siapa? Dari jam berapa dia pergi?". Tanya Baim cepat membuat Nala hampir menyemburkan tawanya. Ia terus mencoba berkonsentrasi pada kendaraan yang sedang ia kendarai saat ini.
"Katanya sih mau ke cafe, Kara nemenin kak Bara tadi. Katanya ada sesuat---"
"Cafe mana?". Potong Baim cepat bahkan sebelum Nala selesai dengan kalimatnya.
"Apa nama cafe nya, Nala???". Tanya Baim lebih mendesak karena Nala diam tak menjawab.
"Cafe baru yang lagi hits itu loh kak. Nggak jauh dari kampus kakak.."
"Iya apa namanya? Banyak cafe baru didaerah itu?". Tanya Baim yang semakin gusar. Ia sudah memakai jaketnya dan sudah menggenggam kunci motornya. Kakinya melangkah keluar kamar sambil terus berbicara pada Nala.
"Ah..menantea cafe kak". Seru Nala membuat Baim mematung sesaat.
"Makasih, La". Baim mematikan sepihak teleponnya. Membuat Nala yang sejak tadi mencoba menahan tawa tak sanggup lagi menahannya. Nala menyemburkan tawanya sepuas hati. Bisa ia bayangkan seperti apa wajah Baim saat ini.
"Kemana lo??". Tanya Gaara yang melihat Baim berjalan terburu-buru bahkan sedikit berlari.
"Ada urusan bentar. Bilang mama gue pergi dulu". Gaara mengacungkan jempolnya dan melanjutkan bermain game bersama Raffa.
Raffa hanya menatap sekilas sang kakak yang wajahnya terlihat gusar. Ia lalu meraih ponselnya dan bibirnya melengkung melihat postingan Nala.
__ADS_1
"Kebakaran jenggot lo sekarang, kak". Gumam Raffa.
"Apaan?". Tanya Gaara yang mendengar gumaman Raffa.
"Bentar lagi abang kalah". Kilah Raffa mengalihkan pembicaraan.
"Jangan ngimpi ngalahin abang". Seru Gaara kembali fokus pada game nya.
"Kaga boleh dilewatin yang beginian mah". Gumam Nala dengan senyum penuh arti. Bahkan gadis itu lebih dulu sampai dibanding Kara dan Bara di cafe yang akan Kara datangi dengan Bara.
Ia tahu tujuan keduanya datang ke cafe itu, tapi dengan sengaja ia berpura-pura tak tahu saja saat Baim bertanya tadi dan sengaja tidak menjelaskan dengan gamblang tujuan keduanya datang ke cafe itu.
Nala memarkirkan mobilnya dan segera masuk kedalam cafe. Mencari tempat paling aman menurutnya dan segera memesan minuman juga cemilan. Ia menunggu beberapa saat sampai dua anak manusia berbeda jenis itu masuk kedalam cafe dengan Kara yang sedikit mendorong punggung Bara.
"Kita liat kak. Sebenernya apa mau lo ama sahabat gue". Karena kesal melihat Kara terus menghindar dan Baim yang sepertinya memang kaku dan tidak peka, seperti kanebo kering itu. Nala sengaja membuat semua ini. Ditambah keberuntungannya saat Bara datang dan meminta bantuan Kara.
Nala terus diam menatap Kara dan Bara yang terlihat mengobrol. Atau lebih tepatnya Kara yang sedang menggoda Baim karena melihat kegugupan Baim.
"It's show time". Seru Nala pelan saat melihat seseorang masuk kedalam cafe dengan wajah yang...lumayan menyeramkan.
"Gila sih, cepet amat nyampe. Naik kendaraan apaan tu orang? Apa pake jurus kanuragan kali ya". Gumam Nala terkikik seorang diri.
"Kakak?". Kara menatap tak percaya pada lelaki yang saat ini mencekal tangannya cukup kuat.
"Aku lagi nemenin temen aku, kak". Tolak Kara berusaha melepas cekalan tangan Baim.
"Sorry, bisa lepasin tangan Kara? Dia kesakitan". Bara yang diam kini angkat suara melihat betapa kencangnya Baim mencekal tangan Kara.
Tatapan setajam belati Baim hunuskan pada pria yang ada disamping adiknya. Kini ia kesulitan mengontrol amarahnya.
