
"Apa yang membuatmu berpikir bahwa kita perlu bicara?". Diandra bangkit, berdiri tepat dihadapan Abi yang tengah menatapnya tanpa berkedip.
" Pembicaraan kita sudah selesai saat aku menyanggupi permintaan terakhir Dea, dan kamu menyetujui persyaratan yang aku ajukan. Jadi? Apa yang perlu dibicarakan". Tak ada sedikitpun keraguan saat Diandra mengucapkannya. Dirinya bahkan berani menatap langsung mata Abi.
"Kita tidak bisa seperti ini terus Di. Gaara akan semakin besar dan dia akan semakin memahami tentang keadaan kita". Sambar Abi cepat. Saat ini hanya keberadaan Gaara yang bisa menolong hubungannya dengan Diandra.
" Gaara baik-baik saja. Lalu kenapa dengan Gaara?". Diandra balik bertanya dengan tatapan tajamnya.
"Dengarkan aku baik-baik tuan Abimana Argantara". Diandra menekankan nama Abi saat menyebutkannya.
" Anggap saja aku sebagai pengasuh Gaara. Saat nanti Gaara bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri, saat itu juga aku akan pergi. Ingat, aku disini hanya karena permintaan kakak dan adanya Gaara. Tidak lebih". Pungkas Diandra tegas membuat hati Abi berdenyut sakit. Tak adakah lagi kesempatan bagi dirinya memperbaiki semua ini? Haruskah ia benar-benar merelakan Diandra pergi setelah nanti putranya tak lagi membutuhkan kasih sayang Diandra? Sungguh Abi tak rela kehilangan Diandra, lagi.
"Setidaknya kita tetap harus terlihat harmonis dihadapan Gaara. Kamu menyayanginya, dan aku sangat berterima kasih". Abi menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
" Tapi bukankah dengan kita selalu bersitegang seperti ini, itu akan mempengaruhi pertumbuhan juga psikis nya?". Dalam hati ia tersenyum puas saat Diandra diam dan berpikir. Dirinya tak berbohong, bukankah memang perkembangan seorang anak tergantung pada keharmonisan kedua orang tua dan orang-orang disekelilingnya??
"Dia belum mengerti tentang keharmonisan yang kamu bicarakan". Ketus Diandra yang sejujurnya membenarkan ucapan Abi. Namun ia enggan bersikap manis dengan Abi meski Gaara alasannya.
" Tanyakan pada dokter jika kamu tidak percaya padaku, Di". Abi merasa menang kali ini, meskipun Diandra bertanya pada dokter, sudah dapat Abi pastikan jika jawabannya sama dengan apa yang ia sampaikan.
Meskipun egois, namun dirinya harus melakukan ini. Perjuangannya akan ia mulai dengan kembali mendekatkan dirinya dengan Diandra. Setidaknya mereka harus sering berkomunikasi. Tidak seperti satu minggu ini yang bersikap seperti dua orang asing yang tinggal dibawah atap yang sama.
"Keluarlah. Kamu membuat aku pusing!". Ketus Diandra mendorong tubuh Abi menuju pintu.
" Pikirkan semua baik-baik Di.."
cup..
__ADS_1
"Itu awal untuk hubungan harmonis kita didepan Gaara". Abi melenggang pergi meninggalkan Diandra yang wajahnya memerah karena dirinya mencuri kecupan singkat dipipi gadis itu.
" Yaaaaa!!!! Dasar mesum!!!". Teriak Diandra kesal yang justru membuat Abi tergelak. Bisa ia bayangkan bagaimana ekspresi marah Diandra.
Abi sudah memutuskan akan memperjuangkan Diandra bagaimapaun caranya. Meski harus melewati jalan terjal bahkan harus melewati jurang sekalipun ia tak akan mundur. Ia sudsh bertekad kuat akan meluluhkan hati Diandra yang terlanjur beku karena ulahnya di masa lalu.
"Astaga!! Jantungku". Diandra meraba dadanya dan dapat merasakan jantungnya berdetak kencang tak Seperti biasa.
" Benar-benar kurang ajar". Umpat Diandra yang mengingat Abi mencium sekilas pipinya. Meski hanya pipi, namun berhasil memberi efek yang cukup hebat dengan jantungnya.
"Kamu apakan Diandra sampai berteriak begitu??". Tanya mama Ana yang mendengar Diandra berteriak. Mama Dita pun tak kalah penasaran dengan apa yang dilakukan oleh menantunya itu.
" Tidak ada..hanya memberi sedikit hadiah karena Diandra sangat menyayangi Gaara". Abi tersenyum sendiri mengingat wajah kesal Diandra.
"Lalu kenapa dia berteriak mesum?". Cecar mama Ana yang tidak puas dengan jawaban putranya.
" Hahaha..aku mencium pipinya ma". Jawab Abi dengan entengnya. Bahkan ia tertawa karena terus terbayang wajah Diandra yang memerah, antara marah dan malu. Namun membuat wajah Diandra semakin terlihat cantik.
"Aw..aw..sakit ma. Kenapa aku dijewer". Keluh Abi mengelus telinganya yang baru saja dilepaskan oleh sang ibu.
" Kenapa kamu memaksa menciumnya. Bagaimana kalau Diandra marah dan pergi". Membayangkan Diandra pergi lagi membuat mama Ana panik.
Lain halnya dengan mama Dita yang juga tersenyum mendengar kelakuan menantunya. Ia yakin Abi memiliki alasan berbuat se nekat itu.
"Aku tidak ingin kehilangan Diandra lagi ma". Suara Abi berubah sendu. Tak ada lagi senyuman diwajahnya, hanya ada wajah penuh penyesalan.
" Tapi tidak seperti itu caranya.." mama Ana tahu putranya masih mencintai, cinta pertamanya itu.
__ADS_1
"Diandra bilang akan pergi setelah Gaara bisa tanpa dirinya". Mama Ana dan mama Dita tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya dengan apa yang Abi sampaikan.
" Aku tidak mau dia pergi ma. Biarkan dia membenciku, tapi aku ingin dia tetap disini ma..bersama kita. Aku tidak akan sanggup lagi jika harus jauh darinya, lagi.."
Mama Ana memeluk putranya, ia tahu bagaimana perjuangan Abi untuk bangkit setelah kesalahannya yang membuat dirinya dan Dea terjebak dalam hubungan yang amat rumit dan menyakitkan.
"Mama akan mendukungmu nak. Perjuangkan lagi putri mama..mama yakin kamu pasti bisa membuat Diandra kita kembali seperti dulu lagi". Mama Dita menepuk pundak menantunya, berusaha menguatkan dan meyakinkan meskinsejujurnya dirinya pun tak yakin bisa.
******
Meski masih bersikap acuh pada semua orang, namun Diandra tetaplah Diandra. Dirinya bukanlah orang yang tidak tahu terimakasih dan juga rasa sopan. Sedikit demi sedikit ia mulai membalas sapaan ramah kedua orang tua dan kedua mertuanya. Meski hanya sekedarnya saja namun itu mampu membuat kedua orang tuanya teramat bahagia. Mereka yakin lambat laun putrinya akan kembali seperti sediakala.
Hari berganti hari, tak terasa sudah satu bulan lebih Diandra dan Abi menikah. Masih belum ada perkembangan berarti dalam hubungan keduanya. Namun Abi tak sedikitpun gentar menunjukkan perhatiannya pada Diandra.
Dirinya memiliki kemajuan yang menurutnya sudah sangat hebat, sudah satu minggu ini Diandra selalu mengantarnya hingga pintu dengan Gaara berada digendongannya. Dan sudah satu minggu pula Abi selalu mendaratkan kecupan mesra dikening istrinya. Meski bibirnya istrinya terlihat mengumpat dan terus mencibirnya, namun Abi tidak peduli. Bisa mencium kening istrinya setiap pagi saja sudah sebuah kemajuan besar.
"Boleh cium yang lain enggak?". Goda Abi setelah mendaratkan sebuah kecupan hangat dikening istrinya. Sudah jelas bukan apa yang akan ia dapatkan? Jelas tatapan tak suka dan umpatan dari bibir tipis istrinya itu.
" Nggak usah ngelunjak!". Sengit Diandra dengan wajah garang, namun justru membuat Abi tersenyum bahagia.
Rupanya setelah ucapan Abi beberapa minggu lalu, Diandra benar-benar pergi menemui psikolog anak untuk berdiskusi tentang tumbuh kembang Gaara.
Betapa kesalnya ia karena apa yang dikatakan dokter sama persis dengan apa yang dikatakan Abi. Meski dirinya sudah menduga jika apa yang Abi katakan adalah kebenaran, tetap saja hatinya merasa dongkol.
Kini dirinya merasa dijebak oleh pemikirannya sendiri. Kenapa pula dirinya harus peduli jika nantinya Gaara akan menjadi anak yang berbeda dengan yang lain karena hubungannya dan Abi yang tidak harmonis.
Dan sialnya logikanya selalu kalah saat bertarung dengan hati nuraninya. Dirinya sudah memutuskan untuk mengemban tugas menjadi ibu bagi Gaara, itu artinya perkembangan Gaara juga menjadi tanggung jawabnya. Lagi dan lagi, dirinya harus mengalah demi bayi tak berdosa itu.
__ADS_1
Meski kesal dan mulutnya tak henti mencibir, namun satu minggu ini dirinya membiarkan Abi mendaratkan kecupan mesra di keningnya setiap pagi dan saat pulang bekerja. Karena pada dua waktu itu, dirinya akan berperan menjadi istri berbakti dengan mengantar dan menyambut kepulangan suaminya, tentu dengan Gaara yang berada dalam dekapannya.
Jika untuk urusan kamar, jangan berharap Diandra akan membiarkan Abi tidur satu kamar dengannya. Meski membiarkan Abi mencium keningnya, namun tidak lebih dari itu. Mereka tetap tidur ditempat terpisah, bahkan belakangan ini Abi lebih sering tidur di ruang kerjanya. Entah apa yang dikerjakan lelaki itu hingga selalu tertidur didalam ruang kerja nya. Diandra tak perduli dan tak ingin tahu, urusannya hanya merawat dan membesarkan Gaara. Kenang-kenangan terakhir kakaknya yang akan ia jaga sampai bayi itu bisa menapaki dunia yang kejam ini dengan kakinya sendiri. Diandra menunggu saat-saat itu.