"Ayo pulang". Tanpa menghiraukan ucapan Bara, Baim menatap Kara galak membuat Kara menghela nafas panjang.
"Lo pulang aja. Gue gapapa.." Bara tersenyum meyakinkan saat melihat Kara menatapnya tak enak.
"Tapi ntar gimana?". Tanya Kara membuat Bara tersenyum dan mengacak pelan rambut Kara. Membuat Baim yang melihatnya semakin kesal.
"Lengkara.." Kara menoleh saat Baim memanggil nama panjangnya. Kara menghela nafas dan kembali menatap Bara. Merasa tak enak karena tidak bisa menuntaskan apa yang sudah mereka rencanakan beberapa hari ini.
"Gue bisa, Ra. Cukup lo doain aja biar diterima". Bara mengedipkan sebelah matanya melirik ke sisi kanan mejanya.
"Semangat. Kakak pasti bisa kok. Kakak ganteng, baik. Sempurna deh". Baim melotot mendengar Kara memuji lelaki itu dengan begitu gamblang didepannya.
__ADS_1
"Lengkara!!". Suara Baim naik satu oktaf namun masih terdengar wajar hingga tidak menarik perhatian pengunjung lain.
"Daaaa kak Bara..Semangat". Kara mengepalkan tangannya didepan wajah memberi semangat pada Bara yang tersenyum manis padanya.
"Lepasin kak". Kara mencoba melepaskan tangannya yang masih dicekal Baim. Baim bahkan menariknya hingga Kara sedikit berlari mengikuti langkah lebar kaki Baim.
"Kak.." Panggil Kara namun Baim diam.
"Kak lepas!!! Kakak apaan sih". Kara menghempaskan tangan Baim dengan keras hingga terlepas.
"Naik". Perintah Baim menunjuk motor didepannya dengan lirikan mata.
"Mau kemana? Aku bisa pulang sendiri". Tolak Kara. Ia tak mau terjebak berdua dengan Baim dan berakhir menangis didepan Nala. Kara lelah selalu menangis dan lemah jika menyangkut Baim.
"Naik, Lengkara". Perintah Baim penuh penekanan membuat nyali Kara ciut menatap netra tajam itu menghunuskan tatapan membunuhnya.
Mendengus pelan sebelum meraih helm dan naik ke atas motor sesuai perintah sang kakak. Wajah Kara memberengut kesal karena akhirnya kini ia terjebak berdua dengan Baim.
Kara menahan nafasnya saat Baim mengendarai motornya dengan kencang. Benar-benar membuat jantungnya seperti akan melompat keluar. Tangan Kara masih melingkar diperut rata sang kakak. Tadinya Kara berpegangan pada besi belakang, namun Baim menarik tangannya dan memaksanya berpegangan pada dirinya.
Ada apa sebenarnya dengan kakaknya ini? Pikir Kara kesal sekaligus takut.
Mata Kara melebar saat melihat jalan yang dilalui Baim. Ini bukan jalan menuju rumah kedua orang tuanya, ini jalan ke apartemen lelaki yang sudah sebulan berhasil Kara hindari. Mau apa dia dibawa kesana? Pikir Kara bingung.
"Turun". Perintah Baim masih dengan wajah dinginnya.
"Ng-ngapain kesini? Aku mau pulang". Ucap Kara setelah turun dari motor Baim dan melepaskan helmnya.
"Ayo!". Tanpa mempedulikan penolakan Kara, Baim menarik tangan Kara. Kali ini terasa lebih lembut dari sebelumnya.
Menolak pun akan percuma karena ia tahu bagaimana watakan Baim yang keras. Kara hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah kaki Baim yang semakin mendekatkannya pada unit apartemen lelaki itu.
Jantung Kara kembali berdegup kencang. Ditempat itu Kara mengungkapkan dan menumpahkan segala perasaannya. Mengingat itu membuat Kara menggigit bibir bawahnya karena kini ia merasa gugup.
Apalagi Baim yang sejak tadi hanya diam saja. Seperti kulkas berjalan saja, pikir Kara kesal.
"Sebenarnya apa sih maumu?". Gerutu Kara, namun jelas hanya berani ia ungkapkan dalam hati saja.
...•••***•••...
Okeeeee..satu bab lagi ya semuaaa. Jangan bosen bacanya yaa.
__ADS_1
Jangan bosen dan jangan di bully yak😁